#30HariMenulisSuratCinta adalah proyek non komersil yang digagas untuk menggabungkan kesenangan menulis di twitter dan blog. Proyek belajar menulis bersama ini dilaksanakan setiap 14 Januari - 14 Februari setiap tahunnya. Ini adalah tahun ketiga pelaksanaan proyek menulis yang juga menjadi ajang silaturahmi dari blog ke blog.
Showing posts with label Surat Cinta #21. Show all posts
Showing posts with label Surat Cinta #21. Show all posts
04 February 2013
Untuk Yang Maha Segala
Bandung, 3 Februari 2013
Kepada Yang Maha Mendengar dan Yang Maha Mengabulkan.
Ini cuma sebuah surat yang di dalamnya terdapat beberapa paragraf tentang penjelasan spesifik mengenai mimpi-mimpi yang aku dan dia — kami punya. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan mimpi-mimpi ini, namun semua tidak ada artinya jika tanpa seizinMu. Oleh karena itu aku berharap semoga Engkau menyempatkan membaca surat ini di sana. Selamat membaca, wahai Yang Maha Mengerti :)
Begini awalnya, kami sebagai mahluk-Mu yang dikaruniai imajinasi begitu tinggi, pernah membahas mengenai kehidupan kami di masa datang. Dia punya mimpi, berkeliling Indonesia bersamaku, menggunakan sebuah karavan cantik milik kami. Karavannya tidak terlalu besar, namun cukup untuk kami tinggal disana.
Aku juga punya mimpi, tinggal di karavan bersamanya, bermalam di tepi pantai, berbicara banyak hal — pendidikan, pemerintahan, politik, perekonomian di negara ini, teknologi, isu-isu terkini, atau cuma sekedar berbicara mengenai gosip murahan tentang selebritis yang selalu mencari sensasi itu. Kami akan berbicara dan tertawa ditemani suara ombak. Karavan yang kami punya pun sangat sejuk, namun juga cukup hangat untuk melindungi kami dari angin malam dan hujan.
Dia punya mimpi, membuat suatu perusahaan, mempekerjakan banyak orang, untuk membantu mereka yang kekurangan pekerjaan. Dia bekerja dengan laptop kesayangannya, ditemani olehku sambil membaca salah satu novel kesayanganku dan secangkir susu hangat, duduk berdua di sudut karavan kami.
Aku punya mimpi, bekerja demi deadline menulis artikel dan cerita pendek untuk sebuah majalah, juga menulis beberapa draft untuk buku pertama, atau keduaku, ditemani olehnya, dan dua cangkir berisi teh hangat. Kehidupan kami saat itu seperti es krim dengat topping strawberry — terkadang ada rasa asam yang hadir, namun secara keseluruhannya tetap manis.
Kami punya mimpi…
Tinggal bersama, berkeliling Indonesia, berpelukan dengan hutan, bercengkrama dengan pantai, bersahabat dengan gunung, memotret keindahan alam, merekam semua memori-memori kami, dan memasukannya dalam satu album terbaik di kehidupan kami.
Sekian cerita dan detail yang mungkin terdengar muluk-muluk tentang mimpi kami. Ah biarlah, kami yakin mengenai ini semua, dan kami yakin Engkau Maha Mendengar.
Dengan segala kerendahan hati, kusudahi dulu surat ini, semoga Engkau mengabulkan mimpi-mimpi ini dengan perlahan, namun pasti.
Sembah sujud,
Aku.
Oleh @waktuhujansore
Diambil dari http://spidolungu.tumblr.com/
Labels:
Surat Cinta #21
Berjumpa di Jogja (?)
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh Kak @anan1n0
Haaaiii… Kau kah itu yang menyapaku dalam gambarmu? Ahh.. Aku merasa tersaingi.. Hihihihi.. Kenapa tak kau biarkan aku sendiri yang menikmati kegembilan pipi dan endut di peyuut… Ehehehehe… Tapi jika itu terjadi padamu, semoga karena kau mengalami perbaikan gizi…
Oh iya, bagaimana Surabaya? Sudah cukupkah ia memberimu berkantung-kantung rindu diantara hari-harimu yang menunggu? Ah, tenang saja ia sudah cukup menjadi saksi nyata atas cinta yang kini memelukmu. Erat!
Pun denganku, tak pernah menolaki rindu yang selalu meyeruak setiap aku menoleh pada bilik di bawah tangga itu.. Ya, yellow square ituu.. Tempatmu meminjamkan telinga kepadaku, dulu
Maaf ya, banyak hal tak penting yang kemudian mampir di telingamu atau bahkan terpaksa mendekam dalam satu ingat yang kau miliki. Aku tak pernah berniat memaksamu mengerti semua hal yang meluncur begitu saja dari mulutku. Namun, itulah aku, jika telah mersakan nyaman, maka bisa dengan lepas banyak hal diceritakan
Maaf juga karena aku tak bisa menjadi saksi kebahagiaan yang telah lama kau tunggu. Terima kasih atas doa agar bisa segera menyusul sebahagia dirimu.
Entahlah kapan kita akan memeberikan waktu untuk sampai pada titik yang menjadi muara penantian kita. Menjawab segala tanya, “kapan kita bertemu mata?” Ya, nanti pasti ada saatnya. Lama kan kau tak mendengar gelakku? Pun begitu denganku..
Sudah, simpan yang rapi dulu ya kangennya. Nanti sama-sama kita bagi dalam tawa. Setuju?
Jadi, bagaimana? Apakah kita bertemu di Jogja saja?
Aku,
pecinta pinky square :’)
Oleh @wulanparker
Diambil dari http://lunastory.wordpress.com/
Labels:
Surat Cinta #21
Next Door
Hai perempuan kamar sebelah.
Saya tinggal di kamar 404, kita sering berpapasan di lorong. Saya suka gaun putih keabu-abuan yang biasa setiap pagi kau pakai, itu seragam kan? Saya juga suka lelaki yang biasa keluar dari kamarmu setiap subuh. Terlihat matang dan berwibawa.
Aku sering sengaja membuka pintu dan merokok di tengahnya, pada jam-jam ia akan keluar dari kamarmu. Aku tahu kebiasaannya mencium keningmu sebelum ia meninggalkanmu, dan kembali lagi 2 malam berikutnya.
Dia tampan ya, wajahnya sabar sekali. Sudah berapa cucunya? Apa ada yang seumur denganmu? Atau bahkan ada yang seumur denganku? Kalau kau mulai tidak suka dengannya, kau tahu nomer kamarku, suruh saja dia ketuk. Aku akan ada selalu.
Atau kita bisa sesekali saling bertukar pengalaman, kalau kau punya waktu luang, mampirlah ke kamarku, ketuk saja. Aku akan sediakan teh English Breakfast. Kalau kau tak suka, aku punya kopi Toraja. Kalau kau tidak suka juga, aku punya Red Label tersisa setengah. Kalau air mineral, sebaiknya kau bawa sendiri, akupun kekurangan itu.
Semoga kau tidak keberatan dengan tawaranku.
- Perempuan Kamar Sebelah -
Oleh @ulansabit
Diambil dari http://punyaulan.wordpress.com
Labels:
Surat Cinta #21
Kemana Hari Pergi?
Hi,
Kamu. Yang ntah dengan cara apa lagi harus aku lupakan.
Kenapa move on itu sulit?
Pernah, kepada hari Senin aku bertanya, "Kemana kamu pergi ketika Selasa datang?" Lalu senin menunduk tanpa jawaban.
Lalu aku bertanya pada hari Selasa, "Apakah kamu berlari-lari ketika Rabu tiba?" Selasa agak berbeda, mungkin dia adalah hari yang paling riang, hingga hanya menyunggingkan senyum disudut bibirnya.
Lalu aku bertanya pada hari Rabu, "Apakah kamu pernah berharap supaya hari Kamis tidak pernah tiba?" Rabu pura-pura tidak mendengar.
Lalu aku bertanya pada hari Kamis, "Kamu sedih ketika Jumat datang untuk menggantikanmu?" Ternyata Kamis mudah tersinggung, makanya ketika malam, kamis terlihat sangat menyeramkan.
Lalu Jumat datang diiringi teriknya matahari, "Apa yang kamu lakukan ketika Sabtu bertugas?" Jumat menatapku. Tanpa suara. Namun tak pernah lepas memandangku. Ada yang salah?
Lalu aku mendapat pertanyaan dari Sabtu, "Sebelum kamu yang bertanya, Kenapa selalu ada rentetan pertanyaan darimu untuk hari?" Ternyata Sabtu itu kritis. "Memangnya nggak boleh?" Aku balik bertanya. Sabtu yang easy going tak enggan menjawab, "Tanyakan saja pada Minggu yang bergoyang, mungkin dia bisa menjawab tanyamu."
Kepadamu, si Minggu yang maha santai membingkai waktuku, "Kemana kamu pergi ketika hari lain menggantikanmu? Apakah kamu sedih ketika harus digantikan oleh yang lain?"
Kepadamu, perempuan yang maha kritis menyikapi hidup, "Kami punya cara sendiri untuk menghadapi siklus seperti ini; datang, dilalui, lalu ditinggalkan. Hanya ada satu kekuatan yang bisa mencengkram ragamu untuk cukup kuat ketika ditinggalkan."
"Apa?" Kataku, sambil menikmati detik-detik terakhir bersama Minggu.
"Biarkan dia melewati aku bersama yang lain. Hidupnya tak harus terus bersamamu kan?" Seketika Senin datang ditirai hujan. Minggu telah pergi dengan rentetan penjelasannya tentang siklus hari. Aku menarik selimut sambil membenamkan kepalaku dibawah bantal, berusaha meresapi setiap kata yang Minggu lontarkan.
(Aku enggan menyebut namamu disini), Waktu kamu pergi sambil menggandeng yang lain, yang kubutuhkan hanya keikhlasan. Biar aku temukan caraku sendiri. Kamu hati-hati yaa :_)
Oleh @zaaaturra_
Diambil dari http://zhr-izza.blogspot.com/
Labels:
Surat Cinta #21
Kita Sudah Saling Menjaga
Hari itu tanpa hujan. Sore yang lelah. Aku meregangkan tubuh penatku dari sebuah bangku kayu yang keras. Hampir 3 jam aku duduk di ruangan perpustakaan itu. Aku menengok jam tanganku. Sudah waktu berkunjung rumah sakit.
Sebenarnya mengunjungimu tak perlu batasan waktu tetapi kau melarangku, katamu aku harus tetap belajar.
Ah, pak No…
Akhir September tahun lalu. Kita pernah berdebat seru tentang siapa yang seharusnya menjaga, siapa yang dijaga. Kau bersikeras bahwa akulah yang selamanya harus dijaga. Tetapi aku pun bersikeras sebab ada saat tiba akulah yang menjagamu.
Hingga aku jatuh sakit.
Hela nafasmu yang berat. Iya aku dijagamu. Kamu benar, kamulah sang penjaga. Setiap hari di sisiku menemani, melayani. Bahkan kau membacakan materi-materi kuliahku dari buku-buku tebal itu. Kita tertawa bersama kala kau membaca kosakata yang sulit, dengan mimik yang lucu berusaha membuat terdengar benar dan berulang kali aku membetulkan istilah-istilah itu, hingga tanpa sadar aku semakin berusaha tetap belajar. Katamu, aku tak boleh ketinggalan meraih cita-cita.
Hela nafasmu yang berat. Ketika aku semakin rewel, sakit tak kunjung membaik. Pun engkau membantu membalaskan DM dari kakak yang beberapa hari menginginkan aku jauh. Setiap balasan DM dikirim, helamu semakin berat dan berkata, sudah ya mbak Lala, Kakak itu tak mungkin mau baikan…
Ah, pak No… itu membuatku makin sakit. Tetapi kau tetap menjagaku hingga sembuh.
Kini aku menjagamu. Lihat pak No, siapakah yang seharusnya dijaga? Kita sudah tertawakan hal ini.
Dan sepakat. Kita sudah saling menjaga.
Pak No, lekaslah baik. Besok aku masih menjagamu, jadwal kita adalah kamu belajar berjalan kembali.
Tetaplah menjadi malaikatku dengan sepasang sayap yang penuh kasih.
Berkah Dalem
Lala
Notes : Pak No bekerja sebagai driver di keluarga kami tetapi bagiku dialah malaikat penjagaku.
Oleh @_bianglala
Diambil dari http://pelangiaksara.wordpress.com
Labels:
Surat Cinta #21
Ra!
DOR! Pasti lo kaget kan gue kirimin surat? HAHAHAHA. Ya gimana gue memang orangnya penuh kejutan sih.
Apa kabar lo si-orang-yang-gak-jelas-Indonesia-apa-Malaysia ? Gimana pulang kampung, seneng? Seneng lah sampe nge-whats app gue aja jarang. Hih! Siap-siapin diri ya, sebelum balik lagi ke dunia perdramaan gak jelas di sana, oke sorry maksud gue dunia perkuliahan di kampus kita tercinta yang bisa-bisa bikin males makan saking eneknya sama keadaan di sana.
Eraaaaa, kenapa IP kamu lebih besar dari aku? *nggak terima* Semester ini ajarin aku ya ajaarin pokoknya!
Anyway, di surat ini gue mau berterima kasih sama lo. Terima kasih karena gak bosan gue bawelin, gue curhatin dan gak bosan ngingetin gue buat kuliah, ngajarin pelajaran yang gue gak bisa. At least IP gue gak kaya semester dua ya, hancur betul. Kalau gak ada lu, serius gue udah pindah kuliah lagi ke Bandung deh. Dan makasih-makasih lainnya yang gue gengsi untuk ungkapkan di sini.
Lo masih muda deh. Lakuin apa yang menurut lo bikin lo bahagia, ya. Jangan kebanyakan mikir. Jangan sering merasa tertekan. Jangan sibuk mikirin “gue kewarganegaraan Malaysia tapi pengen pindah jd Indonesia” oke ini ngarang guenya haha. Jangan trauma-trauma lagi sama cerita masa lalu lo. Karena setiap orang itu berbeda dan lo gak bisa menyamaratakan orang-orang. Tetap jadi teman yang baik ya :)
PS: Jujur sama perasaan sendiri itu harus loh, jangan pendem apa-apa sendirian dan jangan bersikap ok ok aja padahal nggak. Ada gue kan mbak’e.
See you on first day in this new semester. Gue kangen sih sebenernya *peyukin*
Oleh : @mutiaamalia
Diambil dari http://mutiaamalia.tumblr.com/post/42174510336/ra
Pukul 06.00 Pagi Hari
Untukmu yang selalu rajin membangunkanku,
Pukul 06.00 pagi hari,
Enam hari kerja, Senin sampai Sabtu. Kamu selalu setia mendendangkan tembang pagi lewat suara merdumu. Meskipun kadang berteriak, tetapi tidak membuat sanggurdi telingaku rusak. Aku sudah hafal dengan nada-nada itu. Nada yang lahir dari sebuah kesetiaan cinta. Irama yang terangkai dengan tulus hanya untuk menjadikan aku lebih bahagia saat pagi hari. Itu yang membuatku jatuh cinta padamu, sekali, setiap hari kerja.
Pukul 06.00 pagi hari,
Kembali kau berdendang untukku. Seperti biasa aku beranjak, lalu menujumu yang sedang menungguku. Kedua tanganku memelukmu erat. Seperti enggan berpisah. Padahal setiap hari, tetapi rasanya ikatan itu semakin kuat terjalin antara aku dan kamu, kita. Gilakah aku bila mencintaimu? Ah! Tentu tidak. Sebab aku punya alasan mencintaimu. Suara merdumu alasan itu. Selebihnya, mungkin lebih baik kusimpan saja alasan itu. Bagiku, melakukan sesuatu mempunyai alasan, termasuk mencintaimu setiap pagi.
Pukul 06.00 pagi hari,
Untuk kesekian kalinya, kamu mendendangkan tembang lagi. Hari ini, aku terbuai. Kuacuhkan kehadiranmu lewat suara. Sebab aku sedang lelah dengan perhatianmu. Bosankah aku? Tentu tidak. Hanya saja sebuah hubungan kadang butuh spasi. Aku hanya ingin memberikan jarak antara kita, seminggu sekali. Setidaknya dengan begitu, aku bisa menghargai ketulusanmu membangunkanku setiap hari. Entah bagimu. Tapi, aku rasa itu tidak masalah bagimu, kan? Semoga.
Pukul 06.00 pagi hari,
Terima kasih telah setia menemaniku, sehingga pagiku selalu hangat dengan kehadiranmu. Meskipun, hanya lewat suara saja. Tetapi, bagiku itu lebih dari cukup. Meskipun aku tahu mencintaimu tidak mengenal kata cukup, tetapi begitu caraku mencintaimu. Sederhana saja. Sesederhana saat aku bangun pagi agar tidak terlambat sampai tempat kerja karena suaramu membangunkanku, alarm Blackberry-ku.
Aku yang tak terganggu kehadiranmu,
@momo_DM
Oleh @momo_DM
Diambil dari http://bianglalakata.wordpress.com/2013/02/02/30harimenulissuratcinta-20-pukul-06-00-pagi-hari/
Dia yang Mengetikkan Ini Untukmu
Selamat pagi, sayang..
Perlukah aku menanyakan kabarmu di surat ini ketika aku tidak mampu melakukan apapun selain berdoa jika ternyata keadaanmu sedang tidak baik?
Hari ini, seorang lelaki bertanya padaku, "Mengapa kamu masih mempertahankannya? Padahal yang kamu rasakan saat ini hanyalah sakit. Dia tidak mempertahankanmu."
Aku menjawabnya, "Karena melepaskannya akan lebih sakit rasanya."
Kemudian alisnya berkerut, dan kembali bertanya, "Bagaimana kamu tahu? Kamu belum pernah melepaskannya."
Aku tersenyum. Aku bersusah payah menahan tangisku dan menjawab, "Kita semua tahu bagaimana rasanya menjalani sesuatu yang tidak kita inginkan. Kita tahu itu akan sangat menyakitkan."
Perlu kamu ketahui, bukan aku yang mengetik surat ini. Melainkan dia.
Jemari ini sudah terlalu lemah, bahkan untuk menghitung hari kapan kamu akan pulang.
Selamat malam, sayang..
Ps. Perlukah juga aku berkata bahwa aku masih cinta kamu di surat ini ketika aku tidak mampu melakukan apapun untuk membuktikannya selain dengan kesetiaanku yang tidak kamu hargai saat ini?
Oleh @meyrzashrie
Diambil dari http://meyrzashrie.blogspot.com/2013/02/dia-yang-mengetikkan-ini-untukmu.html
Dear You
Dear You,
aku menulis surat lagi, kali ini aku akan menulis tak akan berhenti, aku akan tepat waktu, hari ini aku menulis surat hanya untukmu.
Dear You,
malam ini aku tak bisa menutup kelopak mataku, hanya kamu yang ku pikirkan, sebenarnya mau mu apa sih selalu saja menganggu walaupun sedang berantem begini. Kamu rese.
Dear You,
you know what i'm talking about, hari ini aku melangkah satu langkah lebih maju lagi, aku akan melupakan sang masa lalu yang selalu saja mampu membuatku lemah.
Dear You,
kamu tetap semangat hidupku dan aku tau banyak yang telah berubah, bahkan kamu lebih sensitif sekarang.
Dear You,
sudah lelah kah engkau berjalan menempuh jalan yang sama setiap hari nya selama 365+365+321 hari berturut-turut?
Dear You,
masih mau kah engkau menjadi tempatku mengaduh saat aku sedang sedih atau senang? dosa memang aku tidak jadikah Tuhan tempat mengaduhku.. namun..
Dear You,
walau aku bukan yang terpenting di dalam hidupmu, aku senang sudah bisa menganggumu hampir setiap harinya, kamu lah tempatku bermanja-manja ria sepuasnya, kamu lah tempatku mengoceh saat aku sedang bosan, kamu lah tempatku mengaduh ketika aku sedang merasa tidak pasti, ah ya kamu sangat penting untukku.
Dear You,
banyak yang telah kita lalui, kita jadi lebih kuat ya bukan kuat gitu maksudnya kuat diam-diam-an, hebat deh tapi bikin akit hati tauu *sadface* haha ngelantur kan sekarang ckck udah ah gitu aja suratnya..
Dari,
lolypop.
Oleh : @lolytaabella
Diambil dari http://theauroraluminary.blogspot.com/2013/02/dear-you.html
Selamat Bertambah Dewasa, Dek!
Dear, @oppsyshanty
Happy Birthday!
Welcome to another part of life. Happy being a teenager in another level!
Dear Anty,
Selamat bertambah umur, selamat melaju di lembaran usia yang baru. Semoga sesuatu yang baik selalu menghampiri dan mendampingimu di usia ini dan kebahagiaan takkan pernah terlepas dari dekapan. Hey, how old are you now?
Dear Anty,
Jangan pernah takut untuk menjadi dewasa. Jangan pernah takut untuk melangkah di tahap kehidupan dimana tanggung jawab penuh akan diri sendiri sudah harus mulai di emban. Panggullahitu di pundakmu, dan jika kamu merasa terlalu berat untuknya, berbagilah dengan orang di sekitar yang menyayangimu, jangan memaksa menanggung semua derita seorang diri, you''re not alone in this random world! Jangan ragu untuk meminta bantuan atau bahkan sekedar meminta untuk didengarkan. Dengan begitu, kehidupan yang seimbang akan kamu raih. Menjadi dewasa takkan pernah sesulit yang kamu kira. Percayalah.
Dear Anty,
Menjadi seseorang yang tangguh dalam segala cobaan hidup memanglah tidak mudah, terlebih di usia yang rentan akan segala macam godaan hal duniawi. Namun, dengan berbekal keyakinan yang kuat dan kepercayaan diri yang penuh, aku yakin kamu pasti bisa menjadi seorang kesatria di segala jenis medan ujian dunia. Tetaplah ingat dan dengar segala pesan orang tua, nasihat sahabat, kritik dan saran dari orang - orang terdekat dan jadikan semua itu motivasi untuk menjadi yang terbaik diantara ribuan yang terhebat. Suatu saat, Anty yang aku kenal beberapa saat lalu masih menjadi seorang remaja yang 'labil' akan bisa berubah menjadi seorang pribadi yang lebih sabar dan bijaksana dalam mengahadapi setiap gelitik kehidupan yang singgah. Suatu saat, Anty yang remaja 'labil' akan bisa menjadi suatu kebanggaaan bagi orang - orang yang menyayanginya, bisa kan? Pasti bisa! Dan yang terpenting dari itu semua, selalu ikuti kata hati mu, karena hanya kamu-lah yang berhak menentukan mana yang langkah terbaik untuk diambil. Menjadi dewasa itu pilihan, dan suatu keharusan:)
So, selamat bertambah dewasa ya, Dek! :*
Oleh @lionychan untuk @oppsyshanty
Diambil dari http://www.lionymayestica.com/2013/02/selamat-bertambah-dewasa-dek.html
Surat Kangen
Halo, bondol-nya aku apa kabar?
Semoga sehat dan baik-baik selalu ya di sana (ceritanya LDR).
Aku baru sempet tulis surat buat kamu nih, maaf ya soalnya dari kemarin aku lagi (sok) sibuk banget.
Gimana kabar Jakarta, udah gak banjir, kan? Di sini tiap hari hujan, semoga di sana gak ada apa-apa ya (sombong sebentar mumpung lagi di Surabaya).
Udah seminggu gak ketemu, ya? Aku kangen tauk. Kangen ngomong logat Medan, kangen denger kamu nyanyi, kangen liat muka kamu waktu denger aku nyanyi (hehe), dkkl (dan kangen-kangen lainnya).
Segitu dulu aja ya suratnya. Nggak tau mau nulis apa lagi akunya, pleeesssss aku belom sarapan. *lari ke restoran*
see you at Jakarta :*
oleh @ristonesian untuk @ikavuje
diambil dari http://ristonesian.tumblr.com
Semoga sehat dan baik-baik selalu ya di sana (ceritanya LDR).
Aku baru sempet tulis surat buat kamu nih, maaf ya soalnya dari kemarin aku lagi (sok) sibuk banget.
Gimana kabar Jakarta, udah gak banjir, kan? Di sini tiap hari hujan, semoga di sana gak ada apa-apa ya (sombong sebentar mumpung lagi di Surabaya).
Udah seminggu gak ketemu, ya? Aku kangen tauk. Kangen ngomong logat Medan, kangen denger kamu nyanyi, kangen liat muka kamu waktu denger aku nyanyi (hehe), dkkl (dan kangen-kangen lainnya).
Segitu dulu aja ya suratnya. Nggak tau mau nulis apa lagi akunya, pleeesssss aku belom sarapan. *lari ke restoran*
see you at Jakarta :*
oleh @ristonesian untuk @ikavuje
diambil dari http://ristonesian.tumblr.com
Sinar di Waktu Sore
Di tengah langit sore aku terduduk sesekali memandang keluar dari balik kaca di ketinggian pusat Ibu Kota. Banyak kendaraan terlihat melintas perlahan di bawahku. Jembatan di atasnya terhempas kosong masih dalam pembangunan.
Di atas meja bundar dengan ditemani secangkir kopi yang sudah setengah aku habiskan, mataku berpindah dan tak henti memahami kata-kata dalam buku yang sedang aku baca. Lembar demi lembar kulahap habis tanpa aku memikirkan lagi keadaan sekitar. Lalu hingga kamu muncul dengan sinar kecilmu menyinari sisi bagian atas buku. Aku masih tidak memperdulikan kehadirannya, karena aku sudah dalam posisi sangat nyaman dimana aku terduduk.
Lalu sinarmu perlahan melebar menampakan kecerahannya di seluruh bagian bukuku hingga mataku terlalu silau untuk melihat tulisan yang sedang aku baca. Aku pun menggeser sofa yang kududuki lalu menghadapkannya tepat ke jembatan layang dan bangunan tinggi yang menjulang dengan gagah berani.
Kuhentikan mataku untuk tidak membaca lalu kuletakan buku di atas meja. Kuperhatikan sinarmu yang berasal dari atas gedung-gedung dimana tempat kamu berada, dan langitpun tak mampu manghalangi pancaranmu. Bahkan seluruh kaca di gedung bertingkat tak mampu menghalau atau menghentikanmu.
Kuhentikan mataku untuk tidak membaca lalu kuletakan buku di atas meja. Kuperhatikan sinarmu yang berasal dari atas gedung-gedung dimana tempat kamu berada, dan langitpun tak mampu manghalangi pancaranmu. Bahkan seluruh kaca di gedung bertingkat tak mampu menghalau atau menghentikanmu.
Pantulan sinarmu begitu jelas hingga ia semakin melebar ke bagian gelap tepat di bawah jembatan. Rerumputan dan pohon kecil begitu damai menyambut kehadirannnya. Saat itu aku tahu bahwa mereka sangat senang dengan kehadirannya sinarmu yang menerangi setengah bagian dari mereka. Rerumputan dan pohon kecil itu begitu terlihat sangat hidup karena ia menampakan gerakan kecil mengikuti gerak angin yang lewat.
Tak jauh dari situ aku melihat sinarmu menampakan kilaunya ke seluruh bagian lahan kosong, yang menjadi ruang dengan tanamannya yang hijau di tengah kota. Dan terlihat dua bagian dari ruang hijau itu membentang namun tak cukup luas, dengan bangunan tinggi di sekelilingnya yang masih berdiri, mereka semua seolah memeluk ruang hijau itu sambil tersenyum menyapa sinarmu.
Mataku menatapmu, dimana menjadi tempat sinar itu berada. Aku menyipitkan mataku sesekali, alis tebalku-pun mengkerut. Bisa kulihat sinar yang lebih terang, berada mengelilingimu. Kau bagaikan bola lampu yang menyinari ruang kamarku. Namun sinarmu jauh lebih terang dan mampu membentangkan keseluruh jagad raya.
Kurasakan kehangatan di seluruh wajahku. Sinarmu masuk ke setiap pori-pori kulit wajahku tanpa aku bisa menghalanginya. Walau aku memakai jaket dengan penutup kepala, tapi aku tidak menggunakannya, aku ingin merasakan sinarmu ini masuk hingga ke seluruh pori-pori bagian tubuhku yang tidak tertutupi pakaian.
Kupejamkan mataku, kali ini bukan kegelapan yang aku lihat, melainkan sebuah cahaya berwarna oranye. Lalu lama kelamaan berubah warnanya menjadi merah hati.
Nafasku tak henti menghirup sinarmu, aku ingin merasakan kehangatannya masuk ke seluruh tubuhku dan menghangatkan sel-sel syaraf hingga kebagian jantung yang tak berhenti berdetak, seolah ia juga bisa merasakan kehadiran sinarmu.
Nyaman rasanya menyatu dengan sinarmu sore ini di antara keramaian yang mungkin tidak terlalu peduli, dan aku senang menjadi salah satu orang yang menyadari kehadiranya. Aku tidak akan pergi menjauh untuk menghindarinya. Aku akan tinggal, dan merasakan kehangatan ini.
Terima kasih sudah menemani waktu soreku dengan sinarmu yang begitu indah.
oleh @skandarwhe
diambil dari http://thisismyshortstories.blogspot.com
Terima kasih sudah menemani waktu soreku dengan sinarmu yang begitu indah.
oleh @skandarwhe
diambil dari http://thisismyshortstories.blogspot.com
Apa Kabar, Papa?
Hai papa ..
Lama tak ada sapaan "bro, sedang apa?" di chat BBM ku. Papa sehat-sehat aja, kan? Bukannya aku tak mau menyapa duluan, aku cuma tak bermaksud mengganggu konsentrasimu dalam hal apapun. Walau terkadang aku rindu.
Oh ya pa, aku baru aja selesai ujian semester, dan sekarang lagi liburan selama 3 minggu. Ada waktu sebentar gak buat ketemu? Satu jam aja pun gak apa, biar kutentukan hari dan jamnya. Masalah tempat, kita ke tempat biasa. Warung sop di simpang empat kota kita. Biar kali ini aku yang bayarin papa, dari sisihan uang jajanku.
Kemarin siang aku lihat mobil sedan-mu yang kilap melaju kencang melintasi jantung kota. Kenapa terburu-buru? Aku tak mau papa kenapa-kenapa hanya karena urusan dunia. Aku sekilas memperhatikan arah tujuanmu di bawah terik matahari lampu merah jam 2 siang. Tapi aku tak berani melambaikan tangan agar kau melihatku, aku takut, ada orang lain di dalam sana dan kau akan mengatakan siapa aku. Aku yang sekarang menjadi masa lalumu.
Sebenarnya aku juga ingin mengunjungi bekas gubuk kita bersama dulu, tapi papa pasti mengerti keadaannya yang udah gak sama dengan 5 tahun lalu. Aku menghargai sikapmu yang tak pernah menyinggung soal mereka, yang hanya akan memancing emosiku untuk berkata kasar akan apa yang engkau lakukan terhadap wanita yang sangat ku sayangi, mama.
Tapi sudahlah, tak ada yang perlu disalahkan atas semua kejadian ini. Semoga kita berbahagia dengan masing-masing cara yang telah Tuhan berikan. Aku tak menuntut banyak hal, semua adalah hak-mu atas kebahagiaan yang kau pilih sekarang. Karena dalam waktu yang singkat kemarin, kita pernah mengukir tawa kebahagiaan dalam satu gubuk sederhana.
Semoga papa sehat selalu, dan tak melupakan Tuhan karena kesibukanmu. Semua demi kebaikan papa. Aku, hanya bisa mendoakanmu saat terlarut dalam kalimat Ilahi, di atas sajadah-ku.
oleh @rahmanwahyuu
diambil dari http://rahmanwahyu.blogspot.com
Lama tak ada sapaan "bro, sedang apa?" di chat BBM ku. Papa sehat-sehat aja, kan? Bukannya aku tak mau menyapa duluan, aku cuma tak bermaksud mengganggu konsentrasimu dalam hal apapun. Walau terkadang aku rindu.
Oh ya pa, aku baru aja selesai ujian semester, dan sekarang lagi liburan selama 3 minggu. Ada waktu sebentar gak buat ketemu? Satu jam aja pun gak apa, biar kutentukan hari dan jamnya. Masalah tempat, kita ke tempat biasa. Warung sop di simpang empat kota kita. Biar kali ini aku yang bayarin papa, dari sisihan uang jajanku.
Kemarin siang aku lihat mobil sedan-mu yang kilap melaju kencang melintasi jantung kota. Kenapa terburu-buru? Aku tak mau papa kenapa-kenapa hanya karena urusan dunia. Aku sekilas memperhatikan arah tujuanmu di bawah terik matahari lampu merah jam 2 siang. Tapi aku tak berani melambaikan tangan agar kau melihatku, aku takut, ada orang lain di dalam sana dan kau akan mengatakan siapa aku. Aku yang sekarang menjadi masa lalumu.
Sebenarnya aku juga ingin mengunjungi bekas gubuk kita bersama dulu, tapi papa pasti mengerti keadaannya yang udah gak sama dengan 5 tahun lalu. Aku menghargai sikapmu yang tak pernah menyinggung soal mereka, yang hanya akan memancing emosiku untuk berkata kasar akan apa yang engkau lakukan terhadap wanita yang sangat ku sayangi, mama.
Tapi sudahlah, tak ada yang perlu disalahkan atas semua kejadian ini. Semoga kita berbahagia dengan masing-masing cara yang telah Tuhan berikan. Aku tak menuntut banyak hal, semua adalah hak-mu atas kebahagiaan yang kau pilih sekarang. Karena dalam waktu yang singkat kemarin, kita pernah mengukir tawa kebahagiaan dalam satu gubuk sederhana.
Semoga papa sehat selalu, dan tak melupakan Tuhan karena kesibukanmu. Semua demi kebaikan papa. Aku, hanya bisa mendoakanmu saat terlarut dalam kalimat Ilahi, di atas sajadah-ku.
oleh @rahmanwahyuu
diambil dari http://rahmanwahyu.blogspot.com
Teruntuk Perempuan Biru
Kepada kamu, perempuan bermafela biru laut,
Sesungguhnya, aku berharap dapat mengenalmu pagi tadi. Aku ingin menjabat tangan mungil yang tersembunyi di kantung sweter berwarna awan itu. Apakah suhu di Jakarta pagi ini terlalu dingin bagimu? Sehingga aku tak dapat melihat barang satu senti saja kulitmu selain kulit yang ada di wajahmu. Memang, belakangan ini Jakarta diguyur hujan lebat dan angin kencang hampir sepanjang hari. Semoga kamu dapat menjaga kesehatanmu, ya.
Ada apakah gerangan dirimu pagi tadi sudah menunggu kereta pertama di hari yang kelabu ini? Kuliah? Kerja? Atau ada keperluan lain? Tas yang juga berwarna biru itu sepertinya berat sekali bagimu.
Ketika kau melihat jam tangan yang sedikit besar—yang juga berwana biru—aku ingin menyapamu. Aku ingin mendengar suaramu yang aku rasa tak kalah merdu dengan suara rintik-rintik hujan yang mulai turun menyapa kita. Aku juga ingin melihat barisan gigi yang sedari tadi bersembunyi di balik bibir yang untungnya tidak berwarna biru. Ada banyak keinginan dalam aku saat memandang ke arahmu andai kau tahu, perempuan biru.
Hujan mulai ramai, deras, lebat, disertai tiupan angin yang tak kalah hebat. Kau memeluk tubuhmu sendiri. Menepikan tasmu dari tempias air atap stasiun yang rupanya juga ingin menyapamu. Kau melihat ponselmu yang lagi-lagi berwarna biru. Lalu mengetikan pesan yang aku harap bukan ditujukan untuk seorang lelaki lain yang kau kasihi. Semoga.
Terlintas hasratku untuk menggantikan dirimu memeluk tubuhmu yang rupanya kedinginan meski sudah kau balut dengan pelbagai kain berwarna biru. Aku tak tega melihat kau memeluk dirimu sendiri. Aku merasa tak berguna, hanya bisa memandangmu dengan sesekali menoleh ke arah lain ketika ada orang yang memerhatikanku. Matamu sepetinya lelah. Apa kau belum memejamkan mata sepanjang malam tadi?
Ahh, sial. Kereta pertama yang kau tunggu datang. Aku masih ingin menikmati dirimu. Semoga keretanya penuh. Sangat amat penuh sehingga kau tak bisa masuk. Semoga.
Kulihat dirimu bersiap-siap. Mencoba mengangkat tas yang kuyakin sangat amat berat itu. Saat mencoba mendekat ke peron, para penumpang lain yang menanti kereta pertama langsung berjejal dan menghimpit. Dirimu tak bisa merasuk ke dalam. Langkahmu terhalang penumpang yang keluar dan yang ingin masuk ke kereta itu. Benar saja, keretanya sangat penuh. Aku yakin, kau tak akan memaksakan masuk. Aku yakin. Semoga.
Namun, kenyataan kadang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Meski telah dipersiapkan dengan sungguh-sungguh sekalipun. Perempuan biru itu tetap berlalu. Pergi. Meninggalkan aku yang sedari tadi berharap untuk dapat menyentuhnya, mendengar suaranya.
Suatu hari, jika kautemui surat ini dalam amplop berwarna biru muda yang kauterima dari seorang pedagang di sekitar stasiun, itu dari aku..
Yang pernah memerhatikanmu begitu dalam..
@shandyputraa
oleh @shandyputraa
diambil dari http://anotherdidhurt.tumblr.com
Sesungguhnya, aku berharap dapat mengenalmu pagi tadi. Aku ingin menjabat tangan mungil yang tersembunyi di kantung sweter berwarna awan itu. Apakah suhu di Jakarta pagi ini terlalu dingin bagimu? Sehingga aku tak dapat melihat barang satu senti saja kulitmu selain kulit yang ada di wajahmu. Memang, belakangan ini Jakarta diguyur hujan lebat dan angin kencang hampir sepanjang hari. Semoga kamu dapat menjaga kesehatanmu, ya.
Ada apakah gerangan dirimu pagi tadi sudah menunggu kereta pertama di hari yang kelabu ini? Kuliah? Kerja? Atau ada keperluan lain? Tas yang juga berwarna biru itu sepertinya berat sekali bagimu.
Ketika kau melihat jam tangan yang sedikit besar—yang juga berwana biru—aku ingin menyapamu. Aku ingin mendengar suaramu yang aku rasa tak kalah merdu dengan suara rintik-rintik hujan yang mulai turun menyapa kita. Aku juga ingin melihat barisan gigi yang sedari tadi bersembunyi di balik bibir yang untungnya tidak berwarna biru. Ada banyak keinginan dalam aku saat memandang ke arahmu andai kau tahu, perempuan biru.
Hujan mulai ramai, deras, lebat, disertai tiupan angin yang tak kalah hebat. Kau memeluk tubuhmu sendiri. Menepikan tasmu dari tempias air atap stasiun yang rupanya juga ingin menyapamu. Kau melihat ponselmu yang lagi-lagi berwarna biru. Lalu mengetikan pesan yang aku harap bukan ditujukan untuk seorang lelaki lain yang kau kasihi. Semoga.
Terlintas hasratku untuk menggantikan dirimu memeluk tubuhmu yang rupanya kedinginan meski sudah kau balut dengan pelbagai kain berwarna biru. Aku tak tega melihat kau memeluk dirimu sendiri. Aku merasa tak berguna, hanya bisa memandangmu dengan sesekali menoleh ke arah lain ketika ada orang yang memerhatikanku. Matamu sepetinya lelah. Apa kau belum memejamkan mata sepanjang malam tadi?
Ahh, sial. Kereta pertama yang kau tunggu datang. Aku masih ingin menikmati dirimu. Semoga keretanya penuh. Sangat amat penuh sehingga kau tak bisa masuk. Semoga.
Kulihat dirimu bersiap-siap. Mencoba mengangkat tas yang kuyakin sangat amat berat itu. Saat mencoba mendekat ke peron, para penumpang lain yang menanti kereta pertama langsung berjejal dan menghimpit. Dirimu tak bisa merasuk ke dalam. Langkahmu terhalang penumpang yang keluar dan yang ingin masuk ke kereta itu. Benar saja, keretanya sangat penuh. Aku yakin, kau tak akan memaksakan masuk. Aku yakin. Semoga.
Namun, kenyataan kadang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Meski telah dipersiapkan dengan sungguh-sungguh sekalipun. Perempuan biru itu tetap berlalu. Pergi. Meninggalkan aku yang sedari tadi berharap untuk dapat menyentuhnya, mendengar suaranya.
Suatu hari, jika kautemui surat ini dalam amplop berwarna biru muda yang kauterima dari seorang pedagang di sekitar stasiun, itu dari aku..
Yang pernah memerhatikanmu begitu dalam..
@shandyputraa
oleh @shandyputraa
diambil dari http://anotherdidhurt.tumblr.com
Semesta
Kepada semesta
Kepada agungnya jagat raya
Kepada Sang Pencipta Segala
Bukan keluhku , bukan lelahku, ataupun kesahku
Tapi untuk syukurku yang terabaikan karena gemerlapnya alam Sejuta rasa takjub yang begitu membuncah sehingga tak mampu dilukiskan dengan kata-kata mesra
Tak akan cukup meski dilukiskan dengan bahasa yang paling indah sekalipun
Terima kasih...
Telah membuat duniaku yang selama ini hanya berkisar antara kamar apartemen dan kampus
Kepada agungnya jagat raya
Kepada Sang Pencipta Segala
Bukan keluhku , bukan lelahku, ataupun kesahku
Tapi untuk syukurku yang terabaikan karena gemerlapnya alam Sejuta rasa takjub yang begitu membuncah sehingga tak mampu dilukiskan dengan kata-kata mesra
Tak akan cukup meski dilukiskan dengan bahasa yang paling indah sekalipun
Terima kasih...
Telah membuat duniaku yang selama ini hanya berkisar antara kamar apartemen dan kampus
Bersinggungan dengan indahnya dunia
Meski hanya sebagian kecil "wajah" dunia
Meski hanya sebuah negara kecil di belahan utara bola dunia...
Tapi sanggup membuatku terpana...
Sanggup membuatku kembali jatuh cinta
Semesta....
Aku
Di samping jendela kafe menikmati secangkir kopi. Salju? itu bonus
oleh @sasazhi
diambil dari http://alleenzhia.blogspot.com
Meski hanya sebagian kecil "wajah" dunia
Meski hanya sebuah negara kecil di belahan utara bola dunia...
Tapi sanggup membuatku terpana...
Sanggup membuatku kembali jatuh cinta
Semesta....
Aku
Di samping jendela kafe menikmati secangkir kopi. Salju? itu bonus
oleh @sasazhi
diambil dari http://alleenzhia.blogspot.com
Ode Rindu untuk Ayah
Ayah...
Apa kabar?
Lama sekali kita tidak bertemu muka,
tak juga sapa saling terucap di kali terakhir kita bersua.
Ayah...
Kutulis surat ini padamu,
karena ingin kusampaikan rindu yang menumpuk di kalbuku.
Rindu dari ubun-ubunku pada belaimu yang tak pernah ku ecap sekalipun.
Rindu dari tanganku yang tak pernah merasakan usap lembut tanganmu untuk kucium.
Ayah...
Tak pernah ada yang ku minta darimu.
Tak juga sesuatu pernah kau minta dariku selain pergiku dari hidupmu.
namun kali ini saja, ku mohon padamu Ayah.
Jadilah penerima ijab dari lelaki yang akan meminangku.
Tertanda,
Anakmu, yang tak pernah kau harap adanya
oleh @si_kura
diambil dari http://blognyasikura.blogspot.com
Apa kabar?
Lama sekali kita tidak bertemu muka,
tak juga sapa saling terucap di kali terakhir kita bersua.
Ayah...
Kutulis surat ini padamu,
karena ingin kusampaikan rindu yang menumpuk di kalbuku.
Rindu dari ubun-ubunku pada belaimu yang tak pernah ku ecap sekalipun.
Rindu dari tanganku yang tak pernah merasakan usap lembut tanganmu untuk kucium.
Ayah...
Tak pernah ada yang ku minta darimu.
Tak juga sesuatu pernah kau minta dariku selain pergiku dari hidupmu.
namun kali ini saja, ku mohon padamu Ayah.
Jadilah penerima ijab dari lelaki yang akan meminangku.
Tertanda,
Anakmu, yang tak pernah kau harap adanya
oleh @si_kura
diambil dari http://blognyasikura.blogspot.com
Halo
Untukmu,
Surat ini tinggal sebelas lagi namun ada yang belum tuntas. Sesekali, aku ingin meluangkan waktu untukmu. Tentu, memang begitu banyak yang dapat ku kirimkan surat, tapi aku pikir ini adalah saat yang tepat. Mengirimkan surat padamu yang meski singkat namun mudah-mudahan dapat memikat.
Pertama-tama selalu aku ingin mengucapkan terima kasih yang sangat, karena telah menemaniku selama ini. Dengan segala kelucuan dan kata-kata penyemangat yang selalu membuatku ingat bahwa ada yang tidak boleh lewat setiap harinya. Terima kasih, karena kamu tanpa henti memberi ide-ide yang tak dapat ku sangkal membuatku harus menguras akal
Kedua, ada maaf yang harus ku sampaikan. Maaf karena beberapa kali aku absen. Puncaknya kemarin, aku minta maaf karena tidak menulis. Aku kira kamu tidak tahu, tapi ternyata sadar bahwa hari itu tidak ada surat dariku. Aku minta maaf, kemarin ada kegiatan yang tidak dapat aku tinggalkan dan membuat waktunya hilang untuk menulis surat.
Masih ada sebelas hari lagi, semoga kamu tetap semangat dengan saling menyemangati ya kak. Salam hangat dari balik jendela untuk kak ika.
dari,
seseorang di balik jendela yang sedang melihat angkasa
oleh @sedimensenja untuk @ikavuje
diambil dari http://sedimensenja.wordpress.com
Surat ini tinggal sebelas lagi namun ada yang belum tuntas. Sesekali, aku ingin meluangkan waktu untukmu. Tentu, memang begitu banyak yang dapat ku kirimkan surat, tapi aku pikir ini adalah saat yang tepat. Mengirimkan surat padamu yang meski singkat namun mudah-mudahan dapat memikat.
Pertama-tama selalu aku ingin mengucapkan terima kasih yang sangat, karena telah menemaniku selama ini. Dengan segala kelucuan dan kata-kata penyemangat yang selalu membuatku ingat bahwa ada yang tidak boleh lewat setiap harinya. Terima kasih, karena kamu tanpa henti memberi ide-ide yang tak dapat ku sangkal membuatku harus menguras akal
Kedua, ada maaf yang harus ku sampaikan. Maaf karena beberapa kali aku absen. Puncaknya kemarin, aku minta maaf karena tidak menulis. Aku kira kamu tidak tahu, tapi ternyata sadar bahwa hari itu tidak ada surat dariku. Aku minta maaf, kemarin ada kegiatan yang tidak dapat aku tinggalkan dan membuat waktunya hilang untuk menulis surat.
Masih ada sebelas hari lagi, semoga kamu tetap semangat dengan saling menyemangati ya kak. Salam hangat dari balik jendela untuk kak ika.
dari,
seseorang di balik jendela yang sedang melihat angkasa
oleh @sedimensenja untuk @ikavuje
diambil dari http://sedimensenja.wordpress.com
Beriringan
Pemulih resah, kalian.
Kalutku tak lara sendiri. Bimbangku lekas pasti. Asaku melaju tanpa ragu. Akan cinta. Tertuju padaku dari kalian.
Mendekap lelah. Melagu sendu. Terlarut haru. Akan hati. Menghangati titik tengah lingkaran syahdu.
Kalian.
Pita-pita kecil berwarna yang mengindahkan setiap helai alur hari-hariku. Menyisiri persimpanganku yang tak luput akan liku. Menjadikan erat berai laku-lakuku menuju selaras. Enyahku melepasnya.
Kalian.
Nanar gulitaku. Unsur pelengkap senyawaku. Peredam amarahku. Penyembuh lukaku. Gempita sendiriku.
Waktu baik akan menyapa segera. Segala mimpi akan menjadi nyata. Bersama dalam indah. Menyatukan rasa di hati kita. Beriringan.
Aku sayang kalian. :-*
oleh @ssartikaa untuk @fitranurulfauzi & Ninuk
diambil dari http://ssimply.wordpress.com
Kalutku tak lara sendiri. Bimbangku lekas pasti. Asaku melaju tanpa ragu. Akan cinta. Tertuju padaku dari kalian.
Mendekap lelah. Melagu sendu. Terlarut haru. Akan hati. Menghangati titik tengah lingkaran syahdu.
Kalian.
Pita-pita kecil berwarna yang mengindahkan setiap helai alur hari-hariku. Menyisiri persimpanganku yang tak luput akan liku. Menjadikan erat berai laku-lakuku menuju selaras. Enyahku melepasnya.
Kalian.
Nanar gulitaku. Unsur pelengkap senyawaku. Peredam amarahku. Penyembuh lukaku. Gempita sendiriku.
Waktu baik akan menyapa segera. Segala mimpi akan menjadi nyata. Bersama dalam indah. Menyatukan rasa di hati kita. Beriringan.
Aku sayang kalian. :-*
oleh @ssartikaa untuk @fitranurulfauzi & Ninuk
diambil dari http://ssimply.wordpress.com
Nyala Nyali
Selamat pagi Minggu...
Kepada semua yang membaca, selamat bersahabat dengan rumah atau mungkin kamar kos-kosan. Kepadamu yang masih sedang menunggu wangsit di tengah pepohonan ragu. Aku tetap rindu.
Di hari ini aku masih ingin membuat surat untukmu lagi, tapi bisa berpengaruh juga untuk sebagian orang lain. Aku akan membahas beberapa kata yang mendukung sekaligus mencegah kita untuk menyebar tulusnya kasih sayang. Maka, selamat menyelami pikiranku.
Asal tahu saja, ada nian di keberanian. Jadi kalau kita ingin melakukan sesuatu, lakukan dengan amat sangat. Lalu juga ada Rani di keberanian. Ia seorang ratu yang manja lagi penakut. Kita harus sabar melayaninya di keberanian.
Aku ingat sekali lagi, kau masih seorang penyabar. Pastilah takkan susah bagimu.
Semua orang yang kita cintai sudah tentu punya cahaya tersendiri untuk kita. Adakah kau melihat itu di aku? Apakah cahayaku terlalu redup? Atau cahayaku terlalu silau bagimu? Aku coba uraikan lagi tentang satu kata. Ada cah di cahaya, cah adalah sebuah kata yang kasar bila kita tidak menyukai sesuatu. Sepertinya sama dengan penggunaan kata bah. Mungkin itu sebab kenapa kita tidak suka cahaya yang terlalu silau. Bagaimana kalau cahaya redup? Kalau ada yang redup, maka terangkanlah. Agar aku dan kau bisa saling membaca.
Aku ingin memberitahumu bahwa keberanian dan cahaya adalah saudara kandung. Mereka saling mendukung. Setiap keberanian punya cahaya, satiap cahaya punya keberanian untuk terang.
Semoga ini sampai dengan tepat padamu.
Bandung, 3 Februari 2013
oleh @rizkymamat
diambil dari http://rizky-muhammad.blogspot.com
Kepada semua yang membaca, selamat bersahabat dengan rumah atau mungkin kamar kos-kosan. Kepadamu yang masih sedang menunggu wangsit di tengah pepohonan ragu. Aku tetap rindu.
Di hari ini aku masih ingin membuat surat untukmu lagi, tapi bisa berpengaruh juga untuk sebagian orang lain. Aku akan membahas beberapa kata yang mendukung sekaligus mencegah kita untuk menyebar tulusnya kasih sayang. Maka, selamat menyelami pikiranku.
Asal tahu saja, ada nian di keberanian. Jadi kalau kita ingin melakukan sesuatu, lakukan dengan amat sangat. Lalu juga ada Rani di keberanian. Ia seorang ratu yang manja lagi penakut. Kita harus sabar melayaninya di keberanian.
Aku ingat sekali lagi, kau masih seorang penyabar. Pastilah takkan susah bagimu.
Semua orang yang kita cintai sudah tentu punya cahaya tersendiri untuk kita. Adakah kau melihat itu di aku? Apakah cahayaku terlalu redup? Atau cahayaku terlalu silau bagimu? Aku coba uraikan lagi tentang satu kata. Ada cah di cahaya, cah adalah sebuah kata yang kasar bila kita tidak menyukai sesuatu. Sepertinya sama dengan penggunaan kata bah. Mungkin itu sebab kenapa kita tidak suka cahaya yang terlalu silau. Bagaimana kalau cahaya redup? Kalau ada yang redup, maka terangkanlah. Agar aku dan kau bisa saling membaca.
Aku ingin memberitahumu bahwa keberanian dan cahaya adalah saudara kandung. Mereka saling mendukung. Setiap keberanian punya cahaya, satiap cahaya punya keberanian untuk terang.
Semoga ini sampai dengan tepat padamu.
Bandung, 3 Februari 2013
oleh @rizkymamat
diambil dari http://rizky-muhammad.blogspot.com
Surat untuk Pemilik Tulang Rusuk.
kepadamu pemilik tulang rusuk.
hai apa ada yang tidak seimbang karena kau belum juga menemukanku?
seharusnya iya tapi entahlah jika sekarang bahkan kau dikelilingi banyak wanita.
aku di sini kesepian, sebut saja seperti itu karena memang begitu adanya.
sekarang kau sedang apa? dimana? sama siapa? jangan genit ya.
kemarin aku sempat menghabiskan air mata untuk orang yang mungkin bukan untukku. um apa itu kau?
banyak hal yang ingin aku bagi padamu.
sekarang biar aku simpan sendiri dulu.
kamu di sana baik kan? jangan lupa jaga kesehatannya. jangan lupa makan dan beribadah juga.
sekarang siapa yang sedang mendampingimu?
dia baik? huh aku cemburu.
seharusnya aku yang ada di sampingmu, seharusnya aku yang kau bagi kebahagiaan setiap hari
tapi tak apa? setidaknya Tuhan menciptakanmu untukku :p
jadi sekarang aku masih setia melayakkan diriku untukmu kelak :)
aku hanya tidak sabar dengan kecupanmu di pagi hari saat membangunkanku..
hihihihihi :*
umm nanti kita bertemu pas lagi ngapain ya?
kamu yang rapi yah. biar kesan pertama ketemu aku juga baik hahahaha :p
sekarang aku lagi senyum-senyum sendiri membayangkan pertemuan pertama kita nanti.
atau jangan-jangan kita sudah pernah bertemu? entahlah.
aku suka pria dengan aroma tubuh yang khas. kamu harus wangi loh ya :p
jika memang kita sudah pernah dipertemukan tapi tidak menyadari bahwa kita memiliki satu sama lain terus gimana?
ah biarlah Tuhan yang mengarang cerita.. aku lebih suka menerka-nerka jalan ceritanya :p
nanti kamu harus banyak sabar dengan sifat jelekku. aku pemarah, suka ngambek gak jelas dan masih banyak lagi tapi yang harus kamu inget aku pasti sayang kamu.
kita sedang menuju jalan yang sama untuk bertemu di persatuan jalan.
hei jalan terlalu lama berjalan. ingat aku kesepian.
aku ingin kamu peluk sambil bergandengan tangan.
aku ingin tidak mengkhawatirkan keadaan jalan saat menyebrang karena kamu di sampingku.. hihihihi
aku ingin ada ucapan selamat pagi yang diiringi kecupan manis di dahiku sayang.
selamat bertemu. selamat menampung rindu untukku.
aku,
tulang rusukmu.
oleh @riakade
diambil dari http://riakade.tumblr.com
hai apa ada yang tidak seimbang karena kau belum juga menemukanku?
seharusnya iya tapi entahlah jika sekarang bahkan kau dikelilingi banyak wanita.
aku di sini kesepian, sebut saja seperti itu karena memang begitu adanya.
sekarang kau sedang apa? dimana? sama siapa? jangan genit ya.
kemarin aku sempat menghabiskan air mata untuk orang yang mungkin bukan untukku. um apa itu kau?
banyak hal yang ingin aku bagi padamu.
sekarang biar aku simpan sendiri dulu.
kamu di sana baik kan? jangan lupa jaga kesehatannya. jangan lupa makan dan beribadah juga.
sekarang siapa yang sedang mendampingimu?
dia baik? huh aku cemburu.
seharusnya aku yang ada di sampingmu, seharusnya aku yang kau bagi kebahagiaan setiap hari
tapi tak apa? setidaknya Tuhan menciptakanmu untukku :p
jadi sekarang aku masih setia melayakkan diriku untukmu kelak :)
aku hanya tidak sabar dengan kecupanmu di pagi hari saat membangunkanku..
hihihihihi :*
umm nanti kita bertemu pas lagi ngapain ya?
kamu yang rapi yah. biar kesan pertama ketemu aku juga baik hahahaha :p
sekarang aku lagi senyum-senyum sendiri membayangkan pertemuan pertama kita nanti.
atau jangan-jangan kita sudah pernah bertemu? entahlah.
aku suka pria dengan aroma tubuh yang khas. kamu harus wangi loh ya :p
jika memang kita sudah pernah dipertemukan tapi tidak menyadari bahwa kita memiliki satu sama lain terus gimana?
ah biarlah Tuhan yang mengarang cerita.. aku lebih suka menerka-nerka jalan ceritanya :p
nanti kamu harus banyak sabar dengan sifat jelekku. aku pemarah, suka ngambek gak jelas dan masih banyak lagi tapi yang harus kamu inget aku pasti sayang kamu.
kita sedang menuju jalan yang sama untuk bertemu di persatuan jalan.
hei jalan terlalu lama berjalan. ingat aku kesepian.
aku ingin kamu peluk sambil bergandengan tangan.
aku ingin tidak mengkhawatirkan keadaan jalan saat menyebrang karena kamu di sampingku.. hihihihi
aku ingin ada ucapan selamat pagi yang diiringi kecupan manis di dahiku sayang.
selamat bertemu. selamat menampung rindu untukku.
aku,
tulang rusukmu.
oleh @riakade
diambil dari http://riakade.tumblr.com
Subscribe to:
Posts (Atom)