#30HariMenulisSuratCinta adalah proyek non komersil yang digagas untuk menggabungkan kesenangan menulis di twitter dan blog. Proyek belajar menulis bersama ini dilaksanakan setiap 14 Januari - 14 Februari setiap tahunnya. Ini adalah tahun ketiga pelaksanaan proyek menulis yang juga menjadi ajang silaturahmi dari blog ke blog.
04 February 2013
Sudah Sebulan
Dear, M.
Selamat siang kepada kamu sesorang yang sudah bahagia disana? Bagaimana kabarmu hari ini? Aku harap kamu baik-baik aja yaaa. Ini aku si anak kecil yang manja, yang gampang marahan tapi ternyata kamu juga sayang sama si anak kecil ini. Memang perasaan itu aneh. Yang tadinya temen terus adik-kakak sekarang malah kejebak sama aku-kamu. Lucu ya? Hihihi Aku agak canggung sekarang kalo manggil kamu ‘Kamu atau Kakak’ bukan cuma canggung manggil itu aja, aku juga canggung kalo sekarang aku ‘say hi’ ke kamu. Hmm.. Sebernernya aku ini mau minta maaf. Aduh.. aku ngga tau ini keberapa kalinya aku minta maaf cuma gara-gara hal sepele. Tapi yang terakhir itu aku udah keterlaluan banget. Aku minta maaf banget ya udah ngata-ngatain kamu ini itu lewat sms sm DM twitter. Maafin banget. Maklum kondisi 18 tahunan masih ababil gitu :p :’> hihihi
Udah sebulan ya kita ngga pernah saling sms, telfon, saling sapa di twitter. Aduh.. bukan gengsi, engga, tapi aku ini ngga tau mau nyapa apa setelah sebulan lalu terjadi salah paham. Aku juga baru akhir-akhir ini ngerasa bersalah banget sama kamu. Aku minta maaf banget ya. Maaf banget banget. Semua orang ngga luput dari salah kan? Hmm.. kemarin ya kemarin.. sekarang ya sekarang.. bener kan? Oh ya gimana kabar kamu setelah sebulan kita ngga pernah saling contact? Hmm.. maaf kalo seandainya kamu contact aku terus ngga nyambung. Aku udah sebulan lalu ganti nomer. Aku ngerasa butuh banget yang namanya ketenangan. Setelah tahun 2012 kemarin adalah tahun terberat yang pernah aku jalanin. Hmm tapi aku yakin kamu ngga pernah coba contact aku deh. Yakan? Yaudah nggapapa. Tadi aku Cuma bercanda ko.
Soal kamu yang waktu itu nyatain perasaan kamu ke aku, aku ngga tau. Aku ngga bisa jawab, kemarin aku masih bingung sama ragu sama kamu. Sebelum kamu nyatain perasaan itu, sebenernya udah ada orang yang buat aku nyaman banget. Tapi kamu dateng terus orang itu pergi. Aku ngga yakin kalo aku bisa nerima kamu kalau pada akhirnya aku belum bisa senyaman kamu sama dia. Aku bukan mau bandingin kamu sama dia, engga, cuma perasaan nyaman itu belum timbul di hati aku. Maafin kalo seandainya aku gantungin kamu dengan perasaan yang ngga pasti. Bukan gitu, tapi itu adalah proses dimana aku bisa nyaman sama kamu tanpa kamu ngga ngerasa kalau kamu dibandingin sama dia. Aku tau kok kamu udah ngerasa nyaman sama aku. Tapi aku belum ngerasa nyaman sama kamu. Aku nyaman, aku nyaman, Cuma belum 100% aku nyaman banget sama kamu. Banyak tentang aku yang belum kamu tau. Dan aku juga belum banyak tau tentang kamu. Jadi kita ngga bisa memulai kalo satu sama lain belum tau baik buruknya si orang ini. Ngerti kan? Aku ngga maksa kamu buat nyaman dan ngerasa sayang sama aku. Engga. Tapi kamu harus tau, perasaan seseorang ngga bisa dipaksa. Butuh waktu yang bener-bener bisa ngeyakinin kalo aku nyaman dan sayang sama kamu. Disini aku udah jelasin semuanya ya. Maafin kalo aku egois banget di mata kamu. Maafin dan Makasih juga untuk beberapa bulan lalu yaaa.
Si anak kecil yang egois
-Kikey-
Oleh @kikeyooo
Daimbil dari http://keyforkikeey.tumblr.com
Langit
Sayang,
Belum jua genap bulan bersatu dengan langit-langit kita. Ada banyak malam yang terlewati tanpa bintang. Sesekali mendung dan hujan pun membasahi pipi-pipi langit yang temaram. Bahkan sorepun terasa sendu tak kala abu-abu hanya menjadi warna satu-satunya untuk senja. Namun saat sore berganti malam hingga tinggal sedetik sebuah suram dan meski hanya sendu di langit muram, tersenyumlah sayang. Setidaknya pagi memberi harapan akan hari esok yang cerah.
Langitku sering kali menangis, sesekali memberikan garis kilat putih membelah dengan gemuruh yang menambah sendu sang langit. Tanahku kian basah hingga sulit terkadang kaki tuk berpijak meski hanya sejengkal dua jengkal. Aku kian terjebak di gubuk kecil di lini masa; dengan suara bising di kepala; dengan sepi di kelopak mata; dengan peristiwa lalu di balik bilik sang rinai yang entah.
Aku masih menunggu di beranda, takut lewatkan sang surya tiba atau pelangi yang bermain di awan barang sedetik dua detik. Aku menunggu hingga hujan reda, meski langit tak jua beda.
Penat!
Tanahku masih basah, langit pun masih menangisi bumi. Aku ingin berlari dan nikmati hujan. Merasakan getir dari air-air langit yang satir. Membiarkan diri terjamah bagian per bagian dengan deras, menari di tengah-tengah dengan musik sang petir. Aku ingin menjadi musafir yang pergi dari hilir.
Mungkin ada kau, di perbatas langitku yang abu-abu, sebuah biru yang teduh. Aku ingin disana, meski langitku berseru haru. Aku ingin kau yang teduh.
Maafkan tuk langitku yang selalu berseru; tuk sendu yang tak tahu malu; tuk cemburu yang memburu; tuk seorang aku yang mendambakan langitmu yang teduh; tuk kamu yang aku mau.
Bagaimana langitmu disana sayang? Masihkah biru seperti dulu?
Sanggupkah kita satukan langit di perbatasan semesta sebuah kita?
Tertanda,
Wanita Sore.
oleh @iiTSibarani
diambil dari akarpikiran.wordpress.com
Surat Seorang Ibu kepada Anak Lelakinya
Pontianak, 3 Februari 2013
Teruntuk anak lelakiku,
Nak, sebelum aku mengawali surat ini, aku ingin memberitahu bahwa engkau adalah anak lelakiku yang tampan. Melahirkanmu adalah salah satu kebahagiaan terbesarku dalam hidup. Mendengarkan tangisanmu pertama kali, membuat jerih payahku sebelumnya sirna. Kamu adalah hal yang membuat aku dan ayahmu lengkap. Kau membawa senyum baru dalam keluarga kecil kita.
Ketika kau masih bayi, aku akan jadi orang yang paling intens memperhatikan satu demi satu pertumbuhan dan perkembanganmu. Aku mungkin akan rajin mencatat kapan pertama kali kau tiarap, duduk, berdiri, berjalan. Akulah yang akan membuatkanmu lagu-lagu pengantar tidur, seperti yang dulu dilakukan nenekmu pada ibumu ini. Aku orang yang ketat akan asupan makanan yang kamu dapatkan, sampai-sampai ayahmu mungkin akan gemas melihat ibumu ini begitu cerewet dalam mengasuhmu.
Ketika kau sudah memasuki usia balita, aku akan jadi ibu paling bahagia yang melihatmu mulai berceloteh sana-sini dan senang berlari kesana kemari. Ayahmu akan jadi orang paling repot menjagamu, tapi sekaligus sangat senang melihatmu tumbuh begitu sehat dan lincah. Kami akan jadi orang tua paling beruntung. Rasa-rasanya kami ingin mengajarimu semuanya, dari bermain bola, membaca buku cerita bergambar, main catur, berenang, bersepeda, sampai memanjat pohon..!
Ketika kau mulai bersekolah, kami akan jadi orang tua yang paling repot dan heboh mempersiapkan, namun kamu adalah anak lelaki yang pintar dan cerdas dan mudah menyesuaikan diri sehingga kami tidak perlu cemas bagaimana kau harus menjalani hari-harimu di sekolah. Aku akan mempersiapkanmu bekal, tentu saja, aku kurang percaya dengan jajanan-jajanan di luar sana. Tapi sekali-sekali jika kau ingin bolehlah kau beli, diam-diam pastinya tanpa sepengetahuanku. Lalu lama kelamaan kau akan mengaku karena kau tidak bisa berbohong lama dariku. Ah ya, mulailah mengikuti ayahmu ke mesjid manakala waktu shalat tiba, dan sepulangnya, belajarlah membaca Al-Qur'an didampingi oleh ayahmu. Setiap malam, kami akan membantumu mempelajari pelajaran yang sulit di sekolah. Ibumu akan mengajarimu bahasa Inggris, sementara ayah akan mengajarimu matematika.
Pesanku, Nak, jalanilah sekolahmu tanpa beban, dengan penuh kesenangan. Karena ibu dan ayah tidak memaksamu untuk menjadi murid paling pintar atau cemerlang. Ingatlah, bahwa sekolah itu bukan kewajiban, namun belajar itu adalah kebutuhanmu, untuk bekal dalam menjalani kehidupanmu kelak.
Semakin bertambah usiamu, ayahmu akan mengenalkanmu dengan tanggung jawab. Kau akan dilibatkan jika ada sesuatu yang ayahmu kerjakan. Misalnya kau akan membantu menangkap ikan ketika ayahmu membersihkan kolam ikan. Atau kau bisa bersepeda ke warung untuk membeli kecap ketika ibumu ini lupa bahwa kecap sudah habis ketika tengah sibuk memasak. Kau akan melakukan semuanya dengan senang hati, karena kau senang dapat membantu ayah ibumu meskipun hanya bantuan sederhana. Kau juga akan memiliki adik atau kakak perempuan. Kau akan menjadi saudara lelaki yang lembut dan penyayang seperti bagaimana dua pamanmu menyayangi ibumu ini.
Lalu kau akan memasuki masa remaja, kau akan mulai mengenal dunia luar lebih banyak, mengenal jenis emosi yang lebih rumit, dan mendapatkan pengalaman-pengalaman tak terduga. Aku percaya kau akan jadi remaja yang cukup baik dalam menyikapi semua itu, tentu saja ayah dan ibumu selalu ada, untuk tempatmu bertanya atau sekedar bercerita.
Saat kau sudah mulai dewasa, kau akan mempelajari apa itu cinta, dan kau akan mulai tertarik untuk menjalin sebuah hubungan dengan perempuan yang kau sukai. Pesanku, Nak, perlakukanlah wanitamu sebaik-baiknya, jangan kau kecewakan ia. Jangan pernah menyakitinya, ingatlah bahwa ibumu ini juga seorang wanita, dan tentu saja aku tak suka bila sesamaku disakiti. Maka bijaksanalah dalam berjatuh cinta dan memanajemen rasa.
Ah, tapi aku percaya kau akan jadi lelaki yang baik. Yang mampu bersikap dewasa, yang menyayangi orang tua dan menjaga saudara perempuannya dengan penuh kasih sayang. Kau akan jadi lelaki yang menggenggam masa depan di tanganmu, sekaligus suami dan ayah yang hebat dalam keluargamu kelak.
Surat ini bukan hanya sekedar pesan, Anakku. Surat ini juga adalah tanda, bahwa ibumu ini sungguh bahagia dan bangga memiliki putra sepertimu.
Oleh @ismarestii
Diambil dari http://ismapratiwii.blogspot.com
If I Didn't
Kepada kamu, pemilik hati
Mungkinkah Tuhan menciptakan makhluk lain untuk mencintaiku? Sementara telah kutitipkan seluruh detak jantungku kepadamu.
Mungkinkah Tuhan menakdirkan kisah lain untuk temaniku? Sementara berkilo liter tangisan haru dan bahagia hadir saat kamu ada ataupun tak nyata.
Mungkinkah wajah lain yang akan mengisi layang-layang di hamparan langit biruku? Sementara telah kuraut dan kupilihkan benang yang tepat untuk wajahmu menari di merah hati.
Mungkinkah ada nama lain yang akan menyertai namaku, sementara telah kutorehkan tinta namamu dengan huruf yang akan selalu tertanam di ulu hati dan ruas jemari?
Mungkinkah akan ada suara lain sementara aku tuli untuk suara hati kecuali ujarmu?
Mungkinkah seorang aku akan berdiri dengan tawa dan bahagia denganmu di sela hati, bukannya tersuruk layu menatapi pilihan yang memilihku?
Mungkinkah jika aku tidak lewat di jalan itu, maka hati tak akan pernah berpisah apalagi bertemu, sementara garisan yang menyuratiku menandai namamu dengan huruf besar? Ataukah aku akan menjumpaimu di dalam mimpi dan di sanalah kita bercinta?
Jika bukan aku, atau jika bukan kamu. Masihkah rasa ini ada?
Oleh @hauranazhifa
Diambil dari http://hauranazhifa.blogspot.com
Surat Untuk Teteh
Selamat sore, teteh
Semoga datangnya surat kali ini nggak merusak hari-hari teteh yang kelihatannya sedang berbahagia.
Sebelumnya, walaupun sangat terlambat—mengingat mungkin sudah setahun berlalu perayaannya, saya tetap pengen ngucapin, selamat atas pernikahannya teh. Segala doa saya panjatkan agar keluarga baru yang teteh bangun saat ini menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrohmah. Ah, selamat juga atas kehamilan bayi pertamanya. Semoga menjadi anak yang soleh dan penolong bagi kedua orang tuanya. Semoga pintu rezeki terus dibukakan untuk keluarga teteh. Aamin untuk semua hal tadi.
Kemudian, saya mau menyampaikan maaf. Karena nggak datang ke acara bahagia itu. Selain saya saat itu sedang berada di luar kota, saya juga masih nggak berani dan nggak tau bagaimana harus menghadapi teteh, menghadapi keluarga teteh, terutama menghadapi adik teteh terkait masa lalu kita semua. Saya benar-benar ingin bertemu teteh secara personal, teteh pastilah sangat cantik hari itu. Saya ingin sekali berfoto di pelaminan bersama teteh dan suaminya, mengucapkan selamat sambil memeluk teteh dengan binar bahagia, tapi saya rasa saya masih belum mampu. Bahkan saya nggak berani menyebut nama teteh dalam surat ini. Ya, sebutlah ini kalah sebelum berperang walaupun nggak ada yang ngajak perang. saya memang sepengecut itu.
Terus, saya juga agak ragu apakah saat itu teteh beneran mengundang saya karena undangan saya terima berupa undangan yang nggak formal. Hehe. Lagian, siapa lah saya. Maaf kalau saya terlalu lancang dan GR sampai sampai saya menulis surat ini. Maaf kalau menimbulkan ketidak nyamanan dan pemikiran hah-apa-banget-sih-nih-orang di benak teteh.
Dan saya ingin sekali menyampaikan terima kasih atas nasehat dan kenangan yang dulu teteh pernah berikan ke saya. Walaupun kita nggak pernah ketemu secara personal, saya tau tentu teteh adalah sosok yang baik hati dan menyenangkan yang sangat sayang sama keluarganya. Terima kasih pula atas sebaris ‘apa kabar’ yang saya yakin teteh tuliskan dalam rangka menyambung tali silaturahim. Walaupun mungkin teteh nggak paham, sebaris singkat yang teteh tulis tersebut mampu membuat seseorang merasa sangat bersalah. Oleh karenanya, surat ini datang untuk membebaskan rasa bersalah tersebut.
Sudah dulu ya teh. Maaf kalau terkesan basa basi. Tapi sungguh surat ini saya tulis dengan tulus. Terima kasih juga kalau teteh sudah menyempatkan membaca surat ini. Maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan.
Sampaikan salam terhangat dari saya untuk keluarga teteh,
Best regards,
-FIKA-
Ditulis oleh : @fkrdp
Diambil dari http://fikarachmadianputri.blogspot.com
Duduk - Duduk Bahagia
Aku tidak tahu harus berkata apa. Mendengar kabar darimu sungguh membuatku terharu. Aku masih tidak percaya kalau akhirnya kita akan bertemu lagi. Senang sekali rasanya, akhirnya kamu tidak lagi mengacuhkanku. Kupikir kamu tidak mau lagi mengenalku setelah apa yang telah kuperbuat padamu dulu.
Aku sangat sadar kalau melupakan kenangan menyakitkan adalah hal yang tidak mudah. Itulah mengapa aku terlalu sering meminta maaf padamu, yang akhirnya membuatmu terganggu dan malah semakin menjauhiku. Tapi sekarang aku sudah cukup tahu diri, dan tidak lagi terlalu berharap bahwa akan ada kesempatan bagiku untuk memperbaiki semua yang telah kuhancurkan dulu. Kamu masih mau mengingatku saja sudah cukup bagiku.
Sungguh, kabar darimu kali ini adalah sesuatu yang harus kusyukuri. Aku bersyukur karena akhirnya kita akan bertemu kembali setelah selama ini hanya bisa mengenang masa-masa saat kita dulu terbiasa menghabiskan waktu bersama, duduk berdua dalam diam, senyuman, dan lirikan mata. Aku bahagia, karena sepertinya masa-masa itu akan terulang sebentar lagi.
Aku bahagia karena akhirnya kita bisa duduk bersama. Kau duduk di pelaminan, dan aku duduk di kursi undangan.
Aku bahagia. Sungguh.
3 Februari
― si penyesal yang sok ikhlas
Ditulis oleh : @dennyed
Diambil dari http://dennyed.tumblr.com
Tapi Sayang
If being with you is just a dream, then don’t wake me up.
Jantungku tidak berdegup kencang saat berada di dekapmu,
Perutku juga tidak penuh dengan kupu-kupu saat kamu mengucapkan cinta,
Hatiku tidak tersayat-sayat saat kamu lupa akanku,
Dan pipiku tidak merona saat pertama kali kamu kecup,
Tapi Sayang,
Jantungku melemah saat berada di dekatmu,perlahan-lahan mengikuti setiap gerak-gerikmu, merekam semua momen yang berarti, tidak ingin kehilangan sedetikpun.
Ada energi besar yang mengalir dan membangkitkanku saat berada di sampingmu, aku tidak tahu itu apa, yang pasti bukan kupu-kupu kecil yang beterbangan. Aku rasa itu yang dinamakan kekuatan cinta.
Apabila kamu lupa akanku, hatiku tidak lagi tersayat-sayat. Aku… aku harus memungut hatiku yang sudah pecah berantakan di dasar jiwa.
Dan Sayang,
Pipiku memang tidak merona saat pertama kali kamu kecup keningku.
Aku terpaku, terdiam, membisu.
Seolah tubuhku enggan bergerak atau hanya sekedar menarik nafas.
Aku ingin waktu berhenti berjalan.
Aku ingin ciuman itu abadi.
Aku,
Yang tergila-gila akanmu.
Ditulis oleh : @donagotwit
Diambil dari http://piethstop.wordpress.com/2013/02/03/tapi-sayang/
Subscribe to:
Posts (Atom)