29 January 2013

Kepada Gibran

Kepada Gibran,

Sudah sejak lama aku ingin menulis surat kepadamu. Kau tahu, aku tidak pernah tidak menyukai puisimu. Puisimu yang kubaca pertama sudah bertahun yang lalu, meski hanya dalam bahasaku. Dan seperti itu pulalah aku menuliskan ini untukmu.

Selain namamu, aku simpan juga nama penyair yang selalu kupuja dari dulu karena kebisaannya menuliskan puisi sederhana dan menyelipkan kata cinta yang terlalu bermakna kalau menurutku. Iya, mungkin aku sok tahu, tapi kali ini percayalah, aku benar-benar jatuh cinta dengan kalimat “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana” miliknya. Apa kau mengenalnya, Gibran? Ataukah, dalam tidur panjangmu yang tak tentu kapan habis masanya itu, kau pernah bermimpi didatangi olehnya? Barangkali kalian berbincang tentang hujan, roman, malam, cinta, dan harapan. Dalam umurnya yang tidak terlalu lama itu, dia mungkin saja juga memujamu Gibran. Sama sepertiku.

Aku sudah membaca surat-suratmu, yang kau kirimkan kepada ayahmu dan saudara perempuanmu, Miriana. Pun surat-suratmu kepada sahabatmu Amin Guraib dan banyak pula yang lainnya. Tidak semua mampu kuselami dengan ilmuku yang masih sedangkal kolam ikan milikmu memang. Tidak pula bisa kubayangkan dengan jelas keadaanmu kala itu, saat tinta-tintamu berpijak pada lembaran kertas usang yang hendak kau kirimkan pada mereka. Yang aku tahu hanya aku selalu mengulang untuk membacanya, seolah aku tidak pernah lelah belajar menyelam saat aku bahkan tak tahu seperti apa itu berenang. Aku menyukai setiap suratmu kepada May Zaidah yang juga penulis dari negaramu itu. Seperti apa mencintai wanita pemuja sastra tanpa pernah bertemu? Ah, pasti May Zaidah selalu berdebar juga saat menerima surat dengan amplop bertuliskan namamu kala itu. Sudahkah kalian sekarang akhirnya bertemu, Gibran?

Dalam puisimu, kau tuliskan dengan jelas “Apabila cinta memanggilmu, ikutilah dia. Walau jalannya terjal berliku-liku”. Kau perlu tahu Gibran, aku sudah mengikuti saranmu. Dan memang, walau aku tidak juga tahu apa yang akan aku dapatkan, entah bahagia, entah luka, aku tetap mengikuti saranmu. Aku pernah jatuh cinta. Sekali, dua, kali, tiga kali, dan berkali-kali tanpa ada habisnya. Aku sudah pasrah pada kejatuhanku pada yang mereka sebut dengan cinta. Aku sudah menyerah untuk tidak menentang hati pada segala yang mereka sebut asa. Bukan kah sudah kau tegaskan kalau aku harus berlaku demikian? “Walau ucapannya membuyarkan mimpimu” katamu tanpa ragu.

Aku pernah bahagia karena cinta. Sekali, dua kali, tiga kali dan berkali-kali. Pun aku pernah menangis karenanya. Hingga sekarang air mata sudah tidak berarti lagi jika dibanding sesak nafas dan lagu sumbang penyesalan yang hampir selalu berdendang karena kekecewaan. Aku tidak membenci mereka, seperti aku tidak membenci cinta. Aku juga tidak membencimu karena telah membuatku percaya pada cinta.

Aku masih percaya semua, dari bait pertama hingga terakhir puisi yang kau tulis sewaktu mungkin kau sedang gila-gilanya dikendalikan cinta. Kau benar, dan aku tetap tak bisa mengelaknya.

Dan juga jangan mengira,
Bahwa kau dapat menentukan arah jalannya cinta.
Karena cinta, apabila telah memilihmu.
Dia akan menentukan perjalanan hidupmu..


Baiklah, anggap saja ini surat cinta. Pun surat protes untuk segala kata yang tidak mampu ku protes dari dirimu. Sekali lagi kau benar, dan aku disini akan terus tersadar.

dariku yang masih saja mempercayai cinta
 

oleh @tiaratirr
diambil dari http://tiaratirr.blogspot.com

Membaca

Hai...

Senangnya kita tidak canggung lagi antara satu dengan yang lain, biasanya kemarin kita saling mengusik. Sekarang kau tenang, lakukan rutinitas harian walau kadang kau mengintip juga ke tempat di mana ada bekas-bekasku yang tertinggal (dan aku pun senang melakukan itu untukmu). Satu pelajaran penting buatku ialah kau yang penyabar, mengajarkan aku untuk sama sepertimu.

Bagaimana kabar orang di sekitarmu? Masih menyenangkankah?
Kau sudah membaca buku apa akhir-akhir ini? Aku sedang membaca Perawan dalam Cengkeraman Militer.
Buku Pramoedya Ananta Toer pertama yang kubaca.
Ada lagi buku yang tak habis kubaca. Pikiran dan diammu yang seribu bahasa.

Bandung, 28 Januari 2013 


oleh @rizkymamat
diambil dari http://rizky-muhammad.blogspot.com

Bu, Bukan Dia (Lagi)

Ketika memang diri sudah jauh dari ambang batas kesabaran, ketika usaha terus dilakukan tanpa henti, ketika air mata yang benar-benar setia menjadi teman, saat itu semua, saat aku meyakinkan hatimu yang kokoh, bu.

Tak biasanya kau sekeras hati, Seperti sekarang. Sudah berulang kali aku meyakinkanmu bu, bahwa aku sangat baik dengan dia yang sekarang membuat hatiku jauh lebih senang. Bukan bu, bukan dia yang kau maksud yang lebih baik.

Perbincangan yang selalu menjadi hal paling memuakan, pertanyaan yang terlontar yang tak sama sekali aku sukai, ketika kau sedikitnya membuka celah untuk bertanya tentang dia yang lalu, yang memang sudah benar-benar tak ingin lagi aku bahas keberadaannya. Namun, sepertinya, dia yang kemarin sangat membekas bu, di otak dan hatimu. Kau fikir dia yang kemarin lebih baik, lebih membuatku bahagia. Sekuat hati, setenang fikiran, sesabar cara untuk meyakinkanmu, menceritakan dia yang sekarang membuatku bahagia, memberi tahu, sedikit pun tak kau hiraukan aku.

Sakit yang tertahan, sabar yang selalu dihadirkan di setiap keadaan, menjaga ketenangan hati, dibalut kasih sayang serta kekuatan dari dia yang membuatku sangat mampu untuk terus meyakinkanmu dan mendapat perhatian sedikitnya darimu bu, untuk hubanganku dengan dia yang sekarang.

Percaya selalu kepada Tuhan, tak hentinya aku berdoa untuk hal ini. Iya, masalah ini hanya masalah cinta. Sebenarnya masih banyak hal yang lain yang musti difikirkan. Tapi untuk kebahagiaan hati, aku lebih rela untuk memperjuangkan hal ini. Ya, dia sangat cukup membahagiakan hati.

Bu, sudah berapa kali aku menceritakan tentang dia yang membahagiakanku kepadamu bu? Ini sedikitnya wajah lelaki yang sudah kau kenali dari lalu Bu. :’)

image
 
Sudah sering bukan aku menceritakan tentangnya? Dari aku tersenyum disertai antusiasme menceritakan kehadiran dan keberadaannya, sampai saat ini pada akhirnya aku harus memohon kesadaranmu dan sedikit hatimu untuk menerima keberadaannya. Bu, sudah..Bu. Bukan dia yang dulu yang terbaik. Lihat bu, lihat. Anakmu kini sudah bersama orang yang Insha Allah aku berani menjanjikan bahwa dia tak akan lebih bisa buatku terpuruk. Bu, aku diberinya bahagia. Kecil. Tak berupa benda atau penarik penawar hati berupa harta. Dia berbeda. Dia bawakan Aku tawa serta canda setiap harinya. Kasihnya serta kelembutan nya, buatku merasa nyaman serta terjaga Bu. Bukan bu.. bukan dia, Bukan dia yang kau yakinkan yang lebih baik untuku. Bukan lagi yang kemarin Bu.

Bu, izinkan aku bu, menikmati keindahan dengan caraku. Bukan yang dengan menurutmu baik. Aku yakin Ibu sudah tau sekali, aku ini sudah dewasa bukan? Izinkan aku memilih, bu.

Bu, aku mohon. Dia yang kemarin tak lebih baik untukku. Batinku sedikit terasah oleh keegoisan. Ber-adu bak batu. Tak saling mengalah. Entah, Aku malas menceritakan buruknya yang lalu. Tak perlu kubahas bu. Tapi cukup Kau berikan aku kepercayaan bu, dan dengan segala Ridho serta keikhlasan mu Bu, izinkan aku dengan dia yang sekarang. Bukan bu…bukan dia lagi, yang dulu.

Atas segala hormat dan baktiku untukmu, bu. Untuk kebahagian hidupku, diluar dari kebahagiaan yang kau berikan, aku meminta izin, untuk memperjuangkan hubungan serta dia yang membuatku bahagia.

Dengan segala doa, serta usaha.. semoga Ibu terbuka dan menerima hubungan Kami.

Salam Sayang untuk Wanita paruh bayaku, untukmu..Ibu.


oleh @tiwi__
diambil dari http://hellofiercegirl.tumblr.com

You Will Always be My Boss

Dear Mbak Age,

Berikut terlampir… eh tunggu.. ini kan judulnya “Surat Cinta” bukan “Surat Ke Klien”! *eeeaaa*

Anyway, apa kabar Mbak? Semoga baik-baik aja. Meski namanya “Surat Cinta”, tapi kebanyakan isinya adalah ucapan terima kasih. Yep! Terima kasih yang bahkan sejuta kali diucapin daku pun gak bakal cukup buat segala hal yang udah diberikan oleh Mbak Age.

Seorang sahabat pernah bilang bahwa atasan yang baik adalah yang meng-­encourage bawahannya untuk terus maju, daaaan poof! Takdir mempertemukan kita, Mbak! Juga Dhias, William, Mbak Er, Mbak Jess, Septi, Irene dan Romin!

Aku masih inget dan simpen lho catatan-catatan dan nasihat-nasihat dari Mbak Age buat aku: bahwa aku kadang-kadang harus ngelakuiin hal atas hati sendiri bukan atas keinginan orang lain, bahwa aku harus percaya pada kemampuan sendiri, bahwa kelak aku bisa sukses!

Dan sekarang kita berpisah pada persimpangan dengan memilih jalan masing-masing, tapi, kalo kata lirik sebuah lagu: Beruntung Bumi bulat hingga kita bisa duduk di sisi yang sama..

Jadi kemanapun kaki kita melangkah, kita masih berada di atas Bumi yang sama, dinaungi oleh langit yang serupa.

Semoga Semesta selalu memberi berkah, kebaikan, dan cinta bahkan di setiap udara yang terhirup dan terhembus oleh Mbak Age… sekali lagi, terima kasih banyak, Mbak!

Cheers,

Andris Wisatha

P.S. Salam buat Dhias, program 30 Hari Belokkin dia gagal deh :) )

I'm sooo gonna miss you guys :') 
I’m sooo gonna miss you guys :’)

oleh @rebornsin untuk mbak @agelinda
diambil dari http://inwordswetrust.wordpress.com

Surat untuk Wanita Terhebatku.

Selamat pagi wanita terhebatku. :)
 
Pagi ini kau bangunkan aku lagi. Ya, ritual yang sama yang tak ada bosannya kau lakukan selama 18 tahun. ternyata aku masih belum cukup dewasa juga ya? ><

18 tahun silam, di kota ini, kau berjuang di tengah malam, tanpa sanak saudara, di kota yang kau datangi untuk melanjutkan studi. berjuang untuk melahirkan seorang anak yang mudah-mudahan berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.

aku masih memiliki banyak kekurangan, sering membuatmu kesal, tak mendengarkan perintahmu. maafkan aku. maafkan aku yang memakai alasan terlalu lelah, tanpa pernah berpikir betapa lebih lelahnya dirimu, bekerja dan mengurusi rumah serta anak-anakmu. maafkan aku yang memakai alasan terlalu berat, tanpa pernah berpikir betapa lebih beratnya tugas-tugas yang engkau harus jalani.

terima kasih sudah menjadi ibu terbaik untukku. :)

with love,

your daughter.


oleh @RaihanDL
diambil dari http://warnawarniharapan.tumblr.com

Resep dan Dokter

Buat @madefrs dan @Yokeparamita
GILAK!!!

Ini baru stase ketiga, tapi gue hampir-hampir tidak sanggup menghadapi kalian berdua. KALIAN SUDAH TERJANGKIT GATAL KRONIS.  Lewat depan poli jantung, jalan sengaja diperlambat. Ketemu dr D, spB Made minta saliman padahal beliau di dalam mobil. Di poli mata, dr D, spM lagi insisi hordeolum dengan randomnya kak Yoke endus-endus wangi dokternya. Kalian ini anak coass apa pengoda sih? X))))


Untuk kalian, sebagai tanda cinta gue, gue akan memberikan resep untuk sakit kalian. Kalian jangan lupa tebus dan kontrol lagi kalau obatnya sudah habis. Karena tanpa obat tersebut, gue sebagai perempuan paling normal, adem dan kalem menyerah menenangkan kalian kalau sakit kalian lagi kumat.


Jangan lupa tebus obatnya ya. Dan cepat sembuh..



Tertanda,


Ayu Retno,
teman satu stase yang harus bersabar menghadapi sakit kalian.


oleh @pnooo untuk @madefrs dan @Yokeparamita
diambil dari http://hello-pno.blogspot.com

?

Hai kamu.. kekasih baitku yang entah sedang memikirkan apapun dan siapapun saat ini.

Untuk “Keresahan ini membuat aku dan kamu saling berjalan tanpa tahu arah, menuju kemana tidak ada yang tahu, padahal ini bukan drama.”-mu, dan pertanyaan “Kenapa kita tidak bisa membuatnya lebih mudah ya?” yang kau lontarkan..

Untuk pertanyaan “J, siapa dia? Walau di suratmu itu sudah jelas sekali penggambaran tentang dia tapi aku masih merasa belum puas, siapa dia Tika berani hadir untuk mengambil sesuatu yang menjadi kebahagiaanku? Siapa dia? SIAPA DIA?” yang kembali kau lontarkan dengan intonasi yang tak tertebak olehku, dan pernyataan “Oh aku benci jarak, ia selalu mempunyai andil dalam hati yang terserak, muak tapi tidak punya tenaga untuk menolak. Sial.”-mu..

Untuk pertanyaan “Tika, aku boleh mencari dia-ku yang lainkah?”-mu yang membuatku tersenyum sedikit, dan keyakinanmu yang berbicara bahwa kau akan mengalami kehilangan lain setelah ini..

Dan untuk “R”-mu..

Aku cuma mau bilang.. Kenapa mempertahankan tidak semudah memulai?

Tidak perlu dibahas. Aku hanya sedikit lelah.

Selamat malam, B.
:')



oleh @siitiikaa untuk @bagusbaron
diambil dari http://tikazefanya.blogspot.com