Lodtunduh, 29 Januari 2013
Untuk yang baru saja kutinggali,
Aku sedang bermanja dengan kesunyian, disalah satu desa di Ubud yang semudah beberapa detik bisa membuatku terlelap ketiduran. Katanya hidup ini perlu keseimbangan, maka aku memilih meninggalkanmu sebentar untuk menepi dari keramaian.
Jangan cemburu, baru beberapa waktu aku menyebrang pulau saja hati ini sudah rindu. Sungguh, aku tidak kecewa terhadap hiruk-pikuk berita duka yang menimpamu di layar kaca minggu lalu. Sungguh, bukan ini alasanku menepi darimu. Tiap malam aku berdoa pada Tuhan, agar menadahkan wadah-wadah airmata bagi langit agar tak tumpah pada kota tercintaku. Aku berdoa agar Tuhan menyembuhkan luka di dada setiap pusat kota, agar kau pun tak kena imbasnya. Aku pun selalu berdoa bagi pemegang kendali atas ibu kota ini. Aku tahu, kau sedang dipegang oleh orang yang tepat. Dua perawakan Jawa-Cina yang sangat kuhormati semoga benar-benar bisa menjagamu dengan sepenuh hati. Aku pergi hanya untuk beberapa pekan, mari kita sama-sama belajar saling merindukan.
Jakarta, dibatas waktu saat nanti kita kembali bertemu. Aku ingin menyender dibalik keramaianmu, bisa siapkan tempat untukku? Aku akan kembali secepatnya. Tunggu ya.
Penghunimu yang sedang menepi.
Oleh @lovepathie
Diambil dari http://lovepathie.tumblr.com/post/41777786195/kembali-ke-jakarta
#30HariMenulisSuratCinta adalah proyek non komersil yang digagas untuk menggabungkan kesenangan menulis di twitter dan blog. Proyek belajar menulis bersama ini dilaksanakan setiap 14 Januari - 14 Februari setiap tahunnya. Ini adalah tahun ketiga pelaksanaan proyek menulis yang juga menjadi ajang silaturahmi dari blog ke blog.
Showing posts with label Surat Cinta #16. Show all posts
Showing posts with label Surat Cinta #16. Show all posts
30 January 2013
Take Me Out to Berastagi, Now!
Dear @yutaria ,
Me miss you so bad!
Gue kangen banget sama lo. Pertemuan beberapa jam di bulan September 2012 lalu tidak jua meredakan kangen gue ke lo. Cuma beberapa saat saja, and actually i need more and more time to talks with you! Ah, but when? :') Kita terlalu sibuk dengan pekerjaan masing - masing. Gue dengan keribetan dunia entrepeneur gue, lo dengan dunia bisnis pendidikan lo. Apa kabar "Serdika Tutorial?" Semakin sukses dong ya di tangan lo pastinya. I can't doubt it! ;)
By the way, semalam gue stalking page Facebook lo. Aha iya, I'm the greatest stalker! :p
Gue selalu iri deh sama lo Tha, dijaman heits-nya Twitter, lo masih setia dengan Facebook and you're a celeb there! Iya sih gue tahu, the biggest reason why you've stayed in FB just because the foreigners! Am I right? Gue juga sih sebenernya. Saking banyak-nya temen - temen foreigners gue yang gak bisa main Twitter, gue masih harus suka buka Facebook untuk sekedar bertegur sapa lewat kolom chatting-nya. But its fun, except the games and apps which became too annoyed! (--,)
Okay, back to point of why I wrote this letter for you,
Tha, gue pengen ke Berastagi! Iya, gue pengen banget ke Berastagi!
Ngeliat foto - foto di Facebook lo tentang Berastagi dan objek - objek wisata disekitarnya itu drooling me so bad! I wanna be there! Gue pengen banget naik kuda ke Bukit Gundaling, ke Gunung Sibayak, ke Gunung Sinabung yanng ada Danau Lau Kawar nya itu, ke Hill Park, Ke Vihara Lumbini, foto di depan Tugu kota yang bentuknya 'kol' (bener gak?), terus nanti ujung - ujungnya ke Danau Toba dan ntar nginepnya di rumah lo ya Tha, iya doong :D.
Pokoknya gue gak sabar banget pengen ke Berastagi! Cuma Medan - Berastagi satu - satunya kota di Sumatera yang belum pernah gue kunjungi selain Aceh. Lo tau kan gue selalu kagum sama daerah pegunungan? Serasa saat ini juga gue pengen loncat ke suatu tempat yang dingin dan sejuk serta nyaman buat menghapus semua stress karena kerjaan gue ini and surely Berastagi is the next destination!
So, please take me out to Berastagi, Now!
Oleh @lionychan untuk @yutaria
Diambil dari http://www.lionymayestica.com/2013/01/take-me-out-to-berastagi-now.html
Me miss you so bad!
Gue kangen banget sama lo. Pertemuan beberapa jam di bulan September 2012 lalu tidak jua meredakan kangen gue ke lo. Cuma beberapa saat saja, and actually i need more and more time to talks with you! Ah, but when? :') Kita terlalu sibuk dengan pekerjaan masing - masing. Gue dengan keribetan dunia entrepeneur gue, lo dengan dunia bisnis pendidikan lo. Apa kabar "Serdika Tutorial?" Semakin sukses dong ya di tangan lo pastinya. I can't doubt it! ;)
By the way, semalam gue stalking page Facebook lo. Aha iya, I'm the greatest stalker! :p
Gue selalu iri deh sama lo Tha, dijaman heits-nya Twitter, lo masih setia dengan Facebook and you're a celeb there! Iya sih gue tahu, the biggest reason why you've stayed in FB just because the foreigners! Am I right? Gue juga sih sebenernya. Saking banyak-nya temen - temen foreigners gue yang gak bisa main Twitter, gue masih harus suka buka Facebook untuk sekedar bertegur sapa lewat kolom chatting-nya. But its fun, except the games and apps which became too annoyed! (--,)
Okay, back to point of why I wrote this letter for you,
Tha, gue pengen ke Berastagi! Iya, gue pengen banget ke Berastagi!
Ngeliat foto - foto di Facebook lo tentang Berastagi dan objek - objek wisata disekitarnya itu drooling me so bad! I wanna be there! Gue pengen banget naik kuda ke Bukit Gundaling, ke Gunung Sibayak, ke Gunung Sinabung yanng ada Danau Lau Kawar nya itu, ke Hill Park, Ke Vihara Lumbini, foto di depan Tugu kota yang bentuknya 'kol' (bener gak?), terus nanti ujung - ujungnya ke Danau Toba dan ntar nginepnya di rumah lo ya Tha, iya doong :D.
Pokoknya gue gak sabar banget pengen ke Berastagi! Cuma Medan - Berastagi satu - satunya kota di Sumatera yang belum pernah gue kunjungi selain Aceh. Lo tau kan gue selalu kagum sama daerah pegunungan? Serasa saat ini juga gue pengen loncat ke suatu tempat yang dingin dan sejuk serta nyaman buat menghapus semua stress karena kerjaan gue ini and surely Berastagi is the next destination!
So, please take me out to Berastagi, Now!
Oleh @lionychan untuk @yutaria
Diambil dari http://www.lionymayestica.com/2013/01/take-me-out-to-berastagi-now.html
Aku Jatuh Cinta, Sidoarjo
aku memang belum lama tinggal di kota ini. tetapi kenangan yang terkumpul membuat rasa itu tumbuh. ya, aku jatuh cinta pada kota ini. mungkin kota ini tak seluas kota lainnya. tapi bagiku, cukup. cukup mengesankan.
aku dan adikku biasa mengelilingi kota dengan motorku. sederhana memang. tapi begitulah kebersamaan cinta. indah bukan?
dua kali aku terjatuh di aspal Sidoarjo. sakit. sungguh. tapi setidaknya aku mendapat banyak pengalaman dari itu.
kota ini memang sederhana. bagiku tak sempurna.
justru karna kesederhanaan itulah aku jatuh cinta pada kota ini, Sidoarjo :)
Oleh @lunaisyah
Diambil dari http://luna-aisyah.blogspot.com/2013/01/aku-jatuh-cinta-sidoarjo.html
aku dan adikku biasa mengelilingi kota dengan motorku. sederhana memang. tapi begitulah kebersamaan cinta. indah bukan?
dua kali aku terjatuh di aspal Sidoarjo. sakit. sungguh. tapi setidaknya aku mendapat banyak pengalaman dari itu.
kota ini memang sederhana. bagiku tak sempurna.
justru karna kesederhanaan itulah aku jatuh cinta pada kota ini, Sidoarjo :)
Oleh @lunaisyah
Diambil dari http://luna-aisyah.blogspot.com/2013/01/aku-jatuh-cinta-sidoarjo.html
Malang, Aku Bercerita
Malang, untuk kisah cinta malang
Dari sini aku mengenal jarak dan dipaksa menyerah olehnya dengan kamu pria pertama yang membuatku jatuh cinta.
Disini aku mengakhirkan perjuangan memulihkan hati dengan kamu yang sempat memberiku perhatian lebih.
Disini aku kembali membuka hati dengan kamu yang ku anggap mampu memulihkan hati namun kembali harus menutupnya sebelum berhasil menempatkanmu di hati ini.
Disini aku memaksakan untuk menyembuhkan hati dengan kamu sahabatku sensiri dan berujung dengan saling menyakiti.
Memang, kisah cintaku terbilang malang sesuai dengan nama kota ini, Malang.
Malang, untuk hariku yang tak malang
Disini aku aku banyak belajar tentang hidup. Dimana aku harus bisa berkomunikasi yang baik dengan orang yang baru saja aku kenal. Dimana aku harus menghargai arti uang dan yang terpenting bagaima aku harus menghargai waktu yang sering aku buang sia-sia.
Disini, tempat pertama aku harus jauh dari keluarga. Disini tempatku menumpang untuk mencari ilmu.
Dan disini pula Tuhan memberiku keluarga baru untuk menemani hariku. Aku bersyukur memiliki mereka. Karena mereka, hariku tak malang seperti nama kota ini, Malang.
Malang, untuk mereka yang selalu membuatku senang
Disini aku menemukan keluarga baruku. Mereka yang selalu ada saat aku butuhkan. Mereka yang selalu membuatku tersenyum.
Gadis kecil berkaca mata dan bertampang jutek yang kutemukan saat ospek.
Gadis kecil berkerudung dan sangat periang yang sering dibilang mirip denganku.
Gadis berambut pendek yang sudah ku anggap seperti kakakku.
Gadis berkulit sawo matang yang dengan sabar mendengarkan keluh kesahku.
Gadis berkurudung yang mengau dirinya peranakan Uzbek.
Pria berkumis tipis berkaca mata dengan sejuta ucapan manisnya. Beruntung aku tak berpikir untuk jatuh cinta denganmu.
Pria bertubuh bongsor dengan segala ketidak jelasan dan leluconnya yang selalu dapat menghibur.
Pria dengan sosok peranakan china dengan segala kata-katanya yang tajam.
Pria berkaca mata namun tak berkumis yang sangat cuek namun selalu asik untuk jadi bahan bullyan.
Dan, pria berkulit sawo matang yang sangat sabar dan rajin ibadah.
Aku bersyukur bisa mengenal kalian. Aku tak sabar melihat kita mewujudkan mimpi-mimpi besar yang kita ciptakan.
Malang, cukup disini aku bercerita. Aku beruntung memiliki kesempatan untuk menikmati hidup disini.
Malang, 29 Januari 2013
Aku.
Oleh @oriin_
Diambil dari http://orindmorind.blogspot.com/2013/01/malang-aku-bercerita.html#links
Dari sini aku mengenal jarak dan dipaksa menyerah olehnya dengan kamu pria pertama yang membuatku jatuh cinta.
Disini aku mengakhirkan perjuangan memulihkan hati dengan kamu yang sempat memberiku perhatian lebih.
Disini aku kembali membuka hati dengan kamu yang ku anggap mampu memulihkan hati namun kembali harus menutupnya sebelum berhasil menempatkanmu di hati ini.
Disini aku memaksakan untuk menyembuhkan hati dengan kamu sahabatku sensiri dan berujung dengan saling menyakiti.
Memang, kisah cintaku terbilang malang sesuai dengan nama kota ini, Malang.
Malang, untuk hariku yang tak malang
Disini aku aku banyak belajar tentang hidup. Dimana aku harus bisa berkomunikasi yang baik dengan orang yang baru saja aku kenal. Dimana aku harus menghargai arti uang dan yang terpenting bagaima aku harus menghargai waktu yang sering aku buang sia-sia.
Disini, tempat pertama aku harus jauh dari keluarga. Disini tempatku menumpang untuk mencari ilmu.
Dan disini pula Tuhan memberiku keluarga baru untuk menemani hariku. Aku bersyukur memiliki mereka. Karena mereka, hariku tak malang seperti nama kota ini, Malang.
Malang, untuk mereka yang selalu membuatku senang
Disini aku menemukan keluarga baruku. Mereka yang selalu ada saat aku butuhkan. Mereka yang selalu membuatku tersenyum.
Gadis kecil berkaca mata dan bertampang jutek yang kutemukan saat ospek.
Gadis kecil berkerudung dan sangat periang yang sering dibilang mirip denganku.
Gadis berambut pendek yang sudah ku anggap seperti kakakku.
Gadis berkulit sawo matang yang dengan sabar mendengarkan keluh kesahku.
Gadis berkurudung yang mengau dirinya peranakan Uzbek.
Pria berkumis tipis berkaca mata dengan sejuta ucapan manisnya. Beruntung aku tak berpikir untuk jatuh cinta denganmu.
Pria bertubuh bongsor dengan segala ketidak jelasan dan leluconnya yang selalu dapat menghibur.
Pria dengan sosok peranakan china dengan segala kata-katanya yang tajam.
Pria berkaca mata namun tak berkumis yang sangat cuek namun selalu asik untuk jadi bahan bullyan.
Dan, pria berkulit sawo matang yang sangat sabar dan rajin ibadah.
Aku bersyukur bisa mengenal kalian. Aku tak sabar melihat kita mewujudkan mimpi-mimpi besar yang kita ciptakan.
Malang, cukup disini aku bercerita. Aku beruntung memiliki kesempatan untuk menikmati hidup disini.
Malang, 29 Januari 2013
Aku.
Oleh @oriin_
Diambil dari http://orindmorind.blogspot.com/2013/01/malang-aku-bercerita.html#links
Yogya-heART-a
Timurmu adalah tempatku pertama kali menyapamu setiap kali aku datang, dan dalam hatiku selalu berkata, "Aku pulang."
Selatanmu adalah tempatku melepaskan segala bebanku, membiarkan mereka pergi ke lautan tersapu ombak dengan deru yang menenangkan.
Tengahmu adalah tempatku merasa sendirian di tengah keramaian, menapaki setiap jalan yang penuh dengan manusia yang tidak aku kenal.
Utaramu adalah tempatku mendinginkan hati yang mendidih karena cemburu, menyentuh titik-titik embun yang menjadikanku suci di ketinggian.
Baratmu adalah tempatku mengadu, mencaci, dan menumpahkan segala kekesalanku, karena lelaki yang paling kubenci ada di baratmu. Ayahku.
Aku mencintaimu dengan semua kehidupanku yang pernah ada di dalammu. Aku telah melewati bagian tersulit dan terindah di hidupku di dalammu. Dan kelak aku akan tua dan mati di dalammu.
Yogyakarta, kota yang aku cintai, aku titip kekasihku saat ini. Jagalah dia sampai akhirnya dia menjemputku dan membawaku pulang nanti.
Oleh @meyrzashrie
Diambil dari http://meyrzashrie.blogspot.com/2013/01/yogya-heart-a.html
Selatanmu adalah tempatku melepaskan segala bebanku, membiarkan mereka pergi ke lautan tersapu ombak dengan deru yang menenangkan.
Tengahmu adalah tempatku merasa sendirian di tengah keramaian, menapaki setiap jalan yang penuh dengan manusia yang tidak aku kenal.
Utaramu adalah tempatku mendinginkan hati yang mendidih karena cemburu, menyentuh titik-titik embun yang menjadikanku suci di ketinggian.
Baratmu adalah tempatku mengadu, mencaci, dan menumpahkan segala kekesalanku, karena lelaki yang paling kubenci ada di baratmu. Ayahku.
Aku mencintaimu dengan semua kehidupanku yang pernah ada di dalammu. Aku telah melewati bagian tersulit dan terindah di hidupku di dalammu. Dan kelak aku akan tua dan mati di dalammu.
Yogyakarta, kota yang aku cintai, aku titip kekasihku saat ini. Jagalah dia sampai akhirnya dia menjemputku dan membawaku pulang nanti.
Oleh @meyrzashrie
Diambil dari http://meyrzashrie.blogspot.com/2013/01/yogya-heart-a.html
Potrosari Kidul
Hai Magelang, bagaimana kabarmu sekarang? Kamu pasti sedang berduka setelah kejadian Merapi beberapa waktu lalu. Aku melihat berita tentangmu melalui televisi, beberapa kali Merapi terbatuk. Tapi semoga bisa tetap menguatkanmu.
Sepertinya aku lama tak mengunjungimu. Mungkin sudah 4 tahun yang lalu terakhir kali aku menyapa pagimu. Masihkah lengang jalan kotamu? Ataukah sudah banyak penghuni kota besar yang menginvasi (hayah, bahasamu lee)?
Kamu tahu? Meski sudah hampir 5 tahun aku tak mengunjungimu, tapi kamu akan selalu menjadi bagian dihidupku. Enggak percaya? Bagaimana cara agar aku melupakanmu jika di KTP-ku selalu tertulis namamu? Bukan hanya tempat lahir, ada teman, masa kecil, dan salak pondoh. Wah yang kusebut terakhir itu benar-benar bisa membiusku.
Jangankan Jakarta, dari Surabaya tempat tinggalku sekarang-pun kamu masih jauh lebih kecil, tapi kamu mempunyai tempat yang tak kalah besar dihatiku. Dulu sering sekali ku menyapamu, setidaknya setahun sekali saat lebaran Idul Fitri datang. Tapi semenjak kepergian nenek sekitar 4 tahun lalu, aku tak pernah lagi menginjakkan kakiku disana.
Emm, aku mau buat pengakuan. Kurang lebih 11 bulan yang lalu aku mengunjungi tetanggamu, Jogjakarta. Tapi maaf aku tak sempat mengunjungimu. Aku tak mengelak, waktulah yang membuatku tak bisa menyapamu. Kamu mau khan memaafkanku? Aku janji diwaktu yang lain jika aku berkesempatan mengunjungi Jogja aku akan mengunjungimu.
Potrosari Kidul, alamat rumah kakek dan nenekku. Dengan pemandangan Gunung Sumbing di sebelah barat dan hamparan sawah yang hijau menambah kesejukan. Berjalan ke tengah kota dimalam minggu, Wedang Ronde dan lesehan di Alun-alun. Dingin yang menyapa pagi seperti mengajak aku untuk melangkah kembali ke tempat tidur. Terik matahari yang menyengat serasa hangat karena angin yang meniup perlahan.
Ah, aku benar-benar merindukanmu. Merindukan keramahanmu, merindukan semua kenanganmu, merindukan semua tentangmu.
Oiya, aku ada permintaan untukmu. Bisakah kau menjaga dirimu tetap ramah seperti dulu? Bisakah kamu menjaga kesejukanmu saat aku mengunjungimu suatu saat nanti? Tahun ini, yah tahun ini aku akan mengunjungimu. Semoga.
~ Dari orang yang sedang berperang dengan hati.
Oleh @mazni_
Diambil dari http://dmazni.wordpress.com/2013/01/29/potrosari-kidul/
Sepertinya aku lama tak mengunjungimu. Mungkin sudah 4 tahun yang lalu terakhir kali aku menyapa pagimu. Masihkah lengang jalan kotamu? Ataukah sudah banyak penghuni kota besar yang menginvasi (hayah, bahasamu lee)?
Kamu tahu? Meski sudah hampir 5 tahun aku tak mengunjungimu, tapi kamu akan selalu menjadi bagian dihidupku. Enggak percaya? Bagaimana cara agar aku melupakanmu jika di KTP-ku selalu tertulis namamu? Bukan hanya tempat lahir, ada teman, masa kecil, dan salak pondoh. Wah yang kusebut terakhir itu benar-benar bisa membiusku.
Jangankan Jakarta, dari Surabaya tempat tinggalku sekarang-pun kamu masih jauh lebih kecil, tapi kamu mempunyai tempat yang tak kalah besar dihatiku. Dulu sering sekali ku menyapamu, setidaknya setahun sekali saat lebaran Idul Fitri datang. Tapi semenjak kepergian nenek sekitar 4 tahun lalu, aku tak pernah lagi menginjakkan kakiku disana.
Emm, aku mau buat pengakuan. Kurang lebih 11 bulan yang lalu aku mengunjungi tetanggamu, Jogjakarta. Tapi maaf aku tak sempat mengunjungimu. Aku tak mengelak, waktulah yang membuatku tak bisa menyapamu. Kamu mau khan memaafkanku? Aku janji diwaktu yang lain jika aku berkesempatan mengunjungi Jogja aku akan mengunjungimu.
Potrosari Kidul, alamat rumah kakek dan nenekku. Dengan pemandangan Gunung Sumbing di sebelah barat dan hamparan sawah yang hijau menambah kesejukan. Berjalan ke tengah kota dimalam minggu, Wedang Ronde dan lesehan di Alun-alun. Dingin yang menyapa pagi seperti mengajak aku untuk melangkah kembali ke tempat tidur. Terik matahari yang menyengat serasa hangat karena angin yang meniup perlahan.
Ah, aku benar-benar merindukanmu. Merindukan keramahanmu, merindukan semua kenanganmu, merindukan semua tentangmu.
Oiya, aku ada permintaan untukmu. Bisakah kau menjaga dirimu tetap ramah seperti dulu? Bisakah kamu menjaga kesejukanmu saat aku mengunjungimu suatu saat nanti? Tahun ini, yah tahun ini aku akan mengunjungimu. Semoga.
~ Dari orang yang sedang berperang dengan hati.
Oleh @mazni_
Diambil dari http://dmazni.wordpress.com/2013/01/29/potrosari-kidul/
Untukmu, Kota Kecil
Selamat siang kota ku yang tersayang,
aku nggak tau apa aku pantas menyebutmu dengan sebutan kota'ku' atau tidak, karena sebenarnya aku lahir di kota besar yang ramai itu, bukan disini, tapi selang waktu bergulir dari berumur 3 tahun semua ceritaku tergantung di dalam air,tanah dan aktifitasmu.
Kamu, ah kamu bukan seorang manusia, tapi aku menghargaimu sebanyak aku menghargai seorang manusia. Kota kecil yang sekarang lebih di kenal dengan kota industrial, tentunya karena di tanahmu ini banyak industri yang terbangun dengan indahnya. Banyak orang di kotamu ini, tentu disini tidak banyak orang yang betul-betul asli dari mu yang dulu. Kebanyakan orang disini adalah perantau yang mencari nafkah, tentu untuk keluarga yang tercinta.
Aku? aku hanyalah seorang gadis kecil yang masih saja memanjakan diriku disini, tapi aku akan pergi sebentar lagi, jangan kuatir aku akan kembali untuk mengunjungi mu nanti. Akhir tahun aku akan pergi, pindah ke kota sebelah, ya si Singa. haha.
hei kota kecil yang indah, kamu memang tidak menyenangkan tentunya karena disini tidak banyak tempat untuk kita lihat, tidak seperti kota kota besar yang selalu di banggakan. Kamu, kamu unik dalam cara mu sendiri. Aku selalu mencintaimu, pantaimu yang tidak terkenal dengan kata 'indah' masih indah di mataku, aku tidak peduli dengan komentar orang lain, mereka tidak mengenalmu sebaik aku mengenalmu. Mereka masih terus saja menghancurkanmu, membangun bangunan yang tidak berguna, mengapa mereka tidak melestarikan keindahanmu saja, mereka bodoh, tapi aku tidak, aku akan menjagamu dengan segenap hatiku.
Sudah dulu ya kota kecil yang ku cintai. Surat cintaku ini special, pake telur hanya untukmu.
Dariku,
gadis yang menumpang disini.
Oleh @lolytaabella
Diambil dari http://theauroraluminary.blogspot.com/2013/01/untukmu-kota-kecil.html
aku nggak tau apa aku pantas menyebutmu dengan sebutan kota'ku' atau tidak, karena sebenarnya aku lahir di kota besar yang ramai itu, bukan disini, tapi selang waktu bergulir dari berumur 3 tahun semua ceritaku tergantung di dalam air,tanah dan aktifitasmu.
Kamu, ah kamu bukan seorang manusia, tapi aku menghargaimu sebanyak aku menghargai seorang manusia. Kota kecil yang sekarang lebih di kenal dengan kota industrial, tentunya karena di tanahmu ini banyak industri yang terbangun dengan indahnya. Banyak orang di kotamu ini, tentu disini tidak banyak orang yang betul-betul asli dari mu yang dulu. Kebanyakan orang disini adalah perantau yang mencari nafkah, tentu untuk keluarga yang tercinta.
Aku? aku hanyalah seorang gadis kecil yang masih saja memanjakan diriku disini, tapi aku akan pergi sebentar lagi, jangan kuatir aku akan kembali untuk mengunjungi mu nanti. Akhir tahun aku akan pergi, pindah ke kota sebelah, ya si Singa. haha.
hei kota kecil yang indah, kamu memang tidak menyenangkan tentunya karena disini tidak banyak tempat untuk kita lihat, tidak seperti kota kota besar yang selalu di banggakan. Kamu, kamu unik dalam cara mu sendiri. Aku selalu mencintaimu, pantaimu yang tidak terkenal dengan kata 'indah' masih indah di mataku, aku tidak peduli dengan komentar orang lain, mereka tidak mengenalmu sebaik aku mengenalmu. Mereka masih terus saja menghancurkanmu, membangun bangunan yang tidak berguna, mengapa mereka tidak melestarikan keindahanmu saja, mereka bodoh, tapi aku tidak, aku akan menjagamu dengan segenap hatiku.
Sudah dulu ya kota kecil yang ku cintai. Surat cintaku ini special, pake telur hanya untukmu.
Dariku,
gadis yang menumpang disini.
Oleh @lolytaabella
Diambil dari http://theauroraluminary.blogspot.com/2013/01/untukmu-kota-kecil.html
Untuk Makassar
Untuk Makassar.
Kota tempatku merajut asa, tempat banyak kisah senyum ada, pun sesekali kecewa datang menyapa.kota yang baik, tak seperti yang selalu perlihatkan di layar kaca, mereka belum punya waktu saja untuk duduk di tiap sudutmu dan menyaksikan nyata yang ada. Kota yang ramah tempat pecahnya tawa di tengah ragam suku yang ada, tempat nyaman berbagi cerita saat malam tiba, penyembuh tiap penat kepala di losarimu yang indah. Ahh iya kau juga jadi saksi senyum dari salah satu penghunimu membuat hatiku pertama kali jatuh, kutitip ia dengan tiap orang-orang baik disana dan semoga yang buruk jauh darinya.
Makassar, terima kasih dengan segala baik yang kau punya, tawa bahagia juga ramah yang penuh canda, dan kecewa ahh itu akan membuatku lebih baik nantinya.
terima kasih, Makassar.
Oleh @mengawali
Diambil dari http://catatan-awal.blogspot.com/2013/01/untuk-makassar.html
Kota tempatku merajut asa, tempat banyak kisah senyum ada, pun sesekali kecewa datang menyapa.kota yang baik, tak seperti yang selalu perlihatkan di layar kaca, mereka belum punya waktu saja untuk duduk di tiap sudutmu dan menyaksikan nyata yang ada. Kota yang ramah tempat pecahnya tawa di tengah ragam suku yang ada, tempat nyaman berbagi cerita saat malam tiba, penyembuh tiap penat kepala di losarimu yang indah. Ahh iya kau juga jadi saksi senyum dari salah satu penghunimu membuat hatiku pertama kali jatuh, kutitip ia dengan tiap orang-orang baik disana dan semoga yang buruk jauh darinya.
Makassar, terima kasih dengan segala baik yang kau punya, tawa bahagia juga ramah yang penuh canda, dan kecewa ahh itu akan membuatku lebih baik nantinya.
terima kasih, Makassar.
Oleh @mengawali
Diambil dari http://catatan-awal.blogspot.com/2013/01/untuk-makassar.html
Kota Malaikat
Kamu bisa melihat satu sudut dari potret disana?
Kamu jatuh cinta? Saya juga demikian.
Namanya Kota Sibolga. Sering kusebut-sebut kota malaikat. Tempat malaikatku bertempat. Mama.
Mungkin terdengar asing, karena kota ini memang tidak terlalu terkenal karena belum maju.
Jarak antara kota Medan dan Sibolga adalah sekitar +349 km dari sebelah barat daya kota Medan dan untuk pulang pergi jarak ini dikalikan dua.
Sibolga, kotamu bukan saja kupandang sebagai bingkai keindahan semata. Jejak-jejak yang kulepas ditanahmu membuatmu lebih indah daripada kota-kota megah. Visual fisik yang pantas dikagumi, membuka rasa syukur dalam hati kami.
Aku tidak tahu bagaimana mereka mengubahmu menjadi baru, tetapi kupastikan kau tak pernah menghapus kenangan. Pengingat yang membuatku mengais masa lalu, tanpa merasa luka seperti yang lalu-lalu. kau menegaskan, kenangan cukup menjadi kenangan, tak perlu ada penyesalan.
Pantai dan hamparan lautmu mengasup perahu-perahu ketenangan. Ah, aku begitu memujimu hingga berlebihan. Bagaimana tidak? Setiap aku bermain0main dipasir pantaimu, kesedihan yang membuat sesak mulai tenggelam, mungkin lautmu membawanya jauh kedalam.
Kini tak ada lagi pilihan, waktu seakan berlari membawaku berpikir ke masa depan. Kali ini aku tak bisa berlama-lama menikmati kenangan. Aku harus ke luar menuju kota yang memberiku pelajaran.
Kupesankan agar kau menjaga para malaikatku didalammu. Tetaplah tenang, Sibolga. Jangan tegang hingga memancing amarah dari alammu.
Oleh @omaaaaaaa
Diambil dari http://kawahrasa.blogspot.com/2013/01/kota-malaikat.html
Kamu jatuh cinta? Saya juga demikian.
Namanya Kota Sibolga. Sering kusebut-sebut kota malaikat. Tempat malaikatku bertempat. Mama.
Mungkin terdengar asing, karena kota ini memang tidak terlalu terkenal karena belum maju.
Jarak antara kota Medan dan Sibolga adalah sekitar +349 km dari sebelah barat daya kota Medan dan untuk pulang pergi jarak ini dikalikan dua.
Sibolga, kotamu bukan saja kupandang sebagai bingkai keindahan semata. Jejak-jejak yang kulepas ditanahmu membuatmu lebih indah daripada kota-kota megah. Visual fisik yang pantas dikagumi, membuka rasa syukur dalam hati kami.
Aku tidak tahu bagaimana mereka mengubahmu menjadi baru, tetapi kupastikan kau tak pernah menghapus kenangan. Pengingat yang membuatku mengais masa lalu, tanpa merasa luka seperti yang lalu-lalu. kau menegaskan, kenangan cukup menjadi kenangan, tak perlu ada penyesalan.
Pantai dan hamparan lautmu mengasup perahu-perahu ketenangan. Ah, aku begitu memujimu hingga berlebihan. Bagaimana tidak? Setiap aku bermain0main dipasir pantaimu, kesedihan yang membuat sesak mulai tenggelam, mungkin lautmu membawanya jauh kedalam.
Kini tak ada lagi pilihan, waktu seakan berlari membawaku berpikir ke masa depan. Kali ini aku tak bisa berlama-lama menikmati kenangan. Aku harus ke luar menuju kota yang memberiku pelajaran.
Kupesankan agar kau menjaga para malaikatku didalammu. Tetaplah tenang, Sibolga. Jangan tegang hingga memancing amarah dari alammu.
Oleh @omaaaaaaa
Diambil dari http://kawahrasa.blogspot.com/2013/01/kota-malaikat.html
Halo-halo, Jakarta!
Halo, Jakarta!
Hanya ingin menyampaikan terima kasih karena telah berbaik-hati kepada si perantau ini.
Banyak yang bilang kamu itu kejam. Well, they’re true. Sometimes. Then, i found things that makes me think, oftenly Jakarta can be a nice and friendly city. Awalnya orang tuaku pun berberat hati melepaskan putri sulungnya ini mengadu nasib di ibukota, dengan berbagai alasan untuk meyakinkan mereka, akhirnya aku diijinkan merantau ke kota ini. Kota yang hanya 3 jam saja dari kota tempatku tinggal.
Namanya juga proses adaptasi, aku jadi membandingkan antara kamu dan tempatku tinggal dulu. Aku tidak suka dengan hawa dan udara yang pengap dan panas. Aku tidak suka dengan pemandangan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Aku masih suka melihat pepohonan yang rimbun dan tinggi menjulang di sepanjang jalan atau sawah-sawah yang hijaunya menyejukkan mata. Kemacetan yang tak kenal waktu. Hal-hal itu yang membuatku sering homesick.
Namun, ternyata Tuhan memberikanku teman-teman (bahkan di antaranya menjadi sahabat-sahabat baru) lewat.kamu yang membuat aku lebih betah berlama-lama denganmu. Aku mulai terbiasa dengan pengap dan panasnya udara, pemandangan gedung-gedung pencakar langit, dan kemacetan yang tak kenal waktu. Aku tidak lagi mengeluhkan hal-hal tersebut. Aku justru merasa bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk mengenal dan bahkan menjadi sedikit bagian dari dirimu. Aku masih menerka-nerka apa lagi yang disiapkan Tuhan untukku di kemudian hari, di sini. Sampai kapan aku harus bersama denganmu? Apakah nanti aku akan kembali ke kotaku lagi? Atau.. Apakah kamu akan menyediakan rumah untukku selalu pulang sehingga aku tidak lagi berpetualang?
Halo-halo Jakarta
Ibu kota Indonesia
Halo-halo Jakarta
Kota metropolitan
Sudah lama beta mencari nafkah di sana
Sekarang sudah menjadi bagian hati
Tempatku selalu kembali!
(dinyanyikan dengan nada Halo-halo Bandung)
Oleh @naminadini
Diambil dari http://berceloteh.tumblr.com/post/41693236129/halo-halo-jakarta
Hanya ingin menyampaikan terima kasih karena telah berbaik-hati kepada si perantau ini.
Banyak yang bilang kamu itu kejam. Well, they’re true. Sometimes. Then, i found things that makes me think, oftenly Jakarta can be a nice and friendly city. Awalnya orang tuaku pun berberat hati melepaskan putri sulungnya ini mengadu nasib di ibukota, dengan berbagai alasan untuk meyakinkan mereka, akhirnya aku diijinkan merantau ke kota ini. Kota yang hanya 3 jam saja dari kota tempatku tinggal.
Namanya juga proses adaptasi, aku jadi membandingkan antara kamu dan tempatku tinggal dulu. Aku tidak suka dengan hawa dan udara yang pengap dan panas. Aku tidak suka dengan pemandangan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Aku masih suka melihat pepohonan yang rimbun dan tinggi menjulang di sepanjang jalan atau sawah-sawah yang hijaunya menyejukkan mata. Kemacetan yang tak kenal waktu. Hal-hal itu yang membuatku sering homesick.
Namun, ternyata Tuhan memberikanku teman-teman (bahkan di antaranya menjadi sahabat-sahabat baru) lewat.kamu yang membuat aku lebih betah berlama-lama denganmu. Aku mulai terbiasa dengan pengap dan panasnya udara, pemandangan gedung-gedung pencakar langit, dan kemacetan yang tak kenal waktu. Aku tidak lagi mengeluhkan hal-hal tersebut. Aku justru merasa bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk mengenal dan bahkan menjadi sedikit bagian dari dirimu. Aku masih menerka-nerka apa lagi yang disiapkan Tuhan untukku di kemudian hari, di sini. Sampai kapan aku harus bersama denganmu? Apakah nanti aku akan kembali ke kotaku lagi? Atau.. Apakah kamu akan menyediakan rumah untukku selalu pulang sehingga aku tidak lagi berpetualang?
Halo-halo Jakarta
Ibu kota Indonesia
Halo-halo Jakarta
Kota metropolitan
Sudah lama beta mencari nafkah di sana
Sekarang sudah menjadi bagian hati
Tempatku selalu kembali!
(dinyanyikan dengan nada Halo-halo Bandung)
Oleh @naminadini
Diambil dari http://berceloteh.tumblr.com/post/41693236129/halo-halo-jakarta
Salam dari Gudeg untuk Rujak Cingur
Untuk kenangan yang pernah tercipta dan akan tercipta.
Untuk Surabaya tercinta.
Surabaya yang tidak akan terlupa.
Kau tahu? Dulu aku berpikir kau adalah kota yang paling menyebalkan. Karena cuaca yang selalu panas, banjir yang sering datang saat hujan turun, asap dan debu yang mengepul. Kau tahu apa yang paling membuatku malas? Macet yang sering terjadi hampir di setiap jalan kotamu, yang membuatku harus berangkat lebih awal jika ke sekolah agar tidak terlambat dan berada di ruangan guru selama satu jam pelajaran.
Tapi kau juga memberiku banyak kenangan yang tak terkira indahnya. Kau mengajarkanku tentang arti sebuah kehidupan, persahabatan, dan cinta. Kau mengenalkanku pada kebahagiaan dan kepedihan. Kau mengajarkanku tentang arti ketulusan dan berbagi.
Saat ini aku begitu merindukanmu, kotaku.
Aku begitu merindukan tiap-tiap jengkal kenangan yang pernah tercipta di tiap sudut kotamu. Aku rindu tawa dan tangis yang sudah tak terhitung jumlahnya yang aku bagi bersama kawan-kawan baikku sejak aku berada di taman kanak-kanak hingga sekolah menengah. Aku rindu melirik diam-diam ke arah rumah kakak kelasku yang aku kagumi saat aku berangkat sekolah. Aku merindukanmu, Surabayaku.
Bila dulu aku tidak memutuskan untuk bersekolah di Jogja? Apakah sekarang aku akan tetap berada bersamamu? Bila Bapak tidak pergi setahun yang lalu, apakah aku masih bisa berada di sana dan tetap bersama dengan kawan-kawan baikku?
Sejujurnya aku belum siap meninggalkanmu sepenuhnya.
Salamku dari Kota Gudeg dengan penuh cinta.
Tolong jaga kawan-kawan baikku disana ya. :)
Oleh @nadhiayoe
Diambil dari http://ceritadikalahujan.blogspot.com/2013/01/salam-dari-gudeg-untuk-rujak-cingur.html
Untuk Surabaya tercinta.
Surabaya yang tidak akan terlupa.
Kau tahu? Dulu aku berpikir kau adalah kota yang paling menyebalkan. Karena cuaca yang selalu panas, banjir yang sering datang saat hujan turun, asap dan debu yang mengepul. Kau tahu apa yang paling membuatku malas? Macet yang sering terjadi hampir di setiap jalan kotamu, yang membuatku harus berangkat lebih awal jika ke sekolah agar tidak terlambat dan berada di ruangan guru selama satu jam pelajaran.
Tapi kau juga memberiku banyak kenangan yang tak terkira indahnya. Kau mengajarkanku tentang arti sebuah kehidupan, persahabatan, dan cinta. Kau mengenalkanku pada kebahagiaan dan kepedihan. Kau mengajarkanku tentang arti ketulusan dan berbagi.
Saat ini aku begitu merindukanmu, kotaku.
Aku begitu merindukan tiap-tiap jengkal kenangan yang pernah tercipta di tiap sudut kotamu. Aku rindu tawa dan tangis yang sudah tak terhitung jumlahnya yang aku bagi bersama kawan-kawan baikku sejak aku berada di taman kanak-kanak hingga sekolah menengah. Aku rindu melirik diam-diam ke arah rumah kakak kelasku yang aku kagumi saat aku berangkat sekolah. Aku merindukanmu, Surabayaku.
Bila dulu aku tidak memutuskan untuk bersekolah di Jogja? Apakah sekarang aku akan tetap berada bersamamu? Bila Bapak tidak pergi setahun yang lalu, apakah aku masih bisa berada di sana dan tetap bersama dengan kawan-kawan baikku?
Sejujurnya aku belum siap meninggalkanmu sepenuhnya.
Salamku dari Kota Gudeg dengan penuh cinta.
Tolong jaga kawan-kawan baikku disana ya. :)
Oleh @nadhiayoe
Diambil dari http://ceritadikalahujan.blogspot.com/2013/01/salam-dari-gudeg-untuk-rujak-cingur.html
Surat Cinta Untuk Yogyakarta
Untuk kau yang begitu istimewa..
Selamat pagi, Yogyakarta. Apa kabar? Ah, ya, aku ingin mengatakan betapa rindunya diriku padamu, lewat surat cintaku. Apa kau juga merindukan aku? Hehe. Tidak terasa ya, sudah hampir dua tahun lamanya, aku tidak pernah lagi berkunjung secara langsung ke kotamu. Tapi, secara tulisan, aku selalu mendatangimu.
Beberapa cerita panjang, sudah kutuliskan tentang bagaimana indahnya kotamu. Ya, meski semua orang juga sudah jelas tahu, kau begitu indah. Bahkan, nyamanmu laksana sebuah pelukan kekasih, menenangkan. Bukan begitu?
Berapa banyak orang yang tetap tinggal di kotamu, meski amukan merapi pernah begitu hadir dengan mengerikannya. Berapa banyak mahasiswa yang tetap memilih tinggal di kotamu, meski pendidikan mereka telah usai.
Itu bukti, kau itu benar-benar istimewa.
Ah, terimakasih juga atas segala inspirasi tempat yang kujadikan latar keindahan sebuah cerita. Tentang beragam kuliner yang bisa membangkitkan hasrat lidah untuk menikmatinya, tentang budaya maha indah yang tak ada di kota lainnya. Tentang sejuta tempat wisata yang bisa membuat segala rasa hadir di sana, salah satunya untuk selalu bersyukur atas anugerah Tuhan.
Terimakasih juga, Yogyakarta. Sudah menjadi tempat istimewa untuk mempertemukan aku dengan orang-orang luar biasa. Karena mereka, dan juga kau, aku bisa banyak mendapatkan inspirasi bercerita. Kau selalu jadi tempat yang kurindukan, dan mungkin jika nanti ada kesempatan, aku akan mengunjungimu lagi. Tentu, dengan aku yang lain dan cerita baru.
Dari yang pernah singgah di kotamu..
Rahmawati
Oleh @OdetRahma
Diambil http://odetrahmawati.wordpress.com/2013/01/29/surat-cinta-untuk-yogyakarta/
Selamat pagi, Yogyakarta. Apa kabar? Ah, ya, aku ingin mengatakan betapa rindunya diriku padamu, lewat surat cintaku. Apa kau juga merindukan aku? Hehe. Tidak terasa ya, sudah hampir dua tahun lamanya, aku tidak pernah lagi berkunjung secara langsung ke kotamu. Tapi, secara tulisan, aku selalu mendatangimu.
Beberapa cerita panjang, sudah kutuliskan tentang bagaimana indahnya kotamu. Ya, meski semua orang juga sudah jelas tahu, kau begitu indah. Bahkan, nyamanmu laksana sebuah pelukan kekasih, menenangkan. Bukan begitu?
Berapa banyak orang yang tetap tinggal di kotamu, meski amukan merapi pernah begitu hadir dengan mengerikannya. Berapa banyak mahasiswa yang tetap memilih tinggal di kotamu, meski pendidikan mereka telah usai.
Itu bukti, kau itu benar-benar istimewa.
Ah, terimakasih juga atas segala inspirasi tempat yang kujadikan latar keindahan sebuah cerita. Tentang beragam kuliner yang bisa membangkitkan hasrat lidah untuk menikmatinya, tentang budaya maha indah yang tak ada di kota lainnya. Tentang sejuta tempat wisata yang bisa membuat segala rasa hadir di sana, salah satunya untuk selalu bersyukur atas anugerah Tuhan.
Terimakasih juga, Yogyakarta. Sudah menjadi tempat istimewa untuk mempertemukan aku dengan orang-orang luar biasa. Karena mereka, dan juga kau, aku bisa banyak mendapatkan inspirasi bercerita. Kau selalu jadi tempat yang kurindukan, dan mungkin jika nanti ada kesempatan, aku akan mengunjungimu lagi. Tentu, dengan aku yang lain dan cerita baru.
Dari yang pernah singgah di kotamu..
Rahmawati
Oleh @OdetRahma
Diambil http://odetrahmawati.wordpress.com/2013/01/29/surat-cinta-untuk-yogyakarta/
Mataram, Keindahan Bak Pualam
Untukmu Mataramku,
Ini adalah surat terbuka pertama dariku untukmu, Mataram. Semoga saja, entah kapan pun, akan ada pejabat pemerintahan di wilayahmu yang membaca curahan rasa cintaku ini. Rasa cinta yang mulai tumbuh sejak aku mengenalmu, dua belas tahun yang lalu.
Mataramku yang semakin maju,
Di salah satu titikmu, aku pernah menjadi saksi perubahanmu ke arah yang lebih maju. Aku mengenalnya sebagai pasar Kebon Roek. Aku ingat betul, sebab hampir delapan tahun lamanya aku setia menjelajahi setiap titiknya, membantu masku berjualan bakso. Dulu, pasti kamu ingat seperti apa pasar Kebon Roek, kan? Aku pun masih ingat betul pasar Kebon Roek, sebuah pasar tradisional yang semrawut dan belum tertata. Sampai akhirnya, terjadi musibah dua kali kebakaran, pasar itu tetap bisa berdiri sampai sekarang. Kini, pasar tradisional yang kumuh itu telah berubah menjadi pasar yang rapi dan maju. Akan tetapi, jangan bangga dulu. Sebab masih perlu pembenahan di beberapa lokasinya. Mulai dari pengaturan lapak pedagang sampai sistem drainase. Terlebih di bagian timur pasar yang menjelma genangan dan tumpukan sampah, sehingga mengeluarkan bau busuk. Semoga bisa segera ditangani dengan kerja sama dan koordinasi yang baik antara pemerintah dengan pedagang untuk bersama-sama membenahi melalui kesadaran membuang sampah pada tempatnya. Sehingga pada akhirnya, penghargaan-penghargaan yang pernah kamu terima itu memang pantas adanya.
Mataramku yang semakin religius,
Tentu kamu masih menyimpan memori kejadian kerusuhan antaragama tahun 1999, kan? Kenangan itu juga masih membekas di hatiku. Meskipun aku tidak menjadi saksi secara langsung karena sedang mudik, tetapi aku tahu dampak yang kamu alami. Terlebih di dunia pariwisata Lombok yang mendadak menurun jumlah kunjungan wisatawannya. Sangat disayangkan waktu itu karena wargamu mendadak mudah terprovokasi. Waktu itu aku bahkan sempat berpikir untuk tidak menginjakkan kaki lagi di tanahmu. Tapi kemudian kenyataan menyadarkanku, bahwa hidup harus berjalan apa pun kondisimu waktu itu. Aku pun kembali menjejakkan kaki di tanah suburmu. Kini, aku bisa berbangga hati, karena sejak kejadian itu tak ada lagi konflik yang mengancam ketenanganmu. Semua umat beragama bisa hidup rukun dalam satu tujuan bersama, memajukanmu. Semoga tragedi itu tidak terjadi lagi dengan semakin tingginya toleransi umat beragama di wilayahmu.
Mataramku yang semakin berbudaya,
Dulu, pertama kali aku mengenalmu, kutemukan keunikan budaya yang tidak pernah kutemui sebelumnya di tanah kelahiranku, Solo. Aku begitu kagum dengan apa yang kamu miliki. Adat-istiadat dan budaya yang tetap dilestarikan dan dijunjung tinggi. Dari keragaman aksen bicara sampai pada adat unik ‘nyongkolan’ dan tradisi-tradisi lainnya. Meskipun statusnya sebagai pendatang, tetapi aku ikut bangga dengan yang kamu miliki. Salah satu caranya yaitu aku selalu berusaha menyempatkan diri hadir dalam setiap event tahunan, seperti Lebaran Topat. Terkait dengan budaya, sepertinya semua bisa dilestarikan, karena bisa menarik perhatian wisatawan. Menurutku perlu diperbanyak lagi event budaya yang diselenggarakan secara profesional.
Mataramku yang semakin kubanggakan,
Semua itu adalah hal-hal yang membuatku jatuh cinta padamu. Selain tentunya keramahan wargamu, suasanamu yang tenang, dan perkembangan yang semakin menjanjikan. Tapi, sayang sekarang Mataramku yang dulu lahan hijau perlahan-lahan berubah menjadi lahan ruko. Dan, sayangnya tidak semua ruko dimanfaatkan dengan baik, bahkan beberapa di antaranya justru terbengkalai. Apakah memang seperti ini wajah Mataramku seharusnya? Tentu tidak. Tapi bagaimanapun juga itu adalah konsekuensi kemajuanmu. Semoga pada waktu mendatang aku bisa kembali menemukan wajah Mataramku yang tetap memikat seperti sebelumnya meskipun sudah berjamur ruko-ruko. Bukan itu saja. Sebagai wargamu, kadang aku merasa iri dengan kemajuan pariwisata daerah lain di pulau Lombok. Padahal sebenarnya, kamu juga memiliki potensi yang tidak kalah besarnya. Kamu punya pusat budaya, pusat kerajinan, pusat kuliner, dan pusat wisata pantai. Mungkin butuh waktu untuk membenahi pariwisatamu. Sebisa mungkin aku akan selalu mendukung demi kemajuanmu lewat karya nyata sesuai bidang keahlianku.
Sekian dulu, dan asal kamu tahu, apa pun adanya dirimu saat ini, aku tetap mencintaimu. Sebab itu jangan kecewakan aku dengan berhenti berbenah. Aku yakin kamu bersama wargamu, termasuk aku, bisa membenahi semua kekurangan dan menjadikanmu lebih maju, sehingga keindahanmu yang bak pualam takkan pernah memudar.
Dariku yang mendambakanmu lebih maju, religius, dan berbudaya,
@momo_DM
Oleh @momo_DM
Diambil dari http://bianglalakata.wordpress.com/2013/01/29/mataram-keindahan-bak-pualam/
Ini adalah surat terbuka pertama dariku untukmu, Mataram. Semoga saja, entah kapan pun, akan ada pejabat pemerintahan di wilayahmu yang membaca curahan rasa cintaku ini. Rasa cinta yang mulai tumbuh sejak aku mengenalmu, dua belas tahun yang lalu.
Mataramku yang semakin maju,
Di salah satu titikmu, aku pernah menjadi saksi perubahanmu ke arah yang lebih maju. Aku mengenalnya sebagai pasar Kebon Roek. Aku ingat betul, sebab hampir delapan tahun lamanya aku setia menjelajahi setiap titiknya, membantu masku berjualan bakso. Dulu, pasti kamu ingat seperti apa pasar Kebon Roek, kan? Aku pun masih ingat betul pasar Kebon Roek, sebuah pasar tradisional yang semrawut dan belum tertata. Sampai akhirnya, terjadi musibah dua kali kebakaran, pasar itu tetap bisa berdiri sampai sekarang. Kini, pasar tradisional yang kumuh itu telah berubah menjadi pasar yang rapi dan maju. Akan tetapi, jangan bangga dulu. Sebab masih perlu pembenahan di beberapa lokasinya. Mulai dari pengaturan lapak pedagang sampai sistem drainase. Terlebih di bagian timur pasar yang menjelma genangan dan tumpukan sampah, sehingga mengeluarkan bau busuk. Semoga bisa segera ditangani dengan kerja sama dan koordinasi yang baik antara pemerintah dengan pedagang untuk bersama-sama membenahi melalui kesadaran membuang sampah pada tempatnya. Sehingga pada akhirnya, penghargaan-penghargaan yang pernah kamu terima itu memang pantas adanya.
Mataramku yang semakin religius,
Tentu kamu masih menyimpan memori kejadian kerusuhan antaragama tahun 1999, kan? Kenangan itu juga masih membekas di hatiku. Meskipun aku tidak menjadi saksi secara langsung karena sedang mudik, tetapi aku tahu dampak yang kamu alami. Terlebih di dunia pariwisata Lombok yang mendadak menurun jumlah kunjungan wisatawannya. Sangat disayangkan waktu itu karena wargamu mendadak mudah terprovokasi. Waktu itu aku bahkan sempat berpikir untuk tidak menginjakkan kaki lagi di tanahmu. Tapi kemudian kenyataan menyadarkanku, bahwa hidup harus berjalan apa pun kondisimu waktu itu. Aku pun kembali menjejakkan kaki di tanah suburmu. Kini, aku bisa berbangga hati, karena sejak kejadian itu tak ada lagi konflik yang mengancam ketenanganmu. Semua umat beragama bisa hidup rukun dalam satu tujuan bersama, memajukanmu. Semoga tragedi itu tidak terjadi lagi dengan semakin tingginya toleransi umat beragama di wilayahmu.
Mataramku yang semakin berbudaya,
Dulu, pertama kali aku mengenalmu, kutemukan keunikan budaya yang tidak pernah kutemui sebelumnya di tanah kelahiranku, Solo. Aku begitu kagum dengan apa yang kamu miliki. Adat-istiadat dan budaya yang tetap dilestarikan dan dijunjung tinggi. Dari keragaman aksen bicara sampai pada adat unik ‘nyongkolan’ dan tradisi-tradisi lainnya. Meskipun statusnya sebagai pendatang, tetapi aku ikut bangga dengan yang kamu miliki. Salah satu caranya yaitu aku selalu berusaha menyempatkan diri hadir dalam setiap event tahunan, seperti Lebaran Topat. Terkait dengan budaya, sepertinya semua bisa dilestarikan, karena bisa menarik perhatian wisatawan. Menurutku perlu diperbanyak lagi event budaya yang diselenggarakan secara profesional.
Mataramku yang semakin kubanggakan,
Semua itu adalah hal-hal yang membuatku jatuh cinta padamu. Selain tentunya keramahan wargamu, suasanamu yang tenang, dan perkembangan yang semakin menjanjikan. Tapi, sayang sekarang Mataramku yang dulu lahan hijau perlahan-lahan berubah menjadi lahan ruko. Dan, sayangnya tidak semua ruko dimanfaatkan dengan baik, bahkan beberapa di antaranya justru terbengkalai. Apakah memang seperti ini wajah Mataramku seharusnya? Tentu tidak. Tapi bagaimanapun juga itu adalah konsekuensi kemajuanmu. Semoga pada waktu mendatang aku bisa kembali menemukan wajah Mataramku yang tetap memikat seperti sebelumnya meskipun sudah berjamur ruko-ruko. Bukan itu saja. Sebagai wargamu, kadang aku merasa iri dengan kemajuan pariwisata daerah lain di pulau Lombok. Padahal sebenarnya, kamu juga memiliki potensi yang tidak kalah besarnya. Kamu punya pusat budaya, pusat kerajinan, pusat kuliner, dan pusat wisata pantai. Mungkin butuh waktu untuk membenahi pariwisatamu. Sebisa mungkin aku akan selalu mendukung demi kemajuanmu lewat karya nyata sesuai bidang keahlianku.
Sekian dulu, dan asal kamu tahu, apa pun adanya dirimu saat ini, aku tetap mencintaimu. Sebab itu jangan kecewakan aku dengan berhenti berbenah. Aku yakin kamu bersama wargamu, termasuk aku, bisa membenahi semua kekurangan dan menjadikanmu lebih maju, sehingga keindahanmu yang bak pualam takkan pernah memudar.
Dariku yang mendambakanmu lebih maju, religius, dan berbudaya,
@momo_DM
Oleh @momo_DM
Diambil dari http://bianglalakata.wordpress.com/2013/01/29/mataram-keindahan-bak-pualam/
Pemilik Tugu Muda
Sepi. Senyap. Lengang. Itulah yang lebih banyak kuingat tentangmu. Meski gerah kerap menyuguh peluh lebih banyak. Ya, namun aku lebih menikmati kamu yang sepi, senyap, lengang.
Apa kabar kamu sekarang? Masihkah menjadi satu kerinduan bagi mereka yang membutuhkan ketenangan? Aku tahu, kamu pun memiliki kelemahan. Musim hujan… ya musim hujan. Ketika aku menikmati rintik-rintiknya yang cantik, kamu menyuguhkannya berlebihan. Banjir. Rob. Genangan.
Tenanglah, dari sekian kelemahan, aku tetap menyebutmu satu bentuk indahnya kenangan. Nyatanya, sampai kini pun aku masih kerap mengenang-kenangan kamu tak hanya di bibir, pun selalu di hati.
Terlalu banyak tawa yang kamu suguhkan saat itu. Terlalu banyak kait persahabatan yang memang tak mungkin aku aku lupakan. Kamu juga yang menyaksikan aku tumbuh dengan tawa-tawa kecil dan menabung senyum malu-malu untuk cinta pertama. Ah, bila saja bisa aku temui jejak ketika itu.. :’)
Berapa lama ya aku tak mencumbu jejak bersamamu? Sepertinya, itu terjadi musim hujan dua tahun lalu. Ketika gerimismu mengantarkan aku menjauh darimu. Namun kupesankan saat itu, bahwa aku akan datang lagi, bahwa kamu masih boleh menyuguh memori-memori yang pernah aku toreh di sebagian kamu.
Ya..ya..ya..ya.. Aku harap tahun ini aku bisa memeluki memori itu. Sebagian kamu yang menyatu dalam seluruhnya aku. Aku ingin kembali menyusuri jalan senyap itu, menuju hingarnya Simpang Lima. Melanjutkan langkahku menyapa gagahnya Tugu Muda. Ya.. kamu satu ibukota di tengah Pulau Jawa.
Empat penari kian kemari
jalan berlenggang…
aduh… langkah gayanya menurut suara irama gambang…
Sebait lagu yang kamu kenangkan, tak pernah henti menyusupi ingatan. Iya.. Aku masih fasih melantunkannya. Itu karena aku yang tak mau menjauhkan kamu dari seluruhnya aku. Ya, kamu pemiliknya Tugu Muda.
Aku,
pecinta logat bahasamu, selalu :’)
oleh @wulanparker
diambil dari http://lunastory.wordpress.com/
Labels:
Surat Cinta #16
Liwa, Kota Berbunga
Aku, nulis surat ini dengan perasaan menggebu-gebu dan gemetar karena takut mati listrik lagi karena saking cintanya aku dengan tanah kelahiranku yang kaya dan cantik. Takkan pernah bosan mataku mengagumi keindahan kota kecil ini. Kalo aku ga merantau untuk menuntut ilmu di pusat Lampung, mungkin sampe sekarang aku ga sadar kalo kota ini indah, cantik, mempesona, eksotis dan ramah.
Liwa, ibukotanya Lampung Barat, beguai jejama nganik bebakhong (bekerja bersama, makanpun bersama-sama). kota berbunga, bersih berbudaya dan penuh kenangan. Agak jauh sih dari Bandarlampung, membutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk sampe disini (itu kalo pake mobil pribadi, kalo pake bis odong-odong bisa 12 jam!!). Liwa itu “puncak”-nya Lampung. Bedanya dengan puncak bogor, disana terhampar perkebunan teh yang luas, tapi kalo disini membentang perkebunan kopi yang tak kalah luasnya. Kopi Liwa, kopi tereenak di Lampung. Sungguh!!
Kota kecil ini surga bagi para pecinta alam. Surga bagiku. Letak kota yang dikelilingi hijaunya Bukit Barisan dan kebiruan yang menjulang tinggi nan kokoh gunung Pesagi, gunung tertinggi di Lampung, membuat kota ini berhawa sejuk (dan sedikit menggigil). Ngga terlalu jauh kalo mau liburan ke Danau Ranau, danau Vulkanik itu, Cuma 1,5 jam pake motor dari sini. Atau pantai, berselancar kayak bulek-bulek? belok kiri aja dari tugu Liwa, sekitar 2 jam perjalanan kita bisa menikmati pesona Pantai Krui yang eksotis. Sebelum kepantai, bisa mampir dulu ke wisata Air terjun di TNBBS. semuanya… lengkap disini.
Ada banyak hal yang buat aku semakin bangga dengan tanah kelahiranku ini (kecuali pemadaman listrik setiap harinya). Tradisi dan budaya turun temurun yang masih sangat terjaga, seperti Nayuhan (upacara pernikahan), bediom (upacara menempati rumah baru), masih banyak sih tapi aku ga ngerti-ngerti namanya apa. Upacara-upacara adat yang terkesan ribet tapi menyimpan sejuta makna. Dan menakjubkan. Ah, dan juga pesta rakyat Sekura cakak Buah, pesta topeng (+ panjat pinang) ala hellowen yang diadakan setiap bulan syawal tiba, sebagai ungkapan rasa syukur rakyat telah melewati bulan Ramadhan. Setiap pekon (kampung) ada jadwalnya untuk mengadakan pesta ini, semua warga tumpah ruah merayakan hari kemenangan. Ada 2 jenis Sekura, yaitu Sekura Helau (bagus) mereka memakai kacamata hitam dan selendang panjang yang dililit menutupi muka mereka, dipinggangnya berjuntai berbagai kain panjang. Mereka berkeliling, dari rumah kerumah, bersalaman, bergembira. Dan Sekura Kamak (kotor), sekura yang ini yang manjat pohon pinang, mereka pake kostum yang unik (malah kadang mengerikan :p) dari tumbuh-tumbuhan. Meriah sekali.
Ga cukup Cuma dengan satu surat aja untuk mengungkapkan betapa kagumnya aku dengan kota ini. Kota yang dingin tapi hangat, menyenangkan, tenang (tenang banget~~) dan damai bagi semua orang.
Nb: jangan suka goyang-goyang (gempa) lagi ya… jujur kami masih trauma dengan goyangan dahsyat 6,7 SR tahun 1994 yang lalu. Tapi karena saking seringnya Liwa digoyang gempa kecil-kecilan kami sedikit-dikit jadi terbiasa.
Oya, kenapa mati lampu terus sih, wahai PLN?! Lampung Barat kan punya PLTA Way Besai, penghasil energi listrik terbesar di Lampung. Tapi kok masih sering mati listrik seharian suntuk? Kalo musim kemarau kekurangan debit air, kalo musim ujan kelebihan debit air gitu? Terus musim apa yang ga mati lampu!!?
adu pai, yu sukhatku ji..
kik wek salah-salah kata khik penulisan, nyak ngilu mahap. Assalamualaikum!
oleh @wenramni
diambil dari http://wenwenii.tumblr.com/
Labels:
Surat Cinta #16
Kota Kelahiran "Pemalang"
29 Januari 2013
Pemalang Ikhlas,
itulah jargon yang berdiri kokoh terbentang di alun-alun kotamu..
Meskipun kecil, tapi kamu adalah salah satu kota terunik yang aku kenal. Tak ada yang mengenalmu, seperti aku mengenalmu. Sekarang, aku memang sedang berusaha di kota orang, karena aku berjuang untukmu, untuk menorehkan keringatku di mana aku lahir di tanahmu. Banyak kenangan yang telah tertinggal di sana. Hidupku, ragaku hingga jiwaku smua menjadi satu di tanah tempat aku lahir.
Kamu tahu, kadang tiap kali orang tidak mengenalmu rasa sakit pun sempat muncul. Rasanya kamu benar-benar tidak dikenal oleh banyak orang dan itu membuatku lebih bersemangat agar aku bisa mengenalkanmu ke berbagai penjuru di Indonesia bahkan di dunia. (amiiiinnn)
Sudah 438 tahun rupanya kamu berdiri di belahan bumi jawa Indonesia. Lama.. bahkan melebihi umur negeri kita sendiri. Sejarah yang tertulis adalah hal yang paling mengesankan. Hal yang banyak membuatku lebih belajar bagaimana arti tentang kehidupan. Yah budaya pun demikian, aaaaa kangen sama masakan khasnya jugaaaa. Banyak banget. Ada nasi grombyang, lontong dekem, apem comal, srabi goreng, kamir (dorayaki arab) dan masih banyak lagi.. Itu adalah beberapa makanan yang slalu aku rindukan ketika aku pulang. Emang dah Pemalang top banget.
Selamat ulang tahun kota lahirku yang ke 438 tahun (24 Januari 2013). Semoga semakin jaya, maju, makmur dan tentunya menambah jam terbang bagi yang pengangguran. hihihi :D
~Vida Hasan~
oleh @vidahasan
diambil dari http://vidahasan.blogspot.com/
Labels:
Surat Cinta #16
Terima Kasih Attack City
Selamat sore…
Hmn… jadi gini, dalam rangka #30HariMenulisSuratCinta edisi kota, saya memutuskan untuk menujukan surat ini kepada kamu. Kamu mungkin ga kenal saya tapi walau cuma sedikit, saya bisa dibilang mengenal kamu. Padahal udah hampir 2 taun lebih saya menghabiskan lebih banyak waktu disini, tetep aja taunya cuma sedikit. Agak payah emang.
Walau ga saya bawa ke Sukabumi, isi surat ini lumayan panjang loh. Jadi, silakan baca ini sambil nikmati secangkir kopi, susu atau cokelat panas. Sambil ngerokok juga bisa. Sambil napas dan ngemil unyu juga boleh. Sambil kan bulan bu juga bol… ITU AMBILKAN, WOY! AMBILKAN!! Hmn… maaf. Baik, dilanjut saja.
Pertemuan pertama saya dengan kamu begini, kakak saya yang kuliah di Untirta Serang bla bla bla……………………………… bla bla bla ………………………………………………………. bla bla bla…………………………. bla bla bla……………………………………………………… bla bla bla ……………………………. Dan, takdir pun ternyata memutuskan saya juga kuliah disini. Saya yang emang terlahir pasrah, nerimo aja. Toh, sebenernya orang dengan otak cerdas kaya saya begini mau kuliah dimana pun bakalan sama aja.
Hari-hari awal berada disini rasanya berat. Lebih berat dari berat badan saya malah (halah, ini malah berat-ception) kenapa? Karena agak banyak dan saya anak baik, tak ingin memusingkan kamu, jadi dibikin poin deh.
Serang panas. Usut punya usut ada yang bilang kamu punya sebutan Kota 9 Matahari. Dari pada punya usut atau punya sebutan begitu, mending punya pacar tau. Balik lagi! Kalo kepanasan apa saya ngeluh? Iya! Wong, orang lain juga. Bahkan temen saya yang udah belasan taun tinggal disini ngeluh juga. Jadi kesimpulan dari poin pertama ini, gapapa ngeluh: ANJIS, SERANG PANAAAS!! FAAAK, KIAMAT BOCOOOR!! MATAHARI PUNYA DENDAM SAMA KOTA INI AAAK!! Karena orang sini asli juga ngerasa hal yang sama. Tetang yang ini pernah saya twit lewat akun saya, @viorexy (Jangan lupa follow! EAAAK!)
Ngekos, jauh dari rumah yang semua-muanya udah ada. Sulit emang awalnya beradaptasi. Namun demi kemaslahatan (entah ini sebenernya punya arti apa) saya sendiri dan karena saya emang kece, bersahaja, awesome dan mengagumkan (IYA INI GA NYAMBUNG TERUS MUSOLAH BUAT LO?! KALO BUKAN, GAUSAH AMBIL WUDHU JUGA KALI!) akhirnya seiring berjalannya waktu, saya tetap hidup sampe hari ini. Yang nyesel saya masih idup di dunia ini inget, malaikat nyatet, broh!
Ini bukan kota saya, saya disini cuma hidup sementara waktu aja. Sebenernya ini muncul dibenak saya (woasik, benak!) abis ngobrol sama temen yang udah malang melintang (duileh, kek garis bujur aje melintang) di dunia per-bayi beruang-an. Keren ya temen saya tuh. Banget. Makanya saya sayang banget juga. OKEEE, LANJOT! Temen saya ini sering benci sama anak Tangerang yang hobi ngeluh-ngeluh soal kamu. Untung saya bukan termasuk anak Tangerang yang dia benci. Kalo dia benci saya, atulah sayanya mah sedih seumur idup :’( YAK, TEROOOS! Buat saya, orang yang ngeluh atau malah mencemooh tentang bagaimana kamu, logat bahasa dan orang-orang yang tinggal di disini itu pasti karena dia masih baru. Dia belom kenal kamu. Saya sudah kenal kamu. Sedikit. Nanti lama kelamaan juga orang baru itu bakalan ngerasa sendiri gimana kamu bisa menghadirkan nyaman yang tak terbantahkan… saatnya bilaaang: ASEK ASEK HOY!
Yaaak, time flies… awal yang terasa berat itu pelan-pelan jadi enteng kayak berat badan saya yang sempet naik, naik lagi, turun, naik lagi, terus turuuun. Dan kayanya ini paragraf paling pendek dan paling ga nyambung dibanding yang lainnya ya.
Walau banyak yang bilang Bandung dan Jogja adalah tempat terbaik untuk jatuh cinta, tapi kamu tak kalah untuk bisa membuat saya jatuh hati pada segala yang ada disini. Terima kasih atas semua tawa suka, canda bahagia, pelukan-pelukan hangat, cium ciscis (NDAK USAH BERPIKIRAN DIRTI!) dan entah apa yang saya sendiri susah jelasinnya. Yang pasti, kotak memori di dalam pikiran saya masih menyisakan banyak ruang untuk beberapa taun ke depan lagi.
oleh @viorexy
diambil dari http://rexysukadi.wordpress.com/
Labels:
Surat Cinta #16
Untukmu, Maniseku.
Dear manise...
Aku merindukanmu, maniseku..
pulang ke pangkuanmu adalah satu hal yang aku inginkan saat ini.
Ingin rasanya mendapati kedua kakiku berpijak ditanah suburmu,
ingin rasanya kudapati kedua mataku memandangi senja dibalik gunungmu, diatas pantaimu.
Aku merindukan mereka yang ada disana, manise..
Ingin rasanya aku bermain mesra dengan pantaimu
Biarkan buih-buih ombak menggulung mesra menggelitik kakiku
Senja disana kurindukan
Aku ingin maniseku seperti dulu
Tapi bukan berarti aku tak menyukai maniseku yang sekarang
Aku menyukaimu bagaimanapun keadaanmu sekarang
Selalu ada doa yang terpanjat dilangit sana
Untuk mereka yang ada disana
Dan untukmu, aman, jayalah kota Ambon maniseku..
dari,
Aku, yang lahir dan tumbuh di tanahmu
oleh @Unhysakinah
diambil dari http://unhysakinah.blogspot.com/
Labels:
Surat Cinta #16
Ubud - Kota Pesona Di Balik Layar
Hai Ubud!
Entah kapan bisa aku ke sana. Suatu hari nanti, aku akan menghabiskan nafasku bersama partikel udara di Ubud. Suatu hari nanti, aku harus menyelaraskan tubuhku pada atmosfer di sana walau hanya dengan beberapa pergantian rembulan--di kota pesona di balik layar. Mengapa? Karena, pertama kali aku bertemu dengan Ubud, meskipun hanya melalui layar bioskop atau televisi, dan penggambaran tentang Ubud lebih jauh pun aku peroleh melalui bacaan lalu, kali pertama aku merasakan cinta pertama kepada kota itu. Padahal, jelas saja aku belum pernah menapakkan kakiku di sana.
Aku sudah berjanji kepada lidahku, kelak ketika aku sudah berpenghasilan, aku akan menabung dan melaju ke sana. Tunggu aku, Ubud. Simpanlah pesona indah kotamu laksana film, buku, dan/atau foto yang menggambarkanmu, Ubud.
Sudah ya surat ini aku tulis. Harapan untuk berkunjung ke sana selalu ada bersama untaian kalimat yang kutulis ini. Semoga saja, dengan atau bersama handai tolan atau pun kekasih, aku kan bersua denganmu. Tunggu aku, kota pesona di balik layar.
Salam
Tika
oleh @_tikakarlina
diambil dari http://tikakarlina.blogspot.com/
Labels:
Surat Cinta #16
Surabaya, Aku Ingin Bandung
Hey, kamu. Bosan denganku?
Ah, jangan. Aku belum terlalu bosan denganmu. Aku masih ingin menghabiskan sisa waktuku, sebelum menikah, untuk menikmati setiap sudut jalan dan gedung-gedung yang menjadi salah satu faktor bumi cepat rusak itu. Terkadang aku benci dengan perkembangan pesatmu, tapi aku juga butuh gedung-gedung modern-mu untuk melepas penat, bahkan untuk mencari uang. Miris memang. Btw, aku masih sering nyasar menyusuri jalananmu. Bahkan hampir 22 tahun aku hidup denganmu, aku masih mengandalkan google map agar tak menghabiskan waktu untuk nyasar-nyasar.
Kemarin, linimasa terlalu ramai membicarakanmu. Hanya karena seorang @KeiSavourie. Entah apa yang mereka ributkan? Perkembangan modern-mu yang meniru ibu kota? Atau karena kita mempunyai aksen medok yang katanya gak pantes untuk kota metropolitan? Hahaha, lucu sekali. Sebagai orang asli Surabaya, aku tak memiliki aksen medok sama sekali.
Oke, terlepas dari semuanya, aku mencintaimu. Terlalu banyak kenangan indah yang ada pada dirimu. Bukan… bukan berarti aku mengingat-ingat masa lalu. Sesekali aku ingat kejadian-kejadian yang terjadi kepadaku saat aku menikmati setiap ruangmu. Tragedi timezone sutos, misalnya. Ah sudahlah, itu hal konyol yang tak perlu diingat-ingat.
Surabaya, jangan pernah menjadi seperti Jakarta. Tetaplah berdamai dengan kami. Jangan menyakiti kami dengan keadaan semburat pemerintah. Cukup beberapa titik kemacetan saja yang membuat kami tersiksa, selebihnya jangan.
Kau tahu? Aku mencintaimu. Dan seseorang telah membuatku mengkhianatimu. Bandung. Iya, aku jatuh cinta kepadanya, dan segala isinya. Ia adalah kota kedua yang akan aku singgahi jika penatku kepadamu tak terbendung lagi.
“Jika Bandung adalah seorang manusia, ia adalah kekasih yang penuh kesan sebelum pertemuan dengan cinta sejati” – Ruang Temu, @Maradilla.
Di sana adalah ruang temuku bersamanya. Aku menitipkan separuh hatiku di sana. Di satu daerah di Bandung timur bernama Cikutra.
Jika nanti aku meninggalkanmu demi kota itu, aku minta tetap jaga keluargaku seperti aku selalu berusaha menjagamu.
————————————————————————
Kepada Bandung, tempat dimana hatiku berada…
Aku menitipkan kekasihku di salah satu ruangmu. Jaga dia seperti aku menjaga mimpi-mimpiku untuk menempatimu. Berikan dia udara segarmu dan oksigen terbaikmu. Sisakan untukku satu ruangan besar di bukitmu untuk kujadikan tempat berteduh nanti. Rumah minimalis dengan halaman luas, pemandangan tangkuban perahu di pagi hari dan city light di malam hari. Suatu hari nanti aku akan menemuimu, meminta kembali hatiku, dan menghabiskan sisa hidupku denganmu…
Doakan aku :)
Oleh @iddailiyas
Diambil dari http://iddailiyas.tumblr.com
Subscribe to:
Posts (Atom)