18 January 2013

Surat #DuaHati @commaditya dan @JiaEffendie


Getar Gemetar

Nona Meta,
Terima kasih telah membalas surat saya.

Anda tahu gemetar yang saya sedang rasakan ketika menulis surat ini? Tidak, tidak sekuat gempa bumi. Namun cukup mengganggu tulisan saya ini, mohon jangan tertawakan kemiringan setiap kalimat yang saya tuliskan, apalagi jika nona kesulitan mengikuti kata-katanya.

Ketika tadi Joko datang kepada saya dengan senyumnya yang aneh itu, saya sangka dia akan menertawakan saya karena kelancangan saya menulis surat untuk anda. Nyatanya dia menyerahkan balasan dari anda. Saya sempat curiga dia berbohong dan menulis sendiri untuk saya, hingga saya membuka dan menemukan tulisan yang rapi nan indah di sana. (Tulisan Joko itu cakar dinosaurus, nona. Pastilah nona pernah melihatnya). Tapi toh dia terbahak-bahak juga melihat saya senyum-senyum sendiri, ketika membaca surat anda.

Mengenai nama saya, saya tidak yakin bisa bercerita banyak. Nama ini diberikan oleh kakek saya, nona. Bukan kakek kandung, beliau adalah orang yang menemukan saya di depan pintu rumahnya dan merawat saya hingga usia sepuluh, lalu ganti saya rawat selama lima tahun. Beliau adalah penggemar berat cerita Mahabharata. Nona benar, nama saya diambil dari cerita itu, dan beliau memberi nama Shakuntala karena persamaan nasib yang saya alami dengan tokoh Shakuntala, yang ditinggalkan oleh ibunya di hutan. Dan Agni yang artinya Api, adalah karena tanda lahir di pundak saya yang serupa api.

Jadi anda sering menertawakan nama anda karena salah cetak? Tunggu dulu, nona. Bicara tragis, apakah diberikan nama seorang perempuan karena sempat dikira perempuan cukup menyaingi ketragisan sejarah nama anda? Entah mengapa beliau tidak hendak mengubahnya, dan entah mengapa saya nyaman sekali dengan nama ini, meski sering diejek teman sepermainan.

Nona Meta,
Nama anda sungguh bagus, rima yang terbangun disana membuat saya merasa seperti membaca sebuah sajak pendek. Saya suka mengucapkannya berkali-kali, meski hingga kini lidah saya suka terpleset bila mengucapnya cepat. Ah, hal-hal yang cepat selalu beresiko, seperti kesimpulan yang saya ambil kemarin ketika melihat anda sendiri di taman. Saya pikir anda memang sendiri, namun ternyata menunggu seseorang. Semoga ia yang ditunggu menyadari siapa yang dia buat menunggu.
Maafkan kelancangan saya lagi. Senang mendapati surat saya berbalas, apalagi dari orang yang saya kagumi seperti anda. Selamat malam, Nona Meta. Semoga segala hal yang baik mengelilingi anda.


Salam,
Shakuntala Agni


Oleh: @commaditya untuk @JiaEffendie
Diambil dari: http://commaditya.tumblr.com/


---


Berlebihan


Halo Agni,

Saya tidak menyangka surat balasan Anda datang begitu cepat. Jika begini terus, lama-lama saya tidak dapat melewatkan sehari pun tanpa membaca surat Anda. Apakah Anda tahu bahwa Anda begitu senang melebih-lebihkan? Anda terlalu berlebihan memuji saya.

Seharusnya saya mendiamkan saja surat Anda dan tidak membalasnya sama sekali. Tetapi entah kenapa, membaca surat Anda selalu menerbitkan senyum. Bagaimana Anda gemetar ketika menulis surat balasan, misalnya. Saya tahu Anda bohong karena tulisan Anda cukup rapi untuk seseorang yang jarinya dilanda gempa bumi. Tetapi bukannya marah, saya malah tersenyum. Tertawa malah.

Anda juga pencerita yang baik. Dalam satu surat yang sama, Anda bisa membuat saya tertawa lalu disengat sedih sekaligus. Membaca sekilas riwayat hidup Anda, rasanya saya malu sendiri menjadi orang yang begitu pahit padahal dibesarkan di keluarga yang berkecukupan bahkan cenderung lebih. Terima kasih, karena telah mengingatkan saya.

Agni,
Kemarin ketika toko saya sedang sepi, saya menyelinap keluar dan meminta orang lain untuk menjaganya. Saya pergi ke taman. Sungguh mati saya penasaran, saya ingin tahu seperti apa sosok Shakuntala Agni itu. Saya mengamati setiap musisi yang memetik gitarnya atau meniup harmonikanya di taman, tetapi saya tidak menemukan petunjuk apa pun. Bukankah agak curang jika Anda tahu siapa saya, bahkan mengaku terang-terangan memperhatikan saya membaca buku di taman hingga Anda tidak konsentrasi menyanyi, tetapi saya tidak diberikan pengetahuan yang sama.

Sekali-kali, silakan menyanyi di depan pintu toko saya. Barangkali, ada sepotong kue hangat untuk Anda.

Salam,
Meta


Surat balasan dari @JiaEffendie untuk @commaditya
Diambil dari: http://metanikalanta.tumblr.com/

Surat #DuaHati @estipilami dan @idrchi


Surat (Pem)Balasan

Entah di hati siapa, 16 Januari 2013
Dear Indri,
yang tidak pernah lelah menunggu sang separuh hati.
Oh, bukan hanya cuaca hati. Muka juga tampak lebih bersinar, biar keliatan lebih muda dan menjadi pantas kalo suka sama brondong, In. Eh, aku malah buka aib, ya? Yaudahlah gpp, daripada nggak ada satupun yang mau buka.
Seandainya kamu tahu, saat membacanya aku bukan hanya senyam-senyum sendiri. Cengiranku sudah sepanjang telinga, mataku memicing tajam, tanganku saling mengepal dan otakku berpikir bagaimana caranya memperlakukanmu dengan cara yang sama. Bukankah aku teman yang cukup adil, In? *tersenyum palsu*
Entahlah ini skenario milik Tuhan atau aku hanya memang sedang menuliskan kisah hidup sesuai dengan kemauanku sendiri. Terkadang, ketika menyadari bahwa kita jatuh hati pada yang levelnya lebih tinggi, bukankah perlahan-lahan kita menjadi seperti rendah diri? Begitulah, In. Aku seperti sedang mengagumi seseorang yang hanya pantas untuk aku kagumi, bukan aku miliki. Dia hanya kumpulan segala sesuatu yang sempurna, sedangkan aku terkesan biasa saja. Ke manapun kisah ini akan membawaku, yang jelas aku tidak akan pernah lupa membawa logika dan kenyataan turut serta. Sebab mereka salah dua yang bisa menamparku seketika.
Kuharap kamu bukan saja berhenti menengok ke arah belakang. Tapi juga berhenti memberi waktu pada masa lalu untuk menujumu, sementara kamu hanya akan membiarkan dirimu menunggu. Ambil saja langkah yang baru, lalu jalani perjalananmu yang akan begitu berbeda itu, In. Terkadang, bukan sakit hati di masa lalu yang menyebabkan segala air mata menetes. Tapi kita terlalu pintar mengingat segala kenangan, lalu menghadirkan kesedihan. Sesekali bahagiakan hatimu, karena kamu pantas untuk merasakannya, bahkan setiap waktu.
Bilang pada skripsimu, jangan berjalan terlalu lambat, biar itu menjadi permasalahan kita dalam bertemu jodoh saja, jangan ikut-ikutan. *JEDEERR*
Masalah London, entahlah. Aku baru saja mendapat masalah baru yang enggan kuceritakan, baik padamu, Pefih, maupun sahabat yang lain. Sebab bukankah terlalu sulit untuk menceritakan kabar buruk? Doakan saja, semoga semuanya akan dilancarkan. Benarkah kamu ingin melihat langsung senyumku saat membicarakan dia? Bukan ingin membullyku bersama Pefih, seperti yang selama ini selalu kalian lakukan? *drama*
Terima kasih, In. Dan aku tahu, Tuhan juga sudah terlalu baik untuk kita. Kamu pun, berusahalah membuka mata dan hati. Agar kamu tahu siapa yang hendak datang bertamu ke hidupmu. Jangan terlalu sering kelilipan masa lalu, In. *ngilang*
Kecupeluk tanpa henti,
Esti
           


Oleh: @estipilami untuk @idrchi
Diambil dari: http://estipilami.tumblr.com/

---

Tentang Hari Ini

Bandung, Januari hari tujuh belas, 2013
Teruntuk,
Esti
Yang paling sewot jika dibilang jagonya mencintai diam-diam.

Hai, kamu..
Sudah sampai mana kangennya? Masih mentok di dia aja? X) *dikeplak*
Ti, yang selalu aku yakini, hidup memang serangkaian pilihan. Dan ketika Tuhan mendatangkan seseorang yang baru dalam hidup kita, berarti Tuhan juga sedang bertanya; akankah ia diizinkan masuk, ataukah tidak?
Sama halnya dengan ia yang ada dalam pikiranmu saat ini. Di matamu, ia datang lewat sekumpulan kebetulan saja. Padahal kitapun tak pernah tahu, barangkali memang Tuhan sudah merencanakan segalanya sejak lama. Kamu hanya perlu menjawab pertanyaan Tuhan; akankah kamu mengizinkan ia masuk ke dalam hidupmu, ataukah tidak? Akankah selamanya ia kamu anggap sebagai kebetulan belaka, ataukah menjadi serangkaian rencana yang mengarah kepada kebaikan?

Kamu yang bisa memutuskan, Ti. Tuhan hanya memberi pilihan dan jalan. Dan aku, bantu mendoakan. :)

Bicara masalah hati, siang tadi aku bertemu seseorang. Kali ini bukan tentang stock lama. Ini tentang kenalanku sejak semester awal perkuliahan. Sebut saja namanya Awan. Beberapa jam yang lalu, aku bertemu dengannya di perputakaan kampus. Dan rasa itu muncul kembali, Ti. Rasa gelisah yang menyenangkan. Rasa penasaran ingin menyapa, namun lidah terlalu kelu untuk bicara.

Aku dan Awan pernah berkenalan. Dulu, kebetulan kami satu kepanitiaan acara kampus. Sejak pertemuan pertama, rasa gelisah itu sudah ada. Awan seperti punya magnet superkuat pada sekujur tubuhnya. Auranya memaksa panca inderaku mendekat dan melekat. Pun, hal yang serupa terjadi siang tadi di perpustakaan. Duh, Ti.. Aku rindu rasa bahagia semu seperti ini. Bersyukur sekali Tuhan menghadiahkan Awan sebagai santapan hati yang lapar karena sepi. :p

Ah, ya. Aku turut sedih mengetahui kabar mengenai London-mu. :’| Tapi, London tak akan ke mana-mana, Ti. Yakinlah, jika memang usahamu menyentuh lenganNya, Dia pasti memberikan jalan yang lapang. Mungkin doamu belum cukup kuat menopang usahamu, atau sebaliknya. Tetap percaya, Ti. Jangan menyerah. Mimpi itu hanya akan menjadi mimpi, jika kita tak pernah total mengusahakannya. Semangat terus mengejar London! :”D

Yang berencana memimpikan Awan sambil mendoakan kamu sebelum tidur,
Indri.

Surat balasan dari @idrchi untuk @estipilami
Diambil dari: http://abcdefghindrijklmn.tumblr.com/

Surat #DuaHati @merelakan dan @shcl

Maaf, Sal...

Kepada Salsa,

Semalam aku terima suratmu, dan semalaman pula aku tak bisa tertidur dibuatnya. Aku tak percaya Sal kita melakukan ini, menghabiskan waktu untuk menulis surat demi sebuah kabar. Jadi, kamu masih setia dengan pagimu? Pagi yang dulu setia kau habiskan dengan secangkir kopi sebelum memulai hari? Ah, aku ingin sekali membawakanmu roti kesukaanmu seperti dulu yang biasa aku lakukan setiap pagi sebelum kita sibuk dengan dunia kita masing-masing. Iya Sal, aku ingin kita.


Sal, jangan mulai membuatku khawatir dengan keisenganmu yang suka berpergian meski tak tahu arah, ya? Aku tahu itu menyenangkan, tapi siapa yang akan menjagamu setelah aku tak lagi di dekatmu? Memang, Jogja tidak seperti Jakarta tapi setidaknya carilah teman agar tak sendirian. Aku sendiri juga ingin menemanimu menyusuri jalan-jalan yang tak pernah kita lewati sebelumnya, tapi sekali lagi jarak yang berkuasa, bukan? Aku kangen kita, Sal. Oh, ya bagaimana dengan teman-temanmu di sana? Jaga baik-baik dirimu di sana, ya? Aku hanya tak ingin kedua orang tuamu khawatir di rumah, pun aku. 

Beberapa minggu belakangan banyak hal yang berubah di hidup kita berdua, bukan? Aku mendadak pergi ke Kupang sementara kamu harus melanjutkan pendidikan di kota lain. Maaf, bukan maksutku untuk tak memberitahukanmu tentang penugasanku ke Kupang, hanya saja waktu itu aku tak ingin menambah beban pikiranmu dengan kepergianku kelak. Toh, kepindahanmu ke Jogja untuk melanjutkan kuliah sudah cukup banyak menyita waktu, tenaga dan pikiranmu. Aku hanya tak ingin jadi beban, terlebih untukmu. Semoga kamu mengerti.
Maafkan aku, Salsa.

Sahabatmu,
Adit



Oleh @merelakan untuk @shcl
Diambil dari adityadaniel.com 


---


Surat balasan @shcl untuk @merelakan

Hujan Tanpamu


Kepada Adit,

Entah apa yang membuatmu tak bisa tidur, namun harus kuakui aku tersenyum karenanya. Ternyata masih saja kebiasaan tidur larutmu itu kamu lanjutkan ya? Ingat kesehatanmu ya, Dit. Kamu bukan manusia super yang bisa bertahan dengan tidur kurang dari 3 jam tiap harinya; jujur saja aku selalu mengkhawatirkan kondisi tubuhmu.

Sedari pagi hujan, Dit. Tak berhenti bahkan hingga sekarang. Mungkin dengan hujan sederas ini, kamu bisa berhenti mengkhawatirkan kebiasaanku itu; aku tidak berencana bertualang, hujannya terlalu deras dan aku tidak berani mengemudi dengan cuaca seperti ini. Bagaimana di Kupang? Apakah sekarang atapmu juga sedang dideru titik-titik air yang selalu kita candu itu?

Hujan tanpamu tidak sama. Ada sesuatu yang membuatku merasa sendirian, tak lagi tenang. Aku ingat dulu kita pernah menepi di dekat minimarket karena kamu tidak ingin aku sakit akibat hujan. Sebenarnya jika dipikir lagi, saat itu tidak menyenangkan. Kita basah dari ujung kepala hingga kaki, udara dingin hanya dapat terbantu dengan hangatnya kopi yang kita beli, tapi saat itu aku tenang, Dit. Hujan denganmu membuatku tenang. Namun saat ini aku merasa kehilangan.

Ah, melantur saja aku sedari tadi. Memang, saling mengirim surat seperti ini tak sama dengan berbicara denganmu seperti dulu, tapi ini jauh lebih baik daripada saat kita bahkan tak saling sapa dan hanya tenggelam dalam kesibukan yang seperti tak punya ajal. Aku tidak marah Dit, kamu tidak perlu meminta maaf. Aku hanya kesal dan menyesali saat terakhir kita bertemu malah dengan keadaan seperti itu. Sekarang yang aku inginkan, hanya kita yang kembali seperti sebelum semuanya terjadi, kita yang tiap paginya selalu berisikan cerita dan tawa yang tak henti-henti. Semoga dengan tiap surat-surat yang ada, jarak akan berhenti ikut bercengkerama.

Semoga.


Yang merindumu juga,
Salsa. 
 
 
 
Diambil dari shcal.blogspot.com
 

Surat #DuaHati @yukidalamkurung dan @tfnyaprdht

Senjaku di Matamu

Teruntuk seseorang yang cantiknya melebihi dewi aphrodite

Berterima kasihlah pada burung-burung camar yang sengaja membawakan suratmu untukku disaat senja, meskipun surat itu terjatuh di Rig Floor, sempat dimarahi bos tadi. hehehe.

Badai disini cukup ganas, sayang. ombak setinggi 4 meter kadang membentur besi kokoh ini, menggoyangkannya hingga kadang bergeser 1 derajat dari asalnya. Petirnya dan anginnya pun sangat kencang, menakutkan kami para pekerja, ah tapi aku lebih takut kehilanganmu akibat bentangan selat yang menjauhkan kita, jangan ya. Kamu masih mau bersabar kan untuk kebaikan kita?

Sayang, ditempatku memang memiliki pandangan senja terbaik, matahari turun diantara celah-celah menara pemboran. Tapi apalah arti senja jika jemariku tidak menggenggam sela-sela jemarimu? apalah arti senja jika pandanganku hanya tertuju pada bayanganmu? jarak ini menjadikan senja seakan kurang menarik, perlu adanya dirimu untuk membuat itu sempurna. Aku jadi teringat pertama kali kita melihat senja di puncak gunung purba, aku ketinggalan melihatnya, senjanya terlanjur habis, nyatanya aku lebih senang melihat matamu yang sayup lemas, fokusmu yang tajam, serta menikmati memelukmu dengan hangat. Iya, aku rindu kamu. Sangat.

Ah, kamu memang wanita hangat penuh kasih sayang dan perhatian, maaf ya aku lupa membawa gelas hadiah darimu itu. Gelas air putihmu selalu terisi penuh setelah kureguk habis. My superhero needs coffee, and a LOT of water too kan, aku selalu ingat pesanmu kok. :)

Kukirim surat ini melalui badai ketika fajar, hanya agar kau tahu rinduku terlampau besar tuk ditahan, cukup rasakan dan dinikmati, kan?

P.S: Parfume mu masih menempel jelas dibajuku saat kamu memelukku di bandara, ga mau aku cuci ah. jorok ya? bodooo. :p



Oleh @yukidalamkurung untuk @tfnyaprdht
Diambil dari yukidalamkurung.tumblr.com  


---


 Surat balasan @tfnyaprdht untuk @yukidalamkurung


Formula 2™

Kamu jahat. Iya, kamu. Bahkan belum seminggu kepergianmu sudah membuatku tersiksa dengan rindu. Tak peduli tengah malam begini pun rindumu tetap menyergapku tanpa ampun. Sesak rasanya, Sayang, seperti ada biji kedondong menyekat tenggorokanku. Ralat, selusin biji kedondong. Tapi aku sudah berjanji padamu bahwa aku akan kuat kan? :)

Ngomong-ngomong soal kopi, aku jadi ingat waktu pertama kali membuatkanmu kopi. Awalnya kamu mengajarkanku cara membuatnya. Formula kopimu. Sedikit pengakuan, ketika itu rasanya aku seperti menjadi pemegang tunggal rahasia negara. Bangga sekali. Sambil merebus air, kau mengisi gelas dengan racikan rahasiamu: gula 2 sendok kecil, kopi hitam 2 sendok kecil pula. Harus gulanya duluan baru kopi. Kemudian air yang sudah mendidih sempurna kau tuangkan hingga sebatas 2 senti dari bibir gelas. Jangan langsung diaduk, katamu. Lalu kuhitung kau menunggu selama kira-kira 2 menit dulu sebelum akhirnya kopi itu kauaduk. Katamu lagi, kopi dengan takaran seperti itu memiliki rasa pahit dan manis yang pas, tidak ada yang mendominasi. Kucatat dalam benak dengan seksama. Aku ingin menjadi agen pembuat kopi Formula 2 terbaik yang pernah kau punya. Ah iya, aku menamakannya Formula 2™. Harus ada “TM”-nya di pojok atas angka 2.

Kamu bilang kopi buatanku paling enak. Ada rasa khasnya, sengatan listrik kecil di lidah mirip sensasi minum soft drink namun lebih lembut. Sampai sekarang aku pun tidak tahu sebabnya. Maybe it’s just simply my signature :p

Kesayanganku, sore ini dengan rindu yang sama mendidihnya seperti air rebusanku sekarang ini, aku membuat kopi untuk diriku sendiri. Kopi Formula 2™-mu, dengan “tanda tangan”-ku. Setidaknya KITA dapat bertemu, walau hanya dalam secangkir kopi.

Bajumu yang itu biar nanti aku yang cucikan. Makanya, cepat pulang ya :)

Yogyakarta, 17 Januari 2013
Kekasihmu

N.B: kopiku asin. Ah, aku lupa bahwa air mata tidak termasuk dalam racikan Formula 2™.


Diambil dari  breakfastattifanys.tumblr.com
 

Surat #DuaHati @caplang dan @rorolembayung

Menjadi Matahari

Dari mata, indera pertama yang aku amati dari tiap manusia, turun ke hati.

Aku bukan orang yang bisa meramal lewat sepotong gambar. Aku — sepakat dengan kalimatmu sekian hari lalu — lebih menyukai mata bertemu kata. Lalu kita bicara dalam jarak satu depa kurang, tergelak-gelak, meminta waktu tambahan menunda pulang walau pagi belum datang. Itulah mengapa aku memilih kita tidak duduk berhadapan. Mata bulat kecil memesona membuatku berpaling muka. Pelontar lagu-lagu syahdu. Melihat semua dengan cara berbeda.

Mata itu
lingkar tak sempurna beragam titik melahirkan putik,

konstanta yang luput dari \pi\,\!,
padupadan zat-zat kimia bebas sempadan,
nebula tempat singgah perjalanan antarkartika.

Inginku menjadi matahari, bergelincir, tenggelam, setiap hari, terpejam, mengisi jeda tiap sibuk yang kau lewati. Matahari yang sinarnya tak melumat awan mendung masa lalu, tak juga hilang oleh bulan. Bertelut dalam mata bulat kecilmu.

Kapan aku boleh nikmati habis mata itu lagi?



Oleh @caplang untuk @rorolembayung
Diambil dari  30hari.cahyono.com  


---


Surat balasan @rorolembayung untuk @caplang


Matahati

Kau tahu aku wanita berpandangan rabun melihat sesuatu dengan hati sebagai matanya, dan akupun orang yang tidak pernah mengamini pepatah dari mata turun ke hati karena penglihatan kadang salah sampai dibenarkanlah oleh hati.
Pada pribadimu yang menenangkan aku sungguh terpesona, molekul
yang diciptakan Tuhan pada saat mood terbaikNya. Di dekatmu apakah kau dengar ada harmoni hidup paling implisit dari deru serambi jantungku. Sebagian orang memilih diam untuk menikmati perasaannya, sebagian lagi memilih terang-terangan dengan akhir yang entah apa. Mungkin aku pengkhayal paling gila, dengan menuliskanmu saja aku bahagia bagaimana bila suatu hari nanti menjadi bagian dari kebahagianmu. Sesungguhnya aku ingin menjadi sosok nyata pada rangkaian kata indah yang telah kau cipta.
Kau tahu bunga yang kau tanam di tebing dadaku menjelma kelopak yang siap untuk kau ziarahi setiap hari. Lantas sudah ku persiapkan dan ikat banyak kata sebagai perjumpaan kelak lagi kita, setidaknya agar bisa bersamamu sedikit lebih lama.. lama.. lalu menjadi selamanya.
 
 
 
 

Surat #DuaHati @_KataSandy_ dan @erlinberlin13

Surat Selagi Hujan


Hey, Erlin.

Selamat datang kembali diduniaku yang penuh sesak oleh ribuan kata untukmu.

Aku membagi kisah pertamaku dari Kaisar Romawi yang kedua, ialah Numa Pompilius yang memutuskan untuk menambahkan dua bulan untuk mengisi dua bulan musim dingin yang tidak dihitung. Maka, muncullah bulan Januari dan Februari.
Ini Januari, tepat dimana kukirim surat kecil ini untukmu. Ditemani rintikan hujan, semilir angin, juga kicauan burung hantu dipohon tua itu.

Hujan selalu menghadirkan kenangan itu, apalagi malam ini, ah!. Sebentar kupasang potretmu dilayar ingatanku. Sebentar aku hapus dari bayangku, karna aku tahu kita kan bertemu dalam waktu yang lama.

Ini pesan keduaku, baca dengan baik. Jangan kau balas jika tak ingin memulai kembali, aku harap iya. Egoisku memuncak saat seperti ini, aku muak pada rindu yang tak kunjung padam!.

Jika esok datang, aku masih berharap menjadi kisah yang lebih panjang untuk kau sambungi.
Ya, seperti huruf bersambung ini, kalau bukan kau yang mengajari, tak'kan kumulai semua ini.
Mungkin akan ku simpan dijendela, sampai hujan yang jatuhkan itu ketanah. Lalu basah, terinjak dan mungkin dimakan hewan kecil yang mencoba menyambung hidup.

Aku lupa meminta ijin pada Tuhan untuk mencintaimu, juga berkirim surat seperti ini.
Semoga tak melukai mahluk terindah yang Kau ciptakan ini.

Pada akhirnya, baris juga pena habis kupakai sampai ujung tintanya.
Sebelum tak nyata kau baca, ini pesanku untukmu.

Biar Tuhan jaga bidadari tanpa sayap yang sengaja dijatuhkan kebumi antah berantah ini. Untuk menemukan cinta dan ksatria tanpa pedang ditangan yang hanya mampu berujar lewat kata kotor ini.

Salam hangat di Januari dingin ini.




Oleh @_KataSandy_ untuk @erlinberlin13
Diambil dari febryansandy.blogspot.com 


---


Surat balasan @erlinberlin13 untuk @_KataSandy_


Satu dari Lima Puluh Sembilan 


Hei,

apa jadinya jika sang kaisar Romawi tidak menambahkan dua bulan dalam kalender masehi? Ke mana lima puluh sembilan hari itu akan menguap? Jika itu terjadi, kita tidak akan pernah bertemu – di satu hari berhujan pada bulan Januari.

Pagi ini, berselimutkan hujan, aku lebih memilih untuk meringkuk di bawah selimut. Membaca untaian kata yang kamu tulis di atas kertas yang hampir kusut. Tahukah kamu, aku butuh waktu yang lama untuk menemukan padanan kata yang sepadan untuk membalasnya?

Entah karena rindu yang menggumpal atau hati yang membeku, akhir-akhir ini resahku makin menjadi. Suara-suara tanpa wujud dalam pikiranku terus berdebat, sementara aku diam mematung mendengarkan konflik batin ini. “Namanya Sandy,” pekik satu suara. “Dan dia melakukan satu hal yang aneh dengan gadis ini,” seru suara lainnya. Lantas, aku melengos pergi.

Jika suratku tampak kacau kali ini, maklum saja. Ternyata benar apa kata teman-temanku, jatuh cinta akan membuat kemampuan menulis jadi sepayah idiot. Gudang kosakataku tampaknya terbakar habis oleh api yang sumbernya belum diketahui. Jangan tanya selelah apa aku berjuang untuk tetap waras tanpa mengenyahkan bayang-bayang tatapanmu.

Oh, sudahlah. Lama-lama, aku bisa membuat Shakespeare geleng-geleng kepala.

Semoga Januari-mu menyenangkan.



Diambil dari heyerl.wordpress.com

Surat #DuaHati @dhanzo dan @fristia

Tiga Lingkaran Waktu

Singapura, 16 Januari 2013

Dear Fristia,

Aku akan membantumu mengingat tentang Ubud, Tia. Aku akan menceritakan tentang seorang wanita yang memakai kebaya berwarna putih, dengan beras di keningnya. Wanita itu adalah kamu yang sedang bersembahyang dengan sesaji dan dupa di merajan. Ketika itu pula aku mengabadikannya di kamera dan kau melirikku malu-malu.

Kita berkenalan dan mengobrol tentang siapa kamu, tentang aku, tentang warna kesukaan, band favorit, tentang apakah hantu itu nyata. Sambil menatap hijaunya sawah di sore hari.

Fristia, aku juga akan membantumu mengingat Ubud saat kita berjalan di pematang sawah milik pak Ketut, baru kemarin aku menelpon bertanya apa kabarnya. Ia menitipkan salam buatmu, bertanya “apakah ia sudah menjadi dokter seperti aku?” Tentu saja kujawab “sudah” ia menjanjikan jika kita kembali ke sana, akan membuatkan ayam panggangnya yang lezat, benar-benar orang yang baik dan sederhana.

Iya aku tahu kamu akan menduakan waktuku dengan pasienmu. Aku masih memilih menikmati jalan-jalan selagi muda, Tia. Tapi kamu masih muda dan sukses lebih dahulu tentunya, aku membayangkan menjadi adik kelasmu, apakah kau masih berani menyuruhku?

Malam ini random sekali, di radio tiba-tiba ada backstreet boys. Kamu banget.

Cepat sembuh dari pilek ya, makan yang banyak, minum obat teratur. Aku ngga mau kamu nanti sakit.

Sincerely,
Dhanang



Oleh @dhanzo untuk @fristia
Diambil dari serigalasalju.wordpress.com


---



Surat balasan @fristia untuk @dhanzo


Hanya Kita Yang Tahu

Denpasar, 17 Januari 2013

Dear Dhanang,

Ya, aku ingat hari itu. Sore yang tenang di Ubud, kepulan wangi asap dupa dan suara jepretan dari kamera besarmu (tidakkah terlalu berat untuk dibawa kemana-mana?). Kau orang asing yang bukan hanya mencuri gambar dan perhatianku.

Ketika itu kamu dokter yang baru lulus dan sedang berlibur, sedangkan aku dokter muda yang sedang bertugas di Puskesmas Ubud. Lucu sekali waktu kita berkenalan, “Lho, anak kedokteran juga toh?” Katamu dengan logat Surabaya yang kental. Lalu kita tertawa, menertawakan kebodohan masing-masing (kok mau-maunya jadi dokter).

Ubud memang tempat untuk jatuh cinta lagi, beristirahat dari masa lalu atau sebagai tempat pelarian hati. Aku selalu ingin kembali ke sana, Dhan. Selain karena ayam panggang Pak Ketut yang memang super enak, aku rindu suasananya. Alam hijau, udara segar dan sore panjang yang kita habiskan dengan tenggelam di buku masing-masing.

Semua adalah pilihan, bukan salahmu lebih memilih menikmati hidup dan aku mengejar cita-cita. Ubud masih di tempat yang sama, hanya kita yang tahu kapan saatnya untuk kembali.

Kamu masih ingat dengan Backstreet Boys? Bukannya kamu selalu menertawakan boyband favoritku? Too cheesy, katamu. Tapi kamu sebetulnya tahu, aku adalah wanita yang sederhana seperti itu.

Kamu tenang saja, aku pasti sudah sehat saat kamu ada di Bali. Just don’t make me wait any longer, okay?

Salam sayang,
Fristia.


Diambil dari fristiaindarini.wordpress.com