21 January 2013

Maaf Jika Bukan Inginmu

Sugeng sonten, Mbah Kung..

Aku kangen mbah kung..
Sudah sejak sebelum aku lulus SD sampai aku hampir lulus kuliah, mbah kung tidak lagi di sini. Rumah kulon sepi sekarang, tapi masih berdiri kokoh sama seperti mbah kung yang gagah dengan seragam cokelat di foto. Catnya masih sama, garasinya juga masih ada. Masih bisa kutemui mbah kung yang duduk di teras rumah, sama mbah putri seperti dulu waktu aku pertama kali belajar naik sepeda.

Aku kangen mbah kung..
Dulu waktu mbah kung masih 'sugeng', aku mau jadi seperti mbah kung. Dengan seragam cokelat gagah, jadi penegak hukum, jadi polisi. Aku mau jadi polisi. Dulu. Sampai akhirnya mbah kung nyusul mbah putri, kondur ing daleme Gusti.

Bukannya ingkar janji, tapi aku menemukan kenyamananku. Mbah kung pasti tahu kenapa sekarang aku ga mau lagi jadi polisi. Aku suka kebebasan, mbah. Jadi polisi harus berseragam, patuh dengan peraturan-peraturan di akademi. Sekarang aku memang tambah bandel, susah nurut kalau dibilangin. Tapi ya aku sudah nemu apa kemauanku. Mbah kung boleh bangga, nilaiku selalu di atas rata-rata, katanya aku harus jadi anak pinter. Sudah aku turuti. Tapi aku tetap ga mau jadi polisi. hehehe..

Doakan saja dari surga, mbah, biar semua yang aku jalani sekarang bisa jadi kebanggaan anak ragilmu. Doakan saja, mbah. Terima kasih untuk disiplin dan tegas yang pernah mbah kung ajarkan. Mbah kung itu salah satu polisi kebanggaanku. Salam hormat, Kapten. Salam juga untuk mbah putri, aku kangen jadah gorengnya..

Berkah Dalem


Ditulis oleh : @dzdiazz
Daimbil dari http://aksaralain.blogspot.com

A Stranger In Front of Me

To you, a stranger in front of me.


I don’t know you, and you don’t know me. But I’ve seen you naked, in my naked mind. No, I’m not a pervert. I’m just somebody with a human touch who can’t help but being obsessed to someone with taste. You, you’re tasty.

I don’t know you, and I don’t want to know. You and your being mysterious are a package that turns me on, and that’s all I need to know. I want you, but I’m jealous of you. Have you ever felt like wanting somebody but at the same time hating them? That’s what I’m feeling at this moment.

Damn, I hate you right now, but I’ll do anything to make you love me. Nothing that I want but the fact that while you’re looking at me too, you’re thinking the same way. How can you be so awesome while I feel like a loser here?

Looking at you and your existence now gives me nothing but insecurity. You’re that ideal person I’ve been dreaming all my life whom I missed when I needed the most. You’re the kind who loves seeing me suffering, or are you not?

I never knew how Snow White’s stepmother felt when she was talking to her magic mirror on the wall, until right now. It must be hard for her to face what reality brought her. Just like what it brings to me. Reality is a better place to live, but sometimes I feel like I want to live somewhere else. How does it feel to live on the other side of mirror?


January 20
― a man and his reflection


Ditulis oleh : @dennyed
Diambil dari http://dennyed.tumblr.com

Si Alis Hitam

Teruntuk: @fajarsuryaa

Hallo pria beralis tebal :p
Mungkin kamu bingung kenapa aku menuliskan surat ini,
Okee aku perjelas, surat ini aku tulis karna engkau berarti

Mungkin kamu tak sadar apa arti kamu untukku.
Tunggu dulu jangan berpikir yang macam-macam. berarti di sini merupakan "sahabat"
Kita sudah lama mengenal, hampir 3 tahun lamanya
Aku lupa bagaimana pertama kali kita berkenalan. Semuanya terjadi secara cepat dan terlupakan oleh ku. Hahahaaa bukan berarti karna aku lupa kau tak berkesan. Aku lupa karna banyak hal yang lebih indah dari itu dan semuanya menutupi.
Berawal dari kamu yang mungkin ingin seperti "Cupid" dalam ceritaku. Menjadi Cupid yang berniat baik untuk menyatukan dua hati yang sedang tersakiti. Aku tau kamu tak bersalah, kamu hanya Cupid yang buta akan persahabatan. Bukan !! bukan maksudku untuk menyalahkan atau memojokimu. Tapi setiap kaliaku mengingatnya aku terlalu kesal dan benci kenapa bisa kamu menyatukan htaiku dengan hati yang salah.

Hai Cupid beralis tebal..
Terima kasih telah menusukkan panah cinta di tangan ku dan tangannya. Hingga aku mempunyai sebuah cerita cinta yang tak patut disesalkan karna semua merupakan pelajaran. Cupid terima kasih telah mendekatkan ku kepada mereka, sampai akhirnya aku tau apa itu arti cinta dan sebuah ketulusan.

Maaf jika akhir-akhir ini kau berpikir aku menjauhi kau atau aku selalu marah. Aku tak bermaksud membuat kau berpikir seperti itu. Mungkin ini karna semua hal yang sedang aku pikirkan. Semuanya mengubah sifat dan sikap ku.

Pria yang selalu menjadi Cupid dalam cerita hidupku. Terima Kasih untuk semuanya.
Oh iya.. Jangan berpikir ini surat cinta seperti pada umumnya. Aku mengirimkannya bukan hanya untuk kau. Tapi untuk 30 orang yang berarti dalam hidupku :)


Jangan pernah beranggapan bahwa sakit hati itu adalah akhir dari cerita.
Terima dan ikhlaskanlah. Buka matamu untuk seseorang yang ada di depan sana.
Jangan salahkan dia yang mempertemukanmu dengan seseorang yang menyakitimu.
Tapi salahkanlah dia yang meninggalkanmu karna keangkuhan dan egois dirinya


Ditulis oleh : @erlita_bebby untuk @fajarsuryaa
Diambil dari http://erlitabebbyaprilianti.blogspot.com

Beradu dengan GENGSI

Kamu, masih tentang kamu, dan selalu kamu. Aku tidak akan menanyakan kabarmu hari ini. Aku langsung berdoa saja, semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya.


Kamu, kemana saja kamu pak? Sudah 6 hari kita tidak saling bertukar kabar tanpa sebab apapun. Kamu marah padaku? Ada yang salahkah pada diriku? Atau sudah ada yang lain? Sesibuk apa kamu sampai tidak sempat memberiku kabar. Atau Kamu gengsi ya mengirimiku short message terlebih dahulu? Aku juga sama. Jadi, menurut kamu bagaimana solusinya?


Kamu itu Capricorn itu seharusnya mengalah pada Taurus, karena Taurus itu keras kepalanya is like a diamond. Hehe.. #terkekeh #miris


Gengsi, Gengsi, Gengsi??
aku tahu apa yang diperlukan gengsi, gengsi itu perlu orang ketiga yang akan mendamaikan aku dan kamu.


Atau kamu mau mengikuti gengsi. Hingga akhirnya rasa itu lenyap tanpa sedikitpun tahu ternyata kita pernah saling merindukan.


Jadi??



Ditulis oleh : @dhiny_mayvi
Diambiol dari http://dhinymayvi.tumblr.com

Senja yang Marah

Tak seperti biasanya, sore ini langit tampak murung. Keindahan yang biasa langit senja pancarkan kini berganti dengan hujan yang mengamuk. Kilat dan petir secara bergantian menghiasi langit senja saat ini. Entah apa yang terjadi, entah apa yang membuat senja begitu marah seperti ini.

Kebiasaanku terhenti. Menikmati langit senja bertemankan segelas kafein dan sebungkus nikotin tak lagi bisa kulakukan, padahal aku sangat merindukannya. Aku selalu terbangun dipagi hari, dengan harapan aku tak melewatkan sedikit pun dari keindahan senja. Sekarang semuanya terasa hampa, tak ada lagi yang bisa aku nikmati. Pikiranku kacau, aku butuh kebiasaanku kembali. Tuhan, tolong dengar do'a anakmu ini.

Sekarang aku selalu menutup hari lebih cepat dari biasanya, dengan harapan keesokkan harinya langit senja mau menunjukan kelembutan dan keindahannya. Tak lupa sebelum menutup hari, aku memanjatkan do'a untuk cuaca esok hari. Lucu memang melihat bagaimana aku sudah lupa cara mendoakan orang yang aku sayangi sampai-sampai langit senja yang harus aku doakan. Tapi memang saat ini, tak ada yang lebih aku sayangi daripada langit senja. Aku rela membayar lebih untuk melihat senyum langit senja seperti biasanya dibanding harus berbagi luka untuk sekedar melihat senyum penuh artimu.

Teruntuk sosok yang aku rindukan, 
Langit Senja.


Ditulis oleh : @GiovanniEldi
Diambil dari http://giovannieldi.blogspot.com

Untukmu, Dokter Kesayanganku (Part 1)

Dear Dee,

I still can’t imagine that you are a million miles away from me. Kamu gitu lho, sama kayak aku, TK-SD-SMP-SMA-FK di Bali. How’s the jungle out there? Can you manage to survive, just to stay alive? Hehehe… O, my dear, be strong.

Pada akhirnya kita pisah ya, demi cita-citamu. My future pulmonologist, betapa kerennya kamu kelak Dee!!! Aku bangga. Tapi kenapa harus Surabaya sih? Why oh why? Kamu tahu aku ngga bisa ikut kesana. Kamu kan tahu aku sudah terikat disini. Aaaargh!

Bisa kamu bayangin kita jauh? Ngga ada acara ngopi sore di starbucks, lunch dadakan ke pizzahut, atau dinner hore di xo suki. Yang paling penting sih ngga ada sesi panjang curhat-curhat ga penting kita lagi. Acara weekend sleep-over yang selalu berakhir with no sleep at all ’cause we just talked and talked all night long.

Kamu menyalahkanku, aku bilang kamu bodoh. Lalu kita menghela napas panjang, life is though, ya? Kamu berceramah lalu aku mentahkan dengan argumenku. Lalu kita sadar kita ini apa-apaan sih ya? Menertawakan kita, selalu aku rindukan. Kamu dengan segala positive mental attitude dan aku yang negatively skeptically ignorant, malah saling melengkapi. We’re puzzles made in medical school, trying to save someone’s life while walking in tremble to save ours.

Tanpamu tak akan mudah, salahmu yang selalu memanjakan aku. Tapi lalu kamu marah, kamu bilang aku egois, selalu memikirkan nasibku. Kamu lebih khawatir nasibmu di sana, tanpa aku, tanpa Chika, Ami, Lily, Astri, dan Dayu. Salah kita! Salah kita yang selalu bergantung satu sama lain.

Kamu baik-baik ya di sana. Jaga makanmu, your bloody hell royal stomach! Ngga ada Bali Bakery di sana tauk! Yang penting makan yang teratur. O c’mon you’re a doctor, we can skip this topic. Diantara kita memang kamu yang paling sering sakit sih.

Belajar yang rajin ya! (Ini cuma basa-basi-busuk) Maksudku belajar yang rajin biar kalau libur kamu bisa pulang, bukannya bikin tugas. Hahahaha….

Ya udah deh itu aja, sebelum aku mulai nangis kangen kamu. Bye.

Your beloved friend,
Fristia.


Ditulis oleh : @fristia untuk @dyah_wid
Diambil dari http://fristiaindarini.wordpress.com

Pilih Saja Aku

Gendis sahabat terbaikku. 

Sudah, sudah. Kamu tak usah terharu begitu menerima surat dariku. Anggap saja aku sedang tak sibuk dengan tugas kuliahku yang padat dan kebetulan tak ada kerjaan. Makanya jadilah sebuah surat ini untukmu. 

Oh, ya bagaimana kabar Om dan Tante? Mereka masih sering bepergian keluar kota untuk mengurus bisnisnya kah? Aku tau, pasti kamu merasa kesepian dirumahmu. Aku hafal, karena dulu seringnya kamu mengajakku jalan-jalan keluar rumah untuk sekadar menonton film atau hanya makan. Belum berubahkah kebiasaanmu, Gendis? Bahkan setelah kamu menemukan lelaki yang kamu harap-harakan sedari dulu? Hahaha, lucu juga kupikir lelaki seperti Anggara yang selalu terlihat serius mampu meladeni kamu yang urakan, manja dan selalu saja berisik. Angin apa yang membawa kalian saling jatuh hati, sampai-sampai kalian bisa bertahan selama hampir 3 tahun.

Tapi bagaimanapun, pada Anggaralah aku menitipkan kamu. Kukatan waktu dia menghadiri wisuda kelulusan SMA kita. Aku akan melanjutkan kuliahku ke Surabaya dan kamu tetap di Yogyakarta mengikuti Anggara yang sudah setingkat diatas kita. Tidak ada yang perlu ku khawatirkan karena kulihat kamu begitu dijaga olehnya. Begitu dilindungi. Pun denganmu yang selalu memancarkan rona bahagia dan tawa lepasmu ketika berada didekatnya. 

Aku hanya bisa bahagia, untukmu Gendis. Walaupun dalam hati terdalamku sangat kusesalkan kenapa kamu tidak denganku saja. Seperti pintaku padamu jauh-jauh hari sebelum kamu mengenal Anggara. Kamu bilang, akan lebih nyaman kalau kita hanya bersahabat saja. Aku rela menjadi sahabat terbaikmu kalau hanya dengan cara itu aku bisa selalu didekatmu, menjagamu dan melihat senyummu. Tanpa perrnah kuutarakan lagi rasa dihatiku yang semakin hari justru semakin bertumbuh dengan sendirinya. 

Termasuk ketika kau memutuskan untuk bersama Anggara, aku hanya bisa bahagia untukmu. Kuacak-acak rambutmu waktu itu dan berkata semoga Anggara tahan dengan kelakuan-kelakuan anehmu, salah satunya mengunyah sedotan yang habis kamu pakai minum. Kamu hanya menanggapiku dengan tertawa. Itu seperti baru saja kemarin ya, saat kita tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan Ujian Nasional.

Tak terasa 3 tahun sudah berlalu, 3 tahun juga sudah aku merantau ke Surabaya untuk melanjutkan kuliahku. Salah satu alasannya taukah kamu, Gendis? Aku tidak bisa terus-terusan dan setiap hari melihatmu dan Anggara. Sedang cerita-ceritamu tentangnya saja sudah cukup membuatku miris. Dan selama 3 tahun pula Gendis, tak ada sosok perempuan yang menghapus bayanganmu dari pikiranku. Padahal berkali-kali kucoba membuka hati, nyatanya tetap tak bisa. Kepalaku dipenuhi kamu dan kamu.

Sudahlah, kutitipkan bahagiaku padamu dan Anggara. Aku tetap menjadi sahabat terbaikmu. Kita tetap saling memberi kabar. Namun akhir-akhir ini kabar darimu tak kudapatkan. Seringnya kau mengacuhkan sms dan telepon dariku. Pikirku mungkin kamu sibuk dengan praktek-praktek kuliahmu. Tetap kucoba berpikiran positif. Sampai akhirnya kau menjawab teleponku dan mulailah ceritamu tentang Anggara. Tentang Anggara yang begitu manis diawal kalian pacaran. Anggara yang sudah mengenalkanmu ke orang tuanya. Anggara yang sudah seperti kakak bagi adik-adikmu. Dan Anggara, yang intinya adalah calon suamimu. Calon suami yang belum saatnya, begitu katamu. Ditengah semua kebahagiaan yang kalian rasa, pun dengan restu orang-orang terdekat. Setega itu Anggara berselingkuh dibelakangmu. Bukan hanya sekali dua kali tetapi terlalu sering untuk sekadar kau mengingatnya. Kau begitu mudah memafkannya yang selalu berjanji tak akan mengulang hal yang sama. Namun tetap saja dia ulangi lagi. Seperti tak pernah jera, karena ia tau kamu pasti akan memaafkannya lagi. Atas dasar sayang dan cintamu. Juga karena hubungan kalian yang sudah sebegitu lama ditambah restu yang sudah kalian dapat. 

Untuk putus pun rasanya kamu tak mampu, ya Gendis. Mana mungkin kehadiranmu dihatinya yang sudah 3 tahun akan begitu saja terganti oleh datangnya perempuan lain. Ya, egomulah yang memaksamu untuk tinggal.

Aku tau kamu mungkin sudah mati rasa karena terlalu sering merasa sakit. Aku pun sakit mendengarnya Gendis. Pikirnya siapa dia, bisa menyakitimu sedemikan hebat? Setelah kupercayakan kamu, sahabat terbaikku padanya.

Andai kamu denganku dulu Gendis, tak akan mungkin kamu merasakan sakit yang seperti ini. Gendis, bukalah mata dan hatimu. Kamu bisa berhenti kapan saja kalau kamu lelah. Sini denganku saja. Aku mampu mebuatmu bahagia, melebihi kebahagiaan semu yang dia berikan. Tak peduli dengan seberapa lamanya hubungan yang sudah kalian jalin dan sebesar apa restu orang tuamu. Kalau kamu saja tersakiti untuk apa, Gendis? Percayalah Gendis, lelaki yang mencintai perempuannya tak akan mungkin tega dan sanggup untuk membagi hati. Bahkan berkali-kali. Sudah waktunya kamu berpikir dengan logika, tak melulu menuruti hati yang kadang terlalu naif pada sakit.

Minggu depan aku pulang ke Yogyakarta. Kuharap kita bertemu, tanpa Anggara. Karena kupastikan setelah selesai membaca suratku, selesai pulalah hubunganmu yang sudah sedemikan sakit dengan Anggara.

Jangan menolak, percayalah. Daridulu aku sangat menyayangimu. Izikan aku membuktikannya untuk menjagamu kali ini. Menjagamu dari rasa sakit yang memporak-porandakan hati dan harimu.

Sahabatmu yang sebentar lagi menjadi kekasihmu.

Adimas


Ditulis oleh : @enhanhanha
Diambil dari http://ernamardjono.tumblr.com