Surat Cinta Si Oportunis
Kaum pecinta itu oportunis. Siapa yang tak ingin cintanya
berbalas? Bahkan Tuhanpun ingin.
Hari ketiga bulan kedua.
Kepada kamu,
Nomor 'S'atuku.
Tahun lalu aku membaca kalimat pada pembuka surat ini masih
dengan pemikiran naif; aku bukan oportunis, karena kupikir tak apa jatuh cinta
sendirian, toh pada akhirnya aku dan dia bahagia.
Tapi ternyata aku salah S,
Bahagia dalam ruang pikirku dan dalam kesungguhanku ternyata
amat berbeda.
Aku menciptakan bahagia semu atas dasar luka yang kubuat dan
kugarami sendiri. Aku menikmati luka dan menjadi terbiasa karenanya.
Bahkan aku sempat menjadi sadomasokis atas nama pengorbanan
cinta yang pada akhirnya aku sadari sebagai kesia-siaan semata.
Aku sadar,
Semakin aku berusaha untuk terlihat bahagia, jauh di dalam
sini, aku justru terlihat sangat menyedihkan.
S,
Misalnya suatu hari aku terpaksa merelakanmu dan memaksakan
diri untuk terlihat kuat dan bahagia.
Ingatkan aku untuk tidak berpura-pura dan paksa aku untuk
jangan berhenti memperjuangan ruang masadepan yang aku dan kamu sebut
"kita".
Kepada S,
Jangan menyerah untuk membuatku tetap bertahan dan berTuhan.
:).
Oleh: @NiaNoor untuk @_Romulus
Diambil dari: http://petrichora.blogspot.com/
---
Tak Perlu (@)Merelakan
I'm sorry 'N'omor 'S'atu,
I'd never meant to hurt you.
Kamu tidak sendiri mencintai, karena aku yakin
orang yang kau cintai juga mencintaimu. Kecuali yang kau maksud bukan aku.
N,
Kau tak perlu merelakanku. Aku bukan untuk kau
relakan, aku untuk kau miliki. Jangan pernah berpikir aku terlalu indah untuk
kau miliki, I'm just an ordinary mab. Maafkan aku bila saat ini aku tak mampu
memberimu apa yang kau butuhkan. Namun jujur N, aku sangat menyayangimu.
N, My Future,
Semoga pengorbanan ini menjadi sesuatu yang indah
untuk masa depan, untuk "kita".
Don't give up,
Don't let the magic leave us,
Don't let the sun in your heart decay.
Surat balasan @_Romulus untuk @NiaNoor
Diambil dari: http://ksatriasemesta.blogspot.com/
No comments:
Post a Comment