07 February 2013

Surat #DuaHati @evanjanuli dan @myaharyono


Menunggu

Dear Mia,

Bukan hanya waktumu yang bergerak maju, waktuku juga bergerak maju karena sang waktu tidak pernah ingin menunggu. Karena pada dasarnya, sang waktu adalah musuh utama kita semua.

Selama ini, tanpa ada tanganku, kau tetap mampu berdiri sekalipun kamu terperosok. Jadi apalah arti uluran tanganku yang sudah lama tak pernah terulurkan selama ini?

Menunggu.

Tak pernah lelah ku menunggumu karena menunggumu adalah pekerjaanku.

Paling tidak selama ini, itulah aku.

Namun, sekarang aku tidak lagi menunggu di depan pintu.

Karena sebetulnya mungkin pintu untukku tak pernah tertutup.

Pintu untukku tidak pernah ada.

Love,

.E.



Oleh: @evanjanuli untuk @myaharyono


---





Kepastian


E,

Katakan maumu padaku.

Sekarang.

Ungkapkan permintaanmu padaku, maka aku akan mengabulkannya.

Sungguh aku senang disayang kamu.

Kamu yang mau menerima masa laluku dan berkali-kali menawarkan kebahagiaan.

Untuk itu aku berterima kasih.

Jadi, pikirkan sekali lagi apa maumu?

Biar kutebak, kepastiankah?

Mia



Surat balasan dari @myaharyono untuk @evanjanuli
Diambil dari: http://mimidanpipi.tumblr.com/

Surat #DuaHati @commaditya dan @JiaEffendie


Ibadah Baru


Nona Meta,

Saya tidak akan mengaku bahwa saya mengerti semua masalah nona. Saya juga tidak ingin meyakinkan nona bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, semua masalah nona adalah pengalaman khusus yang diserahkan kepada nona untuk diselesaikan.


Maaf jika saya lancang seperti menasihati, beberapa hari ini saya merenung. Iya, saya merenungkan sedalam-dalamnya kata-kata nona di surat sebelumnya. Tentang kejenuhan, tentang penunjukan diri anda sendiri terhadap anda atas segala kesalahan, tentang pemaksaan-pemaksaan kehendak yang anda kira orang-orang lakukan kepada anda.

Nona,

Tidakkah setiap orang menginginkan ruang untuk dirinya sendiri? Tidakkah semua orang merasa memiliki hak untuk mengatur keberadaannya di dunia? Selama hampir sepuluh tahun, saya memilih untuk menjadi diri saya sendiri dan menyenangkan diri sendiri, nona. Saya tidak pernah menyesal, karena ini pilihan saya. Nona sudah pernah mencobanya, dan saya melihatnya setiap hari. Nona adalah nyawa toko nona. Orang-orang di dalamnya–Joko, karyawan-karyawan nona–berkerja dengan bahagia di sana. Di setiap mata mereka ada api yang lebih hangat dari api di tungku-tungku yang mereka aduk.


Saya senang sekali bagaimana nona menggambarkan hubungan nona dengan kue-kue tersebut. Saya pun merasakannya. Seperti yang bagi saya, bernyanyi adalah ibadah. Pada setiap gesekan gitar saya, dan nada-nada yang berhasil saya dengungkan jadi irama, saya merasakan tuhan. Pada nyanyian-nyanyian gadis-gadis kecil dan genggaman-genggaman setiap pasangan yang lewat setiap saya menyanyikan lagu mereka, saya merasakan cinta. Membersihkan setiap bagian gitar saya, seperti merawat kekasih. Berolah raga setiap pagi untuk menjaga nafas dan jangkauan nada saya, jadi bagian setiap ibadah saya. Saya tidak peduli jika mereka bilang saya pengamen sunyi. Apa yang saya rasakan setiap hari bukanlah kesunyian. Saya merasakan bahagia setiap menghibur mereka, mungkin hal itu pernah nona rasakan juga.


Namun perbedaan kita adalah, saya sebatang kara; nona punya keluarga. Saya hanya bertanggung jawab kepada diri saya sendiri, nona punya ikatan yang harus nona jaga. Dan saya pikir ikatan itu seperti sarang laba-laba, sementara nona kupu-kupu yang terperangkap menempel. Nona bisa saja meronta pergi, namun nona malah menunggu mati. Tidak, Nona. Saya bukan ingin menghasut. Hanya menyayangkan, sebuah toko kue yang berhasrat sepertinya akan berubah menjadi pabrik yang dikelola robot-robot. Pasti bukan itu yang nona mau.


Dan, nona sudah bertunangan.

Bagaimana pun, dari dalam lubuk hati saya yang paling dalam, saya mendoakan yang terbaik bagi hubungan nona. Dalam setiap hubungan, pastilah selalu ada masalah yang mengguncang. Untuk wanita sedewasa nona, hal-hal seperti ini sudah bukan rahasia hidup lagi. Hal ini adalah hal-hal yang musti dihadapi. Semoga scarf yang kembali ke tangan nona tersebut, bisa merekatkan kembali nona dengan tunangan nona.


Nona, surat ini saya tulis dengan senyum yang dipaksakan. Sungguh sulit sekali menerima bahwa anda sudah bertunangan, namun lebih sulit lagi untuk tidak menulis kepada nona. Seandainya saya bisa jadi orang yang melindungi nona, atau meyakinkan nona bahwa semua akan baik-baik saja, atau melindungi nona dari kekhawatiran akan hal-hal yang mengancam kebahagiaan nona. Untuk sekarang ini, biarkan saya jadi kertas, tempat nona menumpahkan kata-kata. Dan nona tahu, bahwa setiap kata yang nona tuliskan, akan selalu mendapatkan tempat di pikiran saya. Membaca nona, kini jadi ibadah tambahan untuk saya.

Salam,
Pecandu kata-katamu,

Agni


Oleh: @commaditya untuk @JiaEffendie
Diambil dari: http://commaditya.tumblr.com/


---


Bukan Pusat Dunia

Tuan Agni,

Saya merenungkan surat Anda lama sekali. Semoga Anda tidak jadi gelisah menantikan kehadiran surat saya di tangan Anda. Sekarang setelah saya merasa lebih baik, saya malah menganggap sikap saya kemarin itu berlebihan. Kita hidup di dunia ini dibebani oleh harapan-harapan dari orang lain. Namun, beban itu sesungguhnya tidak boleh dijadikan beban, karena kita juga berharap pada orang lain dan membutuhkan bantuan mereka. Setidaknya saya, saya masih membutuhkan sesuatu dari orang-orang di sekeliling saya, bahkan orang asing sekalipun.

Merenungkan kembali segala yang terjadi, lalu surat dari Anda, membuat saya menyadari betapa saya egois, menginginkan segalanya berjalan sesuai dengan cara dan keinginan saya. Saya lupa, saya bukan pusat dunia, dan bukan begitu cara dunia.

Tentu saja, tunangan saya benar. Orang-orang di sekeliling saya benar. Ibadah saya mencicipi kue setiap memanggang, tiba-tiba terasa konyol jika dipikir-pikir lagi. Tentu saja, tidak ada salahnya mencicipi kue yang baru keluar dari oven. Namun, jika saya menjadikannya sebagai cara saya bersembahyang, konyol sekali. Barangkali saya perlu pelipur dari luka-luka lama yang saya rasakan, tetapi saya membawanya ke arah yang salah.

Saya membaca surat Anda berkali-kali, sampai kertasnya lecek. Saya meresapinya, dan saya berterima kasih. Toko saya akan tetap buka dan saya tidak akan menjadikannya pabrik kue tempat para pekerjanya bekerja seperti zombie. Saya akan tetap membuat kue, tetapi bukan dari kepahitan. Saya ingin orang-orang yang memakan kue saya merasakan hangat dan bahagia, bukan mencicipi pahit hidup saya.

Agni,

Pernikahan kami dibatalkan. Kami tidak berhasil menemukan titik temu, dan kami tidak lagi memiliki alasan untuk tetap bersama. Tidak apa-apa, barangkali itu cara semesta memberi tahu, ada yang lain yang lebih baik untuk saya.

Undangan saya masih berlaku. Saya ingin mendengar Anda memetik gitar sambil menyanyi, dan saya akan menghidangkan sepotong kue kecil yang manis, dan sedikit pahit. Seperti halnya hidup.

Salam,

Meta


Surat balasan dari @JiaEffendie untuk @commaditya
Diambil dari: http://metanikalanta.tumblr.com/

Surat #DuaHati @chesterdee dan @nonayukee


Hening..

Sugar,
Bayang punggungmu yang menjauh masih membekas di pikiranku, mata ku masih terpaku pada titik dimana akhirnya perpisahan menguji kita lagi.
Dalam senyum aku berbalik, bersiap menghadapi rindu yang kian hari kian kejam.
Mulai lagi kususun kata yang sekian lama mewakili rindu, yang sempat terhapus kehadiranmu beberapa hari kemarin. Aku pulang, membuka kembali kertas putih itu dan merasakan kembali perasaan yang tak asing itu.
Aku mulai mengetuk (lagi) tombol huruf di keyboard laptop ku, melihat kata demi kata berbaris menggantikan rasa yang tersenggal diantara pusaran rindu.
Aku membaca lagi suratku, sebelum ku kirim, kupastikan setiap baitnya berafaskan cukup rindu untuk kau rasakan.
...
...
...
...
...
...
Detik berganti menit hingga akhirnya sang senja datang menggurui, suratmu tak kunjung datang.
Hening.
Apakah kamu disana baik saja, sugar?



Love,
Andika Winchester Saputra



Oleh: @chesterdee untuk @nonayukee
Diambil dari: http://wor-l-dplay.blogspot.com/


---


Kembali pada Kenyataan (?)


Dear Chester,

Butuh beberapa saat untuk kembali pada kenyataan, kembali berdamai dengan jarak. Aku memilih untuk diam, karena jika aku bersuara, hanya ada kesedihan yang terujar. Maaf untuk suratmu yang aku abaikan, karena tak ada kata yang dapat menggambarkan betapa kosongnya hatiku saat harus kembali ditundukkan oleh jarak.

My dear,

Hatiku lebam, telak lagi dipukul rindu, rasanya baru kemarin aku merasakan dinginnya bibirmu yang gemetar karena diselubungi kabut pegunungan. Air mataku tumpah, bermuara di pipiku, yang rasanya baru kemarin kau usap lembut dengan kedua tanganmu. Bahuku berguncang hebat, menahan sedu tangis, rasanya baru kemarin lenganmu melingkarinya. Chester, this longing is simply unbearable.

Maaf, Chester, aku memang tak dilahirkan untuk bisa berdamai dengan jarak, surat-suratku terdengar seperti surat keluhan, tapi, bukankah lebih baik jujur, daripada berpura-pura bahagia, padahal sebenarnya tidak ? I mean, i just want you to know, that i am dying here. Tapi, biarlah, biarlah aku sekarat ditempa rindu, toh nantinya akan terbayarkan dengan indahnya pertemuan selanjutnya.

Chester, menuliskan surat ini, mataku masih basah, mengerjap pelan, memainkan ulang masa-masa liburan singkat kita kemarin, aku coba untuk tahan berkedip, tapi air mataku lebih banyak berkumpul di pelupuknya, pasrah, aku memejamkan mata, kenangan kita bermain tanpa buffer.

Much love

Your one and only, Sugar :’(

Surat balasan dari @nonayukee untuk @chesterdee
Diambil dari: http://sebuahcatatan.tumblr.com/

Pengganggu Malam 2

Teruntuk Pengganggu Malam,

Selamat Siang! Gimana kabar kamu hari ini? Apakah masih sibuk seperti hari kerja biasanya? Pastinya kamu sibuk hari ini dan hari berikutnya, mungkin sibuk sudah menjadi nama tengahmu. Entah apa yang akan aku tanyakan, tapi beribu tanya seperti akan terlontar. Kehadiranmu kini nyata, mengusik hari sampai terbawa dalam mimpi. Ah… Apa artinya semua ini?

Pengganggu Malam, kini bukan hanya kamu yang mengganggu malamku. Aku mulai tergoda untuk mengganggu malammu. Kita bukan hanya sekedar bertukar kabar tapi bertukar energi. Malam yang suntuk, aku buat nyaman sampai kamu terkantuk. Meletupkan api yang entah membara atau penasaran semata. Aku menggoda kamu melalui getaran telepon seluler. Kita mabuk tanpa bantuan alkohol. Kita menuju khayangan tanpa bantuan barang terlarang.

Tidurku sudah mulai nyenyak tanpa bantuan obat. Malamku terganggu lagi karena tak ada balasan pesan di kotak surat. Membuat kepalaku sedikit penat. Apakah kini aku terjerat?


oleh @royansum
diambil dari http://royansum.wordpress.com

DuaPuluh

Untuk angkatan duapuluh, tiga bersaf kumpul. Mulai.

:p

Masih inget ga kalian akan aba-aba itu. Aba-aba yang menyatukan kita di tanah lapang disaat terik pula. Aku inget banget dan kangen akan itu, terlebih lagi akhir-akhir ini tapi berharap ga harus panas-panasan juga di bawah matahari ngumpulnya.

Buat ngumpulin serupa sepuluh jari tangan aja susahnya udah kayak apa tau apalagi untuk versi lengkapnya, entah kapan kesampeannya. Ya emang sih ga bisa salahin rutinitas juga yang kadang buat kalap waktu kita sendiri tapi apa kalian juga ga kangen sama kebersamaan duapuluh versi lengkapnya. Di setiap ada kesempatan sarana untuk kita ngumpul entah itu ada acara rutin dari sekretariat atau nikahan temen satu sekolah, waktu selalu ga pernah kompromi sama kita dan jadinya malah sering jatahan datengnya. Contohnya, kalo aku hari ini dateng tapi di kesempatan besoknya ga bisa dateng karna disibukin sm rutinitas. Suka gregetan sendiri. Kita juga suka labil kalau di jejaring sosial, udah umbar-umbar saling kangen tapi dalam hitungan hari ke depannya udah pada ganti topik lain aja di status jejaring sosial masing-masing. Ga salah sih emang karna pergaulan kita semakin melebarkan sayapnya dan aku juga ga bisa pungkiri itu. Jadinya ga heran kalo sampe sekarang rasa kangen itu baru sekedar wacana. :-V

Ayo dong duapuluh, kapan kita bisa huru hara lagi tanpa peduli ketenangan hidup sesama anggota dengan segala canda tawa iseng yang tercipta. Kapan lagi kita terbahak di tengah perbincangan akan segala memori saat diklat, pengukuhan, pelantikan, lomba, bahkan saat “sayang-sayangan” sama junior dan senior juga. Momen-momen itu ngangenin banget tauk. Dari yang dulu masih pada egois (maunya serba buat sendiri) sampe udah pada punya rasa peduli satu sama lain ya meski pertamanya ada embel-embel sok kebersamaan hehe. Tapi jujur aku kebawa banget akan itu sampe sekarang.

Meski kebersamaan kita berawal dari ekskul Paskibra waktu jaman SMA di Budut tapi dari sana aku punya rumah lain untukku singgah melepas penat akan rutinitas. Dan rumah itu kalian semua. Ga cuma angkatan duapuluh tetapi juga angkatan sebelum dan sesudah kita. Maka dari itu, kita ga boleh lupa untuk selalu inget akar kebersamaan yang buat kita jadi satu keluarga sampe sekarang.

Pokoknya kudu temu kangen itu terrealisasi segera dan jangan sampe kita ketemuan pas udah pada punya cucu ya karna itu lamanya kebangetan. Tapi yang lebih penting tali silahturrahmi harus tetep terjaga meski jarang banget untuk mata saling bertatap. Kalian tetep selalu di hatiku, duapuluh.

Duapuluh. Aku kangen.

Si penikmat cincau, Sari. :)


oleh @ssartika_ untuk to @amaliautami3 @enowidiani @yuriboim @ziahkozhie
diambil dari http://ssimply.wordpress.com

Aku Masih Bisa Mengingatnya

Rabu,

Aku teringat dengan seseorang yang saat itu pernah mengisi hidupku begitu singkatnya. Aku sangat senang dipertemukan dengannya saat itu. Ketika tidak ada perempuan yang bisa mengisi hatiku dengan nyaman, dia hadir dengan senyumannya yang manis.

Saat itu aku masih duduk dibangku kelas satu menengah keatas. Aku satu kelas dengannya, dan aku belum menyadari kehadirannya. Lalu pada ketika ada sebuah even musik, aku dan teman-temanku yang lain hadir, termasuk dia. Lalu dari situ kita mulai dekat dan kita menjadi teman baik.

Rabu, aku ingat saat kepalanya terkulai lemah tepat dibahuku, aku ingin sekali mengusapnya, tapi aku tidak berani, karena saat itu dia begitu lemah dan kedinginan. Aku ingin sekali memeluknya, tapi aku menahan diriku untuk tidak melakukannya.

Aku ingat saat kita terus bersama tanpa hubungan apapun, saat itu memang begitu menyenangkan. Apalagi saat kita berdua pulang bersama, rasanya pelajaran di sekolah yang begitu memuakkan terhapus begitu saja.

Aku masih bisa membayangkan begitu jelas saat tangannya menyentuh pinggangku. Kita pulang bersama menaiki motorku, lalu ditengah perjalanan hujan begitu derasnya hingga kita memutuskan untuk menepi. Tapi karena kita berdua malas menunggu hingga hujan reda, kita lebih memilih untuk kehujanan bersama. Canda dan tawa-pun tak luput mengiringi perjalananku saat mengantarnya pulang.

Rabu, ada hari dimana kita kehujanan bersama, dan menurutku itu sangatlah sering. Satu lagi yang aku ingat saat hujan lebat seusai jam sekolah. Aku dan dia memutuskan untuk mampir ke rumah temanku yang tidak begitu jauh dari sekolah. Kita dan yang lainnya kehujanan bersama. dan setelah itu aku memberanikan diri untuk memberi tahu isi hatiku kepadanya.
Aku mencintainya rabu..

Hari pertama kita jadian aku masih begitu kaku terhadapnya, karena itu adalah pertama kali aku memiliki seorang kekasih. Iya rabu.. dia cinta pertamaku. Aku masih begitu malu untuk menggumbar hubunganku didepan teman-temanku. Bahwa aku sebenarnya tahu bahwa mereka juga mengetahuinya saat aku sudah mengubah statusku menjadi berpacaran di facebook.

Hari kedua, kita masih belum dekat, tapi kita terus saling memberikan perhatian satu sama lain walaupun hanya lewat pesan singkat yang tak pernah berhenti aku kirimkan untuknya. Dan saat itu aku masih malu-malu untuk memanggil kata “Aku dan Kamu” secara langsung, tapi aku bisa melakukannya dengan baik saat di pesan singkat itu, yang dimana aku mencurahkan isi hatiku dengan sebenarnya, walaupun tidak dalam bentuk ucapan yang bisa didengar, aku yakin dia tahu bahwa aku sangat menyayanginya.

Rabu, hari ketiga sudah begitu banyak yang mengetahui hubungan kita, bukan hanya teman sekelas, tapi teman-teman di luar kelas juga mengetahuinya. Entah saat itu aku senang atau tidak tentang hubunganku dengannya yang sudah diketahui banyak orang. Karena aku masih begitu malu untuk lebih dekat dengannya di sekolah. Maklum saja rabu, dia cinta pertamaku.

Hari keempat aku berusaha memanggil satu sama lain “Aku, Kamu” tapi saat kita hanya berdua saja. ketika tidak ada orang disekitar, aku begitu nyaman bersamanya, dan aku tidak perlu malu untuk memanggilnya dengan sebutan sayang.

Rabu, hari kelima hubungan kita makin meluas. Bukan hanya satu kelas yang tahu, atau beberapa siswa di kelas lain, tapi ada orang yang juga mengetahuinya, dan orang itu begitu penting untuknya. Dia ibunya rabu.

Jarak diantara kita berdua dihari keenam kian mendekat, rasa malu untuk lebih mengeluarkan rasa sayangku sudah berkurang sedikit. Saat di kelas aku selalu menghampirinya ketika tidak ada guru yang hadir saat jam pelajaran. Dan disitu kita saling mengobrol, bercanda, bahkan temanku yang lain kadang ikut bergabung bersama kita.

Di hari ketujuh rabu, sudah tidak ada kecanggungan lagi didalam diriku untuk bersamanya. Karena aku sudah berusaha keras untuk menjadi lelaki pemberani walaupun aku baru pertama kali pacaran. Aku tidak pernah membaca buku tentang bagaimana cara menghadapi cinta pertama, tapi aku membiarkannya mengalir begitu saja, karena aku mencintainya tanpa paksaan apapun. Dan aku tahu diapun begitu terhadapku. Lalu dihari itu aku menerima sebuah pesan singkat.

Ibunya mengirimiku pesan singkat yang membuat aku risau pada hari kedepalan, dan aku berusaha menyembunyikan itu dihadapannya. Kita hari itu makan berdua dalam satu meja, rabu. Tidak ada yang lebih menyenangkan saat kita berdua makan bersama. Aku ingin terus merasa sebahagia itu, tapi hal lainpun mengusik pikiranku. Ibunya tidak berhenti mengirimiku pesan singkat. Aku selalu membalasnya.

Hari kesembilan aku seolah-olah sudah makin dekat dengannya rabu. Aku sudah tidak mempunyai rasa malu lagi. Bahkan sepulang sekoalah kita sempat berpegangan tangan. Aku sangat sangat bahagia saat itu. Akhirnya perasaanku mengalir begitu derasnya, aku sangat mencintainya, dan perlahan aku bisa menunjukannya melalui tingkah laku walaupun dalam hal-hal kecil. Saat di dalam bus, aku membicarakan mengenai hal yang membuatku risau, tentang keadaan kita yang telah diketahui oleh orangtuanya. Menurut gosip yang beredar, ada temanku yang dikelas yang memberi tahu hubungan kita ke ibunya, rabu. Saat aku mengatakannya, kita berdua sempat diam satu sama lain. Akhirnya aku mencoba mengalihkan pembicaraan, karena aku tahu dia juga tidak mau membahasnya. Rabu.. setibanya di rumah aku masih memikirkan pesan singkat dari ibunya. Aku masih mengingatnya begitu jelas..

Tolong jauhi dia, karena dia sudah ada yang pantas memilikinya. Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti apa artinya cinta. Lebih baik kamu tinggalkan dia, masih banyak perempuan lain yang bisa kamu miliki.

Begitulah seingatku. Aku tidak mengerti apa yang aku harus lakukan rabu. Seusai solat ashar aku berdoa dan meminta petunjuk, akhirnya aku memilih sebuah keputusan yang akan mengubah hidupku selamanya.
Aku memutuskannya..

Itulah yang aku ingat Rabu..
Sembilan hari yang menurutku sangat berarti. Dan hingga kini aku tidak pernah lagi mengalami cinta seperti itu. Bukan hanya itu, bahkan untuk melupakannya saja aku membutuhkan waktu hingga tiga tahun lamanya.
Karena aku sangat mencintainya, rabu. Dan hari dimana aku memutuskannya, airmataku tidak berhenti mengalir, aku selalu berdoa yang terbaik untuknya.

Rabu..
Sekian suratku kali ini, terima kasih sudah menjadi pendengar sekaligus sahabatku yang baik.
Aku mencintaimu rabu, seperti ketika aku mencintainya.


oleh @skandarwhe
diambil dari http://thisismyshortstories.blogspot.com

Buat Kamu, Sang Pembaca.

 Halo, kamu, pembaca tiap tulisanku :)

Makasih banyak ya udah bacain tulisan aku
Ya walaupun tulisan aku ini ya cuma gini - gini aja
Aku emang bukan pujangga yang pandai merangkai kata
Aku juga bukan pemain kata yang bisa memainkan kata dengan indah

Tapi di sini, aku sedang berusaha
berusaha menulis
dan merangkai kata
Aku sedang berusaha mengembangkan kemampuanku
Aku sedang berusaha memanggil kembali hobi menulisku yang dulu pernah ada
Aku sedang mencoba untuk konsisten tetap menulis
Dengan ikut program ini, aku harap kemampuanku bertambah sedikit demi sedikit
Aku juga berharap agar aku bisa menjaga kekonsistensianku ini sampai suatu hari nanti

Terima kasih banyak ya kamu- kamu yang mau tetep bacain tulisan aku
Jangan diketawain ya, kasih komentar aja gapapa ;')



Terima kasih juga buat #30HariMenulisSuratCinta.
Terima kasih banyak ;)




Sekian,
With Love.


oleh @rasnyos
diambil dari http://namapanjangku.blogspot.com