Showing posts with label Surat #DuaHati 12. Show all posts
Showing posts with label Surat #DuaHati 12. Show all posts

07 February 2013

Surat #DuaHati @_KataSandy_ dan @erlinberlin13

Perahu Kertas

Kamu melayangkan aku lagi, Erl!
 
Surat kali ini mungkin tidak akan terlalu panjang, tapi aku hanya ingin membalas ceritamu tentang burung kertas itu.
 
Seperti halnya kamu, aku juga menulis surat ini pada secarik kertas. Tapi aku membuat ini menjadi sebuah pesawat kertas. Tahukan kamu? Aku berharap kalimatku bisa terbang sampai ke tempat keberadaanmu. Meski ada jarak diantara kita, itu hanya seperti spasi dalam kalimat ini; Pelengkap.
 
Paragraf kedua kutulis pada secarik kertas yang aku buat menjadi  seperti perahu. Ya, perahu kertas. Berharap kalimatku mengalir dari sungai ke samudera, memeluk ujung semesta, untuk menyampaikan pesan singkat semata:
 
“Terima kasih kamu telah bersedia!” 
 
 
 
Oleh @_KataSandy_ untuk @erlinberlin13
 
 
 
 
---
 
 
 Surat balasan @erlinberlin13 untuk @_KataSandy_
 

Gemintang 

tumblr_lz9zey0b4G1qguwsbo1_500

Aku ingin bercerita sebentar. Tentang salah satu sahabatku, Langit.

Aku suka berburu foto Langit- entah sedamg cerah maupun mendung. Namun, hanya ada dua waktu favoritku untuk menikmati bentangan kanvas cakrawala ini: saat pagi dan malam. Seperti foto yang kamu lihat di atas ini. Salah satu potret favoritku dari Langit di pagi hari saat aku menyempatkan diri untuk menghirup udara segar.

Berburu foto Langit di malam hari memang sulit – seperti mengabadikan kanvas yang ketumpahan tinta. Maka, biasanya, aku hanya diam memikmati Langit malam yang terkadang sendu maupun cerira karena kehadiran purnama dan taburan bintang.

Malam juga adalah waktu terbaik di mana aku mengajukan pertanyaan dalam diam. Bagaimana hariku esok, apakah aku akan terlambat pergi ke kampus, atau sempatkah aku menyesap kopi. Namun, akhir-akhir ini, aku sering bertanya tentang hal ini pada Langit.

“Apa kamu memandang gemintang malam ini seperti yang aku lakukan?”



Diambil dari  heyerl.wordpress.com
 

Surat #DuaHati @dhanzo dan @fristia

Semoga Memang Cinta Menyatukan

Semarang 5 Februari 2013

Dear Fristia,

Sore ini hujan lebat seperti kemarin, perlahan ia mengguyur kepala dan mengingatkanku pada kejadian sore itu. Aku ingin lekas beranjak dari kota ini, menemuimu.

Masa lalu memang kadang berjalan di depan kita, Tia. Tentu saja aku bisa memahami keadaanmu yang mementingkan study daripada duduk di rumah mengasuh anak. Namun tetap saja aku membayangkan kau duduk di sampingku saat ini, menimang anak kita yang tentu saja cantik sepertimu. Pipinya bulat kemerahan, pun ia beralis tebal sepertiku. Aku kangen, Tia.

Tak ada alasan untuk tidak memperjuangkanmu. Segala perbedaan, segala hal yang memisahkan, semoga memang cinta yang menyatukan. Fristia, sayang, aku akan datang esok lusa, seperti yang telah kita bicarakan sejak awal kita menuliskan surat-surat ini.

Fristia, sayang. Tiada yang lebih kuinginkan di dunia ini selain kamu, saat ini, esok dan nanti.

Sincerely,
Dhanang



Oleh @dhanzo untuk fristia
Diambil dari  serigalasalju.wordpress.com 



---


Surat balasan @fristia untuk @dhanzo

Memikirkan Kita 

Denpasar, 6 Februari 2013

Dear Dhanang,

Hariku sangat sibuk, membalas suratmu pun hampir tak sempat.

Urusan pasien benar-benar menguras tenaga. Aku ingin liburan, melupakan semua masalah di RS.
Ah, memikirkan kita membuat semangatku kembali pulih. Aku tidak berani berandai-andai, namun masa depan denganmu sepertinya menyenangkan. Topik pembicaraan yang tidak pernah habis dan perdebatan panjang tanpa akhir.

Kedatanganmu masih kutunggu dan asal kamu tahu Dhan, menunggu itu tidak menyenangkan.

Salam sayang,
Fristia.


Diambil dari fristiaindarini.wordpress.com

Surat #DuaHati @gelaph dan @Dear_Connie

Hih!

Neverland, 5 Februari 2013

Tante Ravenna,

Ini aku Wendy. Just in case Tante gak inget sama aku, mungkin foto ini bisa membantu.





Iya, itu foto sewaktu aku dan Peter sedang nge-date di Hutan Lebat Banget Bin Rimbun Sekali di Neverland. Waktu itu ia menggenggam erat tanganku dan tak lama kemudian kami berciuman. Ia bahkan bilang bahwa ia menyayangiku.

Jadi, please deh Tante. Jangan ganggu Peter. Ia milikku.

Tante tuh sadar umur gak sih? Tante tuh udah tua. Pake gigi palsu, pake rambut palsu, tulang osteporosis, tapi kok masih aja gatel sama abege. Emangnya gak ada om-om yang bisa digatelin ya? Minta digaruk buldozer banget sih. Hih! 

Si Raffles juga curhat ke aku, katanya ia di-PHP-in sama Tante. Gara-gara Tante ngebatalin pergi ke Hong Kong sama dia dan malah jadian sama Peter. Sok hot mama banget deh, ngegatelin banyak brondong. Sok-sok banyak yang naksir. Asal tau aja ya Tante, hot mama mah mana ada yang osteoporosis. Hih!

Udah gitu, Tante sok-sok ngejelekin Snow White di depan Peter. Bilang Snow mau ngeracunin Tante-lah, apalah. Seluruh dunia juga tahu, Tante. Yang jahat itu Tante, ibu tirinya, bukannya Snow White.

Trus Snow White bilang, Tante juga pernah ngadu ke Peter tentang ada orang yang nyuruh Peter jauhin Tante. Seolah-olah ada orang yang gak setuju Peter deket-deket sama Tante. Yang sebenarnya maksudnya aku dan Tinker Bell yang gak setuju kalo Peter deket-deket Tante.
Bok. Dibikin-bikin banget sih. Kita gak pernah ya nyuruh Peter jauhin Tante. Gak pernah! Ngapain juga kan. Hih!

Aku tahu sih maksudnya memfitnah kayak gitu. Pasti biar Peter bilang “Aku gak akan ngejauhin kamu kok walaupun orang-orang terdekat nyuruh aku ngejauhin kamu.”

Gitu kan? Gitu kan? Trik lama itu Tante. Trik lama.

Ups, aku baru nyadar. Tante kan udah tante-tante ya. Pantes aja sih pakenya trik lama kayak gitu. Gak mau download trik baru di virtual market, Tante? Hih!

Tante juga sok-sok baik banget sama Peter. Sok-sok mau masakin makanan kesukaan Peter. Sok-sok mau bikinin kue bintang sama jus buah delima. Padahal Tante pasti nyuruh koki istana yang nyiapin. Iya kan? Iya kan? Ketaker banget.

Tante juga gak pernah baik sama teman-teman Peter. Gak pernah mau coba kenal sama lingkungan sekitar Peter. Coba, mana pernah aku atau Tinker Bell diundang ke istana? Atau papa mama aku yang udah nganggep Peter kayak anaknya sendiri? Mana pernah! Memang cuma ada maunya sama Peter sih ya. Keliatan banget. Pffft.

Jadi ya Tante, jauhi Peter. Kalau Tante tidak mau, aku gak segan-segan untuk bertindak keras.

Aku gak main-main ya Tante.

Aku gak main-main.

Wendy.

pic from fanpop.com





Oleh @gelaph untuk @Dear_Connie
Diambil dari gelaph.tumblr.com 


---


Surat balasan @Dear_Connie untuk @gelaph





Peter sayang,

Semalam Mama Ravenna bilang sama aku bahwa kalian jadian. Itu beneran apa cuma khayalannya aja sih?

Kalo bener, dia nggak tau diri dan kamu sakit jiwa.

Dan, iya. Aku sakit hati. Banget. Kamu selama ini udah banyak ngasih harapan ke aku. Baik-baikin aku. Selalu bikin aku merasa istimewa. Dan aku sampe pernah jambak-jambakan sama Wendy gara-gara kamu.

Saingan sama Wendy sih ya udahlah ya. Masih wajar. Lha ini masak malah kamu jadiannya sama Mama aku??!!!

Kamu belum gila kan, Peter Pan?

Aku rasa sih kamu pasti didukunin sama Mama Ravenna. Dia memang jago banget ilmu peletnya, secara bergaulnya sama Kayang Sari yang jadi isteri mudanya Pak Bengbeng Tits itu. Kamu mau lepas kan dari ilmu peletnya Mama aku?

Ini aku kirimi kamu pohon kelor. Rawat baik-baik. Petik daunnya, terus airnya diseduh buat diminum. Sisanya buat keramas, biar pikiran kamu lepas dari ilmu sihirnya Mama.

Konon kabarnya, daun kelor ini asalnya dari kolor Pangeran Kodok yang didukunin sama laki-laki buaya. Entah apa hubungannya, aku nggak ngerti. Tapi si Pangeran Kodok itu jadi lepas dari pengaruh sihir setelah ngelepas kolornya sendiri, terus direbus dan airnya diminum. Jadi kalo kamu nggak mau minum air daun kelor ya kamu rebus kolor kamu sendiri aja. Nah, pas kamu nggak pake kolor itu, tolong fotonya dikirim ke aku ya. Aku kan belum pernah liat kamu tanpa kolor…

Kamu nggak bisa balas cinta aku nggak apa-apa, Peter. Aku udah ikhlas, tapi tolong jangan pacaran sama Mama aku.


Snow White



Diambil dari poeticonnie.tumblr.com 

Surat #DuaHati @acturindra dan @meyDM

Telaga Sunyi 

Dear Mey,

Matahari merangkak naik dan perlahan menyembul dari balik atap rumah di depanku. Cahayanya menulusup melalui kisi-kisi jendela kamarku, menyenyuh kulit tanganku yang tengah menggenggam pena menuliskan barisan kalimat-kalimat untukmu di sana.

Pagi, ia tak perlu berjanji pada Bumi dan seisinya untuk kembali, karena takdirnya memang untuk memeluk Bumi, dan mengirimkan pesan-pesan yang ditinggalkan malam pada dedaunan dalam tetes-tetes embun. Pagi akan selalu datang kembali, hingga senja jingga menyemputnya, dan gemulai malam mengganti tugasnya menemani Bumi, mengarungi sepi.

Mey, sesuatu yang telah ditakdirkan bersama rasa-rasanya memang tak perlu memberikan janji, ataupun terikat janji. Ia pasti akan kembali. Lalu kita akan mulai berpikir, bagaiman kita dapat mengetahui aku-kamu adalah sebuah takdir? Ya, kita harus menjalaninya setapak demi setapak, sehasta demi sehasta, dan sejengkal demi sejengkal. Tak usah berlari, sebab setahuku cinta akan datang tepat waktu.

Mey, bagaimana dengan ulat-ulat yang kuletakkan di tubuhmu, sudahkah ia berubah menjadi kepompong? Atau justru kini telah menjadi kupu-kupu yang senang hinggap di perutmu? Rawatlah, Mey, rawat kupu-kupu bersayap rapuh itu.

Matahari sudah kian meninggi dan telah membuat bayang-bayang yang menutupi aksara-aksaraku semakin panjang. Mey, biarkan aku berjalan menujumu pelan-pelan saja. Seperti pagi yang beranjak pergi, atau seperti ulat yang menjelma jadi kupu-kupu bersayap rapuh.

Indra.




Oleh @acturindra untuk @meyDM



---

 Surat balasan @meyDM untuk @acturindra

Buka Bungkusnya 

Dear Indra,

Surat ini tak berisi kata-kata manis seperti yang kautulis kemarin. Kadang, kalimat-kalimat indah dicukupkan Tuhan untuk dinikmati saja, atau aku yang tak mampu membalasnya. Entahlah…
Surat ini teramat singkat, sesingkat usia manusia di dunia. Sengaja tak kuperpanjang, agar hari ini kau tak melulu membaca duka.

Surat ini berisi hadiah, 1 lagu pengantar tidur, terbungkus kertas kado warna apapun yang kausuka. Bayangkan saja dalam kepalamu, perlahan bungkusnya kaubuka, lalu nada-nada berlompatan merimbunkan hutan batinmu. Nikmati hadiahku setiap malam sebelum pejam. Semoga mimpimu indah selalu. Semoga pagimu hangat selalu.

(Mey)
N.B. Ini hadiahmu!



Diambil dari meydianmey.wordpress.com 

Surat #DuaHati @godhfd dan @heyechi


Pesta Hati

Subject : Pesta Hati
From :     Narada Kanekaputra (narada.kanekaputra@gmail.com)
To :         Retna Anjani Nirmala (cupumanik_anjani@yahoo.com)
Date :     Tuesday, February 5, 2013 6:15 AM


Dear Anjani,

Tanggal 5. Di tanggal ini kita sepakat untuk menjalani komitmen bersama. Di tanggal ini adalah saat hati kita berdua jujur. Jujur untuk mengatakan perasaannya.

Entah hari apa waktu itu. Yang aku ingat saat itu kita setuju untuk satu sama lain memberikan hati kita, berjanji untuk saling menjaganya. Hari ini pun tanggal 5, hari dimana seharusnya aku sudah kembali ke Jakarta. Hari saat kita bertemu kembali untuk melihat kembali janji yang telah kita ikrarkan.

Selasa, 5 Februari. Aku di Amsterdam, kamu di Jakarta, kita berperang dengan jarak. Namun satu yang pasti, hati kita masih ada di tempat yang sama, masih dalam satu rasa yang padu. Jadi walau kita masih terpisah jarak, biarlah hati ini tetap bersorak merayakan hari jadinya dan larut dalam pesta bahagia. Mengangkat gelas, bersulang untuk kebersamaan.

Happy anniversary, Anjani.

Love,
Narada


P.S. : Pagi ini, sebelum kamu mulai kegiatanmu di Hastina, tolong lihat laci meja kerjamu. Ada sesuatu untukmu. Dan saat kamu menemukannya, kamu akan tahu dimana aku.


Oleh: @godhfd untuk @heyechi


---



Teman Jiwa

Subject :  Teman Jiwa
From :      Retna Anjani Nirmala (cupumanik_anjani@yahoo.com)
To :           Narada Kanekaputra (narada.kanekaputra@gmail.com)
Date :       Tuesday, February 5, 2013 23:46 PM


Dear Narada,

Terimakasih untuk kejutan manisnya hari ini. Aku sungguh tidak menyangka kalau aku akan menemukan kamu di Hastina hari ini. Karena aku berpikir kalau kamu masih di Amsterdam sampai hari ini. Tapi, kamu pasti bisa melihatnya dari wajahku ketika aku berlari keluar dari ruang kerja aku dan sudah ada kamu tepat didepan pintu.

Iya, Narada. Sungguh aku amat bahagia dengan adanya kamu.

Atas kehadiran-kehadiran kamu ketika aku dalam keadaan apapun, terutama saat aku tengah terpuruk dalam. Atas pemahaman kamu untuk pemikiran dan perasaan yang bahkan kadang tak aku sampaikan kepadamu.

Kamu telah membuat aku mampu mempertanyakan seperti apa rasanya harus melewati hari-hari jika itu tanpa kamu. Kamu pun telah membuat aku bisa merasakan kuatnya perasaan saling membutuhkan. Dan kamu telah melengkapi hidup aku.

Karenanya, kamu telah menjadi lebih daripada seorang teman hidup. Kamu adalah teman jiwa. Keyakinanku bahwa kamu adalah seorang teman jiwa hadir karena kamu yang telah mampu mendengar semua diamku tanpa perlu bertanya mengapa, dan kamu selalu ada ketika bebanku tak lagi mampu aku tanggung. Karena kamu turut merasakannya. Itulah mengapa kamu selalu mengerti.

Terimakasih, Sayang. Terimakasih untuk beratus-ratus hari ini, terutama untuk hari ini. Dan hari Selasa aku ini, telah sempurna olehmu.

Selamat tanggal 5, Narada!


Love,
Anjani


Surat balasan dari @heyechi untuk @godfhd
Diambil dari: http://flanelmerah.tumblr.com/


Surat #DuaHati @cusmak dan @winewiin


Maafkan


Today, rain washed down the city almost whole day. The rain that wiped away the drowsiness and dryness, left the land also the road wet. I love rain. But today i cudnt even enjoy it… i try to smell the scent. Scent that u told me in one of ur love letter…..”lady gaga perfume”….

Today is a bit hectic day for me… . :( i want to done all my task faster… i try to make it done and clear but failed…. my boss ask me and my friends to rearrange the task…. apologize me for this late love letter… :(

Saat ini aku sedang duduk sendiri… menulis surat untukmu dengan sedikit penyesalan…. aku harap aku bisa lebih mengatur waktuku dengan baik, sehingga aku bisa menjadi seorang yang tepat janji dan tepat waktu :(„,i have to try… :(

Di depanku ada segelas coklat panas… gelasnya penuh…  aku mengecapnya sedikit demi sedikit, seteguk demi seteguk… ingin sekali kuceritakan padamu betapa aku menyukai coklat panas ini….

Hari ini bukan hari yang terbilang “baik” bagiku… satu-satunya bagian yang membuat aku tersenyum adalah malam ini… Aku bertemu dengannya… seketika hilanglah rasa lelah dan penat dari pikiranku… Besok aku harus bertolak ke suatu daerah yang berjarak cukup jauh dari kota kelahiraanku. Malam ini, aku masih disini… tapi aku sudah merindukannya… tapi aku tak tahu apakah ia merindukanku juga…. Terkadang, di sela-sela hidupku yang datar ini, aku berfikir, apakah aku terlalu sibuk merindu sampai-sampai aku ragu dirindukan? Semoga ini hanya perasaanku saja…  ..

Bagaimana denganmu…. aku harap hari ini kamu mengalami kejadian-kejadian baik…. aku menunggu kabar baik darimu yaa…  Oh iya, apa kamu memaafkan aku karena keterlambatan suratku ini…?? Aku menunggu jawaban “ya” darimu…. #maksa… hihihihi….


= Anjani =


Oleh: @cusmak untuk @winewiin



---

Bukan Rayuan Gombal


Dear Anjani,



Aku sungguh mengerti betapa kesibukan telah memakan habis waktumu. Tak perlu kamu jelaskan, akupun sudah tahu mengapa. Tak perlu juga kamu meminta maaf, karena yang penting adalah surat dari kamu telah aku terima. Kemudian aku mengetahui bahwa kabar kamu baik-baik saja, itu sudah membuatku senang.

Begitu pula denganku, yang menulis surat ini ditengah malam. Didalam kesunyian, dingin, dan rasa kesepian. Namun untungnya ada musik yang menemaniku. Aku baru saja membeli album baru dari seorang penyanyi dari luar negri yang aku suka. Dan lagu-lagu dalam album tersebut selalu saja menemaniku hampir tiap waktu, mulai di kamar, sampai di dalam mobil saat perjalanan.

Minggu ini diawali dengan cukup baik, dan menyenangkan. Sehingga akupun menjalaninya dengan penuh semangat ceria. Hari ini saat sedang menunggu di ruang tunggu, ada seorang gadis muda, usianya kira-kira 20-an, berkerudung, berkulit putih, dan manis memuji aku, “Mas..wajah kamu halus sekali..”

Aku sungguh tidak tahu mengapa dia memuji aku seperti itu. Bahkan aku tidak tahu harus berkata apalagi untuk membalas perkataan gadis tersebut, sehingga aku hanya bisa tersenyum. Sebenarnya aku merasa senang jika dipuji, apalagi oleh gadis cantik seperti itu.

Hari ini aku akan sangat sibuk sekali, oleh karena itu aku mengirim surat ini di pagi hari. Bahkan sebelum suara Tabuh berbunyi, dan suara Ayam berkokok. Aku berpesan supaya kamu tidak lupa berdoa sebelum melakukan perjalanan jauh, dan tidak lupa agar memakai sunblock untuk melindungi kulit dari panasnya cuaca.



Jakarta, 6 Februari 2013,

StevanoVIP.


Surat balasan dari @winewiin untuk @cusmak
Diambil dari: http://stevanovip.tumblr.com/

Surat #DuaHati @evanjanuli dan @myaharyono


Menunggu

Dear Mia,

Bukan hanya waktumu yang bergerak maju, waktuku juga bergerak maju karena sang waktu tidak pernah ingin menunggu. Karena pada dasarnya, sang waktu adalah musuh utama kita semua.

Selama ini, tanpa ada tanganku, kau tetap mampu berdiri sekalipun kamu terperosok. Jadi apalah arti uluran tanganku yang sudah lama tak pernah terulurkan selama ini?

Menunggu.

Tak pernah lelah ku menunggumu karena menunggumu adalah pekerjaanku.

Paling tidak selama ini, itulah aku.

Namun, sekarang aku tidak lagi menunggu di depan pintu.

Karena sebetulnya mungkin pintu untukku tak pernah tertutup.

Pintu untukku tidak pernah ada.

Love,

.E.



Oleh: @evanjanuli untuk @myaharyono


---





Kepastian


E,

Katakan maumu padaku.

Sekarang.

Ungkapkan permintaanmu padaku, maka aku akan mengabulkannya.

Sungguh aku senang disayang kamu.

Kamu yang mau menerima masa laluku dan berkali-kali menawarkan kebahagiaan.

Untuk itu aku berterima kasih.

Jadi, pikirkan sekali lagi apa maumu?

Biar kutebak, kepastiankah?

Mia



Surat balasan dari @myaharyono untuk @evanjanuli
Diambil dari: http://mimidanpipi.tumblr.com/

Surat #DuaHati @commaditya dan @JiaEffendie


Ibadah Baru


Nona Meta,

Saya tidak akan mengaku bahwa saya mengerti semua masalah nona. Saya juga tidak ingin meyakinkan nona bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, semua masalah nona adalah pengalaman khusus yang diserahkan kepada nona untuk diselesaikan.


Maaf jika saya lancang seperti menasihati, beberapa hari ini saya merenung. Iya, saya merenungkan sedalam-dalamnya kata-kata nona di surat sebelumnya. Tentang kejenuhan, tentang penunjukan diri anda sendiri terhadap anda atas segala kesalahan, tentang pemaksaan-pemaksaan kehendak yang anda kira orang-orang lakukan kepada anda.

Nona,

Tidakkah setiap orang menginginkan ruang untuk dirinya sendiri? Tidakkah semua orang merasa memiliki hak untuk mengatur keberadaannya di dunia? Selama hampir sepuluh tahun, saya memilih untuk menjadi diri saya sendiri dan menyenangkan diri sendiri, nona. Saya tidak pernah menyesal, karena ini pilihan saya. Nona sudah pernah mencobanya, dan saya melihatnya setiap hari. Nona adalah nyawa toko nona. Orang-orang di dalamnya–Joko, karyawan-karyawan nona–berkerja dengan bahagia di sana. Di setiap mata mereka ada api yang lebih hangat dari api di tungku-tungku yang mereka aduk.


Saya senang sekali bagaimana nona menggambarkan hubungan nona dengan kue-kue tersebut. Saya pun merasakannya. Seperti yang bagi saya, bernyanyi adalah ibadah. Pada setiap gesekan gitar saya, dan nada-nada yang berhasil saya dengungkan jadi irama, saya merasakan tuhan. Pada nyanyian-nyanyian gadis-gadis kecil dan genggaman-genggaman setiap pasangan yang lewat setiap saya menyanyikan lagu mereka, saya merasakan cinta. Membersihkan setiap bagian gitar saya, seperti merawat kekasih. Berolah raga setiap pagi untuk menjaga nafas dan jangkauan nada saya, jadi bagian setiap ibadah saya. Saya tidak peduli jika mereka bilang saya pengamen sunyi. Apa yang saya rasakan setiap hari bukanlah kesunyian. Saya merasakan bahagia setiap menghibur mereka, mungkin hal itu pernah nona rasakan juga.


Namun perbedaan kita adalah, saya sebatang kara; nona punya keluarga. Saya hanya bertanggung jawab kepada diri saya sendiri, nona punya ikatan yang harus nona jaga. Dan saya pikir ikatan itu seperti sarang laba-laba, sementara nona kupu-kupu yang terperangkap menempel. Nona bisa saja meronta pergi, namun nona malah menunggu mati. Tidak, Nona. Saya bukan ingin menghasut. Hanya menyayangkan, sebuah toko kue yang berhasrat sepertinya akan berubah menjadi pabrik yang dikelola robot-robot. Pasti bukan itu yang nona mau.


Dan, nona sudah bertunangan.

Bagaimana pun, dari dalam lubuk hati saya yang paling dalam, saya mendoakan yang terbaik bagi hubungan nona. Dalam setiap hubungan, pastilah selalu ada masalah yang mengguncang. Untuk wanita sedewasa nona, hal-hal seperti ini sudah bukan rahasia hidup lagi. Hal ini adalah hal-hal yang musti dihadapi. Semoga scarf yang kembali ke tangan nona tersebut, bisa merekatkan kembali nona dengan tunangan nona.


Nona, surat ini saya tulis dengan senyum yang dipaksakan. Sungguh sulit sekali menerima bahwa anda sudah bertunangan, namun lebih sulit lagi untuk tidak menulis kepada nona. Seandainya saya bisa jadi orang yang melindungi nona, atau meyakinkan nona bahwa semua akan baik-baik saja, atau melindungi nona dari kekhawatiran akan hal-hal yang mengancam kebahagiaan nona. Untuk sekarang ini, biarkan saya jadi kertas, tempat nona menumpahkan kata-kata. Dan nona tahu, bahwa setiap kata yang nona tuliskan, akan selalu mendapatkan tempat di pikiran saya. Membaca nona, kini jadi ibadah tambahan untuk saya.

Salam,
Pecandu kata-katamu,

Agni


Oleh: @commaditya untuk @JiaEffendie
Diambil dari: http://commaditya.tumblr.com/


---


Bukan Pusat Dunia

Tuan Agni,

Saya merenungkan surat Anda lama sekali. Semoga Anda tidak jadi gelisah menantikan kehadiran surat saya di tangan Anda. Sekarang setelah saya merasa lebih baik, saya malah menganggap sikap saya kemarin itu berlebihan. Kita hidup di dunia ini dibebani oleh harapan-harapan dari orang lain. Namun, beban itu sesungguhnya tidak boleh dijadikan beban, karena kita juga berharap pada orang lain dan membutuhkan bantuan mereka. Setidaknya saya, saya masih membutuhkan sesuatu dari orang-orang di sekeliling saya, bahkan orang asing sekalipun.

Merenungkan kembali segala yang terjadi, lalu surat dari Anda, membuat saya menyadari betapa saya egois, menginginkan segalanya berjalan sesuai dengan cara dan keinginan saya. Saya lupa, saya bukan pusat dunia, dan bukan begitu cara dunia.

Tentu saja, tunangan saya benar. Orang-orang di sekeliling saya benar. Ibadah saya mencicipi kue setiap memanggang, tiba-tiba terasa konyol jika dipikir-pikir lagi. Tentu saja, tidak ada salahnya mencicipi kue yang baru keluar dari oven. Namun, jika saya menjadikannya sebagai cara saya bersembahyang, konyol sekali. Barangkali saya perlu pelipur dari luka-luka lama yang saya rasakan, tetapi saya membawanya ke arah yang salah.

Saya membaca surat Anda berkali-kali, sampai kertasnya lecek. Saya meresapinya, dan saya berterima kasih. Toko saya akan tetap buka dan saya tidak akan menjadikannya pabrik kue tempat para pekerjanya bekerja seperti zombie. Saya akan tetap membuat kue, tetapi bukan dari kepahitan. Saya ingin orang-orang yang memakan kue saya merasakan hangat dan bahagia, bukan mencicipi pahit hidup saya.

Agni,

Pernikahan kami dibatalkan. Kami tidak berhasil menemukan titik temu, dan kami tidak lagi memiliki alasan untuk tetap bersama. Tidak apa-apa, barangkali itu cara semesta memberi tahu, ada yang lain yang lebih baik untuk saya.

Undangan saya masih berlaku. Saya ingin mendengar Anda memetik gitar sambil menyanyi, dan saya akan menghidangkan sepotong kue kecil yang manis, dan sedikit pahit. Seperti halnya hidup.

Salam,

Meta


Surat balasan dari @JiaEffendie untuk @commaditya
Diambil dari: http://metanikalanta.tumblr.com/