#30HariMenulisSuratCinta adalah proyek non komersil yang digagas untuk menggabungkan kesenangan menulis di twitter dan blog. Proyek belajar menulis bersama ini dilaksanakan setiap 14 Januari - 14 Februari setiap tahunnya. Ini adalah tahun ketiga pelaksanaan proyek menulis yang juga menjadi ajang silaturahmi dari blog ke blog.
Showing posts with label Surat Cinta #24. Show all posts
Showing posts with label Surat Cinta #24. Show all posts
07 February 2013
Kafe De Rastra
Untuk kamu yang telah mencuri perhatianku sejak dua bulan lalu,
Diantara selipan secangkir kopi, aku mengirimimu secarik surat berisikan pesan rahasia yang siap untuk kau nikmati. Apakah sapaanku mengejutkanmu? Maaf, tapi bukankah untuk jatuh cinta tidak butuh aba-aba? Selama dua bulan ini, aku diberi pekerjaan untuk mengamatimu oleh hati. Setiap pintu kayu bertuliskan “Kafe De Rasta, gudangnya sejuta rasa” mulai terbuka pukul enam kurang lima, aku pun tahu pria kesukaanku telah tiba. Tiba-tiba waktu terasa begitu penting untukku, karena hanya pada saat itulah korneaku berkesempatan menangkap banyak peristiwa tentangmu disitu. Tiba-tiba kehadiranmu menyempurnakan setiap hari-hariku. Tiba-tiba duniaku sesederhana itu bisa bertumpu padamu.
Ah, tapi cinta tak selalu menghadirkan senyuman-senyuman yang membahagiakan. Kadang kecewa terlalu cepat tiba sebelum ada lagi kelanjutan cerita. Tepatnya seminggu lalu, ketika kehadiranmu tak kunjung tiba. Aku bertanya-tanya pada semesta. Karena entahlah harus kemana lagi aku bertanya. Tak ada yang bisa disalahkan atas ketidaktahuan dan keamatiranku sebagai pemerhatimu selain cinta yang menurunkan sifat pemaluku saat jatuh cinta kepadamu. Rasanya nyaman untuk berada diseberangmu mejamu setiap hari tanpa harus menyodorkan tanganku untuk berkenalan denganmu. Itukan pemandangan terindah yang dihadiahkan Tuhan? Aku cukup menikmatinya sampai kemarin sore saat kedua sepatu kulitmu menapaki lantai Kafe De Rastra dan membawa seorang wanita. Untuk sekedar sahabat, tanganmu sudah merangkulnya terlalu erat. Untuk seorang adik, aku memperhatikan perbedaanmu saat melirik matanya. Untuk seorang teman biasa, pantaskah kata-kata ‘sayang’ kau lontarkan padanya?
Tak seharusnya memang aku menakar-nakari kelakukanmu. Tak seharusnya aku bertingkah cemburu seperti ini. Tapi begitulah cinta yang hadir tiba-tiba, yang mendesak bibirku untuk menutup perasaan ini sebagai rahasia aku dan Pencipta saja. Bukan mauku, tapi begitulah mungkin seharusnya. Hari ini aku sengaja meninggalkan Kafe De Rastra pukul enam kurang lima belas. Aku ingin mengintip dari jendela di sebelah kananmu saat kau membaca suratku. Setidaknya, aku lega sudah tak lagi menyimpan rahasia. Setidaknya, saat kau membaca surat ini aku takkan berhenti takkan berlari dan takkan mundur kembali. Aku akan maju meski entah kemana, tapi mungkin bukan kamu arahnya. Kafe De Rastra ini terlalu manis. Tugasnya sudah selesai untuk mempertemukan kita. Selamat menjalani percintaanmu dengan dia. Mungkin aku akan berdoa pada Tuhan agar dia bisa menjagamu dengan baik. Tersenyumlah selalu, kau takkan tahu ada perempuan asing yang telah jatuh cinta dengan senyumanmu.
Jika kita berjodoh untuk dipertemukan, semoga kita berjodoh juga untuk dipersatukan. Entah kapan, tapi jika memang semoga kita bisa jatuh cinta bersamaan. Agar tak ada lagi rasa sakit tak seimbang yang salah satu rasakan.
Oleh @lovepathie
Diambil dari http://lovepathie.tumblr.com/post/42422881697/kafe-de-rastra
Aku, Aku, dan Aku
Selamat pagi, sayang..
Aku sedang bertengkar dengan diriku sendiri. Aku ingin bertahan, ingin terus menunggumu pulang, ingin tetap setia, ingin menjalani kehidupan seperti yang sudah kita rencanakan sebelumnya meskipun tanpa kamu. Tetapi aku yang lain ingin pergi, ingin mengejar cita-cita setinggi mungkin agar kamu sadar bahwa aku berharga dan membanggakan hingga akhirnya kamu menyesal telah pergi dari orang sehebat aku, dan kemudian kamu ingin kembali. Aku yang diujung sana sedang duduk sendiri, meratapi bahwa aku tidak akan mungkin menjadi seperti yang kamu inginkan, tidak akan mungkin menjadi sempurna, dan impian kita untuk menghabiskan sisa hidup bersama hanyalah akan menjadi impianku saja.
Cepatlah pulang dan lerai aku, sebelum aku, aku, dan aku ini hancur dalam kekalahan, lalu mati tanpa hasil. Atau mampukah kamu membayangkan aku yang mana yang akan menang?
Selamat malam, sayang..
Ps. Tidak ada satu bagian pun dari aku yang sudah berhenti mencintaimu saat ini. Aku masih, aku juga, dan aku pun demikian. Ketiganya sedang berebut menyisipkan cinta di surat ini untukmu. Bagaimana denganmu?
Aku sedang bertengkar dengan diriku sendiri. Aku ingin bertahan, ingin terus menunggumu pulang, ingin tetap setia, ingin menjalani kehidupan seperti yang sudah kita rencanakan sebelumnya meskipun tanpa kamu. Tetapi aku yang lain ingin pergi, ingin mengejar cita-cita setinggi mungkin agar kamu sadar bahwa aku berharga dan membanggakan hingga akhirnya kamu menyesal telah pergi dari orang sehebat aku, dan kemudian kamu ingin kembali. Aku yang diujung sana sedang duduk sendiri, meratapi bahwa aku tidak akan mungkin menjadi seperti yang kamu inginkan, tidak akan mungkin menjadi sempurna, dan impian kita untuk menghabiskan sisa hidup bersama hanyalah akan menjadi impianku saja.
Cepatlah pulang dan lerai aku, sebelum aku, aku, dan aku ini hancur dalam kekalahan, lalu mati tanpa hasil. Atau mampukah kamu membayangkan aku yang mana yang akan menang?
Selamat malam, sayang..
Ps. Tidak ada satu bagian pun dari aku yang sudah berhenti mencintaimu saat ini. Aku masih, aku juga, dan aku pun demikian. Ketiganya sedang berebut menyisipkan cinta di surat ini untukmu. Bagaimana denganmu?
Oleh @meyrzashrie
Diambil dari http://meyrzashrie.blogspot.com/2013/02/aku-aku-dan-aku.html
Sepasang itu, Bukan Kita
Untukmu,
Sepasang yang bukan aku dan kamu,
Siang beranjak sore yang menjejak, aku duduk terdiam di sini, di atasmu. Diam-diam menuliskan tentangmu. Sebuah keindahan yang pelan-pelan tergerus waktu — rusak dan bau. Seperti itu kamu dan pasanganmu, bukan aku. Tak bisa kupungkiri, kalian adalah pasangan yang serasi. Tapi, rasanya tidak salah, jika aku mengagumimu, bukan kalian. Aku tahu pasanganmu takkan marah. Justru dia akan bangga memilikimu yang telah berhasil memikatku. Sebab itu artinya dia tidak salah memilihmu menjadi pasangannya.
Untukmu,
Sepasang yang bukan aku dan kamu,
Kadang aku tak habis pikir, kenapa aku begitu mencintaimu. Benar mungkin cinta kadang tidak masuk akal. Hadir begitu saja, tanpa bisa disangkal. Aku terpikat padamu sejak dulu saat kamu bersama pasanganmu menggoda tatapan mataku. Saat itu aku hanya bisa berkata dalam hati, “Aku harus memilikimu.” Tapi, kenyataan kadang tak seperti yang kita inginkan. Aku hanya sebatas ‘memiliki’mu, tapi tidak hatimu. Hatimu tetap milik kekasihmu, sampai sekarang.
Untukmu,
Sepasang yang bukan aku dan kamu,
Saat ini aku masih di atasmu dan masih mengagumi kesetiaanmu pada pasanganmu. Meskipun kamu tahu, pasanganmu tidaklah sempurna. Telah ada cacat di sekujur tubuhnya. Tapi, kamu justru diam-diam mengajarkanku arti sebuah kesetiaan. Kesetiaan tanpa mengharap imbalan. Aku tahu kesetiaanmu. Tapi, aku tidak bosan mencintaimu. Kamu masih aku tempatkan di singgasana istimewa yang sederhana. Sesederhana aku mencintaimu tanpa ada keinginan mencampakkanmu tersebab pasanganmu. Karena selama ini kamu telah membuatku bisa jauh melangkah ke tempat-tempat indah.
Untukmu,
Pasangan yang bukan aku dan kamu,
Berbahagialah kamu bersamanya. Sementara aku, biar saja ikut menikmati kebahagiaan itu. Sebab begitu aku bisa tetap memilikimu. Tenang saja! Aku tidak akan membuangmu, Sandal Gunung bututku.
Aku yang ingin memilikimu selalu,
@momo_DM
Oleh @momo_DM
Diambil dari http://bianglalakata.wordpress.com/2013/02/06/30harimenulissuratcinta-24-sepasang-itu-bukan-kita/
Dear @OdetRahma..
Untuk si cantik @OdetRahma,
Haaaaee teteh Odet! Jangan bete yah aku kirimin surat, jangan bete yah ketemu aku mulu yang kelayapan di dumay, di twitter lah, di facebook lah, di sms lah hahahaha gapapa yaaah jangan bosen lihat aku ada dimana-mana *eaaak*
Hai kakak cantik yang tidak suka menunggu lama-lama, bersama surat ini aku ingin menyampaikan rasa terimakasihku padamu *halah* ini bukan lebay dan gombal. Ciyus. Cungguh.
Hahaha maafkan aku, tapi aku mau bilang terimakasih karena teteh sudah jadi teman sekaligus kakak perempuan yang baik untukku, yang selalu memberikan banyak pelajaran dan kebaikan. Memberikan banyak petuah dan selalu memberitahu mana yang benar dan terbaik untukku. Terimakasih sudah jadi pendengar yang seria untukku, jadi seorang penginspirasi dan selalu memberikan kata-kata yang baik agar aku tidak terus mengeluh dengan keadaan buruk yang terkadang menimpaku. Kadang kau mampu menjadi penyemangat bagiku dikala aku mempunyai masalah, ketika mendapat masalah terkadang keputusan yang aku ambil ini tidak jernih dan kau selalu memberikan saran mengenai apa yang seharusnya dipilih.
Kau pun seorang perangkai kata yang hebat dan handal, diam-diam aku pun pengunjung setia blogmu hehehehe. Oiya, maaf ya bantuan dariku dulu tidak menghasilkan apa-apa, draft novelmu saat itu tidak berhasil masuk penerbit, rasanya bantuanku malah kurang membantumu ya hehehe tapi dari situ aku belajar banyak bahwa ternyata jadi editor itu butuh kesabaran yang ekstra, tidak boleh asal-asalan, revisi sana revisi sini, baca ini baca itu, ya maklumlah aku pemula dan lebih tepatnya aku awam tidak tahu apa-apa tentang menulis seperti itu. Dibandingkan denganmu, tulisanku tidak ada apa-apanya, tulisan-tulisanmu adalah rangkaian kata-kata yang indah yang patut mampir di ribuan pasang mata. Semoga setelah perjuanganmu kemarin-kemarin, naskahmu yang sekarang lolos ya ke penerbit. Harus lolos, tetap optimis dan jangan pesimis. Semangat!!
Oiya, terimakasih banyak ya buat semua yang udah teteh kasih sama aku. Kayaknya aku sering banget ngerepotin ya, tapi akunya belum bisa bales apa-apa. Malah teteh yang ngasih terus tapi akunya engga, makasih banyak sebanyak-banyaknya untuk semua yang udah teteh kasih :--)
Untuk teteh yang suka sekali berkunjung ke toko buku dan membeli banyak sekali buku setiap pergi ke toko buku, aku suka ngobrol-ngobrol sama teteh sambil haha-hihi cekikikan dan gosip tentang si ini dan si itu :))
Gosipin orang-orang aneh yang suka bikin masalah sama kita, yang lebay-lebay itu loh yang dulu sering ngisengin kita dan doi tetiba hilang lalu datang untuk minta maaf, eh ini udah berlalu ternyata datang lagi yang lebay gantinya yang bikin twit nyindir teteh itu loh hihihi sebel :))
Udah gitu kita suka ngobrolin tentang novel-novel baru yang ada di toko buku, teteh sih pasti udah kelar baca semuanya orang sekali beli aja borong banyak nanti-nanti beli aja sekalian ama toko nya hahaha bercanda deh x))
Hooo iya jangan bosen juga denger cerita aku tentang mantanku, gebetan, kecengan dan apapun itu namanya hahahahaha kalo aku mau cerita, teteh pasti nanya "pria mana yang menyakiti hatimu?" hihihi ya curhatanku padamu sih nggak jauh dari pria-pria yang selalu bermain di kepalaku, si mantan dan si kecengan yang selalu teteh ceng-cengin.... emm iya si kaka berambut keriting itu. Udah hatam kali ya teteh tahu cerita mereka semua kaya gimana, tapi soal mantanku itu.... kami berdua sudah berkomitmen untuk tidak bertemu lagi kecuali ada hal penting yang mengharuskan kita bertemu, sebenarnya memang aku yang minta karena aku sudah lelah seperti ini dengan dia. Tahu sendiri lah dia seenaknya terus padaku, dia inginnya bahagia dengan pacar barunya tapi aku seolah tak boleh pergi darinya. Hih! Padahal kan aku juga ingin bahagia dan terlepas dari zona nyamanku ini tapi dia nya mengikat aku, tapi semoga kali ini kita benar-benar akan berbahagia masing-masing ya sekalipun itu rasanya masih berat bagiku, kau tahu sendiri aku masih sedikit sulit untuk move on..... hmmm terlalu banyak keragu-raguan dalam dada ini. Ah sudahlah tak ada habisnya membicarakan tentang dia.
Terakhir kau bertanya bagaimana aku dengan si kecenganku itu ya, kau bertanya apakah aku masih berkomunikasi baik dengannya atau tidak. Ah ini bukan intensitasku untuk mengatakan semuanya baik-baik saja atau tidak, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku dengannya masih berkomunikasi dengan baik karena belum tentu dia memiliki pandangan yang sama denganku. Sejauh ini ya memang kami tidak bermusuhan atau apapun itu, apalagi sampai unfollow twitter itu tidak terjadi.... ya hanya saja sejak kejadian itu, ya aku malu pada diriku sendiri jika aku masih sering nimbrung-nimbrung di statusnya seperti dulu, kan sekarang dia sudah tahu apa alasanku melakukan itu.... ya karena aku menyukainya. Ah mengapa pada akhirnya kejujuran menciptakan celah dan ruang? Apakah kejujuran di ciptakan salah satunya adalah untuk membuat kita menyesal di suatu hari? Katamu ini tidak apa-apa, dengan jujur akhirnya aku tidak harus diliputi rasa penasaran lagi, tak perlu lagi menerka-nerka dan bertanya tanya. Hanya aku selalu berpikir jika kejujuran menciptakan celah seperti ini, apakah karena ini terjadi pada orang yang salah atau waktu yang salah? Ah aku bingung, aku sebal harus terus-menerus bertanya-tanya seperti ini. Iya sih aku lega karena sudah jujur dan setidaknya dia tahu perasaanku tapi jika pada akhirnya dia mengacuhkanku, kan aku sedih gitu.. Huhuhu. Tetep aja ngebet pengennya dia, dia baik banget dan orangnya asik di ajak ngobrol. Ah mungkin semua yang terjadi diantara kita dan semua yang aku anggap belum sebanding dengan apa yang dia rasa, mungkin ini tandanya waktunya yang kurang tepat. Teteh selalu bilang sama aku "Tenang, Dek. Kamu ini masih muda, jalanmu masih panjang" iya benar hanya saja aku sedikit trauma untuk patah hati berkali-kali...
Dan tentang dirimu yang terkadang mengingat mantanmu, katamu pula bahwa kenangan itu tak bisa untuk dilupakan... dia memiliki tempat tersendiri di kepala kita, jadi ya sekeras apapun usaha kita untuk melupakan kenangan di masa lalu, itu tak berguna kan? Dirimu yang kadang rindu dengan masa lalumu, ingatlah bahwa itu takkan pernah kembali lagi untukmu.. aku tahu dengan jelas bagaimana rasanya merindukan banyak hal di masa lalu yang tak pernah akan bisa kembali, tapi masa lalu itu mempunyai peran dan tempatnya sendiri jadi biarkanlah semuanya berjalan begitu saja..
Ah kepanjangan ya suratnya? Baiklah mungkin aku sudahi dulu suratku untukmu ini. Sekali lagi, terimakasih banyak untuk semuanya. Hmmm semoga kau cepat dipertemukan dengan jodoh yang sesuai dengan keinginan mamamu itu ya, yang mirip Dimas Anggara atau Rio Dewanto ya -_- semoga mamamu juga lekas sembuh ya, jangan lupa rawat dan jaga dia dengan baik dan jadilah anak yang berbakti. Dan yang terakhir semoga naskahmu lolos dan lekas dibukukan supaya tinggal duduk manis aja di rumah kalo tahu bukunya terpampang di toko buku.
Sekian dulu ya surat dariku, terimakasih banyak dan love you teteh cantikk <3 p="">
Oleh @maharanifilen
Diambil dari http://penenunkata.blogspot.com/2013/02/dear-odetrahma.html?utm_medium=twitter&utm_source=twitterfeed
Untukmu (lagi)
Selamat pagi untukmu. Entah kenapa tiap kali menulis surat untukmu hanya kelabu yang mewarnai langit di luar jendela kamarku. Seakan semesta turut sendu bersamaku.
Kadang aku ingin kembali ke 15 tahun yang lalu. Saat kita masih sama-sama lepas dalam canda. Saat kau nggak malu bermain dengan anak perempuan. Walau aku tau betul, kakakmu tak suka dengan hal ini. Walau kadang kau menendang kakiku karena kesal. Rasa sakit itu, nggak ada apa-apanya sama bahagia yang aku rasain.
Kadang aku ingin kembali ke 12 tahun yang lalu. Saat hubungan kita mulai berjarak. Saat kau mulai serius menyukai perempuan lain. Meskipun begitu, saat itu kau masih sempat main kerumahku. Kau bahkan sempat numpang mandi. Apa kau ingat?
Kadang aku ingin kembali ke 9 tahun yang lalu. Ah, bukan kadang. Tapi ingiiiiiiin sekali. Aku ingin mengulang saat aku mengejarmu di perjalanan pulang hanya untuk memberimu miniatur gitar jelek yang mengeluarkan melodi tiap kali senarnya dipetik. Ya, aku terpaksa mengejarmu karena aku malu jika harus memberikannya di sekolah. Aku juga ingin kembali ke saat kau memberiku boneka beruang yang memeluk figura berbentuk hati. Atau ke saat kau memberiku safety box dengan boneka kelinci sebagai balasan dari mainan yang ku beri. Tapi nggak, kalau aku bisa.. yang paling ku inginkan adalah menghapus kebodohanku yang sekarang cuma menyisakan kecanggungan diantara kita. Maaf ya, rasa sukaku terhadapmu benar-benar membuatku gila.
Ya, ku rasa cerita tentang kita memang berakhir pada tahun itu. Kadang aku berharap rasaku terhadapmu pun bisa berhenti disitu. Di 9 tahun yang lalu. Tapi ternyata, rasa itu masih saja ada sementara cerita tentang kamu sudah berakhir lama sekali.
p.s. kau tau? kado ulang tahun yang kau beri 11 dan 9 tahun lalu masih ada dikamarku. Begitupun dengan balasan kado valentine yang kau beri untukku.
p.p.s. tak pernah kah sekalipun aku melintas dipikiranmu?
Oleh @nrsfrn
Diambil dari http://ilrow.blogspot.com/2013/02/untukmu-lagi.html
Comment Allez-Vous?
Hai kamu, @arifnoto
Comment allez-vous?
Kaget ya? Sama.. Aku juga kaget tetiba menuliskan surat ini lagi. Untukmu. Mungkin karena hari ini ya? Ya, ini kan tanggal 6 di Bulan Februari. Kamu ingat tidak? Ini kan #PramsDay
Bagaimana? Apa kamu sudah menuliskan sesuatu tentang seorang penting yang penulis legendaris kesayanganmu itu?
Kamu sedang sibuk melahap buku apa saat ini? Lama ya kita tak saling bercerita tentang itu. Tapiii… Jangan kamu tanya tentang buku yang saat ini aku baca yaaa… Pasti nanti aku berikan jawaban berupa alasan. Belakangan aku membaca banyak buku yang sebelum-sebelumnya jaraaang dan bahkan belum pernah aku baca genre-nya.. bagaimana pun tetaplah cukup membuatku tertawa-tawa Sesungguhnya aku sedang rindu membaca buku milik idolaku… Iyaa.. Abang Radit.. Tapi tak jua aku dapati sampai saat ini karya terbarunya. Oh iya, bagaimana dengan Amba? Sudah khatam? Hmm aku rasa sudah… Ah, aku? Belum menyanggupi menamatkannya dengan cepat. Bukankah kamu tahu, i need a long time to read.. Entah kapan kemampuan membacaku bisa mengejar levelmu.. Biar saja lah.. Aku tak ingin ambil pusing.
Apa kabar juga dengan rak bukumu? Tak punya keinginan lagi untuk meminjamkan sepeser dua peser cerita penting lagi padaku. Khawatir ya… Khawatir rusak semua olehku?
Tak apalah, aku memilih mengunjungi rumah aksaramu saja. Mmm sepertinya ada yang baru ya… Postingan yang…. Menyenangkan, bagus, unik, dan… Like it… Berceritalah dengan cara mana saja yang kamu suka. Setiap perjalananmu itu memiliki hak untuk memenuhi ruang keabadian. Ukirlah sejarahmu dengan segala yang kamu suka, membiarkan waktu tetap mengeja namamu. Membacakan kisahmu dengan lantang. Membagikannya kepada semesta dengan penuh kesenangan.
Kalau boleh aku katakan, video itu boleh lebih dipanjangkan? Ah, itu hanya inginku. Tak menjadi gugatan atas karyamu. Akhirnya, sesuatu yang tersimpan itu kini kamu ijinkan juga mengecup udara. Semoga mereka yang turut menikmatinya juga memiliki rasa seperti ketika aku melihatnya, suka!
Oh iya, tak ada cerita tentang sepak bola dalam kaleidoskop itu? Ah, aku tetiba mengingatnya karena entah kenapa aku malah ingin melihat secara langsung aksi lapangan hijaumu itu.. Undang aku ya suatu waktu nanti
Baiklah, semoga surat ini benar sampai padamu. Benar semesta mendukung menyampaikan ceritaku untukmu. Lalu kapan kita kembali bertemu? Kalau tak salah ingat, ada cerita yang ingin kamu ceritakan saja ketika kita bertemu mata? Ah, jangan pura-pura lupa yaaa ini aku menagihnya
Sudah..sudah.. Ceritaku jadi kemana-mana. Terima kasih yaa sudah memberikan kesempatan cerita ini terbaca olehmu. Maaf jika kemudian ada sesuatu yang tak berkenan di hatimu. Aku hanya sedang ingin bercerita, kepadamu. Itu saja.
Sampai jumpa suatu waktu, kamu.
Merci bien
Aku,
yang selalu menyukai senja
Oleh @wulanparker
Diambil dari http://lunastory.wordpress.com/
Labels:
Surat Cinta #24
Surat yang Seharusnya Terkirim Kemarin…
Dear, Rayhan…
Apa kabar? Apa kau masih suka melihat rembulan, Ray? Apakah kau masih menginspirasi banyak orang dengan kisah hidupmu? Kuharap begitu. Kuharap kau masih belum lelah membuat kami sadar bahwa hidup sejatinya hanya memiliki satu rumus: semua urusan adalah sederhana. Bukan begitu?
Ray, apa kau tahu kapan pertama kalinya aku mengenalmu? 05 Februari 2011. Waktu itu tanteku mengajakku ke toku buku dan menyuruhku memilih satu novel untuk dibeli. Pilihanku saat itu langsung tertuju padamu, Ray! Dan sungguh merupakan kebetulan juga … hari ini, 05 Februari 2013 aku menuliskan sebuah surat untukmu. Surat yang mereka bilang merupakan surat cinta.
Kau adalah orang yang beruntung, Ray. Amat beruntung. Kenapa aku lancang sekali menyebutmu begitu? Karena kau mendapat kesempatan hebat itu, kau mendapat kesempatan untuk mengetahui lima jawaban atas lima pertanyaan terbesarmu dalam hidup. Lima pertanyaan yang selama kauhidup selalu menghantui langkahmu dan akan dijawab oleh seseorang dengan raut wajah arif dan menyenangkan.
Apa pertanyaan pertamamu? Kenapa kau harus menghabiskan masa kanak-kanakmu di panti asuhan menyebalkan itu, bukan? Kenapa kau harus melalui masa kanak-kanak yang seharusnya menyenangkan justru di tempat paling kaubenci sepanjang hidupmu.
Pertanyaan keduamu? Apakah hidup ini adil? Benar, kan?
Dan inilah pertanyaan ketigamu, bukan …? Kenapa langit tega sekali mengambil istrimu? Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi?
…ternyata setelah sejauh ini semuanya tetap terasa kosong, hampa. Ternyata semua yang kau miliki tidak pernah memberikan kebahagiaan seperti yang pernah kau dapatkan bersama istrimu, padahal kau memiliki segalanya, memiliki banyak. Begitu kan pertanyaan keempatmu?
Dan pertanyaan terakhirmu … kenapa kau haris sakit berkepanjangan? Kenapa takdir sakit itu mengungkungmu di usiamu yang tidak lagi muda …
Dan kau tahu, Ray? Apa KAU TAHU? Saat mengetahui kelima jawaban itu pun aku ikut menangis. Hatiku melebur. Semua penjelasan itu… semua kisah-kisah itu seakan menampar hidupku, Ray! Betapa piciknya kehidupanku selama ini. Diar, Natan, Ilham, Bang Ape, Pele, istrimu (si gigi kelinci), Rinai, semuanya menamparku dengan pemahaman hidup mereka, Ray. S e m u a n y a. bagaimanalah aku tidak akan menangis saat mengetahui hidupmu.
Bagaimanalah…
Bahkan mungkin rasanya aku lebih picik dalam memandang kehidupan ini daripada engkau. Aku sungguh jauh lebih picik daripada kau. Terima kasih, Ray. Terima kasih untuk semua pemahaman itu. Terima kasih. Sungguh terima kasih. Kau mengajarkanku banyak. Kau memberiku banyak melalui kisah hidupmu. Aku sungguh beruntung bisa mengenal Diar, Natan, Istrimu, Ilham, Bang Ape, Pele, dan semua orang hebat itu lewat hidupmu. Aku sungguh beruntung. Sekali lagi terima aksih, Ray. Dan … maukah kau sampaikan terima kasih dariku untuk seseorang yang dengan sangat apik menuangkan hidupmu dalam buku Rembulan Tenggelam di Wajahmu itu? Maukah kau? Iya… siapa lagi kalau bukan untuk Tere Liye. Tolong sampaikan terima kasihku pada beliau yang telah mencerahkan hidupku lewat tulisannya tentang engkau.
Tertanda,
Aku-yang-masih-harus-belajar-banyak
Oleh @ulyauhirayra
Diambil dari http://ulyauhirayra.wordpress.com/
Labels:
Surat Cinta #24
Madam Keadilan
Selamat Malam Madam
Malam ini indah bukan? Ah, maaf kita belum berkenalan. Aku tidak punya nama, tapi kau bisa memanggilku V. Sebenarnya aku sudah lama menjadi penggemarmu, bahkan semenjak aku kecil. Aku bertanya tentangmu pada ayahku. Aku menyukaimu karena kau hening dan dingin.
Tapi tolong Madam, jangan berfikir ketertarikanku hanya sebatas fisik, aku tau ku bukan gadis semacam itu. Sayangnya itu dulu, Madam. Sekarang aku punya wanita lain, perempuan jalang dengan ide yang tak terbeli.
Aku tidak menyukaimu lagi karena kau terlebih dahulu menyukai pria berseragam. Kau pasti terkejut karena aku tahu semua kebusukanmu.Aku pun telah berpaling darimu. Namanya Anarki, dia lebih banyak mengajariku dari pada kau, Madam. Dia mengajariku bahwa keadilan tidak ada artinya tanpa kebebasan.
Jadi selamat tinggal, madam. Aku letakkan hadiah 30 detik akhir hidupmu dibawah kakimu. Aku kembali pada Anarkiku tersayang.
- Vendetta -
Oleh @ulansabit
Diambil dari http://punyaulan.wordpress.com/
Labels:
Surat Cinta #24
Untuk Impian
Untuk impianku,
mungkin tidak hanya aku saja yang senang bermimpi, untuk mimpi semua yang benar-benar mempunyai mimpi. Aku tahu, cerita tentang jungkir balik kehidupan. Aku tahu, cerita tentang impian yang terkadang hanya sekedar mimpi, yang sekedar hanya tersimpan di dalam memori. Aku tahu itu semua, tapi bisakah impianku akan aku nikmati suatu saat nanti? Bisakah kamu berkonspirasi kepadaku wahai impian?
Lemah? Iya, kalau dibilang aku lemah, tentu saja aku (sedikit) lemah. Karna impian itu sungguh tak pernah berujung bahkan aku tak tahu sampai seberapa jauh aku hanya bisa berangan-angan tentangmu, iya tentangmu impian. Mungkin saja, bahkan andaikata sebuah impian dapat berkata adakah kamu menerimaku sebagai partner sejatimu kelak? Ah tentu saja, tentu saja itu semua hanya khayalanku belaka karna pada kenyataannya kamu tak akan pernah berbicara. Kecuali hati, hati yang akan berbicara kepadaku, kemanakah passion itu aku dapat dan kemanakah impian itu akan terwujud.
Tuhan begitu tau aku impian, karna Dia yang menciptakan aku. Dan aku yakin, Dia akan membawaku ke tempatmu yang lebih baik. Ke tempat impian yang lain. Namun, meskipun demikian saat ini setidaknya aku akan berjuang agar bisa menggapaimu agar aku bisa "berpeluk mesra" denganmu.
Untuk impian, aku tak begitu obsesi dengan apa yang aku utarakan kan? Itu hanya sekedar ungkapan bahwa aku benar-benar ingin memilikimu. Karna memang aku merasa yakin bahwa kamu adalah impian yang tepat untukku. Dan mudah-mudahan perjuanganku juga tidak hanya sebentar di sini. Karna apapun yang aku lakukan adalah perjuangan yang tidak sia-sia. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, yang ada hanyalah kita menyia-nyiakan perjuangan itu. Semoga aku dapat bersentuh denganmu :')
~Vida Hasan~
Oleh @vidahasan
Diambil dari http://vidahasan.blogspot.com/
Labels:
Surat Cinta #24
Sedikit Permintaan
Tuhan…
bolehkah aku merequest seperti apa calon jodohku kelak? boleh yah?
kalo boleh, aku pengen dia baik, perhatian, dan peduli terhadap orang-orang disekelilingku (aku tau ini sangat klasik, tapi ini hal yang penting bagiku).
gausah terlalu tampan, Tuhan. cukup punya senyum manis yang mampu meluluhkan hatiku. (bila aku sudah jatuh cinta, terkadang semuanya akan terlihat manis dimataku).
Dia ga perlu kaya, Tuhan. yang penting dia punya keinginan untuk maju dan mau berusaha membangun keluarga yang sejahtera denganku.
Dia juga harus tegas dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang diambil. cepat bertindak, bukan NATOMDO (No action talk only ngomong doang) dan sok tau. berani dengan mengakui kesalahannya, bukan laki-laki yang suka cari kambing hitam, lempar masalah kesana-sini, masalah kecil dibuat besar, ribet dan banyak aturan.
aku butuh sosok Imam yang mampu membimbingku, dan bisa kuandalkan disetiap keadaan, baik disaat aku susah, sedih, lagi kejepit ataupun lagi seneng…
Tuhan, aku mau laki-laki yang lembut tapi berwibawa, bertutur kata halus, rendah diri, ga egois. bukan laki-laki kasar dan selalu mengancam bila keinginannya tidak terpenuhi.
emm… semoga dia bukan laki-laki yang super insecure tingkat tinggi ya Tuhan. sehingga aku ga bebas bergaul dengan teman-temanku. aku mau dia bisa mengerti siapa aku, apa hobiku, siapa teman-temanku. aku harap dia ga terlalu bersikap posesif didepan teman-temanku..
Tuhan, maaf bila permintaanku terlalu banyak dan muluk-muluk, hanya Engkau tempatku meminta, dan hanya Engkau yang tau apa yang terbaik untukku. Aamiin.
Terimakasih, Tuhan.
Oleh @@wenramni
Diambil dari http://wenwenii.tumblr.com/
Labels:
Surat Cinta #24
Pengganggu Malam 2
Teruntuk Pengganggu Malam,
Selamat Siang! Gimana kabar kamu hari ini? Apakah masih sibuk seperti hari kerja biasanya? Pastinya kamu sibuk hari ini dan hari berikutnya, mungkin sibuk sudah menjadi nama tengahmu. Entah apa yang akan aku tanyakan, tapi beribu tanya seperti akan terlontar. Kehadiranmu kini nyata, mengusik hari sampai terbawa dalam mimpi. Ah… Apa artinya semua ini?
Pengganggu Malam, kini bukan hanya kamu yang mengganggu malamku. Aku mulai tergoda untuk mengganggu malammu. Kita bukan hanya sekedar bertukar kabar tapi bertukar energi. Malam yang suntuk, aku buat nyaman sampai kamu terkantuk. Meletupkan api yang entah membara atau penasaran semata. Aku menggoda kamu melalui getaran telepon seluler. Kita mabuk tanpa bantuan alkohol. Kita menuju khayangan tanpa bantuan barang terlarang.
Tidurku sudah mulai nyenyak tanpa bantuan obat. Malamku terganggu lagi karena tak ada balasan pesan di kotak surat. Membuat kepalaku sedikit penat. Apakah kini aku terjerat?
oleh @royansum
diambil dari http://royansum.wordpress.com
Selamat Siang! Gimana kabar kamu hari ini? Apakah masih sibuk seperti hari kerja biasanya? Pastinya kamu sibuk hari ini dan hari berikutnya, mungkin sibuk sudah menjadi nama tengahmu. Entah apa yang akan aku tanyakan, tapi beribu tanya seperti akan terlontar. Kehadiranmu kini nyata, mengusik hari sampai terbawa dalam mimpi. Ah… Apa artinya semua ini?
Pengganggu Malam, kini bukan hanya kamu yang mengganggu malamku. Aku mulai tergoda untuk mengganggu malammu. Kita bukan hanya sekedar bertukar kabar tapi bertukar energi. Malam yang suntuk, aku buat nyaman sampai kamu terkantuk. Meletupkan api yang entah membara atau penasaran semata. Aku menggoda kamu melalui getaran telepon seluler. Kita mabuk tanpa bantuan alkohol. Kita menuju khayangan tanpa bantuan barang terlarang.
Tidurku sudah mulai nyenyak tanpa bantuan obat. Malamku terganggu lagi karena tak ada balasan pesan di kotak surat. Membuat kepalaku sedikit penat. Apakah kini aku terjerat?
oleh @royansum
diambil dari http://royansum.wordpress.com
DuaPuluh
Untuk angkatan duapuluh, tiga bersaf kumpul. Mulai.
:p
Masih inget ga kalian akan aba-aba itu. Aba-aba yang menyatukan kita di tanah lapang disaat terik pula. Aku inget banget dan kangen akan itu, terlebih lagi akhir-akhir ini tapi berharap ga harus panas-panasan juga di bawah matahari ngumpulnya.
Buat ngumpulin serupa sepuluh jari tangan aja susahnya udah kayak apa tau apalagi untuk versi lengkapnya, entah kapan kesampeannya. Ya emang sih ga bisa salahin rutinitas juga yang kadang buat kalap waktu kita sendiri tapi apa kalian juga ga kangen sama kebersamaan duapuluh versi lengkapnya. Di setiap ada kesempatan sarana untuk kita ngumpul entah itu ada acara rutin dari sekretariat atau nikahan temen satu sekolah, waktu selalu ga pernah kompromi sama kita dan jadinya malah sering jatahan datengnya. Contohnya, kalo aku hari ini dateng tapi di kesempatan besoknya ga bisa dateng karna disibukin sm rutinitas. Suka gregetan sendiri. Kita juga suka labil kalau di jejaring sosial, udah umbar-umbar saling kangen tapi dalam hitungan hari ke depannya udah pada ganti topik lain aja di status jejaring sosial masing-masing. Ga salah sih emang karna pergaulan kita semakin melebarkan sayapnya dan aku juga ga bisa pungkiri itu. Jadinya ga heran kalo sampe sekarang rasa kangen itu baru sekedar wacana. :-V
Ayo dong duapuluh, kapan kita bisa huru hara lagi tanpa peduli ketenangan hidup sesama anggota dengan segala canda tawa iseng yang tercipta. Kapan lagi kita terbahak di tengah perbincangan akan segala memori saat diklat, pengukuhan, pelantikan, lomba, bahkan saat “sayang-sayangan” sama junior dan senior juga. Momen-momen itu ngangenin banget tauk. Dari yang dulu masih pada egois (maunya serba buat sendiri) sampe udah pada punya rasa peduli satu sama lain ya meski pertamanya ada embel-embel sok kebersamaan hehe. Tapi jujur aku kebawa banget akan itu sampe sekarang.
Meski kebersamaan kita berawal dari ekskul Paskibra waktu jaman SMA di Budut tapi dari sana aku punya rumah lain untukku singgah melepas penat akan rutinitas. Dan rumah itu kalian semua. Ga cuma angkatan duapuluh tetapi juga angkatan sebelum dan sesudah kita. Maka dari itu, kita ga boleh lupa untuk selalu inget akar kebersamaan yang buat kita jadi satu keluarga sampe sekarang.
Pokoknya kudu temu kangen itu terrealisasi segera dan jangan sampe kita ketemuan pas udah pada punya cucu ya karna itu lamanya kebangetan. Tapi yang lebih penting tali silahturrahmi harus tetep terjaga meski jarang banget untuk mata saling bertatap. Kalian tetep selalu di hatiku, duapuluh.
Duapuluh. Aku kangen.
Si penikmat cincau, Sari. :)
oleh @ssartika_ untuk to @amaliautami3 @enowidiani @yuriboim @ziahkozhie
diambil dari http://ssimply.wordpress.com
:p
Masih inget ga kalian akan aba-aba itu. Aba-aba yang menyatukan kita di tanah lapang disaat terik pula. Aku inget banget dan kangen akan itu, terlebih lagi akhir-akhir ini tapi berharap ga harus panas-panasan juga di bawah matahari ngumpulnya.
Buat ngumpulin serupa sepuluh jari tangan aja susahnya udah kayak apa tau apalagi untuk versi lengkapnya, entah kapan kesampeannya. Ya emang sih ga bisa salahin rutinitas juga yang kadang buat kalap waktu kita sendiri tapi apa kalian juga ga kangen sama kebersamaan duapuluh versi lengkapnya. Di setiap ada kesempatan sarana untuk kita ngumpul entah itu ada acara rutin dari sekretariat atau nikahan temen satu sekolah, waktu selalu ga pernah kompromi sama kita dan jadinya malah sering jatahan datengnya. Contohnya, kalo aku hari ini dateng tapi di kesempatan besoknya ga bisa dateng karna disibukin sm rutinitas. Suka gregetan sendiri. Kita juga suka labil kalau di jejaring sosial, udah umbar-umbar saling kangen tapi dalam hitungan hari ke depannya udah pada ganti topik lain aja di status jejaring sosial masing-masing. Ga salah sih emang karna pergaulan kita semakin melebarkan sayapnya dan aku juga ga bisa pungkiri itu. Jadinya ga heran kalo sampe sekarang rasa kangen itu baru sekedar wacana. :-V
Ayo dong duapuluh, kapan kita bisa huru hara lagi tanpa peduli ketenangan hidup sesama anggota dengan segala canda tawa iseng yang tercipta. Kapan lagi kita terbahak di tengah perbincangan akan segala memori saat diklat, pengukuhan, pelantikan, lomba, bahkan saat “sayang-sayangan” sama junior dan senior juga. Momen-momen itu ngangenin banget tauk. Dari yang dulu masih pada egois (maunya serba buat sendiri) sampe udah pada punya rasa peduli satu sama lain ya meski pertamanya ada embel-embel sok kebersamaan hehe. Tapi jujur aku kebawa banget akan itu sampe sekarang.
Meski kebersamaan kita berawal dari ekskul Paskibra waktu jaman SMA di Budut tapi dari sana aku punya rumah lain untukku singgah melepas penat akan rutinitas. Dan rumah itu kalian semua. Ga cuma angkatan duapuluh tetapi juga angkatan sebelum dan sesudah kita. Maka dari itu, kita ga boleh lupa untuk selalu inget akar kebersamaan yang buat kita jadi satu keluarga sampe sekarang.
Pokoknya kudu temu kangen itu terrealisasi segera dan jangan sampe kita ketemuan pas udah pada punya cucu ya karna itu lamanya kebangetan. Tapi yang lebih penting tali silahturrahmi harus tetep terjaga meski jarang banget untuk mata saling bertatap. Kalian tetep selalu di hatiku, duapuluh.
Duapuluh. Aku kangen.
Si penikmat cincau, Sari. :)
oleh @ssartika_ untuk to @amaliautami3 @enowidiani @yuriboim @ziahkozhie
diambil dari http://ssimply.wordpress.com
Aku Masih Bisa Mengingatnya
Rabu,
Aku teringat dengan seseorang yang saat itu pernah mengisi hidupku begitu singkatnya. Aku sangat senang dipertemukan dengannya saat itu. Ketika tidak ada perempuan yang bisa mengisi hatiku dengan nyaman, dia hadir dengan senyumannya yang manis.
Saat itu aku masih duduk dibangku kelas satu menengah keatas. Aku satu kelas dengannya, dan aku belum menyadari kehadirannya. Lalu pada ketika ada sebuah even musik, aku dan teman-temanku yang lain hadir, termasuk dia. Lalu dari situ kita mulai dekat dan kita menjadi teman baik.
Rabu, aku ingat saat kepalanya terkulai lemah tepat dibahuku, aku ingin sekali mengusapnya, tapi aku tidak berani, karena saat itu dia begitu lemah dan kedinginan. Aku ingin sekali memeluknya, tapi aku menahan diriku untuk tidak melakukannya.
Aku ingat saat kita terus bersama tanpa hubungan apapun, saat itu memang begitu menyenangkan. Apalagi saat kita berdua pulang bersama, rasanya pelajaran di sekolah yang begitu memuakkan terhapus begitu saja.
Aku masih bisa membayangkan begitu jelas saat tangannya menyentuh pinggangku. Kita pulang bersama menaiki motorku, lalu ditengah perjalanan hujan begitu derasnya hingga kita memutuskan untuk menepi. Tapi karena kita berdua malas menunggu hingga hujan reda, kita lebih memilih untuk kehujanan bersama. Canda dan tawa-pun tak luput mengiringi perjalananku saat mengantarnya pulang.
Rabu, ada hari dimana kita kehujanan bersama, dan menurutku itu sangatlah sering. Satu lagi yang aku ingat saat hujan lebat seusai jam sekolah. Aku dan dia memutuskan untuk mampir ke rumah temanku yang tidak begitu jauh dari sekolah. Kita dan yang lainnya kehujanan bersama. dan setelah itu aku memberanikan diri untuk memberi tahu isi hatiku kepadanya.
Aku mencintainya rabu..
Hari pertama kita jadian aku masih begitu kaku terhadapnya, karena itu adalah pertama kali aku memiliki seorang kekasih. Iya rabu.. dia cinta pertamaku. Aku masih begitu malu untuk menggumbar hubunganku didepan teman-temanku. Bahwa aku sebenarnya tahu bahwa mereka juga mengetahuinya saat aku sudah mengubah statusku menjadi berpacaran di facebook.
Hari kedua, kita masih belum dekat, tapi kita terus saling memberikan perhatian satu sama lain walaupun hanya lewat pesan singkat yang tak pernah berhenti aku kirimkan untuknya. Dan saat itu aku masih malu-malu untuk memanggil kata “Aku dan Kamu” secara langsung, tapi aku bisa melakukannya dengan baik saat di pesan singkat itu, yang dimana aku mencurahkan isi hatiku dengan sebenarnya, walaupun tidak dalam bentuk ucapan yang bisa didengar, aku yakin dia tahu bahwa aku sangat menyayanginya.
Rabu, hari ketiga sudah begitu banyak yang mengetahui hubungan kita, bukan hanya teman sekelas, tapi teman-teman di luar kelas juga mengetahuinya. Entah saat itu aku senang atau tidak tentang hubunganku dengannya yang sudah diketahui banyak orang. Karena aku masih begitu malu untuk lebih dekat dengannya di sekolah. Maklum saja rabu, dia cinta pertamaku.
Hari keempat aku berusaha memanggil satu sama lain “Aku, Kamu” tapi saat kita hanya berdua saja. ketika tidak ada orang disekitar, aku begitu nyaman bersamanya, dan aku tidak perlu malu untuk memanggilnya dengan sebutan sayang.
Rabu, hari kelima hubungan kita makin meluas. Bukan hanya satu kelas yang tahu, atau beberapa siswa di kelas lain, tapi ada orang yang juga mengetahuinya, dan orang itu begitu penting untuknya. Dia ibunya rabu.
Jarak diantara kita berdua dihari keenam kian mendekat, rasa malu untuk lebih mengeluarkan rasa sayangku sudah berkurang sedikit. Saat di kelas aku selalu menghampirinya ketika tidak ada guru yang hadir saat jam pelajaran. Dan disitu kita saling mengobrol, bercanda, bahkan temanku yang lain kadang ikut bergabung bersama kita.
Di hari ketujuh rabu, sudah tidak ada kecanggungan lagi didalam diriku untuk bersamanya. Karena aku sudah berusaha keras untuk menjadi lelaki pemberani walaupun aku baru pertama kali pacaran. Aku tidak pernah membaca buku tentang bagaimana cara menghadapi cinta pertama, tapi aku membiarkannya mengalir begitu saja, karena aku mencintainya tanpa paksaan apapun. Dan aku tahu diapun begitu terhadapku. Lalu dihari itu aku menerima sebuah pesan singkat.
Ibunya mengirimiku pesan singkat yang membuat aku risau pada hari kedepalan, dan aku berusaha menyembunyikan itu dihadapannya. Kita hari itu makan berdua dalam satu meja, rabu. Tidak ada yang lebih menyenangkan saat kita berdua makan bersama. Aku ingin terus merasa sebahagia itu, tapi hal lainpun mengusik pikiranku. Ibunya tidak berhenti mengirimiku pesan singkat. Aku selalu membalasnya.
Hari kesembilan aku seolah-olah sudah makin dekat dengannya rabu. Aku sudah tidak mempunyai rasa malu lagi. Bahkan sepulang sekoalah kita sempat berpegangan tangan. Aku sangat sangat bahagia saat itu. Akhirnya perasaanku mengalir begitu derasnya, aku sangat mencintainya, dan perlahan aku bisa menunjukannya melalui tingkah laku walaupun dalam hal-hal kecil. Saat di dalam bus, aku membicarakan mengenai hal yang membuatku risau, tentang keadaan kita yang telah diketahui oleh orangtuanya. Menurut gosip yang beredar, ada temanku yang dikelas yang memberi tahu hubungan kita ke ibunya, rabu. Saat aku mengatakannya, kita berdua sempat diam satu sama lain. Akhirnya aku mencoba mengalihkan pembicaraan, karena aku tahu dia juga tidak mau membahasnya. Rabu.. setibanya di rumah aku masih memikirkan pesan singkat dari ibunya. Aku masih mengingatnya begitu jelas..
Tolong jauhi dia, karena dia sudah ada yang pantas memilikinya. Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti apa artinya cinta. Lebih baik kamu tinggalkan dia, masih banyak perempuan lain yang bisa kamu miliki.
Begitulah seingatku. Aku tidak mengerti apa yang aku harus lakukan rabu. Seusai solat ashar aku berdoa dan meminta petunjuk, akhirnya aku memilih sebuah keputusan yang akan mengubah hidupku selamanya.
Aku memutuskannya..
Itulah yang aku ingat Rabu..
Sembilan hari yang menurutku sangat berarti. Dan hingga kini aku tidak pernah lagi mengalami cinta seperti itu. Bukan hanya itu, bahkan untuk melupakannya saja aku membutuhkan waktu hingga tiga tahun lamanya.
Karena aku sangat mencintainya, rabu. Dan hari dimana aku memutuskannya, airmataku tidak berhenti mengalir, aku selalu berdoa yang terbaik untuknya.
Rabu..
Sekian suratku kali ini, terima kasih sudah menjadi pendengar sekaligus sahabatku yang baik.
Aku mencintaimu rabu, seperti ketika aku mencintainya.
oleh @skandarwhe
diambil dari http://thisismyshortstories.blogspot.com
Aku teringat dengan seseorang yang saat itu pernah mengisi hidupku begitu singkatnya. Aku sangat senang dipertemukan dengannya saat itu. Ketika tidak ada perempuan yang bisa mengisi hatiku dengan nyaman, dia hadir dengan senyumannya yang manis.
Saat itu aku masih duduk dibangku kelas satu menengah keatas. Aku satu kelas dengannya, dan aku belum menyadari kehadirannya. Lalu pada ketika ada sebuah even musik, aku dan teman-temanku yang lain hadir, termasuk dia. Lalu dari situ kita mulai dekat dan kita menjadi teman baik.
Rabu, aku ingat saat kepalanya terkulai lemah tepat dibahuku, aku ingin sekali mengusapnya, tapi aku tidak berani, karena saat itu dia begitu lemah dan kedinginan. Aku ingin sekali memeluknya, tapi aku menahan diriku untuk tidak melakukannya.
Aku ingat saat kita terus bersama tanpa hubungan apapun, saat itu memang begitu menyenangkan. Apalagi saat kita berdua pulang bersama, rasanya pelajaran di sekolah yang begitu memuakkan terhapus begitu saja.
Aku masih bisa membayangkan begitu jelas saat tangannya menyentuh pinggangku. Kita pulang bersama menaiki motorku, lalu ditengah perjalanan hujan begitu derasnya hingga kita memutuskan untuk menepi. Tapi karena kita berdua malas menunggu hingga hujan reda, kita lebih memilih untuk kehujanan bersama. Canda dan tawa-pun tak luput mengiringi perjalananku saat mengantarnya pulang.
Rabu, ada hari dimana kita kehujanan bersama, dan menurutku itu sangatlah sering. Satu lagi yang aku ingat saat hujan lebat seusai jam sekolah. Aku dan dia memutuskan untuk mampir ke rumah temanku yang tidak begitu jauh dari sekolah. Kita dan yang lainnya kehujanan bersama. dan setelah itu aku memberanikan diri untuk memberi tahu isi hatiku kepadanya.
Aku mencintainya rabu..
Hari pertama kita jadian aku masih begitu kaku terhadapnya, karena itu adalah pertama kali aku memiliki seorang kekasih. Iya rabu.. dia cinta pertamaku. Aku masih begitu malu untuk menggumbar hubunganku didepan teman-temanku. Bahwa aku sebenarnya tahu bahwa mereka juga mengetahuinya saat aku sudah mengubah statusku menjadi berpacaran di facebook.
Hari kedua, kita masih belum dekat, tapi kita terus saling memberikan perhatian satu sama lain walaupun hanya lewat pesan singkat yang tak pernah berhenti aku kirimkan untuknya. Dan saat itu aku masih malu-malu untuk memanggil kata “Aku dan Kamu” secara langsung, tapi aku bisa melakukannya dengan baik saat di pesan singkat itu, yang dimana aku mencurahkan isi hatiku dengan sebenarnya, walaupun tidak dalam bentuk ucapan yang bisa didengar, aku yakin dia tahu bahwa aku sangat menyayanginya.
Rabu, hari ketiga sudah begitu banyak yang mengetahui hubungan kita, bukan hanya teman sekelas, tapi teman-teman di luar kelas juga mengetahuinya. Entah saat itu aku senang atau tidak tentang hubunganku dengannya yang sudah diketahui banyak orang. Karena aku masih begitu malu untuk lebih dekat dengannya di sekolah. Maklum saja rabu, dia cinta pertamaku.
Hari keempat aku berusaha memanggil satu sama lain “Aku, Kamu” tapi saat kita hanya berdua saja. ketika tidak ada orang disekitar, aku begitu nyaman bersamanya, dan aku tidak perlu malu untuk memanggilnya dengan sebutan sayang.
Rabu, hari kelima hubungan kita makin meluas. Bukan hanya satu kelas yang tahu, atau beberapa siswa di kelas lain, tapi ada orang yang juga mengetahuinya, dan orang itu begitu penting untuknya. Dia ibunya rabu.
Jarak diantara kita berdua dihari keenam kian mendekat, rasa malu untuk lebih mengeluarkan rasa sayangku sudah berkurang sedikit. Saat di kelas aku selalu menghampirinya ketika tidak ada guru yang hadir saat jam pelajaran. Dan disitu kita saling mengobrol, bercanda, bahkan temanku yang lain kadang ikut bergabung bersama kita.
Di hari ketujuh rabu, sudah tidak ada kecanggungan lagi didalam diriku untuk bersamanya. Karena aku sudah berusaha keras untuk menjadi lelaki pemberani walaupun aku baru pertama kali pacaran. Aku tidak pernah membaca buku tentang bagaimana cara menghadapi cinta pertama, tapi aku membiarkannya mengalir begitu saja, karena aku mencintainya tanpa paksaan apapun. Dan aku tahu diapun begitu terhadapku. Lalu dihari itu aku menerima sebuah pesan singkat.
Ibunya mengirimiku pesan singkat yang membuat aku risau pada hari kedepalan, dan aku berusaha menyembunyikan itu dihadapannya. Kita hari itu makan berdua dalam satu meja, rabu. Tidak ada yang lebih menyenangkan saat kita berdua makan bersama. Aku ingin terus merasa sebahagia itu, tapi hal lainpun mengusik pikiranku. Ibunya tidak berhenti mengirimiku pesan singkat. Aku selalu membalasnya.
Hari kesembilan aku seolah-olah sudah makin dekat dengannya rabu. Aku sudah tidak mempunyai rasa malu lagi. Bahkan sepulang sekoalah kita sempat berpegangan tangan. Aku sangat sangat bahagia saat itu. Akhirnya perasaanku mengalir begitu derasnya, aku sangat mencintainya, dan perlahan aku bisa menunjukannya melalui tingkah laku walaupun dalam hal-hal kecil. Saat di dalam bus, aku membicarakan mengenai hal yang membuatku risau, tentang keadaan kita yang telah diketahui oleh orangtuanya. Menurut gosip yang beredar, ada temanku yang dikelas yang memberi tahu hubungan kita ke ibunya, rabu. Saat aku mengatakannya, kita berdua sempat diam satu sama lain. Akhirnya aku mencoba mengalihkan pembicaraan, karena aku tahu dia juga tidak mau membahasnya. Rabu.. setibanya di rumah aku masih memikirkan pesan singkat dari ibunya. Aku masih mengingatnya begitu jelas..
Tolong jauhi dia, karena dia sudah ada yang pantas memilikinya. Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti apa artinya cinta. Lebih baik kamu tinggalkan dia, masih banyak perempuan lain yang bisa kamu miliki.
Begitulah seingatku. Aku tidak mengerti apa yang aku harus lakukan rabu. Seusai solat ashar aku berdoa dan meminta petunjuk, akhirnya aku memilih sebuah keputusan yang akan mengubah hidupku selamanya.
Aku memutuskannya..
Itulah yang aku ingat Rabu..
Sembilan hari yang menurutku sangat berarti. Dan hingga kini aku tidak pernah lagi mengalami cinta seperti itu. Bukan hanya itu, bahkan untuk melupakannya saja aku membutuhkan waktu hingga tiga tahun lamanya.
Karena aku sangat mencintainya, rabu. Dan hari dimana aku memutuskannya, airmataku tidak berhenti mengalir, aku selalu berdoa yang terbaik untuknya.
Rabu..
Sekian suratku kali ini, terima kasih sudah menjadi pendengar sekaligus sahabatku yang baik.
Aku mencintaimu rabu, seperti ketika aku mencintainya.
oleh @skandarwhe
diambil dari http://thisismyshortstories.blogspot.com
Buat Kamu, Sang Pembaca.
Halo, kamu, pembaca tiap tulisanku :)
Makasih banyak ya udah bacain tulisan aku
Ya walaupun tulisan aku ini ya cuma gini - gini aja
Aku emang bukan pujangga yang pandai merangkai kata
Aku juga bukan pemain kata yang bisa memainkan kata dengan indah
Tapi di sini, aku sedang berusaha
berusaha menulis
dan merangkai kata
Aku sedang berusaha mengembangkan kemampuanku
Aku sedang berusaha memanggil kembali hobi menulisku yang dulu pernah ada
Aku sedang mencoba untuk konsisten tetap menulis
Dengan ikut program ini, aku harap kemampuanku bertambah sedikit demi sedikit
Aku juga berharap agar aku bisa menjaga kekonsistensianku ini sampai suatu hari nanti
Terima kasih banyak ya kamu- kamu yang mau tetep bacain tulisan aku
Jangan diketawain ya, kasih komentar aja gapapa ;')
Terima kasih juga buat #30HariMenulisSuratCinta.
Terima kasih banyak ;)
Sekian,
With Love.
oleh @rasnyos
diambil dari http://namapanjangku.blogspot.com
Makasih banyak ya udah bacain tulisan aku
Ya walaupun tulisan aku ini ya cuma gini - gini aja
Aku emang bukan pujangga yang pandai merangkai kata
Aku juga bukan pemain kata yang bisa memainkan kata dengan indah
Tapi di sini, aku sedang berusaha
berusaha menulis
dan merangkai kata
Aku sedang berusaha mengembangkan kemampuanku
Aku sedang berusaha memanggil kembali hobi menulisku yang dulu pernah ada
Aku sedang mencoba untuk konsisten tetap menulis
Dengan ikut program ini, aku harap kemampuanku bertambah sedikit demi sedikit
Aku juga berharap agar aku bisa menjaga kekonsistensianku ini sampai suatu hari nanti
Terima kasih banyak ya kamu- kamu yang mau tetep bacain tulisan aku
Jangan diketawain ya, kasih komentar aja gapapa ;')
Terima kasih juga buat #30HariMenulisSuratCinta.
Terima kasih banyak ;)
Sekian,
With Love.
oleh @rasnyos
diambil dari http://namapanjangku.blogspot.com
Kamu yang Berada di Balik Cermin
Hai kamu,
yang sedang ku tatap dalam. masihkah ingin berpura pura tersenyum? masih ingin bersandiwara riang? kamu tak usah sok tegar di hadapanku. hai kamu, ada luka apa yang kamu biarkan menganga? senyummu tak bisa membohongi aku. doa doa yang kamu rapalkan di setiap sujudpun, aku tau.
Hai kamu,
maafkan aku ya. aku seringkali memaksamu berpura pura. aku seringkali mengajakmu bersembunyi di balik diam. aku seringkali menyeretmu sekuat hati untuk tetap tegar.
Hai kamu,
yang ada di balik cermin. terima kasih, karena selama ini masih mau ku ajak diam. masih mau ku ajak kuat. masih mau ku ajak bersabar. masih mau ku ajak bahagia walau sering juga sedih.
kamu baik, kamu yang terbaik.
terima kasih, kamu yang ada di diriku.
Sarah.
oleh @sazaleaa
diambil dari http://bloomymonday.tumblr.com
yang sedang ku tatap dalam. masihkah ingin berpura pura tersenyum? masih ingin bersandiwara riang? kamu tak usah sok tegar di hadapanku. hai kamu, ada luka apa yang kamu biarkan menganga? senyummu tak bisa membohongi aku. doa doa yang kamu rapalkan di setiap sujudpun, aku tau.
Hai kamu,
maafkan aku ya. aku seringkali memaksamu berpura pura. aku seringkali mengajakmu bersembunyi di balik diam. aku seringkali menyeretmu sekuat hati untuk tetap tegar.
Hai kamu,
yang ada di balik cermin. terima kasih, karena selama ini masih mau ku ajak diam. masih mau ku ajak kuat. masih mau ku ajak bersabar. masih mau ku ajak bahagia walau sering juga sedih.
kamu baik, kamu yang terbaik.
terima kasih, kamu yang ada di diriku.
Sarah.
oleh @sazaleaa
diambil dari http://bloomymonday.tumblr.com
Surat Pamit
Setelah kamu menerima surat ini, aku telah pergi. Pergi, entahlah kemana yang pasti menjauh dari kehidupan. Sudah sekian lama waktu kuhabiskan untuk menunggumu, meyakinkan bahwa cinta tidak sakit melulu. Namun berkali-kali juga kamu ragu dengan alasan belum dapat melangkah dari masa lalu. Aku tidak mungkin bisa membujukmu untuk melangkah karena hanya kamu yang punya kuasa pada setiap langkah.
Percayalah, masa lalu itu selalu soal perasaan sedangkan masa depan adalah pemikiran. Kamu tak akan bisa terus selamanya diam di tempat dengan berharap dia yang kau sebut pengkhianat datang kembali seakan malaikat. Kamu adalah penguasa dari rasa, bukan budak rasa yang hanya pasrah menghadapi luka.
Aku selalu berusaha, untuk memapah hatimu yang patah. Namun lagi-lagi segalanya berakhir sia-sia. Aku lelah. Mungkin memang waktu tidak pernah memihak kepadaku padahal aku selalu menjadikannya sahabat. Iya, apalagi sahabat setia bagi mereka yang sedang menunggu selain waktu?
Untukmu, aku pamit. Maaf jika selama ini aku tidak mampu menyiapkan pijakan kokoh untuk dapat kembali berjalan. Maaf jika ternyata aku hanya dapat menemani tanpa memberi kekuatan, juga maaf karena cinta mati di ujung jalan.
Jika ingin mencariku, aku sudah pergi ke masa depan. Mungkin itu satu-satunya cara agar dapat mengajakmu pergi dari masa lalu yang selama ini membuatmu nyaman. Sampai jumpa di ujung jalan. Aku mencari di mana cinta, jika ternyata nanti kau yang ku jumpa berarti kamulah yang dimaksud cinta.
dari,
aku purnawirawan tunggu
oleh @sedimensenja
diambil dari http://sedimensenja.wordpress.com
Percayalah, masa lalu itu selalu soal perasaan sedangkan masa depan adalah pemikiran. Kamu tak akan bisa terus selamanya diam di tempat dengan berharap dia yang kau sebut pengkhianat datang kembali seakan malaikat. Kamu adalah penguasa dari rasa, bukan budak rasa yang hanya pasrah menghadapi luka.
Aku selalu berusaha, untuk memapah hatimu yang patah. Namun lagi-lagi segalanya berakhir sia-sia. Aku lelah. Mungkin memang waktu tidak pernah memihak kepadaku padahal aku selalu menjadikannya sahabat. Iya, apalagi sahabat setia bagi mereka yang sedang menunggu selain waktu?
Untukmu, aku pamit. Maaf jika selama ini aku tidak mampu menyiapkan pijakan kokoh untuk dapat kembali berjalan. Maaf jika ternyata aku hanya dapat menemani tanpa memberi kekuatan, juga maaf karena cinta mati di ujung jalan.
Jika ingin mencariku, aku sudah pergi ke masa depan. Mungkin itu satu-satunya cara agar dapat mengajakmu pergi dari masa lalu yang selama ini membuatmu nyaman. Sampai jumpa di ujung jalan. Aku mencari di mana cinta, jika ternyata nanti kau yang ku jumpa berarti kamulah yang dimaksud cinta.
dari,
aku purnawirawan tunggu
oleh @sedimensenja
diambil dari http://sedimensenja.wordpress.com
Hello, Father!
Selamat pagi Ayah kesayangan semua anak dunia.
Ini aku salah satu putri manja-Mu yang tak pernah absen meminta di tiap bercerita.
Iya, Bapa, ini aku. Putri-Mu yang seharusnya sudah beranjak dewasa, tapi tetap saja masih kekanakan. Apa-apa sudah mengadu. Padahal urusan-Mu bukan melulu tentang aku, tapi tetap tak henti ku ganggu, dengan cengengku, dengan egoisku, dengan cemburuku. Belum lagi sifat cerewet yang pancingku bercerita panjang lebar yang (mungkin) seringkali membuat telinga-Mu panas. Beruntungnya aku punya Bapa yang baik, yang alih-alih mengeluh, malah menuntunku menjadi pribadi lebih kuat. Menenangkanku dengan cara-Mu sampai mendung kelabu di langit jantung hilang, bahkan berganti terik mentari.
Jadi, Bapa, di surat ini aku hanya ingin mengabarkan bahwa aku baik-baik saja. Iya, memang harap yang ku minta dengan sangat itu tak kunjung nyata. Tapi bukankah di minggu-minggu terakhir ini telah ku tambahkan kalimat di belakangnya agar semuanya tetap sesuai rencana-Mu saja? Iya, Bapa, rencana-Mu saja, aku tak mengapa. Lihatlah, aku tetap berdiri. Tanpa dipapah, tanpa bertemankan bahagia bernama. Iya, seperti kataku, aku baik-baik saja. Hanya tinggal menutup luka-luka kecil yang masih tersisa. Kali ini biar jadi bagianku. Pengalaman telah mengajarkanku bagaimana caranya.
Aku..sudah cukup kuat, kan?
Aku hanya butuh waktu sedikit lebih lama dari putri-Mu yang lain untuk kembali pulih.
Satu lagi, Bapa. Bila mungkin di suatu sore cerah Engkau sedang duduk-duduk bersama kakek dan nenek sambil menikmati secangkir kopi dan melihat ke bawah sini, tolong sampaikan bahwa aku begitu merindukan mereka.
Masih banyak sebenarnya hal-hal yang tak kumengerti, tapi nanti saja kusampaikan di pembicaraan pribadi kita. Biar jadi rahasia berdua saja, dan cara-Mu biar jadi rahasia-Mu saja.
Jadi, Bapa, sempatkan baca ini di sela sibuk-Mu, ya. Tak perlu dibalas. Kecup saja aku di tidurku malam ini agar mimpi indah dengan sedia menghampiri. Oke?
Salam dari bumi,
Putri-Mu
oleh @renimelynda
diambil dari http://renimelynda.tumblr.com
Ini aku salah satu putri manja-Mu yang tak pernah absen meminta di tiap bercerita.
Iya, Bapa, ini aku. Putri-Mu yang seharusnya sudah beranjak dewasa, tapi tetap saja masih kekanakan. Apa-apa sudah mengadu. Padahal urusan-Mu bukan melulu tentang aku, tapi tetap tak henti ku ganggu, dengan cengengku, dengan egoisku, dengan cemburuku. Belum lagi sifat cerewet yang pancingku bercerita panjang lebar yang (mungkin) seringkali membuat telinga-Mu panas. Beruntungnya aku punya Bapa yang baik, yang alih-alih mengeluh, malah menuntunku menjadi pribadi lebih kuat. Menenangkanku dengan cara-Mu sampai mendung kelabu di langit jantung hilang, bahkan berganti terik mentari.
Jadi, Bapa, di surat ini aku hanya ingin mengabarkan bahwa aku baik-baik saja. Iya, memang harap yang ku minta dengan sangat itu tak kunjung nyata. Tapi bukankah di minggu-minggu terakhir ini telah ku tambahkan kalimat di belakangnya agar semuanya tetap sesuai rencana-Mu saja? Iya, Bapa, rencana-Mu saja, aku tak mengapa. Lihatlah, aku tetap berdiri. Tanpa dipapah, tanpa bertemankan bahagia bernama. Iya, seperti kataku, aku baik-baik saja. Hanya tinggal menutup luka-luka kecil yang masih tersisa. Kali ini biar jadi bagianku. Pengalaman telah mengajarkanku bagaimana caranya.
Aku..sudah cukup kuat, kan?
Aku hanya butuh waktu sedikit lebih lama dari putri-Mu yang lain untuk kembali pulih.
Satu lagi, Bapa. Bila mungkin di suatu sore cerah Engkau sedang duduk-duduk bersama kakek dan nenek sambil menikmati secangkir kopi dan melihat ke bawah sini, tolong sampaikan bahwa aku begitu merindukan mereka.
Masih banyak sebenarnya hal-hal yang tak kumengerti, tapi nanti saja kusampaikan di pembicaraan pribadi kita. Biar jadi rahasia berdua saja, dan cara-Mu biar jadi rahasia-Mu saja.
Jadi, Bapa, sempatkan baca ini di sela sibuk-Mu, ya. Tak perlu dibalas. Kecup saja aku di tidurku malam ini agar mimpi indah dengan sedia menghampiri. Oke?
Salam dari bumi,
Putri-Mu
oleh @renimelynda
diambil dari http://renimelynda.tumblr.com
Ini Suara Hati
kali ini aku ingin menulis ini untuk diriku sendiri, diriku sendiri saat ini.
hai aku, kenapa kau selalu bersembunyi dibalik indahmu? kenapa kau malu?
kenapa kau tak yakin akan potensimu?
hai aku, apa yang membuatmu menutup diri dengan mendungmu?
kau terlalu taku mereka tahu siapa kau, kenapa?
kau tidak puas dengan aku? aku adalah kamu.
hai aku, kenapa tidak berhenti menoleh kebelakang? kita akan ada di masa depan dan bukan di masa lalu.
hai aku, tataplah kedepan dan lihat apa yang bisa kita lakukan bersama?
kau adalah aku, aku tau kita lebih dari hebat untuk bisa bertahan di dunia sekeras apapun, kita hebat!
apa kau tidak sadar berapa jumlah mereka yang mengagumi kemampuanmu?
ayolah kita pasti bisa, dunia menunggu kita.
- catatan hati seorang anak manusia-
oleh @sheananda
diambil dari http://sheananda.tumblr.com
hai aku, kenapa kau selalu bersembunyi dibalik indahmu? kenapa kau malu?
kenapa kau tak yakin akan potensimu?
hai aku, apa yang membuatmu menutup diri dengan mendungmu?
kau terlalu taku mereka tahu siapa kau, kenapa?
kau tidak puas dengan aku? aku adalah kamu.
hai aku, kenapa tidak berhenti menoleh kebelakang? kita akan ada di masa depan dan bukan di masa lalu.
hai aku, tataplah kedepan dan lihat apa yang bisa kita lakukan bersama?
kau adalah aku, aku tau kita lebih dari hebat untuk bisa bertahan di dunia sekeras apapun, kita hebat!
apa kau tidak sadar berapa jumlah mereka yang mengagumi kemampuanmu?
ayolah kita pasti bisa, dunia menunggu kita.
- catatan hati seorang anak manusia-
oleh @sheananda
diambil dari http://sheananda.tumblr.com
Elegi Hari Ke-enam
Selamat pagi lagi-lagi,
Hari ini akan jadi sedikit kilas balik, meski hampir semua suratku memang banyak menyapa masa lalu.
Sebelum tanggal enam bulan Februari empat tahun lalu, aku dan saudara yang lain setia menunggu di dalam dan di luar ruang ICU. Silih berganti masuk melantun doa dan memberi separuh tangkup di tanganmu. Dua minggu kami di situ. Banyak sekali tangis yang sudah disaksikan dari orang-orang datang disebabkan kepergian orang-orang yang dicintai. Aku sedang berpikir waktu itu, tahan betul para perawat yang bekerja di ICU ini, tiap hari menyaksikan kegelisahan dan kesedihan. Kami masih sabar.
Di dua minggu sebelum dan hingga tanggal enam bulan kedua, lupa kami dengan air mata, yang tertancap di benak adalah kau dengan semua alat bantu di satu kamar dan salah satu dari kami membacakan tiap ayat secara bergiliran. Entah Al-Quran itu sudah khatam atau belum ketika kami membacanya selama dua minggu menunggumu.
Semua orang yang pernah kita kenal, juga menyumbangkan doa pendek sembari melihatmu.
Tuhan memang sudah punya rencana, kita tak bisa ke mana-mana. Empat tahun lalu, tanggal yang sama dengan hari ini, di Jumat. Badanmu sudah benar-benar terbujur kaku saat dokter berkata kau hanya ditopang hidup dengan alat bantu, dan sesegera itu pula tindakan melepaskan semua alat bantu dilakukan.
Kami juga pasrah...melepasmu.
Ibu
Bandung, 6 Februari 2013
oleh @rizkymamat
diambil dari http://rizky-muhammad.blogspot.com
Hari ini akan jadi sedikit kilas balik, meski hampir semua suratku memang banyak menyapa masa lalu.
Sebelum tanggal enam bulan Februari empat tahun lalu, aku dan saudara yang lain setia menunggu di dalam dan di luar ruang ICU. Silih berganti masuk melantun doa dan memberi separuh tangkup di tanganmu. Dua minggu kami di situ. Banyak sekali tangis yang sudah disaksikan dari orang-orang datang disebabkan kepergian orang-orang yang dicintai. Aku sedang berpikir waktu itu, tahan betul para perawat yang bekerja di ICU ini, tiap hari menyaksikan kegelisahan dan kesedihan. Kami masih sabar.
Di dua minggu sebelum dan hingga tanggal enam bulan kedua, lupa kami dengan air mata, yang tertancap di benak adalah kau dengan semua alat bantu di satu kamar dan salah satu dari kami membacakan tiap ayat secara bergiliran. Entah Al-Quran itu sudah khatam atau belum ketika kami membacanya selama dua minggu menunggumu.
Semua orang yang pernah kita kenal, juga menyumbangkan doa pendek sembari melihatmu.
Tuhan memang sudah punya rencana, kita tak bisa ke mana-mana. Empat tahun lalu, tanggal yang sama dengan hari ini, di Jumat. Badanmu sudah benar-benar terbujur kaku saat dokter berkata kau hanya ditopang hidup dengan alat bantu, dan sesegera itu pula tindakan melepaskan semua alat bantu dilakukan.
Kami juga pasrah...melepasmu.
Ibu
Bandung, 6 Februari 2013
oleh @rizkymamat
diambil dari http://rizky-muhammad.blogspot.com
Baca Surat Ini Ketika Kamu Pulang
Kepada Sdri. Uswatun Hasanah Tanjung
Jln. Gunung Leuser Blok. A2 No. 13
Tebing Tinggi
20614
Assalamualaikum,
Apa kabar, kamu? Aku kangen, hehe ..
Jelas aku gak bisa memastikan kamu menerima surat ini seperti ketika aku pertama kali membawanya ke Kantor Pos, dan mungkin bukan kamu yang akan pertama kali membacanya. Bisa saja ibu mu, atau ayah mu. Aku sempat bingung, bisa saja surat ini gak sampai ke kamu. Karena surat ini terlalu janggal untuk dikirim via pos. Tapi gak ada yang gak mungkin.
Tak berarti juga sebelumnya surat ini dalam keadaan rapi, saat mengantarnya saja aku sudah melipatnya untuk ku slipkan ke dalam kantong, aku salah beli amplop. Ibuku selalu memasukkan uang pecahan dua puluh ribu untuk amplop semacam ini. Lain kali, aku akan mencari yang bergambar Hello Kitty dan ku semprotkan sedikit parfum. Tanpa kecup bibir berlipstik pastinya.
Seperti teman ku bilang, kamu gak di izinin bawa handphone ya? Aturan macam apa sih itu? Yang buat aturan gak pernah muda ya? Masa' iya dia gak pernah ngerasain yang namanya kangen? Aku jadi harus nulis surat begini ke kamu. Dan karena aku belum tau pasti alamat kamu disana, makanya surat ini aku kirim ke rumah kamu saja. Gara-gara itu, pegawai pos jadi marah-marah dan tak mau mengantar suratku setelah tau alamat rumah kamu. Huh, aku kesal.
Oh ya, ini hari ke 24 pergi dan beberapa minggu ini waktu terasa lama deh. Apalagi semenjak hari terakhir pengambilan ijazah waktu itu, gak ada alasan lagi buat ketemu kamu. Aku gak ada kegiatan mengisi kekosongan waktu sampai perkuliahan ku dimulai, biasanya kan ada kamu yang menuhin inbox handphone aku. Walaupun kebanyakan isinya sms nanya pr yang sebenarnya aku udah tau, tapi awalan yang seperti itu yang membuat kita dekat setiap harinya. Dan sekarang, kita bukan pelajar lagi. Yang dipertemukan dalam satu lokal namun tak bernah berteguran. Padahal tiap malam, kita saling berbalas pesan seperti sedang berpacaran. Ini lucu, loh!
Kalau sudah begini, rasanya aku gak akan canggung lagi kalau ketemu kamu. Bahkan memelukmu di depan ayah dan ibumu.Percuma rasanya mengorbankan perasaan dari sekian banyak kesempatan. Kalau kita bisa kenapa kita tidak mencobanya? Setidaknya aku memiliki satu kesempatan dari sekian waktu yang aku habiskan untuk bernafas.
Kabari aku setelah kamu baca surat ini. Hampir lupa, kemarin, sewaktu mengirim surat ini di Kantor Pos aku lihat ayah kamu di ruang kerja pribadinya. Dan kalau pegawai Pos itu sadar, dia akan memberikan surat ini kepada beliau untuk di bawa langsung ke rumah kamu.
Wassalam.
Salam Kangen,
Dari : Rachman Wachyu Din
Jln. Gunung Leuser Blok A3 No.1
Tebing Tinggi
20614
oleh @rahmanwahyuu
diambil dari http://rahmanwahyu.blogspot.com
Jln. Gunung Leuser Blok. A2 No. 13
Tebing Tinggi
20614
Assalamualaikum,
Apa kabar, kamu? Aku kangen, hehe ..
Jelas aku gak bisa memastikan kamu menerima surat ini seperti ketika aku pertama kali membawanya ke Kantor Pos, dan mungkin bukan kamu yang akan pertama kali membacanya. Bisa saja ibu mu, atau ayah mu. Aku sempat bingung, bisa saja surat ini gak sampai ke kamu. Karena surat ini terlalu janggal untuk dikirim via pos. Tapi gak ada yang gak mungkin.
Tak berarti juga sebelumnya surat ini dalam keadaan rapi, saat mengantarnya saja aku sudah melipatnya untuk ku slipkan ke dalam kantong, aku salah beli amplop. Ibuku selalu memasukkan uang pecahan dua puluh ribu untuk amplop semacam ini. Lain kali, aku akan mencari yang bergambar Hello Kitty dan ku semprotkan sedikit parfum. Tanpa kecup bibir berlipstik pastinya.
Seperti teman ku bilang, kamu gak di izinin bawa handphone ya? Aturan macam apa sih itu? Yang buat aturan gak pernah muda ya? Masa' iya dia gak pernah ngerasain yang namanya kangen? Aku jadi harus nulis surat begini ke kamu. Dan karena aku belum tau pasti alamat kamu disana, makanya surat ini aku kirim ke rumah kamu saja. Gara-gara itu, pegawai pos jadi marah-marah dan tak mau mengantar suratku setelah tau alamat rumah kamu. Huh, aku kesal.
Oh ya, ini hari ke 24 pergi dan beberapa minggu ini waktu terasa lama deh. Apalagi semenjak hari terakhir pengambilan ijazah waktu itu, gak ada alasan lagi buat ketemu kamu. Aku gak ada kegiatan mengisi kekosongan waktu sampai perkuliahan ku dimulai, biasanya kan ada kamu yang menuhin inbox handphone aku. Walaupun kebanyakan isinya sms nanya pr yang sebenarnya aku udah tau, tapi awalan yang seperti itu yang membuat kita dekat setiap harinya. Dan sekarang, kita bukan pelajar lagi. Yang dipertemukan dalam satu lokal namun tak bernah berteguran. Padahal tiap malam, kita saling berbalas pesan seperti sedang berpacaran. Ini lucu, loh!
Kalau sudah begini, rasanya aku gak akan canggung lagi kalau ketemu kamu. Bahkan memelukmu di depan ayah dan ibumu.Percuma rasanya mengorbankan perasaan dari sekian banyak kesempatan. Kalau kita bisa kenapa kita tidak mencobanya? Setidaknya aku memiliki satu kesempatan dari sekian waktu yang aku habiskan untuk bernafas.
Kabari aku setelah kamu baca surat ini. Hampir lupa, kemarin, sewaktu mengirim surat ini di Kantor Pos aku lihat ayah kamu di ruang kerja pribadinya. Dan kalau pegawai Pos itu sadar, dia akan memberikan surat ini kepada beliau untuk di bawa langsung ke rumah kamu.
Wassalam.
Salam Kangen,
Dari : Rachman Wachyu Din
Jln. Gunung Leuser Blok A3 No.1
Tebing Tinggi
20614
oleh @rahmanwahyuu
diambil dari http://rahmanwahyu.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)