Showing posts with label Surat Cinta #6. Show all posts
Showing posts with label Surat Cinta #6. Show all posts

20 January 2013

Surat keenam - Permen Kapas


Keenam kalinya untukmu, yang senyumnya tak henti kurindukan.

Hari ini hujan tidak tumpah deras seperti kemarin. Matahari kembali menyebar teriknya, yang kemarin begitu dinantikan banyak orang. Ah, senang sekali hari ini tidak ada yang mengeluh kepanasan. Ucapan syukur terkirim ke langit karena matahari sudah kembali.

Siang tadi aku membeli permen kapas. Seperti yang kau tau, aku penggila permen. Permen kapas adalah nomor dua yang aku suka, setelah permen karet. Banyak filosofi yang aku pelajari dari permen - permen itu.

Permen karet. Permen karet seperti cerminan kita menjalani kehidupan. Bentuknya yang lucu, unik dan beragam menganalogikan kehidupan yang terlihat penuh warna dan juga kebahagiaan. Namun apakah seperti itu? Kemudian kita akan semakin mencintai permen karet karena sama seperti permen lain, permen karet juga manis, menunjukkan betapa kehidupan kita pada awalnya terasa manis. Teruslah mengunyah permen karet, karena berbeda dari yang lain, permen karet tidak akan hilang. Ia tetap ada, namun rasanya tak lagi manis. Seperti kehidupan, kepedihan yang kita alami seolah seperti permen karet yang kehilangan manisnya, tetap ada di dalam mulut namun tak lagi manis. Kepedihan, juga akan ada dalam hidup kita, meski tak selalu kita inginkan. Setiap ada masalah, aku mencari permen karet. Setidaknya, aku tak terlalu sendu melewati kepedihan, karena nantinya, semua gelisahku akan aku buang bersama permen karet yang sudah lelah kukunyah.

Kemudian, permen kapas, yang baru saja aku beli. Lembut seperti kapas, dan manis. Bila permen karet mengajarkanku bahwa kepedihan suatu ketika akan datang ke hidup kita, maka permen kapas mengajarkanku cara lain bersyukur. Bentuknya yang selembut kapas akan melumer dengan cepat di lidah sesaat setelah kita menikmatinya. Persis seperti kebahagiaan, yang seringkali lupa kita syukuri keberadaannya. Meski sudah menghilang, permen kapas itu sudah menyatu dengan saliva kita, bukan? Jadi sebenarnya Ia masih ada, kan? Namun kita yang tak mau menyadarinya. Seperti kebahagian yang datang dalam waktu yang tak terduga, kemudian karena keberadaannya tak terlihat, kita menganggap bahwa kebahagiaan itu belum ada. HIngga pada akhirnya benar - benar lenyap, kita baru menyadarinya, terlambat.

Hai, kamu, yang menggemari permen kapas di urutan nomor satu.

Kamu mengajariku cara menikmati permen kapas. Yaitu dengan memakannya sedikit demi sedikit dan tunggu manisnya benar - benar hilang. Itu sungguh mengasyikan, katamu. Dan memang benar, kubilang kini.

Karena kebahagiaan sulit sekali ditemui, maka saat sedang bahagia, nikmatilah! Jangan tunggu kebahagiaan itu pergi dan penyesalan datang. - Katamu, suatu waktu.

Dariku, yang masih merindumu dan berharap kau segera kembali agar kita bisa menikmati permen kapas bersama!


Oleh 
Diambil dari http://upisufia.blogspot.com/2013/01/surat-keenam-permen-kapas.html

Surat untuk @twitter


Whats happening?

Itu pertanyaanmu ya? Selalu. Setiap membukamu aku ditanya seperti itu. Kamu kepo juga ya. Hehehe. Tapi aku belajar kepo dari kamu loh. Beneran deh.

Aku sih mau review aja nih. Aku pengen kamu tau gimana sejarahnya aku bisa suka sama kamu. Eh iya, dulu aku ngga cuma suka loh sama kamu. Aku suka banget. Kenapa? Karena masih ada “dia”. Ah, aku mau mention dia-pun ngga akan ngaruh. Kenapa? Aku di block! Hahaha.

Yaudahlah ya, anggep aja aku curhat. Abisnya kalo curhat di badanmu, ngga mungkin. Kamu kan Cuma nerima curhatan dalam 140 karakter aja toh? Nah. Makanya aku tulis surat ini.

Jadi ya, awalnya aku sign up iseng aja. Trus aku perhatiin gimana caranya mainin kamu. Oh ternyata gitu doang. Lalu aku mulai nemuin beberapa temenku yang udah sign up. Follower aku dikit sih. Tapi semuanya nyata. Dan ngga ada yang lebay berdrama :p

Aku juga nemuin banyak artis-artis, penulis-penulis favorit, dan beberapa temen lama (termasuk “dia”) yang ternyata asik juga diikutin kicauannya. Bahkan ada beberapa akun yang bener-bener ketemunya di timeline, dan masih keep contact sampe sekarang. Yang paling penting sih akun-akun lucu maupun garing yang kadang aku follow cuma gara-gara dia bisa bikin aku ketawa aja.

Kamu kayak media serba ada gitu ya. Aku bisa tau apa aja hanya dengan menggeser jempol. Yang lucu-lucu, galau-galau, gombal-gombal, romantic-romantis, horror-horror, berita terkini, aplikasi terbaru, bahkan jenis makanan dan restoran yang sedang happening-pun aku bisa tau.

Lalu “dia” muncul. Aku suka. “Dia” ngga. Seketika itu juga istilah “PHP, galau, gombal, stalking, kepo, pencitraan, …. dan lain-lain” menjadi berkembang biak di kepalaku. Kamu yang bikin aku jadi kepo. Kamu yang bikin aku pengen stalking. Kamu yang bikin semua jomblo galau di malam minggu. Kamu yang ketika hujan banyak orang berpuisi tentang kangen. Ah, kamu kan penyebab semua ini.

Tapi tenang aja. Aku tetep suka kamu. Dibalik itu semua banyak kok manfaat kamu. Terutama kalo yang menggunakanmu adalah orang-orang bijak dan mau berbagi. Aku jadi ngerti tentang ini-itu. Paham ini-itu.Iya. Semuanya berkat kultwit. Dan yang lebih penting lagi, aku nemuin akun yang suka ngadain proyek nulis! Aaaaaak! Sukaaaaaa!

Dan iya. Sekarang aku cuma suka sama kamu. Ngga suka banget. Hehe. Terimakasih ya twit! Kalo ngga ada kamu mungkin aku udah mati bosen sama f***book. Mungkin pada masanya pun kamu akan tergantikan. Tapi kuharap tidak sekarang. Karena aku masih suka kamu. Walaupun kamu selalu nanya “whats happening?” dan aku pengen jawab “nothings happening but you”. Uwuwuwu :*


Oleh 
Diambil dari http://leletrash.tumblr.com/post/40901158209/surat-untuk-twitter

Langit Ke-Tujuh Untukmu


Haiiii @rintadita sayang…

Selamat ulang tahun lebih sehari selebtwit cantiikk…  Semoga segala ikhtiarmu selalu diberkahi Alloh… Aamiin…

Aku masih ingat, tahun lalu aku juga mengirimkan surat yang sama buat kamu. Saat itu, aku merindukan kamu untuk kembali ceria dengan penuh cinta. Aku ingin kamu menemukan cinta yang selama ini menjadi ingin di setiap pencarianmu.

Dan saat ini, aku mendapati kamu sebahagia layaknya kamu berada di langit ke tujuh. Aku mendapati kamu selalu ceria di setiap hari-harimu. Ada cinta yang telah mengisi relung-relung hatimu. Satu, tak akan lagi tergantikan dengan lelah yang berangsur membunuh rasamu. Kau tahu? Apa yang pernah aku lakukan di resepsi pernikahan Chicko itu sungguh sepenuh hati. Seingin-inginnya aku melihat kamu bahagia kembali setelah luka-lukamu kemudian berhasil kamu buang jauh-jauh :*

Bihihihiik… kamu pejuang cinta yang sangat dahsyat… Boleh kamu bagi caranya padaku? Kalau boleh aku hitung, kamu bisa sembuhkan luka-luka dalam waktu yang kurang dari setahun… Kemudian memeluk cinta yang selamanya… Aaahh.. aku juga mau…. 

Mmmmm… lalu apa kabar kamu sekarang? Rasa-rasanya, aku tak perlu banyak bertanya.. Bukankah perjalanan panjang ini tengah dimulai. Dimulai dengan penuh cinta… Semoga, kamu dan mamas bebeb selalu diberikan kesabaran dan semangat untuk menghadapi semuanya. Kalau kamu sedang sendirian, jangan sungkan mengundangku ke kandang gajah yang sudah tidak berantakan 

Kamu… boleh aku bilang sesuatu…? Aku selalu ingin melihat senyummu seperti yang di foto itu… Kita semua sayang sama kamu… mumumumu….



Aku,

teman sebangkumu :*


Oleh  
Diambil dari http://lunastory.wordpress.com/2013/01/19/langit-ke-tujuh-untukmu/

Titip suratku buat yang di dekatmu, Tuhan..


Hujan kali ini berhasil membawaku mundur, mengingat masalalu. Surat ke-6 buat yang di surga. Tetangga kecilku, muridku, keponakanku, adek kesayanganku. Aku merindukanmu dengan terlalu..

Desember 2012: tepat seribu harinya kau pergi. Cah Bagus, aku mengirimkan surat ini untukmu. Banyak hal ingin kuceritakan tentang keluargamu, tentang diriku, dan teman sepermainanmu..

Cah bagus, adekku tersayang, bagaimana kabarmu disana? Semoga bisa beristirahat dengan tenang disamping Tuhan ya. Amin, doaku selalu menyertaimu malaikat kecilku..

Dua tahun sudah kau pergi meninggalkan dunia, meninggalkan keluarga, meninggalkan orang-orang yg kau cinta. Cah bagus, keluargamu disini baik semua. Ayah dan Ibumu masih bekerja di warung kecilnya setiap hari, tidak ada yg berubah semuanya masih seperti dulu. Oh iya, kakakmu sekarang sudah sukses kerja di Jakarta, dia sukses mengubah hidupnya, meraih masa depan di kota metropolitan. Senang bukan, mendengar semuanya baik-baik saja, tapi alangkah baiknya bila kau juga ikut merasakan kebahagiaan mereka :’)

Aku disini juga masih sama cah bagus. Masih mendoakanmu setiap hari, masih sering merindukanmu juga. Keadaanku sekeluarga sehat wal’afiat. Aku sekarang juga sudah bekerja sama seperti kakakmu. Bedanya, aku masih tinggal di kota ini. Aku bekerja di dua tempat juga, dan salah satunya adalah tempat kursus matematika. Disini aku banyak menjumpai anak-anak kecil sepertimu, mungkin seumuran denganmu. Bagaimana temanmu disana? Semoga menyenangkan ya dek.

Terakhir, aku ingin menyampaikan pesan dari Clarissa teman sekelasmu dulu. Dia baru masuk SMP tahun kemarin loh, dan masih senang dengan teman barunya. Kita sering bercerita tentangmu dulu, yang suka jahil sama dia, yang bandel tapi lucu, yang tidak bisa ngomong huruf ‘R’ dan banyak lagi. Semua teman SDmu dulu sudah menginjak bangku SMP sekarang, banyak yg berubah juga. Masih ingat dengan Zola? Iya sahabatmu, dua minggu kemarin dia baru di sunat hehehe.. dia baru mau masuk SMP tahun ini.

Adekku aku sempat kecewa dengan diriku sendiri. Tentang firasat yang kuterima sehari sebelum kecelakaan tragis itu. Bodoh memang tak bisa merasakan sesuatu yg aneh waktu itu. Entah hari itu semua hal memang terasa janggal, kau pergi mengajak Zola sholat maghrib bersama di Masjid. Padahal jarang sekali sholat di Masjid. Aku masih ingat sore itu kau bilang padaku “besok mau kiamat mbak, makanya mau sholat” sambil tertawa kau lari  masuk kerumah dan mandi. Ah bagus, sampai sekarang masih kusesali kejadian sore itu. Harusnya aku bisa lebih peka dengan firasat itu.

Sudahlah, tak perlu disesali ini semua kehendak Tuhan. Sudah dulu ya dek, kita sambung lagi cerita tentang kita dulu disurat berikutnya. Bacalah suratku ini, jawablah di mimpi. 

Satu lagi..

“Firasat itu terkadang memang benar, kita harus peka pada kejadian sekitar”

Selamat beristirahat, malaikat kecilku Bagus Dwi Prasetyo :)



Kakakmu Tersayang


Oleh 
Diambil dari http://satuankata.tumblr.com/post/40888346649/titip-suratku-buat-yang-didekatmu-tuhan

Tiada Kesan Tanpa Kehadiranmu


Bukan, ini bukan undangan ulang tahun anak-anak SD itu.

Hai,
@desisiechi
@dugongmul
@astrianingrm
@cenditia

Bagaimana tidur kalian? Pasti nyenyak, kan? Memang tak ada yang lebih nyaman dari kasur sendiri.
Ini surat cinta untuk kalian.
Perjalanan panjang telah kita lalui.
Tiga ratus delapan kilometer jarak Surabaya - Yogyakarta kemarin malam terasa singkat ya. Berbeda dengan sebelumnya, Yogyakarta - Surabaya yang makin menghitung detik makin lambat jarum detik berdetak.
Doa-doa lebih banyak diterbangkan untuk kita dan perjalanan kita.
Bertemu orang asing, singgah di tempat yang belum pernah kita kunjungi, menjadi sesuatu yang menyenangkan sekaligus membuat deg-deg-an. “Hati-hati”, begitu pesan orang tua dan teman-teman lain melepas kita.
Empat hari yang berkesan.
Sungguh ini pertama kalinya aku (dan kalian juga, ya kan?) menjelajah beberapa tempat luar kota, maksudku bepergian sendiri tanpa biro perjalanan dengan rute Yogya - Surabaya - Pasuruan - Bromo - Probolinggo - Situbondo (Pasir Putih) - Surabaya - Yogya. Singgah di stasiun dan terminal, mencari matahari terbit dan tenggelam, sempat kesal dengan sopir bis dan angkutan, hingga mungkin merepotkan beberapa orang.
Dan liburan kita telah usai.
Kembali ke tanah rantau berarti kembali berkutat dengan prioritas, kembali meneruskan yang tertunda, kembali merajut mimpi.
Terimakasih untuk liburan yang singkat, padat dan pasti lekat di ingat. Mari kembali menabung, kembali membuat waktu senggang, kembali melakukan perjalanan.

Diambil dari http://shandikapuri.tumblr.com/post/40880053984/tiada-kesan-tanpa-kehadiranmu

Ayah, coba lihat


Ayah, aku sudah pandai menulis. ini suratku untukmu.
Ayah, coba lihat. 
Ibu selalu termenung di setiap senja, di depan teras rumah kita. katanya senja itu banyak kenangan tentang cinta kalian.
Ibu selalu merenung dan matanya selalu basah, setiap senja, selama 13 tahun terakhir, sejak engkau pergi.
Katanya senja juga merupakan waktu kepergianmu.
Aku belum pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan cinta sejati, aku hanya bisa rasakan kesedihan setiap melihat ibu selalu duduk di teras, memandang taman yang di penuhi oleh tetes-tetes sisa air hujan, lalu matanya juga dipenuhi tetes-tetes air mata.
Aku bilang pada Ibu, untuk lupakan semua barang peninggalanmu, lupakan kenangan tentangmu. namun Ibu bilang, sekarang Ayah cuma bisa hidup dalam kenangan kami, dan tak ada yang bisa menggantikan posisimu, Ayah. Itukah cinta sejati yang sesungguhnya?
Kalau saja aku bisa meminta pada Tuhan, aku ingin tukarkan jantungku padamu ayah. Agar aku saja yang ke surga. Agar kau tetap menemani ibu di teras setiap senja, sepanjang masa.
Sayangnya jantungku harus menyaksikan air mata Ibu setiap harinya, dan itu sakit.


Oleh  
Diambil dari http://chairanidzalika.blogspot.com/2013/01/ayah-coba-lihat.html

Awal yang (Sedikit) Terlambat


Aku selalu ingat awal saat kita bertegur sapa. Ya. Setelah sekian lama tak bertukar kabar, ternyata Tuhan masih berbaik hati memberikian kesempatan itu lagi. Konspirasi semesta, beberapa orang bilang, sedangkan sebagian besar menyebutnya “keberuntungan” , apalah namanya itu pun, aku tak begitu ambil pusing, toh, aku tetap berterimakasih pada-Nya untuk kesempatan ini.
      Pertemuan kembali ini seakan men-trigger ingatanku, ah ya, bahkan beberapa keping kenangan pun menari-nari di pikiranku saat jemari ini menekan tuts-tuts kecil di keyboard. Terlalu banyak malam yang terlampaui, terlalu banyak hari yang pergi, dan terlalu banyak kisah yang terlewati, tapi, bukankah kita masih punya banyak waktu untuk berbagi, bukan?. Itupun jika kau masih mau mengulangnya kembali denganku.
        Banyak yang ingin kuceritakan, tentang hidup, tentang harapan, tentang apapun, termasuk, tentang cinta dan, kita. Jadi, kita mulai dari mana kisah ini? Ah, masih ada 24 hari lagi untuk menulis semuanya, setidaknya ceritaku. Chapterku. Doakan saja Tuhan tetap memberi kemampuan pada aku yang malas ini, lagipula bukankah sudah jelas, judulnya pun “Awal yang (sedikit) Terlambat”.

Yogyakarta, 19 Januari 2013

N. B.: Holaaa :)


Oleh  
Diambil dari http://www.ndobaeudajah.blogspot.com/2013/01/30harimenulissuratcinta-hari-ke-6.html

Senja Untuk Semesta


Kepada senja yang selalu mempercantik semesta.

Kulihat akhir-akhir ini kau jarang menampakkan keanggunanmu. Ah iya, sekarang musim hujan, pantaslah kau terlihat muram belakangan ini.
Senja, bisakah hari ini kau muncul dengan cantik? Ada seseorang yang ingin aku hibur hatinya. Dia akan membaca suratku seusai berkutat dengan tugas-tugasnya. Aku harap ia senang membacanya. Berikan kehangatan pada sorenya yang melelahkan. Boleh?

Turunkan titik-titik gerimismu siang ini dan berhentilah saat kau akan mewarnai langit dengan warna oranyemu. Karena aku selalu suka kau yang muncul setelah hujan turun. Selalu menghasilkan pelangi yang lebih berwarna. Selalu indah.

Senja, tetaplah mewarnai semesta dengan anggun ya.. :)


Oleh 
Diambil dari http://ceritadikalahujan.blogspot.com/2013/01/senja-untuk-semesta.html

Untuk yang Sudah Menemukan Penggantiku


Jumat, 18 Januari 2013
Untuk yang Sudah Menemukan Penggantiku
Kepada kamu yang sudah menemukan penggantiku,


Apa yang harus aku mulai terlebih dahulu? Menyapamu? Menanyakan kabarmu? Atau menanyakan menganai pacar barumu? Ah untuk apa aku harus berpura-pura baik di surat ini jika sesungguhnya aku kecewa dan terluka. Luka ini kamu biarkan semakin menganga dengan apa yang kau lakukan bersamanya dan aku mampu melihat apa yang kau lakukan.
Tapi jauh di lubuk hatiku memang aku tak bisa memungkirinya bahwa aku memang masih mengharapkanmu diam-diam. Aku sangat terluka ketika mengetahui kamu yang kemudian berputus asa dan menyerah pada kita. Iya memang itu sudah terjadi sengat lama namun tak pernahkah kau sadari luka yang menganga ini? Kau sakiti berulang kali seolah luka yang kau sirami air cuka dan membuatnya semakin pedih. Iya aku minta maaf mengenai aku yang menaruh harapku padamu, tapi ini ulahmu. Aku tak tahu bagaimana menghentikannya.

Kadang aku bertanya, mengenai keikhlasan, sudahkah aku melakukannya selama ini? Melakukan ini pada apa yang terjadi pada kita, sudahkah? Aku tahu aku belum melakukannya. Pernahkah suatu hari aku dibayangi rasa takut? Takut akan kehilangan sesuatu? Takut semua yang semula adalah milikku kemudian menghilang? Iya aku pernah merasakan ini semua, dan terjadi padaku karenamu tentunya. Aku pernah merasa takut akan kehilanganmu dan kamu pergi, sesuatu yang paling menakutkan dan membanyangiku pada akhirnya memang harus terjadi. Tapi apapun yang aku lakukan, semua takkan mampu merubah setiap hal yang terjadi. Memang waktu sudah berubah, waktu terus berjalan, semua tidak akan tetap sama selamanya. Bahwa waktu itu merubah semuanya, itu yang harus selalu aku ingat untuk semua yang telah pergi meninggalkan hidupku, termasuk kamu. Sudahkah diriku ini ikhlas dengan segala hal yang hilang dari hidupku? Belum, aku belum menjadi orang yang seperti itu, merelakan suatu hal untuk pergi itu membutuhkan waktu yang lama. Tidak akan semudah membalikkan telapak tangan tentunya. Terkadang kita akan menjadi seseorang yang terlalu takut untuk meninggalkan semua yang akhirnya harus hilang, andai hati dan perasaan tak pernah berperan dalam hal seperti ini, mungkin tak akan ada rasa sedih dan takut untk merelakan. Eh  maaf, disini maksudnya aku, bukan kita. Karena aku tak pernah tahu apakah kau pernah merasa takut akan kehilangan atau tidak.

Ya, maksud dari surat ini bukan untuk memintamu kembali, aku hanya ingin mengatakan ini saja padamu. Bahwa kehilanganmu adalah hal yang paling menakutkan yang selama ini ada dalam benakku. Bukankah selama bersamamu, aku sudah mengatakannya berkali-kali, entah puluhan atau mungkin ratusan. Dan bahkan kau yang menenangkanku dengan janjimu yang katanya takkan hilang dari kehidupanku dan takkan pergi. Tapi beginilah yang terjadi adanya. Waktu yang memisahkan kita mungkin, tuhan masih belum mengizinkan kita untuk bersama dalam waktu yang lama. Tuhan berkehendak lain terhadap kita. Bukan aku yang menyerah dengan kita, tapi kamu. Aku berusaha sekalipun aku lelah, tapi aku berjuang untuk jauh dari kata meenyerah. Namun tidak dengan kamu.

Baiklah, maafkan kata-kata ini. Jika kamu membaca surat ini hingga selesai, selamat kamu memenuhi keinginanku. Selamat malam, berbahagialah dengan penggantiku.

Dari aku, yang sudah kau temukan penggantinya…


Diambil dari http://penenunkata.blogspot.com/2013/01/untuk-yang-sudah-menemukan-penggantiku_18.html

Weker Biotik


Semalam, untuk pertama kalinya aku melihat kunang-kunang. Berterbangan di tepi kolam seperti kilauan permata hijau. Kemudian hilang bersembunyi dibalik rerumputan. Dari tempat ku duduk, kunang-kunang itu terlihat begitu cantik. Berpendar hijau ditengah pekat malam.
Aku tengah larut dalam canda ketika tau-tau kau muncul dihadapanku. Kita bertemu lagi, weker biotik. Setelah sekian lama nggak pernah bertatap muka, akhirnya Tuhan mempertemukan kita (lagi). Ah, kota ini benar-benar kecil. Kadang temenku punya teman yang berteman dengan temanmu dan akhirnya disitulah kita semalam, duduk di meja yang sama, tapi tidak dalam keadaan "berteman". Karena kau bersama temanmu dan aku bersama temanku. Rumit nggak sih? Nggak juga kan yah. Hahaha..
Lama nggak bertemu sepertinya kau nggak banyak berubah, masih sama seperti beberapa tahun lalu saat terakhir kali kita bertemu. Aku jadi rindu saat kau memanggilku Ros, Rosa Gallica. Dan kau, kau weker biotik, karena kau selalu membangunkanku pagi-pagi sekali. Tapi itu dulu, lama sekali. Setelah kau tiba-tiba menghilang. Kemudian kau kembali dengan penjelasan -setelah sekian lama- . Tapi semua rasa itu telah menguap bersama waktu.
Yah begitulah, kadang kita menyukai seseorang, kadang hanya sementara, kadang terlambat, kadang waktunya yang nggak tepat. Dan kau, kau termasuk yang terlambat. Ah tapi sudahlah, aku membahas ini hanya karena kita bertemu secara tidak sengaja semalam. Mari melanjutkan hidup :)

Oleh 
Diambil dari http://ilrow.blogspot.com/2013/01/weker-biotik.html

Semoga Engkau Bahagia


Teruntuk kamu,

Sepertinya saat ini aku sudah tidak berhak lagi untuk sekedar mengatakan ‘Apa kabar?’ atau bahkan ‘Aku merindukanmu’ haha.

Maaf aku tidak bisa menemuimu langsung, dan lagi-lagi mengirim surat kepadamu.

Aku sepertinya sudah terlambat untuk mengajakmu berbicara empat mata membicarakan perasaan kita –atau mungkin hanya aku– yang telah mengalir hampir tiga tahun ini. Aku takut salah bicara yang malah membuat hubungan kita hancur berantakan. Aku hanya takut kehilangan rasa nyaman darimu. Aku takut kita tak lagi bisa bersenda gurau hingga larut malam, berkeluh kesah, dan membicarakan hal-hal yang tidak penting.

Tapi justru ketakutankulah yang mengakibatkan hal lebih buruk terjadi. Waktu telah merenggut semuanya. Mungkin kau sudah terlalu lelah dengan ujung kisah kita. Mungkin kau telah kehilangan semua kenyamananmu bersamaku. Dan mungkin kau telah lelah menunggu tanpa berujung kepastian.

Hubungan kita mulai renggang. Bahkan kita pernah tak bertegur sapa seharian. Dan kau tidak memberi kabar dengan cara apapun. kau selalu menghindar bila aku terlihat akan menyapamu atau sebagainya. Aku tahu ini semua salahku. Aku yang yang terlalu tebal membentengi hatiku untuk jatuh cinta lagi.

Dan disaat hubungan kita merenggang, Dia datang. Dia membawamu bangkit bersamanya. Dia mulai mengisi hari-harimu dengan senyum dan tawa. Dan dia membuatmu lupa akan aku.

Tapi aku akan baik-baik saja, ya setidaknya di hadapanmu. Aku hanya ingin minta maaf atas semua sikapku. Aku minta maaf karna telah menyakitimu begitu rupa. Terhitung dari detik ini, aku melangkah keluar dari kehidupanmu. Dan aku harap kau bahagia.

Tertanda.

Aku yang pernah mencintaimu begitu rupa.


Oleh 
Diambil dari http://fairlyinsanegirl.wordpress.com/2013/01/18/semoga-engkau-bahagia/

Tergurat Surat Dalam Selembar Rindu


Hai, Kamu..

Surat ini kali pertama aku kirimkan setelah pertemuan kita kemarin lusa, entah mengapa rindu ini terburu-buru merangkulku, seolah tiada hari esok baginya untuk memeluk dari belakang. Sepertinya wajar saja aku merindukanmu begitu cepat, tidak ada celah bagi alasan untuk meniadakan rindu. Aku rindu setiap tawa kita, rindu berbagi cerita, rindu bermain bersama Brily. Apa kabar si ganteng? Dia begitu pintar di mataku, begitu hebat, dan begitu beruntung memilikimu. Aku sempat tersenyum ketika Brily memakan makanan pesananya, ketika dia mengatakan “makanannya ngga seenak masakan mommy”, tetiba aku membayangkan betapa enaknya masakanmu. Ly, kamu ingin berjanji? Nanti ketika kita bertemu aku ingin mencoba masakanmu, merasakan betapa kau lihai menjodohkan bumbu pada masakanmu. Aku ingin kamu masak makanan Makasar, apapun makanan yang kamu bisa masak mengenai kota yang terkenal dengan Coto Makasar-nya.

Oh iya, hayo tebak, aku menulis surat ini dimana? Aku menulisnya coffee shop tempat kita bertemu, tepat di meja kita menghabiskan pertemuan singkat selama beberapa jam, tepat di bangku yang pernah kamu duduki, dan sesaat setelah mengantarmu ke bandara yang mengharuskan kita berpisah sesaat. Rindu ini semakin mengental bersama secangkir caffeine yang baru saja aku pesan. Bibir ini di paksa tersenyum menahan rindu, tertawa mengingatmu juga Brily sedangkan hatiku mengisak tangisnya diam-diam dalam bisunya.
Ly, jaga kesehatanmu juga Brily. Jangan terlalu stress mengurus kerjaan hingga kamu lupa jadwal makan. Kemarin aku melihatmu semakin kurus dan wajahmu agak pucat, mungkin itu karena kerjaanmu yang terlalu banyak di tambah kesibukanmu mengurus rumah. Ly, jangan lupa minum vitamin dan banyak minum air putih. Kalau libur, usahakan istirahat di rumah. Kamu bisa main dengan Brily sambil menyalurkan hobi melukismu. Aku tidak hanya ingin melihatmu cantik, tapi juga sehat.

Di Jakarta-ku kini lengan waktu sudah memeluk pukul 22:22. Aku suka empat angka kembar itu, mitosnya jika kita melihat empat angka kembar dalam waktu itu artinya ada seseorang yang merindukan kita. Aku harap itu kamu, dan jika kamu melihat juga sudah pasti itu aku yang merindukanmu. Sepertinya segurat suratku kali ini sampai di sini saja, esok sudah hari senin dan kita kembali disibukan oleh aktivitas dan rindu yang menumpuk. Aku harap kamu menyempatkan waktumu untuk menuliskan balasannya.

~Aku..


Surat balasan dari @LelhyArief


Hey, Kamu..

Terima kasih sudah mengingatku dan menuangkannya dalam sebuah surat. Kamu mungkin tahu aku tersipu membacanya, namun yang terjadi saat ini bukan hanya tersipu namun serasa melayang, mungkin meja kantorku menertawakanku saat ini, senyumku menunjukkan bertapa senangnya aku membaca suratmu. Senyumanku membuka hari dan membuatku lebih semangat memulainya. Jika memang senyum itu ibadah, mungkin saat ini pahalaku berlipat ganda. Karena senyum ini tulus, Senyum penuh arti.
Fer, aku bisa merasakan detik demi detik waktumu di lalui tanpa aku. Berat ya? Pun aku sama beratnya, namun kusimpan rindu ini untuk hari yang lebih indah. Yang kubayangkan hanya kamu, aku dan Brily.

Aku bahagia ketika kau memuji masakan yang aku buat untukmu, kubumbui dengan rempah cintaku. Dan yang lebih membuatku bahagia, saat kau melahapnya tanpa satu katapun. Ingat waktu aku memasak spaghetti kesukaanmu, karena terburu-buru, aku tahu mungkin sedikit lebih pedas dari biasanya, namun kamu melahapnya dengan penuh cinta. Piring pun kosong, tersisa hanya senyumanmu yang menyiratkan sebuah pujian yang mungkin hanya aku yang bisa mengerti.

Terima kasih, kamu telah mengajarkanku untuk tersenyum dengan tulus. Setiap perbuatanmu selalu membuat wajah ini menarik garis bibirku begitu lebarnya. Jika air mata aku biarkan jatuh, yang ada hanya air mata kebahagiaan dan hanya kamu yang aku perbolehkan menghapusnya dari pipiku.

Kamu juga, jaga kesehatan. Aktivitasmu cukup sibuk lebih dari aku, bahkan kamu bisa bekerja hingga larut. Ingat aku, sesibuk apapun kamu.
Ingat kita, ingat senyumku ― senyum kita.

Kini saatnya aku mulai kerja, mungkin saat ini kamu masih di rumah. Semoga harimu menyenangkan.


~ Aku..



oleh @PenjahitHuruf dan @Lelhyarief
diambil dari http://penjahithuruf.wordpress.com/

Surat Cinta untuk Banjir


halo @banjir, salam basah. kutitipkan pesan dari anak kecil yang kedinginan, dari ibu-ibu yang tak punya daster lagi untuk dipakai, dari bapak-bapak yang kebingungan harus bermain karambol dimana, dari kardus-kardus yang kebasahan, dari pejabat yang tidak bisa lagi berangkat dengan iringan pengawal, dari macetnya kota jakarta, dari para borjuis yang tidak bisa lagi memampangkan ferrari-nya di jalan, dan dari para pejabat senayan yang kerepotan mencari muka, serta jutaan warga lain yang berempati : meredalah, / stop, / berhenti, / mengering, / hilang, / pergi, / go, / away, / leave, / never come back. dari - warga biasa diantara warga lain (yang mencoba berempati). ps: kami janji tidak buang sampah sembarangan lagi (kalau ingat), tidak mengubah daerah resapan hijau jadi mall (sumpah, kalau ingat) dll (kalau ingat) *30 hari menulis surat cinta, 19 Januari 2013, hari ke - 6*


oleh @shesagnostic
diambil dari http://semangkukbir.blogspot.com/

Saat Kita di Persimpangan


Dear Kezia Christa Freyna Naomi Firstha,


Aku hapal namamu lho. Hahahaha.

Ingat pertama kali kita bertemu delapan tahun yang lalu? Kamu—sebagai anak pindahan—melangkah masuk ke kelas tanpa ragu. Kamu cantik, kamu pintar, suaramu merdu. Dalam seminggu saja kamu sudah menjadi ratu. Semua guru mengelu-elukan namamu.
Tapi tidak denganku. Aku membencimu.
Aku membencimu yang lebih cantik daripadaku. Aku membencimu yang suka sok pintar di depan guru—oke aku tahu kau sebenarnya tidak bermaksud begitu. Aku membencimu yang selalu selangkah lebih maju di depanku. Rasanya aku ingin menendangmu jauh-jauh dari hadapanku.
Well, itu kan dulu.

Lucu ya? Musuh-musuhan aneh kita malah berakhir menjadi pertemanan penuh rasa. Kita suka tertawa keras-keras dimana-mana. Kita suka membicarakan kakak kelas tampan—untungnya kita setipe. Hahaha. Kita juga suka membicarakan anak aneh di sekolah. Akhir-akhir ini aku menjadi berpikir bahwa seharusnya kita harus berkaca. Kita juga aneh, kau tahu? Hihihi.
Kamu, adalah salah satu orang yang membuat masa SMA-ku berwarna. Kamu adalah orang yang mengenalkanku arti perbedaan.
Perbedaan?

 Kej. Kamu ingat waktu aku ke rumahmu? Kita masak sup krim bersama saat itu. Sewaktu aku pulang, ibuku menanyakan aku sudah makan atau belum. Waktu aku bercerita bahwa aku sudah makan di rumahmu, kau tahu reaksi ibuku?
“Kamu makan di rumah Kezia? Yakin nggak najis? Kezia punya anjing kan?  Nanti kalau anjingnya ternyata keliaran di rumah gimana? Alat makannya najis dong? Lain kali jangan makan di sana lagi deh.”
Aku hanya bisa melongo. Tidak paham cara berpikir ibuku. Mendadak aku menyesal pernah bercerita pada ibuk kalau kamu punya Cihua—anjing betinamu yang super galak itu.

Aku tidak pernah punya masalah dengan perbedaan keyakinan kita. Pancasila saja berkata bahwa Tuhan itu Maha Esa. Hanya saja kita menyebut-Nya dengan cara yang berbeda. Kita menyembah-Nya dengan cara yang berbeda. Kita meminta pada-Nya dengan cara yang berbeda.
Saat aku bersujud, kamu menengadah. Padahal detik itu kita meminta hal serupa; bahagia bersama. Suatu saat kita berjalan bersama, lalu terpisah di persimpangan saat adzan memanggilku atau alarm pengingat katekisasimu berbunyi. Padahal niat kita sama; mendekat pada Pencipta.
Kej, tidak pernah ada yang salah dengan keyakinan. Mungkin ini gila, tapi ada fantasi liarku yang berbisik-bisik bahwa selama ini kita hanya bercermin. Memuja satu Tuhan. Sekat-sekat yang memisahkan kita itu sebenarnya hanya kaca-kaca transparan yang lama-lama akan retak, lalu pecah. Lalu tangan kita akan bisa saling menyentuh sepenuhnya.
Kamu ingat waktu dengan iseng kita saling membandingkan?

“Di aku sih Adam dan Hawa. Terus makan buah khuldi.”
“Kalau aku Adam dan Eva. Terus makan apel.”
“Kalau aku Nuh.”
“Noah”
“Yusuf.”
“Joseph.”
“Daud.”
“David.”
“Isa.”
“Jesus.”

Kita saling menatap dalam hening. Lalu tertawa lepas sembari saling menggenggam tangan seperti biasa. Simpel sekali persahabatan kita; Tuhan itu dekat. Lebih dekat dari urat nadi kita. Menatap persahabatan kita yang penuh bahagia.

Salam cinta,

aku


oleh @tullatul
diambil dari http://gulajawadua.blogspot.com/

Aku Menyerah


selamat pagi pada kamu yang mungkin tak akan pernah membaca ini.

rintik hujan yang lembut masih menari ketika aku menulis ini, beberapa dari mereka malah melengket dijendela kamarku dan berusaha untuk tau aku menulis apa lagi tentang kamu, ini surat cinta yang ke enam, seharusnya kemarin aku mengirimkanmu surat kaleng, tapi karena begitu banyak pertimbangan, maka akhirnya tidak jadi kukirimkan.

sampai pada paragraf ini, sebenarnya aku tidak tau apa yang ingin aku tuliskan lagi. sakit hati perlahan membuncah dari dadaku, ada sesak yang menyelimuti paru-paruku. tapi aku akan berusaha menyelesaikan tulisan ini walau mungkin tak akan  terbaca olehmu.

aku mengehela napas sembari berpikir apa yang akan kukatakan pada kamu. pertama, mungkin aku akan minta maaf, minta maaf karena aku telah begitu lancang jatuh cinta pada kamu. minta maaf karena aku berharap dari setiap kebersamaan kita, minta maaf karena aku telah begitu berani memasuki kehidupanmu. aku minta maaf untuk semua itu.

kemarin, akhirnya aku jujur pada perempuan itu, perempuan yang menjadi kekasihmu. perempuan yang serupa malaikat itu memang baik sekali, senyumnya meneduhkan, pandangannya menenangkan, setelah berbicara dari hati kehati dengan dia, aku menemukan alasan kenapa kamu, lelaki yang kucintai, begitu jatuh cinta pada perempuan itu, ya karena dia begitu baik. dan beberapa alasan yang sudah kusebutkan diatas.
akhirnya kukatakan semuanya, tentang aku yang jatuh cinta kepada kamu, tentang semua kecurigaan orang terdekatnya mengenai perasaanku. akhirnya, dengan gamblang kuakui dihadapannya, bahwa aku mencintai kamu. lalu dia meremas jariku, dan meminta maaf seolah-olah yang bersalah adalah dia. ya Tuhan.. begitu jahatnya aku hingga pernah berusaha mengambil kebahagiaan perempuan ini? 

aku menitikkan beberapa air mata di hadapan perempuan itu, di tersenyum, lalu bilang tidak ada yang perlu dimaafkan. aku berterima kasih pada Tuhan untuk itu.
lalu kamu, yang ternyata mulai menghilang dari peredaran tata surya imajiku, yang sinar cahayamu bukan lagi redup, tapi tak bisa kutemukan dimana. 
dan walaupun masih mereka-reka, mungkin saja, mungkin saja aku tau jawabannya.
seperti pada surat kedua ku, kau mungkin menghindariku untuk menjaga perasaan malaikatmu itu, dan juga untuk mematikan rasa cinta yang ada di hatiku. tapi kenapa harus dengan cara begini? kenapa kau harus menyiksaku dengan cara seperti ini. dimana kamu yang dulu? inilah salah satu alasan aku tak mau kamu sadar tentang perasaanku, aku takut kamu malah menghindariku.

pada akhirnya, aku berjanji pada perempuan itu untuk melupakanmu. meski aku harus bersusah payah, akan kulakukan. keadaanpun memaksaku untuk membohongi perasaan, mengubur semua hal yang bahkan belum ingin mati. dan aku tak bisa apa-apa selain melakukan semua itu, untuk bahagiamu, untuk bahagianya, untuk bahagia kalian. aku harus rela pergi dan melupakan semua yang pernah kita lewati. atau mungkin membuangnya ke tempat sampah.

jika seandainya, kamu membaca surat ini, sekali lagi aku minta maaf karena telah mengusikmu. karena pada akhirnya, aku sudah lemah, aku terlampau lelah, lalu kalah. berbahagialah, aku sudah menyerah.
terakhir, terima kasih sudah mengizinkanku jatuh cinta padamu, walau jatuh cintaku hanya satu arah tanpa balas.



yang mencintaimu


Stephanie Litha


oleh @StephanieLitha
diambil dari http://stephanielitha.blogspot.com/

Surat Perpisahan untuk Bayanganmu


Selamat pagi, kamu yang tatapnya pernah menghadirkan rona merah pada pipi.

Bagaimana kabarmu sekarang? Sudah hitungan tahun aku tak melihatmu, bertukar sapa pun hanya ketika aku mengucap selamat ulang tahun beberapa bulan lalu. Kesibukkanku lebih kurang berpengaruh besar dalam upaya melupakanmu, kepindahanku pun banyak membantu dalam membuatku berhenti memikirkan segala tempat yang penuh kenangan tentangmu; kamu kini tak lebih dari sekumpulan memori yang tak ingin aku kunjungi lagi.

Aku masih ingat jelas ucapmu senja itu, “Aku sayang kamu.” Begitu ujarmu. Namun kali itu aku mengerti, kita tak akan pernah satu. Aku memilih pergi, Sayang. Kali itu aku yang memilih. Pergi tak pernah menjadi bagian dari rencana, namun sayangnya harus terlaksana. Bersama denganmu memang berarti bahagia, namun bahagia bersama berarti siap denganmu yang akan pergi suatu waktu. Dan aku tidak bisa. Aku sudah sepenuhnya mengerti; kita hanya ada untuk akhirnya dipisahkan kembali.

Karenanya, ini adalah surat terakhirku. Sesungguhnya bukan untukmu, tapi untuk bayanganmu. Kamu sudah lama tiada, bayanganmu yang masih tak hentinya nyata dalam kepala. Anggaplah surat ini sebagai selamat tinggal, sebagai perpisahan untuk apa yang bertahun-tahun lalu membuat kita pernah saling memperjuangkan. Aku hanya ingin kembali sepenuhnya jatuh cinta, tanpa dibayangi masa lalu akan kita. Aku hanya ingin kembali berbahagia.

Sudah cukup, ini saja. Selamat tinggal, kamu.

Semoga nantinya, bahagia akan jadi milik kita; meski itu berarti tak akan pernah bersama.


Selamat tinggal, Bayanganmu.


oleh @shcl
diambil dari http://shcal.blogspot.com/

Berhenti Bertanya dan nikahi Aku Sekarang!



Kepada:
Lelakiku yang (mungkin)sedang membaca 

Lelakiku…
Dulu kamu bertanya bagaimana cara menundukkanku. Ah, mengapa harus menundukkan? Bukankah cinta seharusnya mengenai kesetaraan? Di mana kedua belah pihak sama-sama menepukkan tangan. Tidak ada yang melebihi, dan tidak ada yang kurang. Tak ada yang harus menatap telapak kaki atau menengadahkan kepala saat ingin bertukar kasih sayang. Aku menghormati kamu sebagai imam dalam menyusuri jalan kebaikan. Kamu menghormati aku sebagai salah satu usahamu mengabdi pada Tuhan.

Lelakiku…
Kamu bertanya bagaimana cara meyakinkanku atas rasamu. Ah, mengapa harus aku dulu yang yakin? Bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Sini aku beri tahu satu rahasia. Meyakinkan aku untuk mencintaimu itu mudah. Kamu hanya butuh meyakinkan dirimu untuk mencintaiku. Jika itu terjadi, tak akan sulit membuat keyakinanku menebal. Setipis itu keyakinanmu, serapuh itu milikku. Ya, kira-kira sesederhana itu,

Lelakiku…
Kamu mulai bertanya di mana aku ingin tinggal nantinya. Lucu, apa harus aku robek dadamu dan mengatakan bahwa di hatimu lah aku ingin bersarang? Kamu tidak perlu mengorbankan kesehatan dan waktumu dengan keluarga demi menggundukkan uang untuk membuatkanku istana. Karena aku hanya ingin hidup bersahaja denganmu tanpa ada tembok tinggi dan para pengawal yang akan mengawasi. Kita akan mampu saling menjaga satu sama lain, bukan? Jangan ragu, kau boleh anggukkan kepalamu.

Lelakiku…
Kamu kembali bertanya sampai kapan kita akan tetap bersama. Untuk bisa menjawabnya, kamu harus berkenalan dengan Setia. Bersahabatlah dengan dia. Karena Setia yang menyediakan buku janji suci yang akan kita tulis berdua. Jangan pernah mengkhianati Setia, atau dia akan marah dan merobek buku janji suci kita. Dan jika saat itu tiba, mungkin kita harus memulai dari awal jika ingin kembali bersama. Ah, kamu mengkhawatirkan maut? Tidakkah kamu percaya Tuhan selalu punya cara untuk menyatukan dua hati yang sungguh-sungguh saling mencinta?

Lelakiku…
Mengapa kamu bertanya sebaik apa kamu dibandingkan sang masa laluku? Siapkah kamu atas jawaban bijak jika aku bertanya hal yang sama? Jadi mari kita buat kesepakatan, biarlah itu menjadi rahasia yang kita simpan dalam kenangan. Kita boleh saling membantu menggemboknya. Kita boleh saling menjadi pemegang kunci atasnya. Karena saat kita memutuskan untuk menyatu dalam ikatan suci, maka itu adalah saat di mana kita berhenti membandingkan sang masa lalu dengan kamu dan aku kini. Tak ada lagi terucap nama. Meski dalam candaan ketika terjadi perbedaan pendapat antara kita.

Lelakiku…
Lucu adalah ketika kamu bertanya apakah aku akan tetap mencintai kamu yang tua. Jika aku menjawab tidak, lalu kamu mau apa? Apakah perlu aku beri tahu dunia bahwa aku mendamba untuk menua bersamamu? Bahwa aku ingin tergopoh-gopoh berpegangan tangan denganmu demi agar kuat menggendong cucu? Bahwa aku ingin kita berjalan menyusuri halaman belakang saat senja, berakhir dengan membuka album lama lalu menertawai betapa serunya perjalanan kita?

Lelakiku…
Bisa berhenti bertanya dan nikahi aku sekarang?

Tertanda,
Perempuanmu

Bety

Oleh @I_am_BOA
Diambil dari http://auntybety.blogspot.com

Kepada Kawanku, di Seluruh Indonesia


Kepada Kawanku, di Seluruh Indonesia,

Ini Jakarta
Ibukota Indonesia 
kalian tentu tahu itu

Kota yang super sibuk selama 24 jam, Kota pemerintahan, semua warga berlomba-lomba menuju ke kota ini.
Yang katanya kota sejumpa mimpi.
Ya, ini Jakarta.
Taukah kalian, beberapa hari ini kota ini diberhentikan sementara waktu atas kuasa-Nya. Kota ini Lumpuh.
Kota ini tenggelam, Kota ini berwarna coklat jika kalian melihat dari atas. 
Kota ini sedang dalam musibah, warga di kota ini sedang di uji oleh yang di atas.

Banyak korban, banyak sekali kawan. musibah ini tak memandang bulu, semuanya mendapatkan dampaknya.

Kalian mungkin melihat kami dari televisi,koran,dll. itu memang benar-benar terjadi kawan.

Hari ini cerah, matahari terlihat memancarkan sinarnya. namun kawan, masih banyak yang kedinginan di sudut jakarta, masih banyak.
masih banyak yang terjebak dirumahnya kelaparan, menunggu evakuasi. masih banyak.
masih banyak korban yang berjatuhan, dari bayi sampai orang tua.

kami masih membutuhkan bantuanmu kawan, kami membutuhkan uluran tanganmu.
sadarlah kalian kita sebagai manusia harus tolong menolong bahu membahu.
saat ini kami sangat membutuhkan pertolongan dari kawan-kawan semua.

Jangan hanya melihat kami dari televisi,koran atau apapun itu, karena kami membutuhkan kalian. SEKARANG !.



-Kawan kalian di Jakarta-

Oleh @kaikarizka
Diambil dari http://kaikarizka.blogspot.com

Surat Cinta Kepada Matahari


Kepada matahari,

Saat engkau muncul di ufuk timur, mengapa selalu bisa mengajak orang-orang lekas bangun pagi

Saat engkau tenggelam, sebagian mereka mengingat kisah-kisah menyedihkan atau masa lampau

Sementara ketika siang di musim kemarau, selalu membuat terik panas untuk orang-orang yang ada dibawahmu.

Maka matahari, dengan ini aku sampaikan terimakasih. karenanya aku bisa menangkap cahaya saat kau mulai kembali menyinari semesta.

Sekian.

Salam,

Dari apel.

Oleh @hurufminor
Diambil dari http://hurufminor.wordpress.com

Terima Kasih Untukmu


Matahari sudah berada tepat diatas kepalaku dan kepalamu, barulah aku berani menuliskan ini untukmu—tulisan mana yang seharusnya menjadi surat cinta, namun karena aku tak punya romantisme maka tak memungkinkan bagiku untuk menjalin kata menjadi kalimat ataupun sajak dengan indah, yang akan mampu membius pikiranmu dan membelai hatimu. Jadi terimalah surat cinta yang singkat dan sederhana ini dariku.

Surat ini seharusnya diawali dengan pertanyaan tentang kabar sebagai formalitas sebuah surat. Maka aku akan bertanya, “Bagaimana tidurmu semalam? Apakah kau mimpi indah? Bagaimana harimu dalam 12 jam pertama hari ini?”. Aku tahu aku tak akan mendapatkan jawabannya, makanya aku berdoa, “Semoga semuanya menyenangkan. Dan semoga begitu seterusnya”.

Tujuan sebenarnya aku menuliskan surat cinta ini adalah untuk memberitahumu ungkapan rasa terima kasihku padamu dengan rasa penuh cinta. Oh tentu saja, cinta tak harus berupa romantisme antara sepasang kekasih kan? Cinta dalam pengertian yang universal, bisa juga adalah cinta antara ayah dan anak, antara kakak dan adiknya, antara sahabat dengan sahabatnya, antara guru dan murid, antara pimpinan dan yang dipimpin. Banyak hal.

Aku ingin mengucapkan terima kasih, meski tak secara langsung…
Terima kasih telah membawa semangat pada diri saya.
Terima kasih telah menginspirasi saya untuk menjadi lebih baik.
Terima kasih telah memberi harapan untuk kehidupan yang lebih baik.
Di saat diri ini sedang patah, rapuh dan kering, mendapat semangat, inspirasi dan harapan seolah adalah oase ditengah padang gurun. Terima kasih.

Mulai saat ini aku akan berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa—setidaknya aku akan mencoba. Suatu hari nanti, semoga aku dapat bertemu denganmu lagi atau suatu saat nanti jika aku telah menjadi orang yang lebih baik, aku akan datang padamu, dan aku akan mengucapkan terima kasih secara langsung padamu. Kau pasti akan mentertawakanku karena aku mengungkapkannya dan akupun demikian, aku juga akan tertawa, karena tidak ada yang perlu dianggap terlalu serius.

Sekali lagi, terima kasih.
Sampai jumpa suatu saat nanti.

Best regards,

Karisha Riandianti M. B., S.H.

Oleh @kriandianti
Diambil dari http://kriandianti.tumblr.com