25 January 2013

Aku Hampa


Kepadamu ku antarkan surat ini bersama sekeping rindu yang masih tersisa dari pertemuan kita.
Bintang dengan setia menemani purnama disetiap malamnya tiba. Disaat aku pejamkan mata, hanya bisikan lembut angin malam yang aku dengar lebih seksama. Memastikan apakah angin menyampaikan balasan rindu yang aku rasa.

Perempuan itu tidak merindukanmu, begitu bisik pelan angin di telingaku.

Aku menghela nafas seketika dengan mata masih kupejamkan. Tak ingin kubalut luka, ku biarkan dia terus menganga. Begini rasanya ternyata, bisikku. Diatas sana, mungkin purnama sedang meledekku walaupun ada rasa iba. Yang kulakukan kini adalah sia-sia. Kamu tersenyum kemudian tertawa lepas oleh leluconku, dulu. Kamu yang bawel, kamu yang bahkan tidak pernah benar-benar marah, kamu yang pengertian, kamu yang berusaha selalu ada untukku. Kamu yang ku hadirkan dibenakku saat masih kupejamkan mata. Kamu yang aku kecewakan oleh egoku. Ah, begini rasanya ternyata, bisikku lagi. Ku biarkan luka ini semakin menganga, agar aku tahu apa yang kamu rasa, dulu.

Semua hal sudah terlambat, aku hampa. Namun baru kini aku tersadar.
Maaf...
Perlahan ku buka mata, disaat bersamaan aku melihat senyum hangat yang aku rindu tertuju padaku.

"Aku juga rindu..."

Detik berikutnya aku tahu, aku masih pada khayal ku. Kamu meninggalkan sepi disana, aku semakin hampa.



Ditulis oleh : @dsadissa
Diambil dari http://dissa-elvaretta.blogspot.com

Selamat Ulang Tahun, Kamu


Kota Dingin 24 Januari 2013

Sahabatku Alberta tercinta.

Bagaimana menjalani hari pertama dengan umur barumu sahabatku? Umur yang dianggap sebagian orang adalah umur yang sudah cukup untuk perempuan menikah. Umur yang semakin menunjukkan bahwa kedewasaan perempuan sudah masanya. Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun Alberta ku!

Seharusnya aku menulis surat ini untukmu kemarin, tepat pada 23 Januari. Hari spesialmu yang juga kau habiskan bersama orang-orang spesial dalam hidupmu. Termasuk aku. Sudah iyakan saja, ya. Namun kemarin aku terlalu sibuk untuk berhujan-hujan ria menjemput Dini dan kemudian menemuimu di Taman Puring untuk makan malam bersama kamu dan keluargamu. Dan tentunya, bersama kekasih hatimu yang baru. Mas Wedha, tentunya. Mas Bintang seperti yang dikatakan Dini. Huhft, merah sekali mukamu tadi malam yang kulihat. Begitu Dini salah mengenali kekasihmu. Dia adalah Mas Wedha, bukan Bintang yang sudah sering kudengar. Bagiku, keputusanmu untuk bersama Mas Wedha adalah sebaik-baik keputusan, kamupun merasa demikian bukan? Buktinya baru beberapa bulan pacaran kamu sudah mengenalkannya pada Ayah dan Ibumu yang kemudian selanjutnya dia menemanimu di acara spesialmu tadi malam. Tidakkah ini sungguh membahagiakan aku yang melihat kalian begitu serasi dan nampak gembira? Tak bisa kamu sembunyikan pendar-pendar bahagia itu, percayalah. Doaku semua kebaikan dan kebahagian pada kalian akan bermuara. Tepat dihari ulang tahunmu.

Keputusanmu untuk meninggalkan Bintang pun sudah tepat. Dia hanya lelaki yang sudah mempunyai kekasih kemudian masih menginginkan perempuan lain yaitu kamu. Walaupun kemudian kamu menunjukkan keseriusanmu untuk bersamanya, namun tak begitu dengannya. Dia tetap bahagia bersama kekasihnya dan merasa memilikimu juga sebagi kekasihnya. Tidakkah ini menyakitimu? Sedang banyak kebahagiaan lain diluar sana yang jelas-jelas tengah menantimu.

Kuharap padamu semakin bertambah kesempatan umur yang Tuhan beri, semakin besar pula sabarmu dalam hidup, semakin besar rasa syukurmu padaNya. Dan tetap, jadilah anak yang berbakti untuk Ayah Ibu. Tetap menjadi sahabat yang menyenangkan bagi kami. Tetap dengan dirimu yang selalu ceria dan tak mau ambil pusing masalah.

Oh, ya sampaikan salamku pada Mas Wedha. Dia pasti akan menjagamu dengan baik. Semoga untuk ulang tahun pertamamu yang kalian lewatkan bersama, pun dengan ulang tahunmu selanjutnya, selanjutnya dan seterusnya.

Dari yang begitu menyayangimu.
-Erna-


Ditulis oleh : @enhanhanha
Diambil dari http://ernamardjono.tumblr.com

Lelah Tak Harus Menyerah


Teruntuk penyemangat hariku,
Bidadari berzodiak libra.

Semalam aku sempat berpikir tentang perjuangkanku meraih hatimu. Entah ini sudah bulan keberapa yang aku lalui dengan sia-sia, tak sedikit pun aku mendapatkan perhatian yang lebih darimu. Adakah yang salah dari caraku menyayangimu? Jika ada, tolong katakan. Sehingga aku tidak membuang-buang waktu terlalu banyak, karena seandainya kita bersama mungkin sudah banyak kisah-kisah manis yang akan kita rangkai. Kamu tau, semalam aku berpikir untuk menyerah dan meninggalkan segala perjuanganku selama ini. Sudah terlalu banyak air mata yang aku habiskan hanya untuk menunggumu, menunggu seseorang yang bahkan tak perduli sedikit pun. Apakah itu terlihat baik adil dimatamu? Seharusnya tidak.

Namun setelahnya, aku mencoba merenung dan membayangkan senyummu. Seketika keinginan untuk menyerah itu hilang. Entah kemana larinya, yang jelas aku tampak kembali bersemangat. Aku sangat kagum dengan hebatnya kekuatan senyummu, menaklukan kenyataan dan membangunkan kembali ambisi yang sempat pudar. Aku sadar, bahwa sesuatu yang layak sudah seharusnya diperjuangkan. Jika memang pada akhirnya takdir tak pernah menuliskan cerita kita, setidaknya aku sudah menuliskannya pada sebuah pengalaman dan kenangan. Saat ini aku memang sangat lelah, tapi bukan berarti aku akan menyerah. Kamu tau bahwa batu yang begitu keras sekali pun aku bolong bila ditetesi air terus menerus? Anggaplah batu yang keras itu sebagai hatimu dan air yang menetes itu adalah usahaku. Kemana pun kau berlari, aku akan selalu berada tak jauh dibelakangmu. Menjaga dan melindungimu, sampai pada akhirnya kamu menoleh kebelakang dan berlari bersama disisiku.


Ditulis oleh : @GiovanniEldi
Diambil dari http://giovannieldi.blogspot.com

Dear Bang Ucok..


Selamat pagi, abang sayang :)

Abang sayang, kau masih ingat tidak pertama kali kita kenal? kalau tidak salah 3 tahun yang lalu. dan di april tahun lalu, masih ingat tidak kenapa kita kemudian bisa begitu dekat?

Abang sayang, akupun bingung kenapa akhirnya bisa denganmu. tidak disangka sekarang kaulah yang mewarnai hari-hariku, yang bahkan awalnya niat untuk jadi bagian hidupmu sampai sedemikian rupa seperti ini saja tidak pernah ada.

Bang, sayangnya aku sendiri tidak seyakin itu dengan hubungan kita kedepannya. bukan karna aku tak cinta kau lagi, bukan juga karna ada yang lebih ganteng darimu. tapi karna sesuatu hal...

Abangku sayang, siapapun tau bahwa kita tak seiman. bahkan orangtuaku pun sudah melarang. sekuat apapun kita mampu bertahan, semua ini takkan ada ujungnya. 'bagiku agamaku, dan bagimu agamamu'. aku tidak mungkin dan tidak ingin memintamu untuk beriman pada apa yang aku percayai, kaupun tak mungkin melakukan itu padaku.

Abang sayang, tidakkah kau berfikir sejauh aku? karena, pasangan mana yang tidak ingin kekasihnya menjadi pendamping hidup untuk selamanya.

Abang sayang, sudah lama hal ini ingin kubicarakan. Hanya saja tiap bertemu kau, lidahku beku. senyummu membuatku membisu, tawamu membuyarkan semua kalimat  yang awalnya sudah kususun rapi.

Abangku sayang, saat ini aku hanya sedang menunggu sambil mememanimu agar  tak kesepian. nanti, apabila sudah kau dapatkan wanita yang lebih baik dari aku dan tentunya mempercayai apa yang kau percayai. aku ikhlaskan kau untuknya  :))

Abangku sayang, aku hanya inginkan satu. aku ingin kau paham bahwa walau nantinya kita harus berpisah, itu bukan karna kita yang tidak lagi saling menyayangi, tetapi karena hal lain. karena didunia ini tidak semua hal yang kita inginkan, sesuai dengan kenyataan.

Abang sayang.. Tuhan lah yang mempertemukan kita, kemudian ada yang dinamakan cinta, itulah yang membuat kita menyatu. Tuhan inginkan kita belajar bagaimana mengolah rasa, meredam amarah, saling menghargai dan saling melindungi. untuk bekal nanti, disaat kau dan aku masing masing telah punya pendamping hidup.

Abang sayang, apapun yang terjadi. kau tetap Bang Ucokku yang baik... :')

Bye.


Ditulis oleh : @diniayulest
Diambil dari http://diniayulested.blogspot.com

Kepindahan


Dear Selvy Prawibawa 

Halo, tidak terlambat absen di finger scan kan hari ini? Kuharap tidak karena bulan ini HRD kita sedang galak-galaknya. 

Selamat ulang tahun, Selvy. Semoga kamu selalu sukses dalam berkarya. Semoga kamu juga mendapat yang terbaik di tempat ini, atau mungkin di sisi-sisi lain dunia yang belum pernah kamu temui. 

Maaf bila membuat mejamu berantakan. Aku dengar kamu suka red velvet. Jadi aku membeli sepotong kecil untukmu dan beberapa tangkai mawar merah muda, lalu meletakkan di mejamu sejak pagi. Oh iya, aku tahu dari Sarah kalau kamu mengincar sebuah gelang perak di toko Lolly Mowwy. Aku harap aku tidak salah membeli. 

Hari ini aku belum sempat menemuimu, sayang sekali. Ternyata kendaraan sewa yang kupesan datang terlalu cepat, lebih cepat dari kamu. Aku harus segera membawa sisa-sisa barang di mejaku dan langsung menuju Surabaya. Semua sudah siap sejak kemarin. Yah, maksudku tentang kepindahanku. 

Senang bisa mengenalmu dan semua teman di kantor ini. Aku harap kita semua dapat bertemu lagi, terlebih denganmu. Mungkin kamu ingin berterima kasih atas kado hari ini dengan menerima ajakanku makan malam suatu hari (just kiding, Sel). Terima kasih atas semua. Semoga kamu selalu bahagia :) 

Tertanda 
-Aldy Mahendra-


Ditulis oleh : @desimanda
Diambil dari http://www.orlandoandme.blogspot.com

Dari Kekasih Masa Depan


Surat ini datang dari orang yang mencintaimu, meski pun kamu mungkin belum mengenalku. Dan sebelum kamu membaca surat ini lebih jauh, aku mau bertanya satu hal, apa kamu percaya jika aku katakan bahwa surat cinta ini datang dari masa depan?

Sebagai buktinya, aku bisa meramalkan bahwa setelah kalimat ini, kamu pasti akan tertawa dan berkata, “Apaan sih..” kemudian membolak-balik kertas surat ini mencari siapa pengirimnya. Aku memberi kamu waktu untuk melakukan itu.

Aku benar, kan?

Tapi kamu tetap tidak akan menemukan petunjuk siapa pengirim surat ini. Karena di masa depan, meski pun seseorang memiliki kemampuan untuk menyampaikan hal-hal yang ingin disampaikannya pada masa yang sudah lalu, ia hanya bisa menyampaikannya lewat surat. Dan dia juga dilarang untuk mengatakan identitas dan keberadaannya, karena hal itu akan mengacaukan kehidupan masa lalu dan otomatis dunia masa depan pun akan berubah.

Makanya, aku menulis surat ini dengan keterangan anonim. Yang jelas, aku adalah seseorang yang sangat mencintaimu di masa depan. Mungkin kamu berpikir aku adalah seorang pengkhayal, tapi tidak begitu, aku bersungguh-sungguh.

Kamu mungkin merasa heran, mengapa aku harus mengirim surat ini untukmu di masa lalu jika aku bisa bebas berbicara mengenai apa saja denganmu di masa depan, sebagai orang yang hidup pada waktu yang sama?

Tapi sebagai sepasang kekasih di masa depan, hubunganmu dan aku sedang kurang baik. Jika aku katakan, kamu di masa depan sedang bersikap menyebalkan dan tidak mau mengerti dengan apa yang aku ucapkan, kamu mau percaya? Aku tahu, setelah ini kamu pasti mendengus dan tidak setuju dengan apa yang aku ucapkan. Kemudian berpikir bahwa jika kita bertengkar itu pasti salahku. Khas kamu.

Tapi tidak. Bukannya aku kurang mencintaimu atau apa, tapi justru karena aku sangat mencintaimu. Aku terlalu ketakutan dengan kemungkinan aku bisa saja kehilanganmu. Untuk itu aku menulis surat ini dari masa depan, karena aku ingin memperbaiki kau dan aku dari awal.

Jadi, sebenarnya aku menulis surat ini untuk disampaikan juga pada kekasihmu di masa saat ini.

Tolong sampaikan padanya untuk jangan terlalu mencintaimu karena kekasih masa depanmu cemburu. Tolong sampaikan padanya untuk jangan terlalu banyak berjanji karena kekasih masa depanmu merasa dicintai setengah hati. Tolong sampaikan padanya untuk meninggalkanmu dengan alasan yang jelas karena kekasih masa depanmu masih berpikir kisah kalian meninggalkan bekas. Tolong sampaikan padanya untuk berhenti mengusikmu di masa depan karena kekasih masa depanmu meragu.

Tolong sampaikan padanya bahwa ia hanya sekedar keping masa lalu, dan aku, kekasih masa depanmu, adalah seseorang yang akan membawamu ke petualangan baru yang lebih seru.

-Dari orang yang mencintaimu di masa depan-

Ditulis oleh : @frdtas
Diambil dari http://faraulias.wordpress.com

Dari Belahan Untuk Belahan


Chaka Pumpkin Caterpillar,
Kunyalakan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Risa Sarasvati. Liriknya selalu mengingatku padamu. Sebelum lebih jauh membaca surat ini, putarlah nada-nada indah itu, biar menemanimu masuk ke dalam jiwaku. Meski selama dua puluh tujuh tahun ini, kau tak perlu apapun untuk mengerti setiap inci perasaanku.

Derap langkahku terseok
Amar harap elok
Badik sayati relungku
Pijarmu memaku

Chaka,
Hidup ini memang lucu. Ingatkah suratku untukmu tahun lalu? Di sana aku bercerita tentang perpisahan, bukan sebenar-benarnya, hanya saja kita telah memilih jalan yang berbeda. Aliran yang menjerat kita pada pilihan berlainan. Membuat jiwa dan raga kita berjarak. Menghabiskan waktu bertemu dengan orang-orang yang hanya akan kita temui dalam cerita. Setiap kali bertemu, bibir kita akan terus berbagi dongeng, seakan waktu tak kan mampu menampung rasa rindu. Tapi lihatlah kini? Tuhan telah mengabulkan salah satu impian kita, rumah berdampingan. Kukira kita telah menyusuri rel yang bertentangan, ternyata hanyalah cabang yang bermuara pada satu stasiun.

Pumpkin,
Setiap malam, masih saja kita berbagi lakon dan riwayat. Mereka pasti tak percaya, bahwa di rumah kita, waktu melesat cepat, bahkan kita tak sempat menulis sejarah. Kau tahu kenapa? Karena hati kita begitu penuh. Meski ada malam-malam kulalui dengan sunyi, sepertimu melalui hari gelap dengan senyap. Namun ruang kembali cerah ketika saling menyapa untuk memulai hari.

Secampin kau terilhami
Asa kerap mati
Tegarlah kau disampingku
Cabir tak berliku

Caterpillar,
Rumah kita mungkin hanya mengenal sosok lelaki, sekilas lalu. Karena mereka hanya datang bertandang. Atau Ayah yang sibuk menengok cucu kesayangan, sambil sesekali membenahi jetpam. Suaranya bising hingga berjam-jam. Atau kekasihku yang kadang pulang larut malam. Lalu mereka yang mengaku temanmu. Rasanya kita seperti anak sekolah saja. Hanya saja, Ayah tak lagi banyak melarang, karena kita telah menjadi dewasa. Barangkali lelaki menjadi warna, sesekali menolehkan luka.

Ah lelaki,
Betapa mereka tidak saja menorehkan cedera, tapi juga trauma. Setiap kali itu terjadi, kaulah tempatku pulang. Seperti setahun lalu, tentu sulit bagimu, apakah kau memilih untuk pulang padaku? Seringkali perlakuanku begitu keras padamu, semoga kau tak salah mengerti bahwa itu adalah cinta. Cinta yang tercipta sungguh beda. Pernah kukatakan padamu, cinta ini tak kalah indah dengan kasih ibu.

Epa,
Aku suka aroma masakan yang terkuar dari dapur ketika baru saja membuka mata. disusul wangi kopi dan penganan. Lalu kita akan bersantap bersama, ditemani Rasi, putri kecil kita yang akan lebih sibuk hilir mudik mengambil mainan. Setelah kau memandikan si kecil, kita akan sibuk di depan komputer, sesekali melontarkan komentar. Entah didengar entah tidak. Aku selalu suka setiap kali tawa tercipta.

Lunglai kita saling menggenggam, risau hilang meski mencekam
Cadung jiwa terus berlayar, meski kelam selalu berputar

Chaka Pumpkin Caterpillar,
Hari ini aku belanja sayuran, tak sabar kupamerkan. Ada bahan-bahan sayur asem, jagung manis dan toge. Oh ya, tidak lupa tahu dan tempe, makanan wajib kita. Lalu ada sosis dan baso, jangan sampai tak ada daging sama sekali. Kau akan sumringah, lalu dengan santai memetik tiap batang toge sambil menonton serial korea. Aku akan menolak untuk menonton dan lebih memilih serial tentang mayat hidup.

Rumah kembar kita,
Bentuknya benar-benar kembar. Setiap kali salah satu kawan dekat berkunjung, mereka akan tercenung. Barangkali berpikir betapa miripnya rumah ini. Meski sedikit keliru. Mereka seolah menganalogikan bahwa kita sosok yang satu. Padahal ruh kita ada dua, mereka memiliki kehendak berbeda. Seperti rumah kita yang ditata oleh dua lengan yang tak sama.

Geletar hati gentar isak tangis pudar
Rinai hujan menebar
Dan intuisi jiwa berakhir nestapa
Kita tetap berdua

Eva Sri Rahayu,
Kita telah mengalami proses yang panjang untuk sampai pada sebuah penerimaan. Kita yang bertumbuh dan mendewasakan diri. Barangkali sesekali masih terasa memuakan jika ada yang memperbandingkan, lebih seringnya kita tertawakan. Kita yang kembar ini, acap kali membangkitkan keinginan banyak orang untuk merasa superior. Itu yang pernah kau katakan, yang kemudian kuamini. Mereka adalah yang merasa mengenal kita lebih dalam, merasa bisa mengakrabi kita, memerlihatkan pada dunia menjadi satu di antara kita. Biarkan sajalah, kita toh tidak pernah terpecah dan lebih sering menikmatinya sebagai hiburan. 

Kau tahu,
Antara kita, selalu ada dunia sunyi yang rapuh. Menyisipkan keheningan agar kita sedikit berjarak. Kini aku mengerti, kenapa kadang kala kita ingin memiliki dunia yang berbeda. Dunia yang tidak saling menjamah. Mungkin kau pikir, karena kita ingin punya ruang. Tapi coba kau resapi, jarak hanya membuat kita belajar untuk melepas. Hingga akhirnya, sebenar-benarnya berpisah. Walaupun rasanya mustahil. Jika sampai pada waktunya nanti, aku tidak mau ditinggal. Ah, sudahlah jangan mendahului Tuhan.

Dari gerbang,
Terdengar bunyi bergelotakan. Ah, kau rupanya datang. Tahu saja, hari ini akan kukirimkan sebuah surat untukmu. Jangan curang, jangan mengintip. Sebaiknya kusudahi saja surat ini.

Belahan untuk belahan, 
sepotong untuk sepotong, 
kepingan untuk kepingan, 
kemudian menjadi kita.


-Salam dari separuh untuk separuh-


Ditulis oleh : @EviSriRezeki @EvaSriRahayu
Diambil dari http://myfairytalemytale.blogspot.com