Showing posts with label Surat Cinta #4. Show all posts
Showing posts with label Surat Cinta #4. Show all posts

18 January 2013

Halo, Mantan Dua Tahun Lalu

Halo, mantan dua tahun lalu..
Hmm.. Bagaimana kabarmu setelah dua tahun tak melihatku? Sungguh, aku harap kamu baik-baik saja dengan orang yang pernah membuat hari terburuk di dalam sejarah kehidupanku.


Entah apa yang terjadi, sampai aku akhirnya menuliskan surat ini untukmu. Tidak pernah memimpikanmu selama dua tahun ini dan tak pernah berharap bertemu denganmu dalam keadaan apapun. Hanya saja, setiap orang mengingatkanku padamu. Untungnya, kamu adalah salah satu kenangan yang hanya dapat aku lihat dari kaca spion kehidupanku. Dan akan tetap aku biarkan seperti itu.
Halo, mantan dua tahun lalu..
Ingat kertas-kertas yang selalu kusimpan saat kita pergi berdua? Entah itu kertas bioskop, bil restoran, karcis kereta dan kertas-kertas lainnya, masih ingat? Aku masih menyimpannya. Bukan untuk kupeluk saat mengingat masa lalu kita, tapi setidaknya aku masih bisa ingat kalau kita pernah saling memiliki.
Kamu ingat 7 suratmu yang kamu berikan untukku saat jarak memisahkan genggaman erat tangan kita? Diamplop itu kamu menuliskan tanggal serta jam kapan aku harus membukanya, masih ingat? Aku masih menyimpannya. Bukan untuk aku tangisi seperti pertama kali aku membukanya, tapi untuk mengingatkanku, bahwa kita pernah saling mengisi hati satu sama lain.
Kamu ingat slide show yang kamu hadiahkan untukku ketika aku menginjak umur 20tahun? Isinya hanya fotoku yang kamu ambil dari facebook dengan backsound salah satu lagu The Corrs, masih ingat? Aku masih menyimpannya. Bukan untuk aku tonton setiap hari dan mengharapkanmu kembali, tapi untuk mengingatkanku betapa aku pernah sangat dicintai.
Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk kita habiskan bersama, tapi juga bukan waktu yang lama untukku mengerti bahwa aku bukan orang terakhir yang ingin kamu miliki.
Terima kasih atas dua tahun yang kamu berikan, aku dan kamu sama-sama tahu itu bukan dua tahun yang mudah. Terima kasih juga atas kenangan yang sudah kamu berikan, setidaknya aku tahu aku pernah sangat disayangi dan diinginkan oleh seseorang. Terakhir, terima kasih untuk semua kepercayaan dan hati yang akhirnya kamu lukai, setidaknya aku tahu kamu bukanlah orang yang Tuhan kirimkan untukku sampai rambutku beruban kelak.
:)
Dari aku, mantanmu di dua tahun lalu.
- @arkemala -
 
 
Oleh : @arkemala
Diambil dari http://arkemala.blogspot.com

Surat Cinta Keempat, Satu Jam Saja

Selamat siang, Tuan Muda,…

Heii, aku menuliskan surat ini sambil ditemani oleh suara hujan yang membasahi kaca jendela kamarku… Mendadak, semua melodrama kenangan tentangmu mulai masuk satu persatu… Lagi…

Disinilah aku, dengan sejuta kenangan tentangmu…

Masih ingat Halte itu? Tempat dimana kamu selalu menungguku setiap kali selesai kuliah. Dengan sabar dan tanpa keluhan, kamu setia menungguku disana, meski aku sering terlambat datang menemuimu…

Lalu, bangku taman pelataran parkir mobil? Dimana tempat kita duduk untuk sekedar memutuskan sebuah pilihan. Mau kemana kita seusai perkuliahan berlangsung? Makan siang, atau langsung pulang. Lucu ya kita? Tidak pernah bisa dengan cepat memutuskan sebuah pilihan. Kamu yang selalu bertanya, aku mau kemana, dan aku yang selalu menjawab, terserah kamu saja.

Koridor kelas, gedung C, yang biasa kita lalui sama sama setelah dari kantin. Seolah menjadi saksi, banyak canda tawa yang kita lewati di koridor tersebut. Juga kantin atas, tempat kamu menggangguku ketika aku sedang mengerjakan tugas kuliah Metodologi Penelitian. Tangan jahilmu selalu mendarat di pipiku, atau secara cepat kamu melingkarkan tanganmu itu di pinggangku. Barulah setelah itu kamu pergi mencari bangku kosong lainnya untuk kau tempati bersama teman-temanmu. Aku hanya menanggapimu dengan seadanya.

Ruang kelas, meskipun tidak terjadi interaksi yang signifikan diantara kita, aku masih ingat betul bagaimana kamu, diam-diam mencuri pandang ke arahku. Yang kemudian, mata kita saling bertemu dalam diam.
Kita memang jarang berkomunikasi atau bercengkerama secara bebas ketika di kampus. Aku dan kamu memang sama-sama saling menjaga dari gunjingan orang lain. Namun setelah itu, kita bisa bebas berbicara apa saja.

Kamu ingat? Bagaimana awal kita dekat? Agak klise memang, karena satu tugas kelompok, kamu dan aku saling mengenal. Lebih tepatnya aku yang mulai mengenalmu. Kenyamanan pun perlahan muncul.

Kamu selalu heran, mengapa aku sangat menyukai wangi tengkukmu. Setiap kali jika aku ada di belakangmu, aku pasti selalu mencuri waktu untuk menghirup aroma tubuhmu itu. Rasanya tak pernah bisa digambarkan dengan kata-kata.

Disinilah aku, dengan sejuta kenangan yang menyeruak masuk persis hujan hari ini yang mendadak turun dan tak jua reda. Seperti itulah rinduku padamu, yang tak pernah kamu tahu betapa rindu ini sungguh sangat menyiksa.

Aku rindu berdebat denganmu. Aku rindu menemanimu bermain kegemaranmu. Aku rindu ada di pelukanmu. Aku rindu menghabiskan waktu denganmu meski hanya sekedar menemani makan siang, atau makan malam. Aku rindu semua masa masa indah itu. Bisakah, satu jam saja, kita mengulang kembali masa-masa itu?

Cheers

-artnda


Oleh : @artnda
Diambil dari http://artnda.tumblr.com

Baruna

Baruna,

Gerimis hari ini tak habis habis. Taukah kau apa artinya?

Aku rasa alam memintamu berhenti sejenak. Dua butir matahari dan telur mata sapi sudah lama lewat. Patah patahan lirik lagu, melodi yang sumbang, belasan kali dimainkan. Tukang sepatu dan saingannya berhenti saling teriak dan berkemas sedari tadi. Pohon, jalan jalan kota perlahan lengang. Sekarang sunyi. Hanya ciut ciut pena digesek dan tetesan yang terpantul kaca jendela.

Seseorang di luar mungkin merindukanmu. Ia menengadah, memohon hujan. Lalu gerimis turun semusim dua musim. Begitu setia doanya sampai ia turut menjelma. Berharap akan punya kekuatan untuk menyeretmu pulang dalam air yang besar. Sehingga kau tak lagi punya alasan duduk di bantal kapuk, menertawai burung yang terpeleset genangan air hujan.

Baruna,

Gerimis hari ini tak habis habis. Dan aku tak tahu apa artinya.

Mungkin doaku gagal. Mungkin berhasil. Tapi kau tak juga pulang, kehormatanku. Dalam (aku) air yang besar, kau juga adalah air yang besar. Baruna, Devanagari – kau air dari segala air. Kita ternyata magnet sama besar, memberi juga menahan. Tiada guna bersaksi melihat siapa si kalah. Ulangmu berkali kali, kita saling memandang sudah dari jarak yang tepat – niscaya semuanya akan baik baik saja.



Dan benarkah itu, Baruna, tak ada yang patut dikhawatirkan melainkan ego sendiri?
Benarkah itu, Baruna, kau tak perlu pulang dan berjanjilah terus menjaga diri?
Memang semua sunyi. Namun aku perlu mendengar sesuatu selain suara pikiranku ini.


Oleh @awulanp
Diambil dari http://pwulansari.wordpress.com

Mungkin Nanti Akan Ada Peluk dan Senyum Penuh Dukungan


Kepada Nadia, cinta yang tak perlu diucapkan.

          Untuk Nadia, satu-satunya kakak dan saudara yang kupunya selama ini. Kurasa tidak perlu diucapkan, tapi biar kuberitahu, aku cinta kamu. Sebetulnya agak lucu aku menulis ini karena jenis persaudaraan kita bukanlah jenis yang dibalut dengan kata-kata manis atau pelukan erat jika salah satu dari kita sedang bersedih. Persaudaraan kita lebih seperti sahabat yang tidak perlu melibatkan fisik.

          Anehnya, meski kita hanya berbeda 17 bulan dan aku berhenti memanggil kamu dengan sebutan ‘kakak’ dan lebih memilih memanggil nama kamu langsung, aku merasa justru umur kita terasa begitu jauh. Aku, yang masih sering bersikap kanak-kanakkan merasa kamu adalah kakak yang berpikir rasional terhadap apapun.

          Untuk Nadia, kakak yang bersama-sama denganku selama tujuh belas tahun ini, aku mensyukuri kehadiran kamu sebagai kakakku. Kita, yang selalu diajarkan untuk berbagi oleh Papa dan Mama, yang seringnya lebih banyak bertengkar untuk hal-hal sepele karena keegoisanku, yang tak segan-segan kupukul jika kamu menggodaku dengan berlebihan, yang selalu memainkan jarinya di dalam pusarku ketika kecil dulu, yang kuingat kamu menangis meraung-raung ketika Mama membuang guling kesayanganmu yang dekil itu, yang selalu tidur bersisian denganku sampai hari ini.

          Kita sudah mulai dewasa dan semakin hari semakin jelas bahwa kesukaanku bertolak belaka dengan kesukaan kamu. Kamu lebih mengandalkan otak kirimu dan belajar seperti jenius untuk menggapai nilai tertinggi untuk membanggakan Papa dan Mama, sementara aku, di sisi lainnya lebih mengandalkan otak kananku yang bekerja untuk membanggakan Papa dan Mama.
          Dalam kehidupan remajaku, terima kasih kamu sudah ada dan memberiku nasihat-nasihat mengenai apa yang seharusnya kupilih dan yang seharusnya kulakukan untuk masa depanku. Terima kasih untuk mau berbagi semua pikiran positif meski kadang aku menyanggahnya dengan opiniku sendiri.

          Kita sudah semakin dewasa dan aku merasa kita jauh lebih dekat dari sebelumnya. Meski tanpa pelukan mendukung, meski tanpa senyum bangga, meski tanpa kata-kata yang membesarkan hati, tapi kita tahu kita lebih dekat dari apapun.

          Untuk Nadia, kakak yang kukagumi semangatnya untuk lebih baik, yang selalu tidur larut demi mendapat nilai terbaik, yang terlambat makan dan bilang ‘nanti’ ketika Papa, Mama, dan aku makan malam, yang selalu kupinjami uangnya dan tak pernah kukembalikan. Terima kasih untuk berjalan bersamaku dalam perjalanan menjadi dewasa.

          Meski terkadang aku kesal karena kita berbeda hobi, tapi aku sayang kamu. Lebih dari apapun dan aku mengharapkan yang terbaik untuk kamu. Semoga segala perjuangan kamu, segala pelajaran yang sudah susah payah kamu pelajari, berguna untuk masa depan kamu. Kita harus berhasil, Nad, karena itu yang diharapkan Papa dan Mama. Ayo kita buat mereka bangga dengan cara kita masing-masing.

          Semoga kamu bahagia di masa depan dan kita masih akan menjadi kakak-adik yang saling mendukung tanpa perlu diucapkan. Kita masih akan menjadi kakak-adik yang bertukar cerita dan ide-ide gila yang tak pernah sempat dilakukan.

          Karena kamu jarang membicarakan kisah cinta kamu, kuharap kamu mendapatkan priamu yang paling baik nanti. Jangan terlalu memaksakan diri, kamu sudah kurus kering seperti itu. Apapapun itu yang ingin kamu raih, utamakan lah kesehatan kamu, karena Papa dan Mama hanya akan khawatir dan tidak akan mengizinkanmu melakukan apapun itu karena fisikmu itu.

          Kepada Nadia, kudoakan kamu segalanya untuk masa depan kamu. Tentu saja aku tidak harus mengucapkan itu kepada kamu, Kak :)
With Love,
Anjani


Oleh @anjanif
Diambil dari http://anjanif.tumblr.com

Kamu Jangan Nakal Ya

Hey, lebah madu :)

Kali ini, saya tidak akan menanyakan kabar mu. Bukan, bukan karena saya tidak ingin mengetahuinya. Hanya saja, saya sangat yakin kamu sedang sangat bahagia sekarang.

Dari sini, saya bisa melihat dengan jelas kamu tersenyum. Sebuah senyum yang selalu saja bisa meluluhkan, dan mengundang untuk dirindukan. Benar begitu, bukan? Ah, sepertinya saya terlalu sok tahu dan mengada-ngada :)

Oh iya, kemarin saya bertemu dengan mama di sebuah pusat perbelanjaan. Beliau nampak sehat, kami hanya sempat berbincang sebentar. Sebab beliau sedang bergegas, karena sudah ditunggu teman-temannya. Beliau mengundang saya untuk datang ke rumah, akan ada arisan keluarga katanya hari ini. Beliau juga bilang akan memasak ‘samba itiak lado ijau’. Dan itu kesukaan saya! Ah, kedengarannya sangat enak dan menggoda :9

Untunglah, hari ini saya tidak punya kesibukan yang berarti. Sehingga saya bisa berkunjung. Sudah cukup lama juga saya tidak datang ke sana. Terakhir kali sewaktu Natal kemarin.

Saya sudah tidak sabar. Saya juga tidak ingin datang terlambat. Ngomong-ngomong, apa kamu punya pesan yang ingin dititipkan? Nanti kamu bisikkan ke saja kepada saya setelah membaca surat ini :)

Sekian dulu surat saya ini, lain kali saya akan lanjutkan. Surat ini saya taruh di bawah bingkai fotomu yang ini ya. Setelah saya pergi, kamu bisa membacanya.

Baiklah, saya akan berangkat sekarang. Kamu jangan nakal ya di surga. Nanti malam, jikalau sempat berkunjunglah ke mimpi saya. Saya tunggu :)

Kecup rindu dari beruang madumu <3


Oleh @benjalang
Diambil dari http://benjalang.wordpress.com

Frappuccino Pakai Marshmallow

Seandainya kamu tahu…

… bahwa setiap pertemuan kita
baik ketika ada orang lain bersama
atau ketika kita hanya berdua
selalu sangat istimewa untukku.

Lebih istimewa dari nasi goreng komplit spesial pakai telur.
Lebih istimewa dari martabak manis pakai mentega Wijsman.
Lebih istimewa dari ayam goreng pakai lalap dan sambal terasi.
Lebih istimewa dari frappuccino pakai marshmallow.

Seistimewa itu.
Sememuaskan itu.
Senikmat itu.
Semerindu itu.

Tidak pernah biasa-biasa saja.
Selalu luar biasa.

Seandainya kamu tahu,
dan seandainya seistimewa itu pun untukmu…


Oleh @Dear_Connie
Diambil dari poeticonnie.tumblr.com

Pantulan 7 Inci


Malam tadi, kurasa, aku kembali terluka. Kenapa kubilang ‘kurasa’? Karena aku tak lagi ingat bagaimana rasanya terluka. Bagaimana rasanya sakit. Semuanya campur aduk menjadi satu dalam kehidupanku sehari-hari. Aku menjadi bebal. Kebas. Menjalani hari tanpa berpikir. Lupa bagaimana caranya merasa.

Dan aku tidak tahu harus berbuat apa ketika ada efek kejut yang menjalari jemariku. Sedetik aku merasa ngilu, yang kemudian terpental jauh bersamaan dengan denyar rasa kebas yang menyelimuti.

Kamu tahu, untuk sekian milidetik, nafasku terhenti. Dan yang kuingat kemudian, jemariku mulai mengetuk papan ketik. Berusaha mengetikkan berbagai macam kata yang berdentum di benakku. Tapi di saat yang bersamaan, seluruh perbendaharaan kataku seolah tercerabut dari tempatnya. Terserak di pelataran pikir tak berbentuk. Meninggalkan jemariku menekan tombol acak tak bermakna.

Layar 7 inci di hadapanku menggelap. Membiarkanku menatap bayangan kelabu dari mata berwarna cokelat gelap. Meninggalkanku bersama rasa yang begitu absurd. Ketenangan dibalik ngilu yang mendera. Perasaan kosong yang melegakan dibawah bendung rasa untuk bertahan. Sedetik lebih lama, aku bersirobok dengan bayang mata kelabu. Kabut yang menutup pendar cerah matanya mulai berkondensasi meninggalkan titik air di pelupuknya.

Mungkin benar, ketika mereka bilang tubuh bereaksi lebih cepat daripada perasaan. Secepat dia mengetahui bahwa pemiliknya jatuh cinta, sekilat itu pula dia menyadari bahwa tubuh itu telah sembuh dari luka hatinya. Tetapi perasaan? Dia sadar terakhir. Memaksa untuk berkonsentrasi pada dirinya sendiri. Yang akhirnya hanya meninggalkan luka yang mendalam. Seperti egoisme yang menggerogoti rasionalisme pikir.

Seperti tenang dan kosong melegakan, yang hadir dibalik dentum jantung yang berdebar diserang ngilu.

Aku bosan berteman rasa sakit dan ketidakpastian. Bosan berpegang pada kalimat menenangkan bernada diplomatis yang diberikan oleh hati yang pahit. Bosan berprasangka baik pada perhatian semu yang aku tahu itu hanyalah sisa kacau balau harapan yang terpantul dari jendela kaca orang lain.

Cinta, kapan datang lagi? Aku kangen…


Oleh: @wennyarifani
Diambil dari http://wordsconstruction.blogspot.com/

(Rasanya) Rumput Tetangga Lebih Hijau



Teruntuk kalian,
Yang merasa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau.

Apa kabar kalian? Masihkah sibuk memperhatikan rumput di halaman? Masihkah bersitegang satu sama lain lantaran memutuskan rumput siapa yang lebih hijau? Saya heran. Hidup ini rumit. Mengapa pula ada saja yang meributkan perihal rumput-yang-lebih-hijau. Rumput-rumput tak bersalah. Hanya tumbuh dan mencari tempat berteduh. Bahkan mereka tumbuh bukan atas kehendak kalian, kan? Hijau itu Tuhan yang memutuskan. Selebihnya kita hanya menyaksikan.

Biasanya, rumput di halaman tumbuh begitu saja. Tanpa diminta. Tanpa disuruh. Sama seperti rindu yang hadir tetiba. Kita diam. Tapi sesungguhnya mereka ada. Dalam pikiran, hati, jantung, lambung bahkan usus. Pada semua organ yang kita punya. Sadarkah? Saya rasa tidak. Alam bawah sadar kita yang menjaganya. Seperti tanah yang dengan sukarela ditumbuhi rumput-rumput liar.

Hujan begini sempatkah kalian menengok keadaan rumput tetangga? Tenggelamkah mereka? Makin hijaukah? Atau terhanyut bersama hujan? Saya yakin kalian lebih memilih berdiam lebih lama di balik selimut dan memimpikan untuk menanam singkong saja keesokan harinya semata-mata agar kalian tak perlu memikirkan rumput-siapa-yang-lebih-hijau lagi. Saya harap ketika mulai memasuki usia senja, kalian tak lagi meributkan perihal rumput-siapa-yang-akan-lebih-dulu-mati.

Sekian saja. Saya tak terlalu paham perihal tanaman. Termasuk bagaimana membedakan rumput mana yang terlihat lebih hijau. Semoga semakin segar!

Jadi, rindu siapa yang rasanya lebih hijau?

Salam,
Tetangga kalian


Oleh: @ulfaground
Diambil dari http://ulfarizkiana.blogspot.com/

Kepada Hujan

Hai hujan, terima kasih sudah turun ke bumi. Airmu menyejukkan sekali. Dahaga bumiku terobati, kekeringan terampuni. Tumbuhan kembali berseri, hewan lalu bernyanyi. Aku terseringai.

Hai hujan, kenapa kau belum juga berhenti? Bumiku sudah cukup air hari ini. airmu sudah tidak menyejukkan lagi. Bumi sudah kenyang, sudah muntah. Ia mengeluarkan sampah, yang akan menjadi limbah.

Hai hujan, berhentilah! Kau membuat manusia susah. Kau membuat alam gundah. Hewan-hewan resah, dan tanaman musnah.

Hujan, petirmu kejam, anginmu seram. Apa kau sedang marah? Apa karena kami berulah? Siapa yang hendak kau hanyutkan? Siapa yang ingin kau lenyapkan? Apa kau memberi cobaan? Atau ini sekedar peringatan?

Hai hujan, kurasa kau hanya berkerja sama dengan alamku, melunakkan sedikit, kerak-kerak di permukaan bumi. Selesai kerjamu nanti, aku yakin, bukan hanya kerak bumi yang melunak. Mungkin juga keras kepala kami.

- Perempuan di balik jendela yang basah -    


Oleh: @ulansabit
Diambil dari http://punyaulan.wordpress.com

Culat Cinta buat @ownyet

Ownyet, ini culat cinta buat kamu.


Oleh: @ydkzk
Diambil dari http://ydkzk.wordpress.com/

Dari Kami untuk Kalian


Untuk kalian yang suka setiap kali melihat kami berjatuhan.

Baiklah, melalui surat ini, kami akan menjawab satu persatu pertanyaan kalian. Pertama, kami hanyalah sekumpulan air yang terjadi karena proses evaporasi, kondensasi dan presipitasi. Kami percaya bahwa kaliah mengerti karena kalian jauh lebih cerdas dari kami. Kami jelas diciptakan oleh Tuhan melalui proses-proses tersebut, bukan dari mantan. Kedua, kami datang mengetuk pintu jendela kamar kalian. Lantas mengapa pintu kenangan kalian yang terbuka? Itu mungkin karena  hati kalian memiliki kesamaan dengan jendela, sama-sama terbuat dari kaca, yang katanya, ketika pecah tidak akan pernah bisa utuh lagi. Haduh, mengaku penggemar berat kami tapi tidak juga memahami filosofi kami. Jatuh itu proses, kawan! Nikmati sajalah! Suatu saat juga akan ada yang menangkap kalian dan tidak akan membuat kalian terjatuh lagi. Memang, dihempaskan ke tanah itu sakit. Ya kalau boleh memilih, kami juga inginnya dihempaskan ke kasur empuk saja. But, we have no choice. Jadi, beruntunglah kalian yang memiliki begitu banyak pilihan dan kesempatan. Berhentilah menjadi mellow menye-menye ketika kami muncul. Keluar dan tengadahkan tangan kalian. Tangkap kami. Biarkan kami mendarat di wajah kalian.

Siap bermain dan bernyanyi bersama kami?


Oleh: @ziah_F
Diambil dari http://ziahziahziah.tumblr.com/

Surat dari Junaedi

Surat di dekat sepatu Papa

Begini bunyi surat tersebut. Bentuknya sudah kusut.





Kepada:

Bapak Hadiransyah

Jika saya boleh bertanya, apakah saya bisa meminjam mobil malam ini? Saya ingin menjemput anak saya yang sedari malam merajuk minta dijemput bapaknya sepulang dari les bahasa inggris. Saya takut untuk bicara karena kemarin saya sempat merusakkan mobil angkot pegangan saya. Tapi jika dibolehkan saya tetap akan mengisi bensinnya. Terima kasih.

Junaedi.


oleh @starlian
diambil dari http://starlian24.wordpress.com

Hari yang Penuh Cinta

 Hari yang penuh cinta

Jakarta, 17 Januari 2013

Dear kamu ku,

Pagi ini, kunyalakan televisi di ruang tamu yang diam membisu sejak semalam. Gempuran berita memenuhi tiap salurannya. Isinya sama, banjir melanda Jakarta.

Kumatikan televisi. Mataku beralih pada linimasa. Isinya sama, banjir melanda Jakarta.

Lalu, akupun bersiap untuk pergi ke kantor. Entahlah, ketika sebagian dari mereka memilih untuk tidak keluar rumah, aku tidak ingin sama. Tak ada tujuan tertentu atau pencapaian apapun. Hanya tidak ingin merasa bahwa hari ini berbeda dari biasanya.

Tahukah kamu?

Aku merasa beruntung pergi ke kantor hari ini. Aku merasa beruntung karena akhirnya memutuskan untuk keluar rumah. Kenapa?

Karena hari ini aku melihat banyak cinta di Jakarta.

Seorang ayah yang menggendong anaknya di pundak agar tak terkena genangan banjir. Seorang ibu dan dua anaknya duduk di atas motor yang didorong oleh segerombolan orang untuk diungsikan. Bunyi sirine menggema dari mobil-mobil yang membawa bala bantuan untuk daerah yang membutuhkan. Anak-anak kecil yang berlari kesana kemari dengan riangnya, main bersama hujan.

Cinta sedang mewarnai Jakarta.

Walaupun memaknainya mungkin tidak sama, bukankah ternyata Jakarta tidak sekejam yang kita kira?



oleh @sidhancrut
diambil dari http://sidhancrut.wordpress.com

Majikanku, Pacarku

Kata orang..

Jangan mencintai majikan sendiri, nanti tercipta skandal.

Ah, sudah setahun lebih aku mencintai majikanku. Dia juga cinta aku. Kami saling cinta. Skandal apa? Bagian yang paling kusukai dari saling mencinta dengan majikanku adalah, tiap malam saat rumah sudah sepi, aku selalu menunggu dengan harap-harap cemas suara langkah kakinya yang mendekati kamarku. Ketika langkahnya sudah terdengar, dia akan membuka pintu kamarku sepelan mungkin dan mengajakku tidur di kamarnya. Semalaman akan kuhabiskan di atas ranjangnya. Sampai saat subuh tiba, diam-diam majikanku membuka pintu kamarnya agar aku bisa menyelinap keluar dan kembali ke kamarku sendiri. Aku suka keadaan seperti ini. Memangnya kenapa?

Kata orang..

Majikan hanya bisa memperalat dan mengambil enaknya saja.

Ah, kalau mau dibilang enak, tentu saja aku yang merasa enak. Siapa yang tidak? Tiap hari aku dilimpahi materi dari majikanku. Setiap kali majikanku pulang dari bepergian, aku selalu diberi banyak barang sebagai oleh-oleh. Bahkan saking banyaknya, aku sampai lupa apa saja barang-barang milikku. Kadang kusembunyikan agar tidak dicuri oleh kakakku, kadang kupamerkan untuk menyenangkan hati majikanku. Bukan hanya materi, secara non-materi pun aku mendapat banyak kesenangan dari majikanku. Sentuhan-sentuhan fisik yang kudapatkan setiap harinya sampai membuat mataku terpejam saking nikmatnya. Apalagi yang bisa diminta seorang pria?



Kata orang..

Majikan wanita itu nyinyir dan suka main tangan..

Ah, sekalipun aku kadang kurang ajar, majikanku tidak pernah memarahiku, apalagi main tangan. Kuakui, kadang aku suka menyelinap masuk ke kamar majikanku saat dia sedang pergi, dan karena aku kurang berhati-hati, tak jarang aku menyenggol sesuatu sehingga terguling, jatuh, atau (lebih parah lagi) pecah. Biasanya aku akan menunggu sampai majikanku pulang dan masuk kamarnya, baru aku akan minta maaf secara pribadi. Paling dia hanya akan menggerutu sebentar, setelah itu kembali mengajakku bermain di ranjangnya.



Kata orang..

Majikan itu biasanya menganut paham feodalisme, dia tidak sebanding denganmmu..

Ah, aku selalu dianggap sebagai kesayangannya. Tidak ada jurang pemisah. Tentu saja, tidak semua orang di rumah majikanku seperti itu. Ibunya, misalnya, yang terlalu strict. Bahkan setiap kali majikanku bersentuhan denganku, ia pasti disuruh cuci tangan bersih-bersih, dan tentu saja, ia akan dimarahi karena terlihat sengaja melakukan kontak fisik denganku. Inilah alasan mengapa majikanku memilih untuk menemuiku diam-diam. Saat tidak ada yang melihat, ia tidak peduli akan segala aturan itu dan akan memeluk dan menciumiku. Tidak ada rasa jijik.



Aku tidak peduli apa kata orang! Aku dan majikanku akan selalu seperti ini.



Bagi kalian yang membaca surat ini, tolong sampaikan pada majikanku bahwa aku sayang padanya dalam bahasanya, because I don’t speak her language.

 

IMG-20121208-WA0000 
PS. Ini adalah fotoku bersama majikanku yang selalu menjadi desktop background laptopnya dan wallpaper handphonenya. Aku bahagia diberi sebutan “pacar berkaki empat” nya, yang bisa membuat cemburu pacar berkaki duanya :D 


oleh @sneaking_jeans
diambil dari http://menyingsingfajar.wordpress.com


Jangan Marah

halo sayang,

maaf yah aku semalem ketiduran sampai lupa ngabarin kamu kalau aku udah sampai rumah. sumpah aku capeekk banget. pulang malem dari kantor, naik bus, lanjut ojek, plus badai sepanjang jalan. jadinya sampai rumah aku langsung tepar, lupa ngabarin kamu.

Sayang, aku tau kamu bete sebel khawatir karena nggak ada kabar dari aku, tapi kan aku udah minta maaf dan langsung ngabarin kamu begitu aku kebangun tengah malam tadi.

Sayang, coba deh kamu kasih tau apa yang harus aku lakuin biar kamu nggak
bete lagi. minta maaf udah, manis sama kamu udah, berusaha nanya-nanya terus supaya bisa ngobrol udah, coba deh aku harus ngapain lagi? aku sedih deh seharian ditanggepin seadanya begini sama kamu. aku bbm kamu balesnya kaya niat nggak niat.

Sayang aku meriang, badanku mulai panas, mulai meler. kayaknya gara2 minggu ini kehujanan terus deh.

Sayang, heeeiii aku sakit lhoo, kamu masih bete juga sama aku?

tega amat kamu. huh.

Sayaaaang. ih. weeeyyyyy.

udah dong marahnyaa :(

huhu. ya udah deh. aku kerja lagi ya, kamu jangan lupa makan siang.

sincerely,

Desperate girlfriend.



oleh @staarii
diambil dari http://strdm.tumblr.com

Selamat Jalan, Kawan

 Selamat Jalan, Kawan...

Dear sobat gue, @IZZDN …

“Innalillahi wa innailaihi roji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, Muhammad Izzuddin, jam 15.45 tadi sore. Mohon doa dan maafkan segala kesalahannya.”

Din, itu sms yang gue dapet dari temen-temen kita kemaren sore. Gue kaget banget, Din! Habis baca sms itu, gue langsung buka twitter dan facebook, dan ternyata bener Din, bener, ternyata lo udah pergi. Semua orang di twitter dan facebook lagi berduka, semuanya sedih, Din. Eh Din, lo jangan ngetawain gue ya kalo gue nulisnya pake gue-lo, ya kalo lisan gue nggak pantes lah ngomong gue-lo, secara gue orang Minang dan udah lama gede di Jawa, jadinya mulut gue nggak kebiasa ngomong bahasa sehari-hari lo. Tapi karena ini surat buat lo, jadinya gue nyoba buat nulis pake bahasa lo. Oke kan ya? hehehe

Eh Din, cepet banget sih lo pergi? Ini lagi liburan lho, Din, berarti lo belom ketemu temen-temen kampus kan? Apa lo nggak mau ngucapin selamat tinggal? Din, lo cepet banget sih perginya? Lo belom sempet liat IP kan? IP lo berapa lo belom tau kan?

Din, meskipun di kampus kita jarang ketemu (karena lo sering bolos) *sorry Din, gue buka aib lo*, meskipun kalo rapat HIMAKOM lo jarang berangkat, tapi lo tetep sobat gue. Eh Din, gue masih inget tuh waktu kita bareng Elisa, Mela, Vivit, Maharani, Nanda Octa, Nanda Ghani, Dimas, Prita, Novi, makan bareng di Rica-Rica ISI, dan itu adalah kali pertamanya gue tau kalo ternyata lo itu orang Minang juga. Hahaha, ya ampun nggak nyangka deh gue, orang kayak lo ternyata orang Minang juga! Dan ternyata lagi, kita satu daerah, se-Kabupaten, yah walaupun beda kampung sih. Tapi kampung kita kan sama-sama di tepi danau Singkarak, kampung lo di ujung sana, kampung gue di ujung sini, intinya ujung ke ujung.



nah, ini waktu kita makan di Rica-Rica ISI. lo bilang ke gue, "orang Padang kok nggak suka pedes!" dan gue jawab, "bukannya nggak suka, cuma nggak tahan aja." Gitu, Din, masih inget kan?

Din, masih inget nggak waktu lo jadi Ketua Panitia Mediasi? Waktu itu temen-temen panitia semuanya lagi sosialisasi ke adek-adek 2012, dan ada beberapa dari mereka yang bikin kita emosi. Gue masih inget banget tuh, waktu lo emosi tingkat dewa dan muka lo udah nggak enak banget, hahaha.

Terus Din, ada satu hal lagi yang masih gue inget, waktu kita jemput peserta PR Contest Creation Festival. Waktu itu malem-malem gue sms lo biar besoknya siap-siap jam 6 pagi buat jemput peserta. Tadinya gue kira lo nggak bakalan dateng jam 6 Din, ternyata lo bisa! Lo bisa bangun pagi, Din! Gue nggak nyangka! NGAHAHAHAHA! Tapi pada akhirnya kita jemput peserta ke terminal jam 9-an, sia-sia udah bangun pagi-pagi ya, Din? Hehehe J

 

nah, kalo yang ini pas acara Ulang Tahunnya HIMAKOM. gue kecil banget ya? paling pendek tuh -_-

Ya udah, Din, segini aja surat dari gue. Walaupun surat ini nggak mungkin sampe ke tangan lo, tapi suatu saat nanti pasti lo tau isi surat ini. Oh iya, jangan khawatir, Din, kita di sini selalu doain lo kok. Kalo nggak percaya liat aja tuh di twitter sama facebook, penuh nama lo, Din! Mereka berdoa buat lo. Semangat ya! We’ll miss you, Din :’)

Tertanda,
Temen sekelas lo.

ps: sampe sekarang gue masih nggak percaya :’( oh iya Din, sorry ya kalo gue sok akrab.




oleh @sintrooong
diambil dari agustinasss.blogspot.com

Untuk Si Penyabar

 Selamat pagi si penyabar,

Indah matamu pernah kutatap sengat lama di sebuah sore mendung. Di bulan musim penghujan. Di saat kau sibuk sendiri, tapi tetap fokus mencuri pandang. Entah itu ekspresi rindu, bergelayut di ujung bibir, bermuara di ujung tulisan. Otakmu, masih berupa labirin rumit bagiku.

Si penyabar,
Tujuh puluh empat hari lagi, tanah tidak akan selembab ini. Aku harap kelopak bunga tetap bertahan di keringnya akar.

Musim hujan ada di ujung perjalanannya. Berapa kali bulan penuh tertutup mendung. Beberapa kali terlihat bulan penuh itu, lalu aku sadar...
Kalau aku yang kosong.

Bandung, 17 Januari 2013


oleh @rizkymamat
diambil dari http://rizky-muhammad.blogspot.com

Lelah Berpisah


Kepada yang masih ada di sudut pikirku,

Nada-nada pasrah dari kisah kita akhirnya menyerah. Katanya kita terlalu cepat mengakhiri sesuatu yang belum pantas berakhir, mereka tak ingin lagi mangkir dari garis takdir. Jika dulu kita lelah melanjutkan kisah, kini kita lelah berpisah. Saat ego mengijinkan kita terpisah, rasa yang dulu tersembunyi oleh gengsi bahwa kita masih saling mengingini kini semakin bertambah. Aku percaya, hadirnya jurang pemisah bukan tanpa suatu tujuan yang tidak beralasan. Itu mungkin hanya jeda yang melatih hati agar semakin dewasa. Agar kita sama-sama menjadi pemerhati yang peduli akan kondisi hati. Agar kita tahu seberapa besar cinta yang tersembunyi selama ini. Agar kita tahu selama apa hati telah absen mengungkapkan opininya sendiri.

Kita tidak akan pernah saling mencari lagi jika kita tidak benar-benar masih saling mengingini kan? Karena aku tahu, pada yang selain kamu hati tak bekerja sesempurna itu sebagai rumah untuk cinta. Karena kamu pun mengaku, pada yang selain aku rasa yang kau edarkan hanya sebatas rangkaian palsu. Kita pun sama-sama tahu, ada pekerjaan besar menunggu untuk melahirkan perbaikan-perbaikan bagi sebuah hubungan yang sempat kita sepelekan. Kita pun sama-sama tahu, kesempatan tidak datang dua kali pada yang berniat menyia-nyiakan.
Kita adalah dua anggota pasukan rasa yang melebur jadi satu nyawa. Untuk ketidakakuran yang sering kali menyakitkan, semoga pada detik berikutnya kedewasaan bisa mengalahkan. Mendahulukan hati, menomorduakan gengsi, dan menaruh urusan-urusan pribadi pada urutan yang kesekian. Aku tidak akan menaruh janji, aku tidak akan mengecap kata ‘selamanya’ pada garis edar hubungan kita. Aku tidak akan mempertanyakan pada Tuhan bagaimana nantinya akan berkelanjutan. Yang aku tahu, aku tak pernah memiliki rasa lelah untuk berpisah dengan sesiapa terkecuali kamu.

Aku lelah berpisah, aku tak tahu lagi jelasnya suatu arah. Memikirkan kata ‘pisah’ seperti ada ketidakrelaan yang menggantung ditiap hurufnya. Aku masih memikirkan kelanjutan cerita kita.

Yang pernah jadi perempuanmu.



Oleh : @lovepathie
Diambil dari http://lovepathie.tumblr.com/post/40754672999/lelah-berpisah

Kepada Cinta Yang Pernah Kuselami


Pada cinta,

di sini telah hadir penggalan-penggalan bisik bahagia
yang pernah hilang dilumat sapuan emosi
dan diterjang banyak kata patah hati
karenanya, tak pernah lagi kembali mendampingi sang hari

sekarang cukup sederhana untuk dipahami
hidup adalah tentang pelajaran bagaimana mengerti bahwa cinta tak pernah sama
sekalipun terangkum rapi dalam bait-bait pemohonan yang dipanjatkan
percayalah bahwa cinta hanya akan ditunjukkan oleh Yang Maha Mendengarkan


hidup adalah bagaimana membesarkan angan dalam genggaman, tanpa terlalu jauh untuk terjatuh
juga tanpa terlalu sakit untuk kembali bangkit


dan cinta, kini dengan bahagia aku menghadapmu,
aku ikhlas melepas jejakmu.


Oleh @NadiaAshita
Diambil dari http://theunwrittenbooks.blogspot.com/2013/01/kepada-cinta-yang-pernah-kuselami_17.html

Berhentilah Menangis


Hari ini aku bolos melukis langit sore. Bagaimana aku bisa melukis kalau kamu tak bisa menemaniku seperti biasa. Semalam aku melihatmu menangis (lagi), air matamu tumpah hingga membuat jiwa kelaki-lakianku basah. Selalu kamu yang bisa membuatku seperti ini, ikut sedih walau sebenarnya aku sedang bahagia.Ya, bahagia. Pagi tadi aku menerima panggilan kerja, tapi lagi-lagi tangismu  mengacaukan semuanya. Ah, bukan salahmu sebenarnya.

Coba ceritakan pelan-pelan, apa yang membuatmu menangis sedemikian keras hingga membuatku tak tidur semalaman? Aku tak akan mengataimu cengeng, menggangu, atau apalah itu. Coba ceritakan, akan kudengarkan. Apakah orang-orang itu lagi? Orang-orang angkuh yang merasa semua tempat di kota ini berhak mereka perlakukan sesuka hati? Aku benci mereka, tadi pagi aku melihat mereka mondar-mandir kesana-kemari tanpa rasa bersalah, seolah mereka adalah korbanmu, lagi-lagi malah kamu yang disalahkan. Ingin rasanya kutelungkupkan bak sampah di kepala meraka, tapi tak sempat, aku harus bergegas menuju pekerjaan yang memanggilku, menyusuri jalan ibu kota yang dikepung air dari berbagai penjuru.

Jakarta banjir, orang-orang sibuk mengangkuti barang-barangnya, dan kamu terus saja menangis. Kepalaku hampir meledak, aku mohon berhentilah menangis. Aku tak kuasa melihatmu seperti ini terus-terusan, banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan, juga banyak hal yang ingin kulakukan bersama-sama lagi denganmu. Apa perlu aku yang mewakili mereka untuk meminta maaf padamu? Akan kusampaikan pesanmu agar lain kali mereka lebih menjaga hatimu.

Berjanjilah esok kamu akan berhenti menangis, temani aku melukis langit sore seperti biasa, tanpa tangisan, hanya gemericik lembut, tanpa meluap kemana-mana. Kamu adalah aliran anak sungai yang riaknya mengalun merdu. Semoga orang-orang yang sering membuang sampah padamu lekas sadar, bahwa menyakitimu hanya akan menyusahkan diri mereka sendiri.

Untuk banjir Jakarta, semoga lekas surut.




Oleh @nitawanita
Diambil dari http://wanitatakbersayap.wordpress.com/2013/01/17/berhentilah-menangis/