Hai,
Aku bukannya menghindarimu, namun rasa bersalahku mengunci bibirku. Aku tak mampu berkata-kata. Aku bahkan tak mampu menatapmu dan menyapamu kemarin.
Aku kehilanganmu, harus kuakui itu. Aku kehilangan keberadaanmu di sisiku. Aku merindukan kelakar bodohmu, tawamu, kegilaan-kegilaanmu. Aku merindukan percakapan kita. Aku merindukanmu.
Memang harus kuakui bahwa apa yang terjadi diantara kita merupakan kesalahanku. Dan aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan untuk memperbaikinya. Aku tak berdaya, sebab aku takut akan penolakanmu, yang lebih menyakiti hatiku daripada hinaan apapun yang kau lemparkan kepadaku.
Kini aku tak sanggup untuk tersenyum di depanmu. Aku tak sanggup menyapamu. Aku bahkan tak sanggup untuk sekadar bertemu denganmu. Aku memang pengecut, terlalu takut terluka untuk memecahkan kebekuan diantara kita.
Adakah yang bisa kulakukan untuk mencairkan kebekuan ini?
Yang sangat merindukanmu,
Aku
oleh @teresakartika
diambil dari http://suarangin.wordpress.com
#30HariMenulisSuratCinta adalah proyek non komersil yang digagas untuk menggabungkan kesenangan menulis di twitter dan blog. Proyek belajar menulis bersama ini dilaksanakan setiap 14 Januari - 14 Februari setiap tahunnya. Ini adalah tahun ketiga pelaksanaan proyek menulis yang juga menjadi ajang silaturahmi dari blog ke blog.
31 January 2013
Kepercayaan yang Hilang
Memang sangat sulit untuk mempertahankan satu kepercayaan.
Dimana aku yang sengaja mempertahankan satu benteng tanpa celah-celah kecil sedikit pun, sehingga ia kuat karna ada aku yang menopang dibaliknya.
Tapi bagaimana aku tahan untuk mempertahankan, jika dirimu saja tidak ikut berpartisipasi dalam sebuah benteng hubungan ini.
Satu demi satu aku kumpulkan kerikil-kerikil kecil, untuk sekedar menutupi celah-celah yang kamu buat. Tapi, benar kata pepatah. Sekuat apapun sebuah benteng dipertahankan, akan runtuh juga pada akhirnya.
Kini aku menyerah. Aku lebih baik membangun benteng yang baru dari awal bersama seseorang yang tulus mencintaiku, daripada mempertahankan yang sudah ada tanpa cinta yang utuh.
Selamat tinggal, seseorang yang pernah aku berikan kepercayaan dengan tulus. Semoga mendapatkan kebahagiaanmu. Kelak…
Oleh @Leophardd
Diambil http://yoyoobngswn.tumblr.com/post/41857653774/kepercayaan-yang-hilang
Maukah Kamu Menjadi Alasanku untuk Sembuh?
Selamat pagi, sayang..
Aku sakit. Tapi kamu tidak peduli. Aku hanya ingin kamu tahu, jika aku berhenti menulis surat, itu karena aku memang sudah terlalu lemah.
Hari ini aku kehilangan semangatku. Seperti yang kamu tahu, kamu satu-satunya orang yang selalu menjadi alasan terbesarku untuk tetap bertahan hidup. Dan entah kenapa, hari ini aku merasa sangat kehilangan. Mungkin karena di tengah rasa sakitku, tidak ada kalimatmu untuk mempertahankanku. Atau hanya untuk menanyakan separah apa sakitku.
Ketidakpedulianmu tidak membuatku mundur, namun itu membuatku sadar, aku memang tidak cukup membuatmu peduli.
Aku akan berusaha tidak peduli dengan ketidakpedulianmu. Sekarang aku hanya ingin sembuh. Aku masih harus hidup sampai hari wisudaku. Kemudian aku akan mengambil langkah besar.
Kamu jadi pulang? Jika tidak, aku tidak akan melangkah ke arahmu untuk menjemput hal yang lebih sakit.
Selamat malam, sayang..
Ps. Aku sedang mencintai seseorang yang selalu menjadi alasanku untuk sembuh. Kamu. Jadi seandainya kamu tidak kembali, aku tidak ingin sembuh.
Oleh @meyrzashrie
Diambil dari http://meyrzashrie.blogspot.com/2013/01/maukah-kamu-menjadi-alasanku-untuk.html
Hai, Iksal.
Halo!
Btw, terima kasih suratnya, ya. Dan ngehek betul suratmu sampai aku gak tau mau balas apa -.-“
Iya iya gak gendut gue. Cuma berisi kebanyakan aja lemaknya. *bagiin lemak*
Hahahaha, aku juga (sedikit) kagum aja sama kamu setelah difriendzonein ama temen trs ditinggal jadian tp masih hidup aja HAHAHAHAHAHA.
Kalau mau cerita, kasih tau aku aja ya. Aku siap mendengar cerita-ceritamu, kok :)
@mutiaamalia
Oleh @mutiaamalia
Diambil dari http://mutiaamalia.tumblr.com/post/41785251664/hai-iksal
Kepada Tuhan
Teruntuk Tuhan,
Selamat siang Tuhan, meski aku tak tahu ditempat-Mu disana apakah siang atau malam. Tapi aku mendoakan-Mu selalu baik-baik. Sedang sibukkah Kau hari ini? Ah, bodohnya aku menanyakan itu. Tentunya Kau sibuk sekali mengurusi seluruh urusan di bumi. Memilah permohonan-permohonan kami umat-Mu yang mana yang akan Kau kabulkan dan yang mana akan Kau tunda, bukan begitu? Itu baru manusia, belum lagi Kau harus mengurusi seluruh binatang dan tumbuhan di dunia. Juga alam semesta dalam lingkup yang lebih luas, pastinya lebih banyak lagi.
Begini Tuhan, aku punya uneg-uneg. Aku tahu aku jarang melaksanakan perintah-Mu, tapi aku juga jarang meminta pada-Mu jadi impas khan? (maaf Tuhan aku cuma bercanda, dan Kau pasti tahu aku sedang bercanda). Aku tak mau munafik, karena aku menginginkan sesuatu lalu aku akan rajin melaksanakan perintah-Mu. Tidak, aku tak mau seperti itu. Aku tahu melaksanakan perintah-Mu adalah kewajiban untukku, dan aku akan melakukan memang karena aku sendiri bukan karena orang lain atau karena aku menginginkan sesuatu dari-Mu.
Aku punya beberapa permintaan pada-Mu. “Jagalah selalu orang-orang yang aku sayangi”.
Kedua orang tuaku, mereka begitu bersabar diri mendidikku hingga aku sebesar ini. Memberikan kasih sayang yang tak terhingga kepadaku dan saudara-saudaraku. Aku sadar, aku belum bisa mewujudkan apa yang mereka inginkan dari aku. Tapi sayangi mereka yah?
Lalu jagalah saudara-saudaraku. Meski kami jarang berkomunikasi, Kau tahu aku sangat menyayangi mereka. Karena ayahku berpesan “Kalian harus kompak, jika suatu saat ada yang jatuh. Bantu!”.
Yang terakhir, sayangilah dia (yang sekarang sedang ada dalam pikiranku dan aku tahu Kau tahu siapa yang aku maksud). Jagalah dia meski disaat dia sedang jauh dari-Mu. Bahagiakan dia, buat dia selalu tersenyum, dan buat dia selalu bersinar.
Apakah muluk permintaanku kepada-Mu? Tidak bukan? Aku berharap Kau bisa mengabulkan. Amiin.
Terima kasih Tuhan.
~ dari seorang yang menyayangi-Mu
PS: Entah mengapa mataku berkaca-kaca saat aku menulis surat yang satu ini.
Oleh @mazni_
Diambil dari http://dmazni.wordpress.com/2013/01/30/kepada-tuhan/
Kalau Kamu Membaca Ini
Kalau kamu membaca ini, kamu pasti mengerti rasanya rindu, tapi tidak bisa mengatakannya kepadamu.
Baiklah, mungkin bukan rindu tentangmu (kamu sering mengatakan itu), tapi rindu tentang kehangatan perbincangan kita. Bukan orangnya. Kalau memang iya, kalau memang aku hanya rindu peristiwanya dan bukan orangnya, bukan kamu, bisakah kamu datang dan kita berbincang lagi lain kali? Aku berjanji tidak akan menyinggung tentang kita. Kita adalah masa lalu. Jadi, memang tidak sebaiknya hidup di situ.
Mungkin, kita akan berbincang saja mengenang cerita kita. Tentang semua tawa yang sudah kita lewati bersama, tentang semua pertengkaran yang sudah membuat kita saling tidak mau bertegur sapa, tentang film-film yang pernah kita tonton bersama, lalu menertawakan semuanya.
Jangan khawatir. Aku akan menjaga hatiku untuk tidak jatuh cinta lagi kepadamu, begitu juga seharusnya kamu.
Kita akan bertemu sebagai seseorang yang hanya sama-sama rindu dengan perbincangan kita, bukan orangnya, bukan hatinya.
Bisakah kita melakukan itu kapan-kapan?
Oleh : @namara_
DIambil dari http://www.namarappuccino.com/2013/01/kalau-kamu-membaca-ini.html
Kepada Pemilik Semesta
Selamat siang pemilik semesta..
Mungkin aku bukan termasuk orang yang sering bersyukur. Karena itu, melalui surat ini ku uraikan semua rasa syukurku dengan tiap kata yang mampu ku tulis.
Tuhan, terimakasih untuk hujan yang Kau turunkan tadi pagi. Membuatku terbangun dengan nyanyian semesta paling indah yang pernah ku dengar. Aku pikir hari ini tak bisa lebih baik. Tapi aku salah, Kau meleburkan awan-awan gelap menjadi rintikan hujan. Kemudian menyisakan awan kelabu tipis yang bergerak beriringan mengikuti angin. Dibalik awan itu, perlahan Kau membelah langit dengan warna warna yang indah. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Melebur menjadi satu kesatuan yang mempesona. Tak ada yang lebih indah dari lukisan-Mu.
Tuhan, terimakasih pula untuk semua huruf-huruf yang tertera di kartu hasil studiku semester ini. Sungguh, ini benar-benar lebih dari cukup.
Tuhan, terimakasih untuk keluarga dan teman-teman yang Kau turunkan untuk selalu menjadi sandaranku. Mereka yang menerimaku apa adanya, berbagi suka duka, dan saling melindungi diri dari dunia. Mereka yang berharga dan nggak akan bisa dihitung dengan apapun.
Tuhan, terimakasih untuk tubuh yang sehat. Yang selalu menemaniku menghabiskan hari, memudahkan aku dalam mengejar mimpi dan kebahagiaan. Terimakasih untuk mata yang melihat keindahan dan belajar dari keburukan dunia. Untuk telinga yang mendengar nyanyian alam. Untuk hidung yang selalu mencium wewangian. Serta untuk tangan yang mampu menuliskan setiap kata dari surat ini.
Terimakasih untuk segalanya, Tuhan. Terimakasih.
Tertanda,
Makhluk-Mu yang belajar bersyukur
Oleh @nrsfrn
Diambil dari http://ilrow.blogspot.com/2013/01/kepada-pemilik-semesta.html
Subscribe to:
Posts (Atom)