#30HariMenulisSuratCinta adalah proyek non komersil yang digagas untuk menggabungkan kesenangan menulis di twitter dan blog. Proyek belajar menulis bersama ini dilaksanakan setiap 14 Januari - 14 Februari setiap tahunnya. Ini adalah tahun ketiga pelaksanaan proyek menulis yang juga menjadi ajang silaturahmi dari blog ke blog.
Showing posts with label Surat Cinta #18. Show all posts
Showing posts with label Surat Cinta #18. Show all posts
02 February 2013
"Apa Kabar" yang Ke Dua Belas
Hari ini, tanggal 30 November. Aku masih selalu mengingat tentangmu. Oh iya, hari ini hujan turun begitu derasnya. Langit terus menyuguh gemuruh. Muadzin menyeru merdu. Ashar telah tiba. Seperti kala itu, ketika aku duduk di samping pembaringan yang kau pilih sendiri. Bukan lagi di dalam kamar kesayangan. Katamu, supaya tak gerah dan lebih mudah menemui siapa yang datang. Lembut aku belai wajahmu. Mendekatkan telingaku di dekat bibirmu setiap kali kau ingin meminta atau sekadar berucap. Aku berdoa, membacakanmu ayat-ayat yang memang diyakini menenangkanmu.
Sebentar aku tunaikan ashar-ku dan sejenak merebah punggungku yang sedikit kaku. Belum jenak aku memejam, aku mendengar langkah-langkah kaki yang berderap cepat. Berlari, ya mereka berlari. Menghampirimu. Aku membuka pintu kamarku dan turut menghambur. Erat memelukmu.
Apa masih ingat? Aku selalu memelukmu erat-erat. Memilih sendiri caraku merasa aman berada di belakang kemudimu. Aku suka dibonceng kemana-mana. Kau kenalkan pada hampir seluruh sudut kota. Mendengarmu bercerita dimana ada beda ataupun sama tentang segala rupa.
Apa masih ingat? Aku begitu khidmat mendengar setiap cerita yang berbumbu segala rasa. Menikmati tebakan-tebakan yang membuat imajiku terlunta, sebab terlalu sering kalah. Tapi tak apa, aku menyukainya. Menyimpannya rapat-rapat di dalam kotak ingat, yang sampai sekarang masih suka menjulur-julur menyapaku.
Apa masih ingat? Tentang satu liter susu cokelat dan es krim rasa coklat yang kerap menemani kita menikmati sore beranjak senja. Menggenapinya dengan tawa diantara dongeng-dongeng yang tercerita, yang membuatku mengenal siapa Bima berikut kerabatnya. Aku, yang selalu tergoda mendengar kelanjutan kisahnya.
Apa masih ingat? Tentang lukaku sebab belajar bersepeda dan memulai persahabatan dengan korek api. Juga, dengan telapak kaki yang harus selalu tulus disambangi duri. Aku tak lagi takut berlari, dan semakin menyukai menari yang bukan hanya dalam imajinasi. Itu bahagia, yang mungkin orang lain tak mengerti. Tapi aku selalu menyimpannya di sini, di dalam hati.
Apa masih ingat? Perlahan, kau mengajari aku memahami cinta. Cinta yang mendekati sempurna, tanpa menakar pengorbanan lebih dan kurangnya. Cinta yang tak menjauh dari ikhlas dan hormat. Cinta yang sejatinya selalu ada dan dimiliki setiap manusia. Kau yang membuatnya lebih mudah aku mengerti, meski aku pun tak yakin bisa memahamkan kepada yang lain, seperti yang kau lakukan.
Apa masih ingat? Segala mimpi yang pernah aku bagi dan kau katakan aku tak boleh berhenti meraihnya, memeluknya, mensyukurinya. Tentang semua harap yang aku eja dan mencoba lantang membacanya. Meyakinkan semesta agar menemaniku berlari meraihnya. Kau kemas semua dalam tawa, mengajakku larut di dalamnya. Menyukainya dan menjadikannya penyembuh luka-luka.
Apa masih ingat? Aku pernah marah karena kue kesukaanku lebih dulu masuk dalam perutmu. Aku menangis meronta, persis saat aku kehilanganmu. Maaf, mungkin tak cukup seribu kali aku memohon maaf padamu. Tapi sesungguhnya, aku sangat menyayangimu. Aku lebih suka jika saat itu kau membaginya menjadi dua denganku. Seperti yang sebelumnya sering kau lakukan untukku. Sekali lagi, maaf.
Aku tak punya alasan apa pun, menepikan rasa-rasa yang sengaja aku jaga. Atau sekadar melupa cerita, aku tak bisa. Biarkan semua menjadi teman di setiap perjalanan, ketika kemudian, aku sendirian.
Jika di detik ini pun aku masih bercerita padamu, aku selalu yakin kau mendengarnya. Merasakan apa-apa yang aku rasa. Seperti yang biasa. Aku biarkan semua abadi dalam tulisan, seperti yang pernah kita biasakan. Oh iya, aku masih menyimpan diary biru itu. diary pertamaku. Darimu, untukku :’)
Aku harap, aku tak pernah mengenal lelah memelukmu dengan do’a-do’a. Karena sekarang hanya itu yang aku bisa. Aku harap, kau pun menikmati bahagia seperti yang aku rasa. Bahkan, aku ingin kau lebih bahagia. Aku yakin, Tuhan menyayangimu sepenuhnya. Malaikat-malaikat juga tahu, aku selalu mengagumimu, merasa selalu dibahagiakanmu.
Aku rasa begitu pun yang dirasa mereka. Mereka yang mengantar kepergianmu, di akhir perjalananmu, di tempat yang fana ini. Menuju yang abadi. Maaf, kala itu aku meronta, air mataku menderas. Bukan aku tak merelakanmu pergi. Waktu itu aku merasa masih banyak yang belum usai aku ceritakan padamu.
Dan ini, tahun ke-dua belas aku tanpamu. Aku sudah besar. Tapi mungkin belum sedewasa yang kau harapkan, aku akan perjuangkan. Sudah memeluk beberapa mimpi yang pernah aku ceritakan padamu. Nanti, aku akan berlari lebih kencang lagi. Meraih mimpi-mimpi. Karena sekarang, hanya ini yang aku bisa lakukan, untuk membahagiakanmu. Membuktikan kepada semesta bahwa segala yang pernah kau lakukan, tak pernah aku sia-siakan.
Bolehkah aku bertanya, “Apa kabar?” padamu? Aku rindu senyummu, tawamu. Dan..eratnya pelukanmu, yang selalu menenangkan aku.
Mungkin, yang lain juga sepertiku, merindukanmu. Eyang Kakung yang selalu membagikan kecupan semesta lewat cerita dan tawanya… :*
Oleh @wulanparker
Diambil dari http://lunastory.wordpress.com/
Labels:
Surat Cinta #18
Merah
Kepada Perempuan Bersepatu satu
Hari sudah senja saat aku menulis surat ini, awan pun mendung memerah, aku bertanya, mengapa awan mendung berwarna hitam disaat siang, dan merah disaat malam. Mengapa Ia mewarnai demikian? Mengapa tidak ungu dan hijau pupus? Mengapa juga tidak merah jambu terang dan magenta?
Selain itu, aku juga bertanya, apa kau sudah makan? Makan apa kau hari ini? Piringnya kau cuci sendiri? Atau kau letakkan saja? Aku belum makan hari ini. Aku puasa, Buka sebentar lagi.
Aku puasa untuk mencari ridho, Ridho agar dapat jodoh. Sebenarnya aku ingin kurus, supaya laki-laki mau menjadi jodohku. Supaya salah satu dari laki-laki, ridho menikahiku.
Ku kira umurku sudah mumpuni, aku juga pintar menenun. Aku tidak suka laki-laki di kampungku, selain mereka selalu bau, gigi mereka juga kuning kelabu. Aku ingin kau carikan aku seorang lelaki dari kota. Yang wajahnya seperti penyanyi “Cenat Cenut”. Kalau ada yang seperti mereka, suruhlah berkirim surat denganku.
Sampai di sini dulu, aku mau buka puasa. Sekarang aku sambil berdoa buka puasa. Oh iya, sepatumu sudah ketemu? Coba liat ke genteng, tupai membawanya kesana.
Jangan lupa jodohku.
Oleh @ulansabit
Diambil dari http://punyaulan.wordpress.com/
Labels:
Surat Cinta #18
Kepada Seseorang di Kereta
Mungkin saat ini kamu sudah duduk dikereta, memasang headphone atau melihat keluar jendela. Belum sampai saja aku sudah ingin kamu cepat kembali. Haha. Entahlah, kadang rindu sangat aneh. Kadarnya bertambah malah setelah kita bertatap muka.
Sebelum kita bertemu kemarin, aku pikir 2 jam cukup untuk persediaan rindu beberapa bulan kedepan. Namun ternyata kamu candu. Aku tidak munafik jika diberi pilihan,aku ingin kita tidak seberjarak ini. Dekat dengan kamu adalah hal yang paling menyenangkan sedunia. Tetapi aku sudah memilih kamu, lengkap dengan 285 km dan berhari-hari tak melihatmu.
Iya iya..aku masih yakin dan terus berdoa, Tuhan merentangkan jarak ini agar perjalanan aku dan kamu menuju kita terasa lebih khidmad. Selangkah demi selangkah kian dekat.
Karena suatu hari nanti, beberapa tahun lagi, jikalau kamu harus kembali berada dalam kereta, maka aku juga akan disana, duduk disampingmu sambil merebahkan kepala, kita akan menuju pemberhentian yang sama.
Jadi,sampai saat itu tiba, kita memang harus rela duduk terkantuk di dalam kereta dengan arah yang berbeda. Sampai saat itu tiba,aku tak akan lelah mengucapkan hati-hati dijalan , mengingatkan ini itu agar tak ketinggalan, dan dengan cerewet berkata “cepat pulang yaaa”, jangan lupa baca bismillah :)
Oleh @ultranyil
Diambil dari http://rainyinthebottle.blogspot.com/
Labels:
Surat Cinta #18
Untuk Kamu di Gedung Seberang
Hari ini berjalan seperti biasanya. Tak ada yang istimewa.
Tetapi, tiba-tiba aku teringat dengan kamu.
Kamu yang selalu mengisi 5 hariku dalam seminggu.
Kamu yang selalu memenuhi ruang otakku yang sudah penuh dengan memori.
Kamu yang selalu menguji kesabaran dan energiku.
Kamu yang selalu mengambil perhatianku dari manusia yang lain.
Kamu yang selalu mengisi mimpiku dengan teriakan dan penolakanmu.
Kamu yang selalu melanggar setiap aturan yang kuterapkan.
Kamu yang selalu tidak suka dengan segala keputusanku.
Kamu...kamu...
Habis sudah kata-kata untuk menggambarkan peperangan kita dulu.
Hari ini aku nyatakan bahwa aku selalu ingat jika melihat ada manusia yang bertingkahlaku sepertimu. Ada rasa rindu (entahlah) menjalar di relung hati. Rasanya hangat tapi mencekam. Ah! Aku rindu 'berperang' denganmu. Aku rindu bernegosiasi dengan keinginan kerasmu. Aku rindu membuat kesepakatan denganmu bahwa apa yang kau lakukan itu melukai perasaan temanmu (juga aku). Aku rindu membahas sikap-sikap baik sekaligus sikap burukmu. Aku rindu melihatmu menjalani konsekuensi yang kamu sepakati. Bahkan, aku rindu ketika kamu menangis karena kamu merasa diabaikan oleh temanmu. Hatimu sebenarnya peka. Hanya saja, lingkungan membuatmu menjadi begitu gengsi untuk mengakui kepekaanmu.
Sungguh aku belajar banyak darimu. Aku belajar mengasah kesabaran darimu. Aku belajar menghargai rasa yang terluka. Aku belajar bahwa tak selamanya keinginan dapat dipenuhi atau terpenuhi. Aku belajar tentang penerimaan dan penolakan. Aku belajar untuk menjadi seorang teman dan pendengar yang setia. Aku belajar untuk lebih peka.
Apa kabar kamu sekarang? Apakah kamu masih mengingatku? Ataukah kamu telah menemukan penggantiku? Apakah kamu melakukan 'peperangan' juga dengan penggantiku?
Rasa ingin tahuku menjadi tergelitik. Padahal jarak kita sungguhlah tak jauh. Kamu berada di gedung seberang yang hanya terpisah oleh jalan selebar 3 meter. Suatu waktu aku akan mengunjungimu. Tapi, entah kapan...(entahlah).
Dari guru yang belajar banyak darimu.
Terima kasih.
Oleh @_r15na_
Diambil dari http://araiesenei.blogspot.com/
Labels:
Surat Cinta #18
Ada Buku Baru Bagi Senja Yang Lelah
Bagimu Sisca
Hi Sis…
Ini bukan online shop gitu…
Aku menyapamu bukan kamu yang hendak berniaga di hatiku…
Halah… (kamu pasti mencebikkan bibirmu)
Sisca, aku mengenalmu karena dari yang paling bahagia. Lalu kita menjalani persahabatan pun bila duka menyerta.
Kamu sahabatku. Sudah sekian lama kita tanpa temu. Tetapi kita tak saling kehilangan. Kamu ada, pun aku ada.
Kutuliskan ini bagimu. Bacalah saat secangkir kopi bersamamu. Bila waktu yang tepat aku menemanimu dari jauh. Pun nanti bila bersua.
Sepasang cangkir kopi dan buku. Kita menyesap kehangatan. Membaca kisahmu kisahku. Lalu membacakan kisahku kisahmu.
Hingga tiba waktu mencatatkan kerinduan.
Terima kasih bagi persahabatan. Ada buku baru bagi senja yang lelah di dermaga kekal kebahagiaan.
Tanpamu apalah aku…
Lala.
Oleh @_bianglala
Diambil dari http://pelangiaksara.wordpress.com
Labels:
Surat Cinta #18
01 February 2013
Pilihanmu.
Untuk manusia yang paling tak terprediksi.
Sudah lama ya kita tak menghabiskan ritual pukul lima di beranda. Dengan gitar ulungmu, tumpukan bacaanku, cerita-cerita manis yang tercipta, secangkir kopi untukmu dan teh manis hangat untukku. Hiduplah segala angan-angan pada hari-hari yang kini selalu menorehkan kenangan. Asalkan bersamamu, matilah kekuatiranku. Asalkan bersamamu, aku tak butuh apa-apa lagi. ‘Bahagia’ adalah paket lengkap pertama diatas gabungan kita berdua. Mungkin dibanding para lelaki yang pernah menghiasi hati, kamulah yang paling menyamankan aku untuk selalu mempertahankanmu di sisi. Kamulah yang tak pernah kusangka. Dan akulah yang tak pernah mengira akan terjatuh tiba-tiba padamu.
Ingatkah mimpi-mimpi yang tak terbuat atas sekedar janji? Ketika percayaku mulai rapuh, kau yang buat ketakutanku luluh. Ingatkah persoalan-persoalan yang buat wajahmu jadi gusar? Dari situlah terpecahkan dan kita mencoba sama-sama belajar. Ingatkah hujan yang pernah menghiasi pipiku? Kamulah yang mengusap aliran itu hingga lenyap. Kamulah yang meyakinkan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Senyumanmulah yang selalu mengobati luka yang segera berformula jadi duka.
Memang. Tak seharusnya padamu hatiku terjatuh. Tak seharusnya aku biarkan seluruh pusat kerja rasa menjadi lumpuh. Aku begitu payah jika harus berurusan denganmu. Aku begitu payah untuk menyadari datangnya rasa itu sebelum kehadirannya menculikmu. Aku begitu payah untuk mencegah kepergianmu. Tanganku lemah, bibirku berdaya lemah.
Tadinya aku mengira kita akan baik-baik saja. Tak mungkin secepat itu kau dibawa pergi dan meninggalkanku disini bersama sepi. Ada yang belum terceritakan, ada yang belum mendengarkan, ada yang sedang berteman dengan kesedihan dan kehilangan. Jika saja pilihanmu itu aku, pilihan kita pasti akan bertemu di titik yang satu. Tapi sayang, kenyataan terlalu jelas mengobrak-abrik pandangan. Aku harus tegap berjalan, dan menyembuhkan hati pelan-pelan. Entah sampai kapan.
Jika nanti kamu tidak bahagia, carilah aku sebagai tempat pertamamu. Dan tolong, hargai penantianku :’)
Pengisi hari-harimu (dulu)
Oleh @lovepathie
Diambil dari http://lovepathie.tumblr.com/post/41938607866/pilihanmu
Lebih Dari Sekadar Lama
Hai, kita ketemu lagi. Kau tau? Sejak kejadian itu, sampai detik ini aku masih merasa malu setiap kali bertemu denganmu. Jangankan menatap matamu, berbicara denganmu saja aku sungkan. Ya, kejadian hampir 9 tahun lalu saat kita masih sama-sama kelas 6. Sudah lama memang, lama sekali. Tapi nggak sedikit pun aku bisa lupa. Maafkan kebodohanku ya. Aku memang terlalu bodoh untuk mengartikan perhatianmu saat itu.
Sepanjang malam aku terpikir dirimu. Memikirkan apa sebenarnya yang ku rasakan terhadapmu. Rasa suka kah ini? Selama ini? Selama hampir 15 tahun ini? Ah, aku pasti gila. 15 tahun adalah waktu yang lebih dari sekedar lama untuk menyukaimu.
Rasanya tak peduli kemanapun aku pergi, selalu saja berakhir dengan tanpa sengaja memikirkanmu. Maafkan aku ya karena belum benar-benar bisa melupakanmu. Andai aku bisa.. sekali saja memilikimu. Ah, bicara apa aku. Maafkan aku (lagi).
Semoga kau selalu bahagia ya. Semoga aku pun bisa bahagia. Amin.
p.s : ku dengar, kado yang ku beri 9 tahun lalu masih ada diatas lemarimu. benarkah?
-yang (masih saja) menyukaimu
Oleh @nrsfrn
Diambil dari http://ilrow.blogspot.com/2013/01/lebih-dari-sekedar-lama.html
Retoris
"Masih menunggu?"
"Menurutmu?"
"Hei, aku bertanya bukan untuk ditanya balik. Pertanyaan itu butuh jawaban."
"Buat apa kau bertanya jika kau sendiri sudah jelas-jelas mengetahui jawabannya?"
"Iya iya, terserah kamu. Kenapa masih mau menunggu? Masih berharap?"
"Yah, hanya itu yang bisa aku lakukan. Apa tidak boleh?"
"Tidak. Tidak ada yang melarangmu. Tapi mau sampai kapan diam dan menunggu? Sedangkan yang ditunggu tidak pernah tahu dan merasa?"
"Aku tidak diam! Aku sudah berusaha. Aku sudah melakukan apa yang aku mampu."
"Bila sudah seperti itu sebaiknya kau tinggalkan dia. Kau tahu? Hatimu itu ibarat sebuah papan puzzle, yang kepingannya masih berpencar dan belum tersusun sempurna, mungkin dia bukan kepingan puzzle yang pas untukmu. Bagaimanapun kau memaksanya, kepingan itu tidak akan pernah pas."
Percakapan singkat yang sempat hadir di pikiranku saat menunggu surat balasan darimu.
Yang mungkin kau tak akan pernah tahu.
Oleh @nadhiayoe
Diambil dari http://ceritadikalahujan.blogspot.com/2013/01/retoris.html
Untuk Dia
Untuk dia jodohku,
Dimanakah dia berada saat ini? Mungkinkah dia sedang berkelana di satu sisi dunia yang berseberangan denganku dan sedang mencari jodohnya juga?
Ataukah dia sedang berjodoh dengan yang lain? Ah tak apa jika memang dia yang Kau ciptakan untukku sedang menjalani kehidupannya bersama yang lain. Aku akan menunggu.
Wahai Tuhan, benarkah Kau ciptakan jodoh untukku? Tidak, aku sama sekali tak meragukan-Mu. Aku tahu Kau telah meyiapkan jodohku, entah dimana. Jika bukan disini, mungkin aku punya jodoh di kehidupan selanjutnya.
Semoga.
~ dari seseorang yang sedang dalam pencarian.
Oleh @mazni_
Diambil dari http://dmazni.wordpress.com/2013/01/31/penuh-tanya/
Untuk Duniaku.
Selamat pagi.
Terimakasih telah menyambutku dengan nyanyian burung-burung yang merdu.
Terimakasih telah memberikan sinar kehidupan yang membuatku tambah bersemangat untuk memulai hidup.
Melalui pohon-pohon rindang, engkau menyejukanku sampai ke hati yang aku pun tak tau seberapa dalam. Dengan alunan nada dedaunan yang dimainkan oleh sang maestro, angin.
Tidak lupa juga aku berterimakasih kepada hujan.
Ah! Engkau memang selalu bisa membuatku tenang dengan nada rintik air yang serupa tapi tak sama.
Aku berterimakasih kepada kalian semua. Kalian memang selalu bisa menjadi dunia yang nyaman bagiku.
Aku ingin bertanya, siapa yang telah menciptakan kalian sehingga aku dapat hidup dengan tenang?
Kepada siapa aku harus berterimakasih penuh?
Oleh @Leophardd
Diambil dari http://yoyoobngswn.tumblr.com/post/41936307445/untuk-duniaku
Hai, Kesayanganku.
Hai, Kesayanganku....
Aku mencintaimu setiap hari.
Mencintai caramu mencemburuiku.
Mencintai caramu memandangku.
Mencintai caramu memelukku,,
Menenangkan galau dihatiku.
Meredam emosiku, meredam sedihku.
Aku mencintaimu setiap hari.
Mencintai caramu membuatku tersenyum.
Mencintai kejutan-kejutan kecilmu yang tak pernah kuduga sebelumnya.
Mencintai caramu mengingatkan aku, akan semua hal yang hampir aku lupakan.
Mencintai caramu memarahiku.
Mendiamkan aku, hingga aku merasa menyesal telah melakukan kesalahan, sesepele apapun itu.
Mencintai caramu membujukku, ketika aku merasa kesal kepadamu.
Mencintai caramu membuatku selalu bisa memaafkan salahmu.
Aku mencintai semua itu.
Aku mencintai semua yang ada didalam dirimu.
Kekurangan maupun kelebihanmu.
Apa adanya kamu.
Kesederhanaan kamu.
Kesayanganku....
Aku mencintaimu setiap hari.
Ketika suka maupun duka.
Walau disaat kita tak lagi satu.
Walau saat itu aku menjerit, "AKU BENCI KAMU !!!"
Walau saat itu aku tak lagi ingin mengenalmu.
Walau saat itu kau benar-benar melukai aku.
Walau saat itu kau tak lagi menghapus linangan air mata dipipiku.
Walau saat itu kau tak peduli lagi akan siapa aku dihatimu.
Aku mencintaimu setiap hari.
Menikmati setiap perjumpaan yang ada.
Merasakan hangatnya pelukmu.
Erat genggaman tanganmu, seakan tak ingin aku jauh darimu satu senti pun.
Mencoba menebak isyarat dari semua bahasa tubuhmu.
menikmati antusiasmu ketika bercerita tentang apa yang kau alami.
mencintai caramu tertawa.
mencintai caramu mengkhawatirkan aku.
mencintai caramu membuat aku menjadi istimewa.
Aku mencintaimu setiap hari.
Sejak kita bertemu.
Sejak kita memutuskan untuk bersama 7 tahun yang lalu.
Sejak kita mengikrarkan komitmen kita di tahun ke-2.
Sejak kita menjadikan jarak bukan halangan untuk selalu bersama.
Walau terkadang rasa jenuh itu menghampiri kita.
Mencintai caramu meyakinkan aku, kalau kita akan selalu bersama, apapun keadaannya.
Amin.
Kesayanganku...
Sampai detik ini, Aku mencintaimu karena aku mencintaimu.
Dan aku rasa, aku tak perlu alasan lain.
Oleh @OkkyYolanda
Diambil dari http://okkyyolanda.blogspot.com/2013/01/hai-kesayanganku.html?spref=tw
Memori 4 Juni 2012
Dear Paddy,
Tanggal 4 Juni 2012. Kamu tentu masih ingat tanggal itu, kan? Tepatnya hari Senin. Hari saat pertama kali aku sengaja menemuimu di Jakarta setelah susah payah untuk mendapatkan izin dari atasanku. Semua kulakukan demi kamu, sebab aku telah berjanji untuk menjemputmu sesegera mungkin. Dan, kamu tahu aku takkan pernah mengingkari janji atas keinginan kuatku untuk memilikimu. Kamu yang kukenal dari dunia maya, ingin kujadikan nyata dalam pelukanku. Perasaan cinta memang tidak bisa dibohongi.
Dear Paddy,
Kamu tahu berapa jarak Lombok – Jakarta? Tidak tahu? Sama. Kalaupun tahu, aku juga tidak akan mungkin mengukurnya. Bagiku cinta tidak dihitung oleh jarak. Aku tak peduli dengan jarak saat cinta menguasai dan mengalahkan segalanya. Setidaknya itu menurutku. Sebab sejauh apa pun jarak, bagiku cinta itu tentang komitmen untuk menjaga rasa dalam satu kata setia. Terbukti akhirnya dengan kesabaran dan perjuangan tiada henti, aku bisa memilikimu seutuhnya.
Dear Paddy,
Awalnya memilikimu hanyalah sebatas mimpi. Untuk ukuran orang seperti aku, memilikimu hampir mustahil. Banyak kendala yang harus kuhadapi. Beruntung waktu itu banyak teman-teman yang mendukung keputusanku untuk bisa memilikimu. Itu sangat berharga bagiku. Meskipun, jabatan membuatku banyak orang mencibir karena memilihmu. Tetapi, aku tidak terpengaruh sebab aku punya alasan bahwa memilikimu adalah sebuah kebenaran dan bukan sekadar pembenaran.
Dear Paddy,
Saat ini aku telah bisa memilikimu seutuhnya. Ada tetes-tetes harap dalam dada. Menunggumu bisa membuatku benar-benar lebih bahagia. Setidaknya dengan begitu aku tidak akan merasa sia-sia memilihmu untuk menemani hari-hariku. Saat aku selesai menulis surat ini mungkin kamu sedang tertidur pulas setelah semalaman membuatku puas.
Dear Paddy,
Dalam dada juga ada gerimis asa. Semoga kamu selalu mengingat memori 4 Juni 2012 sebagai momentum awal kebersamaan kita, sehingga kita bisa saling menghargai dan tetap berdiri pada posisi masing-masing. Aku mencintaimu dengan merawatmu, kamu mencintaiku dengan mencoba bersahabat dengan sinyal jelek di wilayahku.
Dear Paddy,
Aku selalu mencintaimu, meskipun banyak orang mencelamu sebagai “talenan”. Aku tak peduli sebab aku mendapatkanmu dengan jerih payahku. Untuk itu, aku akan selalu dan tetap mencintaimu, iPad3 -ku.
Dariku yang suka menyentuhmu dengan lembut,
@momo_DM
Oleh : @momo_DM
Diambil dari http://bianglalakata.wordpress.com/2013/01/31/30harimenulissuratcinta-18-memori-4-juni-2012/
Setan Merah Italia
Selamat sore, waktu menunjukan pukul 17:17 Waktu Indonesia Barat.
Buonasera, I Rossoneri Ragazzi.
Sudah hampir 11 tahun panji Curva Sud tersemat di dalam kebanggaan hidup seorang fanatik sepakbola seperti saya.
Dimulai ketika seorang idola, Super Pippo Inzaghi menginjakkan kaki di Milanello. Berpindah seragam dari warna hitam putih si nyonya tua, menjadi warna kebesaran merah hitam klub kota Milan.
Wahai AC.Milan. Apa kabarmu hari ini? berhasil menggaet salah satu pemain bertalenta penuh mimpi seperti Balotelli, walau bengal saya yakin bahwa dia punya kualitas menjadi seorang juara yang akan kembali mengembalikan jati diri, Menjadi klub sepakbola yang disegani. Tak sekedar kembali diperhitungkan, tapi kembali ditakuti. Invicible Team layaknya team racikan Don Carlo di Tahun 2007.
Wahai AC.Milan. Apa kabar anak emasmu hari ini? Il Faraone, El Shaaraawy. Sang Firaun kecil yang kini sedang menggeliat gila mengoyak jala gawang lawan di Liga Italia. 15 Goals dia bukukan untuk kembali membawa dirimu bertengger di posisi 5 klasemen. Posisi Europe League yang sebenarnya bukanlah kastamu. Tenang saja I Rossoneri, saya yakin, bahwa Pemuda Italia berumur 21 Tahun itu akan mengembalikan levelmu, ke tingkat Champions League, Turnamen Para Juara Eropa yang selalu menarik minat dunia. Hai AC.Milan, sampaikan salamku pada El, Tetaplah bertahan dan tetaplah mencetak gol. jadilah Serie-A Capocannonieri.
Wahai AC.Milan. Banyak sekali ungkapan yang harusnya terurai dalam surat ini. Bahkan seharusnya banyak ungkapan yang tak dapat tertumpah dalam sebuah kata-kata.
Karena sebuah kecintaan kepada sebuah klub. Sebuah komitmen untuk tetap bersimpuh di bawah lambang kebesaran AC.Milan.
Wahai AC.Milan. Saya seorang Milanisti. Ultras pencintamu dari belahan bumi bagian timur, di Asia. Penyuka dirimu dari negara besar di Asia Tenggara. Fans beratmu dari Indonesia.
Wahai AC.Milan. Dengan surat ini, biarkanlah saya bisa menjadi sebuah titik dalam lukisan besar perjalanan kesuksesanmu. Kembali lagi ke jalur yang benar. Dinahkodai para pemain yang ranum dengan nahkoda pelatih muda penuh strategi pintar seorang Massimiliano Allegri.
Wahai Il Rossoneri, kembalilah besar di mata dunia. Kembalilah menjadi nomor satu di urutan klub teratas di bumi ini. Rebut kembali takhta Italia dari La Vecchia Signora, terus kalahkan La Beneamata, dan kudeta Blaugrana dari donimasi turnamen para juara, Champions League.
Wahai AC.Milan. Dengan bangga, saya akan tetap mencintaimu!
Forza Milan. Forza Il Rossoneri
Forza Milan! Milan Campione!
Forza Milan il Milan ole
Forza Milan! Vinci per noi!
Forza Milan la Sud e con te!
Ti Amo, AC.Milan
SC
oleh @sunoesche
diambil dari http://essayoflove.blogspot.com
Buonasera, I Rossoneri Ragazzi.
Sudah hampir 11 tahun panji Curva Sud tersemat di dalam kebanggaan hidup seorang fanatik sepakbola seperti saya.
Dimulai ketika seorang idola, Super Pippo Inzaghi menginjakkan kaki di Milanello. Berpindah seragam dari warna hitam putih si nyonya tua, menjadi warna kebesaran merah hitam klub kota Milan.
Wahai AC.Milan. Apa kabarmu hari ini? berhasil menggaet salah satu pemain bertalenta penuh mimpi seperti Balotelli, walau bengal saya yakin bahwa dia punya kualitas menjadi seorang juara yang akan kembali mengembalikan jati diri, Menjadi klub sepakbola yang disegani. Tak sekedar kembali diperhitungkan, tapi kembali ditakuti. Invicible Team layaknya team racikan Don Carlo di Tahun 2007.
Wahai AC.Milan. Apa kabar anak emasmu hari ini? Il Faraone, El Shaaraawy. Sang Firaun kecil yang kini sedang menggeliat gila mengoyak jala gawang lawan di Liga Italia. 15 Goals dia bukukan untuk kembali membawa dirimu bertengger di posisi 5 klasemen. Posisi Europe League yang sebenarnya bukanlah kastamu. Tenang saja I Rossoneri, saya yakin, bahwa Pemuda Italia berumur 21 Tahun itu akan mengembalikan levelmu, ke tingkat Champions League, Turnamen Para Juara Eropa yang selalu menarik minat dunia. Hai AC.Milan, sampaikan salamku pada El, Tetaplah bertahan dan tetaplah mencetak gol. jadilah Serie-A Capocannonieri.
Wahai AC.Milan. Banyak sekali ungkapan yang harusnya terurai dalam surat ini. Bahkan seharusnya banyak ungkapan yang tak dapat tertumpah dalam sebuah kata-kata.
Karena sebuah kecintaan kepada sebuah klub. Sebuah komitmen untuk tetap bersimpuh di bawah lambang kebesaran AC.Milan.
Wahai AC.Milan. Saya seorang Milanisti. Ultras pencintamu dari belahan bumi bagian timur, di Asia. Penyuka dirimu dari negara besar di Asia Tenggara. Fans beratmu dari Indonesia.
Wahai AC.Milan. Dengan surat ini, biarkanlah saya bisa menjadi sebuah titik dalam lukisan besar perjalanan kesuksesanmu. Kembali lagi ke jalur yang benar. Dinahkodai para pemain yang ranum dengan nahkoda pelatih muda penuh strategi pintar seorang Massimiliano Allegri.
Wahai Il Rossoneri, kembalilah besar di mata dunia. Kembalilah menjadi nomor satu di urutan klub teratas di bumi ini. Rebut kembali takhta Italia dari La Vecchia Signora, terus kalahkan La Beneamata, dan kudeta Blaugrana dari donimasi turnamen para juara, Champions League.
Wahai AC.Milan. Dengan bangga, saya akan tetap mencintaimu!
Forza Milan. Forza Il Rossoneri
Forza Milan! Milan Campione!
Forza Milan il Milan ole
Forza Milan! Vinci per noi!
Forza Milan la Sud e con te!
Ti Amo, AC.Milan
SC
oleh @sunoesche
diambil dari http://essayoflove.blogspot.com
Sahabat Terbaik
Untukmu,
Telah tuntas setengah surat-suratku dalam sebulan ini namun tidak pernah tentangmu terlintas. Aku lupa untuk menujukan surat ini padamu padahal tentu kamu adalah maha penting untukku. Kamu yang selalu ada saat-saat titik terendah dan selalu kulupakan saat titik tertinggi. Aku memang pandir dalam menilai siapa yang lebih ikhlas dan tulus menemaniku sepanjang waktu.
Aku sering sekali menyakitimu, menghabiskan kata-kata kasar kepadamu, mencaci dalam setiap keadaan yang tak mampu ku hadapi. Padahal tentu saja, kamu adalah yang paling terluka saat ku sedih. Lagi-lagi itu kesalahanku yang tak pernah peka akan situasi.
Ada begitu banyak yang harus aku ucapkan namun mengkristal jadi dua kata; terima kasih. Aku bersyukur telah mengenalmu, walau mungkin sepanjang usia akan kuhabiskan untuk selalu mengenalmu. Aku bersyukur dapat mencintaimu, karena aku terlalu sering mencintai orang lain hingga aku lupa mencintaimu. Diriku sendiri. Sahabat yang pasti tidak pernah pergi dan paling mengerti. Terima kasih, sahabat.
“karena tak ada yang paling mengenalmu selain dia yang kau simpan dalam hati; suara hatimu”
dariku, untuk kita.
oleh @sedimensenja
diambil dari http://sedimensenja.wordpress.com
Telah tuntas setengah surat-suratku dalam sebulan ini namun tidak pernah tentangmu terlintas. Aku lupa untuk menujukan surat ini padamu padahal tentu kamu adalah maha penting untukku. Kamu yang selalu ada saat-saat titik terendah dan selalu kulupakan saat titik tertinggi. Aku memang pandir dalam menilai siapa yang lebih ikhlas dan tulus menemaniku sepanjang waktu.
Aku sering sekali menyakitimu, menghabiskan kata-kata kasar kepadamu, mencaci dalam setiap keadaan yang tak mampu ku hadapi. Padahal tentu saja, kamu adalah yang paling terluka saat ku sedih. Lagi-lagi itu kesalahanku yang tak pernah peka akan situasi.
Ada begitu banyak yang harus aku ucapkan namun mengkristal jadi dua kata; terima kasih. Aku bersyukur telah mengenalmu, walau mungkin sepanjang usia akan kuhabiskan untuk selalu mengenalmu. Aku bersyukur dapat mencintaimu, karena aku terlalu sering mencintai orang lain hingga aku lupa mencintaimu. Diriku sendiri. Sahabat yang pasti tidak pernah pergi dan paling mengerti. Terima kasih, sahabat.
“karena tak ada yang paling mengenalmu selain dia yang kau simpan dalam hati; suara hatimu”
dariku, untuk kita.
oleh @sedimensenja
diambil dari http://sedimensenja.wordpress.com
SURAT SOMASI
Tangerang, 31 Januari 2013
Kepada Yang Tercinta, Kamu.
Perihal : SOMASI CINTA
Dengan cinta,
Berkaitan dengan belum dilaksanakannya kewajiban pembayaran hutang penuntasan rindu yang sudah semakin menyiksa maka dengan ini aku sampaikan SOMASI sebagai berikut:
Kepada Yang Tercinta, Kamu.
Perihal : SOMASI CINTA
Dengan cinta,
Berkaitan dengan belum dilaksanakannya kewajiban pembayaran hutang penuntasan rindu yang sudah semakin menyiksa maka dengan ini aku sampaikan SOMASI sebagai berikut:
- Bahwa pada tanggal 27 sampai 29 November merupakan pertemuan kita terakhir kali dan kita sudah berjanji akan bertemu lagi setelahnya.
- Bahwa dengan rindu yang sudah semakin membukit dan keinginan untuk memelukmu sudah sampai ke ubun-ubun tapi belum juga ada pembicaraan kita untuk pertemuan selanjutnya
- Bahwa karena sibuknya dirimu untuk membicarakan kelanjutan hubungan ini hingga saat dikirimkannya surat SOMASI ini aku telah beberapa kali menghubungimu untuk memulai pembicaraan namun tindakan itu tidak juga mendapat tanggapan yang baik darimu
- Bahwa aku masih berkeyakinan kamu masih menyimpan rindu yang sama denganku, bahwa cuma hanya ada aku di hatimu meskipun ada beratus-ratus kilometer jarak yang memisahkan rindu kita ini
- Bahwa dalam hal hingga seminggu ke depan tidak juga ada niat baik darimu untuk menghubungiku maka jangan salahkan aku di sini mulai meragukanmu di sana.
Salam cinta dan rindu untukmu,
@rizton_
oleh @rizton_
diambil dari http://ungubirumuda.wordpress.com
Selamat Ulang Tahun, Perpisahan
Buat Mantan
Sebelum menulis surat ini saya telah selesai membaca sejumlah surat Rilke di bukunya Surat-Surat kepada Penyair Muda dan Sejumlah Sajak. Kau tentu tak tahu dia. Ya, saya tahu. Dia seorang penyair asal Austria. Tak penting memang untuk kau ketahui. Tapi, saya mencintainya. O ya, surat ini bukan tentang Rilke. Saya bercerita, hanya ingin memberi kabar bahwa saya jatuh cinta lagi kepada penyair, setelah Neruda. Seperti kebiasaanku. Dulu. Saat kita masih saling bangga mengakui sebagai pacar.
O ya, kau masih ingat ini hari apa? Aha, betul! Penyakit pikunmu sudah hilang rupanya. Meski masih berlaku buat masa lalu kita. Kau pikun, bukan? Sudahlah, bukankah masa lalu hanya genangan kenangan yang butuh direnangi untuk sampai di masa depan. Sialnya, saya tak pandai berenang, hingga arus harus, tenggelamkanku di dalamnya—di masa lalu. Iya, ini adalah hari ulang tahun perpisahan kita. Kita sepakat memutuskan hubungan di tanggal dan bulan yang sama dengan hari ini. Dua tahun yang lalu. Bagaimana jika kita rayakan? Bukankah lumrahnya ulang tahun dirayakan? Tak apa! Kita tak sedang merayakan luka. Tak ada kan yang terluka dalam perpisahan waktu itu? Saya tidak. Kamu juga. Pasti. Jadi mari kita rayakan.
Ini ulang tahun kedua bagi perpisahan. Kau jangan bangga, membuatku dua tahun menjomblo. Hahaha, jangan bangga dulu. Jomblo hanya tak punya pacar, bukan tak punya cinta. Bagiku melupakan tak berarti move on, atau move on tak berarti melupakan—saya menggabungkannya; melupakan-(cinta)mu dan move on. Baiklah mari kita rayakan! Merayakan ulang tahun dengan sejumlah lilin di atas kue, terlalu lumrah. Bagiku. Bagaimana kalau kita rayakan dengan pelukan? Atau ciuman? Kamu memelukku, saya mencium kening, pipi, atau bisa juga bibirmu? Sepakat?
O ya, saya berterima kasih kepadamu. Berterima kasih karena telah setuju saling memutusukan dua tahun yang lalu. Kau seharusnya tahu, saya belum berani memacari sesiapa setelahmu. Jangan geer, saya tidak menunggumu kembali. Saya hanya menunggu ada perempuan yang mencintaiku. Hahaha, ya, saya tidak laku. Jangan merasa menang. Ah, sudahlah, mari kita rayakan ulang tahun perpisahan kita. Kau sepakat, kan, kau memberiku kado pelukan, kadomu kubalas ciuman?
Saya hampir lupa, sekarang siapa lelaki yang memcarimu? Tolong kabarkan padanya, bahwa orang yang pernah mencintai pacarnya, mengajakmu bertemu; merayakan ulang tahun perpisahan dengan ciuman dan pelukan. Jika ia marah, putuskan! Ia tidak baik buatmu. Hem, tapi pacar seharusnya pagar ya? Menjaga? Iya, juga sih. Ya sudah, jika ia tak mengizinkanmu, berikan ciuman dan pelukan kepadanya. Seharusnya bersamanya kaurayakan perpisahan kita, karena perpisahan waktu itulah yang mempertemukan kalian.
Sedangkan saya merayakan perpisahan itu seorang diri. Karena saya tak ingin berbagi kebahagiaan, telah dipisahkan dari perempuan yang selalu memacari orang yang salah. Terakhir, kukutipkan puisi dari penyair yang membuatku jatuh cinta itu;
bahkan jika dunia berubah secepat
bentuk-bentuk mega
segala yaang sempurna pada akhirnya
akan kembali pada yang purba
Salam
Lelaki yang (mungkin) salah pernah kaupacari
oleh @sajakimut
diambil dari http://faisaloddang.tumblr.com
Sebelum menulis surat ini saya telah selesai membaca sejumlah surat Rilke di bukunya Surat-Surat kepada Penyair Muda dan Sejumlah Sajak. Kau tentu tak tahu dia. Ya, saya tahu. Dia seorang penyair asal Austria. Tak penting memang untuk kau ketahui. Tapi, saya mencintainya. O ya, surat ini bukan tentang Rilke. Saya bercerita, hanya ingin memberi kabar bahwa saya jatuh cinta lagi kepada penyair, setelah Neruda. Seperti kebiasaanku. Dulu. Saat kita masih saling bangga mengakui sebagai pacar.
O ya, kau masih ingat ini hari apa? Aha, betul! Penyakit pikunmu sudah hilang rupanya. Meski masih berlaku buat masa lalu kita. Kau pikun, bukan? Sudahlah, bukankah masa lalu hanya genangan kenangan yang butuh direnangi untuk sampai di masa depan. Sialnya, saya tak pandai berenang, hingga arus harus, tenggelamkanku di dalamnya—di masa lalu. Iya, ini adalah hari ulang tahun perpisahan kita. Kita sepakat memutuskan hubungan di tanggal dan bulan yang sama dengan hari ini. Dua tahun yang lalu. Bagaimana jika kita rayakan? Bukankah lumrahnya ulang tahun dirayakan? Tak apa! Kita tak sedang merayakan luka. Tak ada kan yang terluka dalam perpisahan waktu itu? Saya tidak. Kamu juga. Pasti. Jadi mari kita rayakan.
Ini ulang tahun kedua bagi perpisahan. Kau jangan bangga, membuatku dua tahun menjomblo. Hahaha, jangan bangga dulu. Jomblo hanya tak punya pacar, bukan tak punya cinta. Bagiku melupakan tak berarti move on, atau move on tak berarti melupakan—saya menggabungkannya; melupakan-(cinta)mu dan move on. Baiklah mari kita rayakan! Merayakan ulang tahun dengan sejumlah lilin di atas kue, terlalu lumrah. Bagiku. Bagaimana kalau kita rayakan dengan pelukan? Atau ciuman? Kamu memelukku, saya mencium kening, pipi, atau bisa juga bibirmu? Sepakat?
O ya, saya berterima kasih kepadamu. Berterima kasih karena telah setuju saling memutusukan dua tahun yang lalu. Kau seharusnya tahu, saya belum berani memacari sesiapa setelahmu. Jangan geer, saya tidak menunggumu kembali. Saya hanya menunggu ada perempuan yang mencintaiku. Hahaha, ya, saya tidak laku. Jangan merasa menang. Ah, sudahlah, mari kita rayakan ulang tahun perpisahan kita. Kau sepakat, kan, kau memberiku kado pelukan, kadomu kubalas ciuman?
Saya hampir lupa, sekarang siapa lelaki yang memcarimu? Tolong kabarkan padanya, bahwa orang yang pernah mencintai pacarnya, mengajakmu bertemu; merayakan ulang tahun perpisahan dengan ciuman dan pelukan. Jika ia marah, putuskan! Ia tidak baik buatmu. Hem, tapi pacar seharusnya pagar ya? Menjaga? Iya, juga sih. Ya sudah, jika ia tak mengizinkanmu, berikan ciuman dan pelukan kepadanya. Seharusnya bersamanya kaurayakan perpisahan kita, karena perpisahan waktu itulah yang mempertemukan kalian.
Sedangkan saya merayakan perpisahan itu seorang diri. Karena saya tak ingin berbagi kebahagiaan, telah dipisahkan dari perempuan yang selalu memacari orang yang salah. Terakhir, kukutipkan puisi dari penyair yang membuatku jatuh cinta itu;
bahkan jika dunia berubah secepat
bentuk-bentuk mega
segala yaang sempurna pada akhirnya
akan kembali pada yang purba
Salam
Lelaki yang (mungkin) salah pernah kaupacari
oleh @sajakimut
diambil dari http://faisaloddang.tumblr.com
Masih Untuk yang Menghilang
Masih untuk kamu yang menghilang,
Apa kabarmu? sejak kemarin malam aku memikirkan kamu lagi. Hatiku resah menunggu kabarmu. Bagaiman keadaanmu? Ah, aku terlalu khawatir padamu. Padahal aku tahu, kamu sudah tampak lebih dewasa, bertanggung jawab, dan survive dengan hidupmu.
kamu yang menghilang,
Jangan lupa untuk makan. Aku paling kesal kalau liat kamu ogah-ogahan makan. Rasanya aku ingin bawain makanan kesukaan kamu terus. Aku ingat, kamu bilang paling suka keju. Matamu yang berbinar waktu aku bawain kastengel dan nastar keju itu, selalu aku ingat. Aku ingin melihat binar itu setiap hari.
kamu yang menghilang,
Tak pernah kulupa melantukan namamu dalam lima waktuku. di antara sujud-sujud panjangku. Jangan lupa juga kamu solat, cuma Tuhan yang bisa mendekatkan juga menjauhan kita.
Kamu yang menghilang,
ini bukan hanya soal kehilangan dirimu, Entah, yang kurasa juga kehilangan ibumu dan keponakanmu. Aku rindu kamu, rindu mereka. Aku rindu kamu bilang, “Kamu ditanyain ibu, kok belum main-main ke rumah lagi.”
Kamu yang menghilang,
Aku rela menempuh jarak sejauh apapun demi menuntaskan rinduku, melihat senyummu, akan kutempuh. Aku mengalah.
Kamu yang menghilang,
Jika sempat balaslah pesanku. Aku masih tetap menunggu kabarmu. Jika memang dia kembali padamu, aku tak apa. Asal itu adalah bahagiamu.
Kamu yang menghilang,
Kehilanganmu kali ini adalah kehilangan yang paling dahsyat daripada kehilanganmu lima tahun yang lalu.
Masih untuk kamu yang menghilang,
Ini pilihanmu? menghilang dari hidupku. Padahal kamu bisa mencariku, menemukanku, tak pernah lari darimu.
with love
yang selalu menantikan hadirmu
Oleh @hutamiayu
Diambil dari http://hutamiayu.tumblr.com
Nyummy Love
Selamat pagi,
Dengan menulis ini aku ingin menyatakan cinta.
Wajahmu jangan kaget begitu, hal ini tak perlu kau laporkan pada pacarku. Aku yakin, dia sudah menerima dengan lapang dada.
Sejak kapan aku mencintaimu?
Ceritanya begini. Waktu itu masih pagi sekali, aku berangkat sendiri ke kantor dan menemukanmu begitu saja. Barangkali aku yang salah karena mendekatimu, tapi siapa suruh kau begitu menggoda? Aku bahkan menceritakan hal ini pada pacarku. Dia ikut memujimu pula.
Bagaimana aku mengelak darimu? Kau putih, kau lembut, menghangatkan tiap kali mendapatimu di tubuhku. Memenuhi segala laparku akan cinta itu.
Oh, bubur ayamku.. sini aku kunyah kamu..
Elikah
Oleh @ikavuje
Diambil dari http://eqoxa.wordpress.com
Kursi Kayu Panjang dan Tiga Kali Kunjungan
Selamat pagi,
Rasanya ingin membuat surat ini seperti kotak musikal modifikasi. Saat kau buka, mengalunlah sebuah lagu. Petikan dari gitar akustik yang mereknya saja sudah salah, Yahama. Pemainnya apa lagi. Aku pemainnya, memainkan gitar yang salah dengan tidak benar.
Hush, jangan tertawa. Begini-begini aku bisa memainkan lagu dengan gitar. Judulnya Aishiteru dengan kunci C – G – Am –Em diulang terus, hingga senar putus. Sedang kau dulu mahir memainkan The Spirit Carries On yang saat itu tak lebih dari sekedar “ini lagu apa ya??” di dalam hati.
Dalam kepalaku sesungguhnya kau tak pernah tertawa. Hanya ada cengiran. Kau pemalu dan pendiam. Aku kalah dengan orang pemalu dan pendiam. Aku menjadi ikut diam. Kita diam-diam hingga (mungkin bisa hingga) akhir jaman jika kau tak ingat pulang.
Sudah.
Tak ada cerita lainnya lagi. Kita tak pernah melanjutkan.
Tidak ada “seandainya.” Tidak ada “kalau misalkan.”
Kita dulu adalah sebaik-baik pembuat keputusan.
Maka hingga kini kita bahagia dalam ketidakbersamaan.
Selamat ulang tahun, Tokoh Utama Dalam Sepuluh Kejadian
Doa untuk rumah tanggamu selalu sakinah. :)
Oleh @ildesperados
Diambil dari http://abracupa.posterous.com
Surat Untukku di Masa Depan
Hai, aku… Apa kabarmu di masa depan?
Tentu kau bahagia, bersama keluarga kecil dan rumah minimalis dengan halaman luas di tengah bukit dengan pemandangan gunung tangkuban perahu dan city light yang indah di malam hari di sisi yang lainnya dari rumahmu. Suara musik yang menggema saat suamimu bekerja, dan celoteh riang anak lelakimu yang berbibir tebal dan anak perempuanmu yang manja dan rajin membaca. Anak lelakimu mirip sekali dengan papanya :)
Aku, kau tahu? Aku di masa kini masih saja mengkhayalkan hidupku nantinya akan seindah hidupmu di masa depan. Aku masih seorang perempuan egois yang suka sekali cemburu berlebihan dan tak bisa mengontrol emosi. Suamimu selalu bilang aku adalah perempuan self sentris. Dan telingaku sudah kebal mendengarnya.
Aku, kau ingat? Di beberapa waktu yang lalu sebelum aku menulis surat ini, seorang pria yang berhasil membuatku gila mengatakan bahwa aku tak boleh berharap banyak kepadanya. Seorang pria istimewa dengan watak keras kepala namun pejuang hidup yang tangguh. Ia benar-benar membuatku merasa bahwa ia adalah jodohku kelak. Jauh darinya membuatku merasa bahwa angin yang berhembus setiap hari dan hujan yang turun sesekali adalah ucapan rindu yang ia titipkan kepada semesta.
Saat ini, satu-satunya perempuan yang aku cemburui hanya kau, Aku. Iya, aku cemburu kepadamu karena satu-satunya pria yang bisa membuatku melantunkan kata puitis dan mellow ada di dalam rumahmu sebagai suamimu. Ingin sekali aku memutar cepat waktu agar aku bisa berada di posisimu. Menikmati setiap sentuhannya di sekujur tubuhku, dan kecupan-kecupan mesranya saat aku menutup mata di malam hari dan membuka mata di pagi hari. Atau hanya sekedar mengantarkan kopi ke ruang kerjanya.
Aku, ku titipkan mereka, keluarga kecilku di masa depan bersamamu. Jaga mereka sebaik aku menjaga mimpi-mimpiku untuk memiliki mereka saat ini. Jangan lupa selalu mengingatkan suamimu agar menjaga kesehatan dan jangan kerja larut malam. Jangan sesekali ngambek kepadanya, ia sudah bosan mendapatkan itu di masa lalu dariku. Jadilah istri dan ibu yang baik di rumahmu. Aku tahu kau akan melakukan itu tanpa aku suruh :)
Aku, di sini aku masih berusaha menjadi perempuan sebaik-baiknya untuk dirimu, suamimu, dan juga anak-anakmu di masa depan. Titip peluk dan cium untuk keluarga kecilmu dan juga keluarga besar suamimu…
Dengan penuh cinta,
Aku di masa kini, Januari 2013
Oleh @iddailiyas
Diambil dari http://iddailiyas.tumblr.com
Subscribe to:
Posts (Atom)