14 February 2013

Eh, Untuk Tukang Pos Keliling Aku


Halo, tukang pos keliling bernama Liony Mayestica a.k.a Liony

Aduh, kalau dipanggil Kakak bener nggak ya. Takutnya, malah lebih tua aku *minder. Tapi, berhubung belum saling kenal nggak apa-apa deh aku panggil Liony aja, ya? Lagipula, di linimasa juga mayoritas manggil ‘kakak’, biar nggak seragam gitu. Nanti kalau sudah saling kenal dan tahu umur, bisa diatur lagi lah :D

FINALLY…!!!

Selesai juga program #30HariMenulisSuratCinta 2013. Fiuh . . . Eh, besok sudah nggak ada surat-suratan lagi kan? Wah, antara tak terasa, tapi terasa. Tau-tau sudah satu bulan nulis banyak hal untuk di-posting di blog. Dari yang biasanya sebulan paling banyak mengisi 10 tulisan, sekarang 30 tulisan. Wohooo . . .

Berhubung sekarang temanya surat untuk tukang pos kesayangan, berarti saatnya berterima kasih ke tukang pos keliling yang setiap hari giat mem-favorite dan me-retweet surat-surat cinta di linimasa aku. Sampe-sampe jarinya shock kali tuh setiap hari ngurusin puluhan surat cinta. Taraaa… LIONY!!! Maaf ya, kalau jari-jarinya jadi keriting atau tombol gadgetnya sampe longsor. Yah, terima saja mandat dari Bosse, lagipula peminat proyek ini kayaknya naik dari tahun ke tahun. SELAMAT!!!

Lega tapi nggak juga karena proyek ini selesai. Lega karena bisa menulis surat tanpa sehari pun absen. Walau ada beberapa surat kaleng yang nggak terpilih atau beberapa surat yang nggak masuk blog Pos Cinta, tapi hal yang harusnya jadi terpenting adalah lepas dari writer’s block. Semacam kekuatan niat dan komitmen untuk terus berkarya walau hanya sedikit kata yang mungkin tidak memiliki banyak arti. Tentu saja semua karena tim Pos Cinta sudah bekerja keras dan menularkan semangat untuk kami semua. THANK YOU ALL!!!

Untuk Liony, tentu saja terima kasih karena sudah bersedia menjadi tukang pos kelilingnya Bosse, termasuk menjaga semangat para penulis dengan akun Twitter D-G tentunya. Semoga tahun-tahun berikutnya proyek menulis ini akan ada lagi dan Liony masih bisa  hadir membantu. Intinya jangan kapok, sih :D Semoga Liony juga terus semangat berkarya, apa pun itu. SEMANGAT!!!

Sudah . . . sudah . . . tampak surat ini sudah mulai emosional. Sampai jumpa di proyek menulis lainnya, Liony, atau pertemuan suatu hari. Salam untuk teman-teman tim Pos Cinta. Sekali lagi THANK YOU ALL, WE LOVE YOU, UYEAAAAHH!!!

Dari salah satu akun berinisial D-G.


Ditulis oleh : @desimanda untuk @lionychan
Diambil dari http://orlandoandme.blogspot.com

Untuk Kamu Yang Mengirimkan Suratku


Dear tukangposku tercintaaa!

Ini hari ketiga puluh plus satu aku menulsi surat dan ini surat yang terakhir yang mungkin akan kamu RT.
Aakhh- pasti bakalan rindu deh akunya.

Mbak Lio, ini surat buat kamu 
Terimakasih yaa sudah meluangkan waktu membaca surat-suratku yang entah bagus atau tidak.
Terimakasih karena mau tetap meng-RT suratku meski sudah lewat jam 18.00
Pokoknya Tengkyuuu berat! :* {bighug}
Semoga sukses buat pekerjaannya kedepan, selalu diberikan kesehatan dan rejeki yang berlimpah.
Langgeng terus yaa sama hero nya,, memang yang LDR itu pejuang sejati wkwkkwkwk
Aku menanti undangan.. :p

Ada kado nih buat mbak Lio!
Karena aku seorang perangkai kata dan seneng gambar, ni ada gambar dan puisi khusus buat mbak pos.

Tukang POS ku 

–> inspirasi gambar dari profil kontributor di blog 30harimenulissuratcinta

Bahagia kukirimkan padamu lewat kisi-kisi mentari
Kuharap ia akan hadir merajai siang ini
Menjernihkan hari serta jiwamu
Lalu dedaunan lembut mebayankan pendar cahayanya yang tersisa

Semoga saja kau temukan
Disela-sela keraguan

Sekian dulu ya mbak Lio.
Aku siang ini mau makan Nasi padang, mbak Lio apaa???

Semoga ada kesempatan untuk kita bertemu nanti, karena aku gak bisa datang gathering 

Love n hug
Masya – @didochacha


Ditulis oleh : @didochacha untuk @lionychan
Diambil dari http://mruhulessin.wordpress.com

Semoga Kau Bukan Robot


Dear @lionychan

Di surat kemarin ucapan terima kasih telah kusampaikan kepada objek-objek tulisanku. Mereka telah banyak membantu di 30 hari kemarin. Ide, gagasan, dan segala bentuk inspirasi telah mengalir deras dari mereka.

Kali ini akan ku ucapkan terima kasih yang sangat besar kepada salah satu tukang pos favoritku. Itu kau, @lionychan. Tukang pos yang rela diganggu dengan surat-suratku yang tak kenal waktu. Inspirasi menulisku memang datang tak menentu. Kadang dini hari, pagi, dan malam hari. Kapan saja kudapat bahan tulisan, laptop merah andalanku pasti siap membantu. Makanya jangan salahkan saya jika kau selalu ku ganggu dengan mention dari surat-suratku.

Ucapan terima kasihku ini tak pernah tahu bagaimana bentuk orang yang ditujukannya. Berbeda dengan objek-objek tulisanku yang telah kutahu wujudnya. Kita memang tak pernah bertemu. Hanya sering berkomunikasi di tab mention twitterku. Sempatku berpikir bahwa kau hanya sebuah robot komputer yang dibuat untuk program menulis ini. Apakah itu benar? Semoga tidak benar. Jika kau merupakan sebuah robot komputer, keinginanku untuk mengajakmu berkencan di gathering #30HariMenulisSuratCinta akan gagal. Cinta memang terlahir karena terbiasa, bukan?

Untuk besok biar saya yang traktir. Ini mungkin sebagai balas budi dari kerja kerasmu kemarin. Hasil menerima dan mengirim surat dariku.

Besok kita tidak kencan berdua, kok. Telah kuajak semua objek-objek tulisanku juga. Ini mungkin seperti judul tulisanku yang dulu, keluar ke realita. Kita yang kemarin hanya bertemu lewat kata, besok akan semeja bersama. Tapi, kembali lagi jika kau bukanlah sebuah robot komputer dari event ini.Lionychan, kau robot atau bukan?

Tertanda
@dimasprakosooo


Ditulis oleh : @dimasprakosooo untuk @lionychan
Diambil dari http://melancholyholic.com

Terima Kasih, Lio!


Sudah tiga puluh hari, kak Lio!

Tiga puluh hari yang cepat ya, kak Lio? Setidaknya begitu buatku. Sepertinya baru kemarin aku menulis surat cinta pertama, kemudian menyampaikannya pada kak Lio, dan langsung terpilih masuk ke blog PosCinta oleh kak Lio. Awal yang menyenangkan. Dan itu yang membuat aku semakin bersemangat untuk kemudian menulis surat-surat cinta selanjutnya. Terima kasih, kak Lio!

Aku masih ingat pada awalnya aku tidak begitu yakin akan konsisten menulis surat selama tiga puluh hari berturut-turut. Aku berpikir banyak hal; tiga puluh surat, untuk siapa saja dan untuk apa saja? Sepertinya sedikit mustahil. Tapi ternyata aku sukses tidak pernah absen menulis selama tiga puluh hari, kak Lio! Kecuali absen menulis surat kaleng, tentunya.

Dengan tidak pernah absen itu, seharusnya kak Lio juga jadi familiar dengan akun milikku, bukan? Apa kak Lio tahu siapa penulis surat ini? Si penulis surat yang setiap hari Senin sampai Rabu selalu menulis dengan terburu-buru, mengirimnya bertepatan deadline pukul enam sore karena kesibukanku. Si penulis surat yang pernah meminta kak Lio menunggu, dan akhirnya kak Lio masih memposting surat cintaku yang nyaris terlambat. Terima kasih, kak Lio yang pengertian! Semoga tahun-tahun berikutnya para tukang pos masih bersetia mengirim surat para pecinta.

Pada akhirnya, terima kasih kak Lio yang sudah mengantarkan surat-surat cintaku selama tiga puluh hari terakhir ini, sampai berjumpa lagi tahun depan, tukang pos kesayangan! 


Ditulis oleh : @frdtas untuk @lionychan
Diambil dari  http://faraulias.wordpress.com

Oh, Kak Lio!

Teruntuk,
Tukang pos (yang katanya) pamrih, kak @lionychan

Kak Liooooo! Oh kak Liooooo!
Haloooo kak! Akhirnya ya hari yang kak Lio tunggu-tunggu datang juga haha.. Kak Lio kepengen banget banget dapet surat kan? Nah pasti hari ini banyak deh surat cinta yang ada dibalik tab mention kak Lio. Ah aku iri kak iriiiiii >,< dari 30 hari dan dari 28 surat yang aku tulis, gak ada yang dibales dalam bentuk surat kak... Suratku bertepuk sebelah tangan hiks :'( eh ada sih kak 1 surat tapi itu juga gak ditujukan secara langsung buat aku. Ah~ yasudahlah *hapus air mata*

Kak Lioooooo....
Kak, umur kak Lio berapa deh? Aku sok imut banget gitu manggil kak Lio pake gelar 'kakak'. Ah tapi emang aku imut sih kak. Setidaknya kak Lio kan lebih senior lah daripada aku di dunia tulis-menulis surat cinta begini. Kak, makasih lho udah setia setiap saat buat meng-kringg-kringg-in surat cinta aku selama 30 hari. Makasih juga selalu nyempatin baca surat aku dan mengapresiasikan tulisan aku dengan diposting di blog #30HariMenulisSuratCinta. Padahal kan kadang suratku itu gak jelas, random bin absurd banget.

Kak Lioooooo....
Aku tau kakak itu pas awal adanya #30HariMenulisSuratCinta tahun ini dan diumumin kalo tukang posku itu @lionychan. Soalnya waktu tahun lalu itu tukang posku @hurufkecil, dan setelah #30HariMenulisSuratCinta tahun lalu selesai, aku gak update lagi sama @PosCinta. Dari situ juga aku mulai suka baca-baca blog kak Lio. Aku suka deh sama gaya penulisan kak Lio. Dan blog kak Lio itu juga salah satu 'buku pelajaran' dalam menulis buat aku. Makasih ya kak Lio! Sukses selalu dalam segalanya~! Semoga di program #30HariMenulisSuratCinta tahun depan kita ketemu lagi ya kak, semoga bosse mempertemukan kita lagi. #30HariMenulisSuratCinta tahun ini itu jadi salah satu hal termanis buatku di awal tahun ini. Dan semoga kak Lio pun merasakan hal yang sama. ^^

With love,
@ddLylaa


Ditulis oleh : @ddLylaa untuk @lionychan
Diambil dari http://dnqifthi.blogspot.com

Baha(tanpa jeda)gia


Iko, yakinku ada ragu dan bingung di seraut wajah mengapa bisa ada sepucuk surat melesat di atas meja. Ya. Aku memang sengaja. Aku adalah salah satu pengamat aksara yang kau ketik dalam lini masa dunia maya. Mungkin menurutmu sederhana atau malah biasa saja. Tetapi kurasa semesta mengatur segalanya. Agar aksaramu ditempatkan dalam lini waktu nyataku untuk aku tahu pengaksaran tiga puluh hari ini. Kau menemuiku sejenak menyerahkan secarik kertas dan sebotol tinta, memperkenalkanku pada seorang bosse dan kemudian tukang pos pamrih, memberikan kesempatan bola mata dimanjakan oleh beratus-ratus surat. Katakan aku sentimentil. Katakan aku berotak fosil. Purba, mengada-ada. Tetapi tidak. Aku bukan penganut paham kebetulan. Kau telah dinaskahkan. Karena melalui kau sebagai awal mula berikut mereka aku kembali menemukan aku dan senyumku.

Tukang pos pamrih, kembali kutulis sebuah surat untukmu. Surat untuk tukang pos dimana telah tiga puluh hari ini setia mengantar setiap pucuk suratku. Menyampaikan tulisan hatiku kepada penjuru dunia, kepada manusia pendiamnya, kepada alam semesta, kepada tokoh fantasi raya, kepada binatang-binatang di seluruh got ibukota, bahkan kepada sang kematian. Melalui suratku, aku hanya ingin menyampaikan kata kepada mereka yang kadang lupa tersapa. Maaf bila aku ini merepotkan ya :’)

Dalam tiga puluh hari ini ratusan surat yang kau kirim menambah rasa dalam asaku. Banyak mampir menawarkan tawa, haru, dan rindu. Aku serasa di dalam pasar tradisional dimana setiap pedagang berusaha menjajakan dagangannya. Silakan saja kita mampir, melihat-lihat, menawar, lalu kemudian membawa. Melalui surat-surat itu aku mengenal beberapa tulisan luar biasa. Yang tak hanya dengan mata kubaca, tetapi dengan hati dan asa. Kejujuran yang terungkapkan melalui morfem-morfem yang terangkai layaknya senandung yang mengalun mengisi waktu. Salah satu surat itu adalah tentang pertanyaan kebahagiaan. Beberapa bulan lalu aku tak hanya berbisik, tapi aku menjerit kepada semesta bertanya apa itu bahagia dan turunannya. Bahagia, kebahagiaan, membahagiakan, dibahagiakan. Dan melalui sepucuk surat sederhana yang kau bawa, kuterima sebagian jawabnya. Kurasa sekali lagi semesta mengambil peran, mengatur skenarionya, karena sekali lagi penegasan tak pernah ku meyakini sebuah kebetulan.

Kau pasti tak asing dengan kalimat “bahagia tanpa jeda”. Berulang kali kubaca tulisan itu sampai akhirnya kuaudiokan dan kusimpan dalam telepon. Agar pada saat aku linglung dengan yang ada, selalu aku diingatkan untuk bahagia. Kesederhanaan kebahagiaan yang tanpa jedaku itu terwujud pada senyumanku atas keberanian mengambil keputusan untuk mengizinkan tulisanku terbaca dunia. Bahagiaku pada kebanggaanku saat pertama kali “Dear Resol” terpampang di lini maya bersama dua ratus lima puluh satu tulisan lainnya. Aku dibahagiakan oleh rasa syukur atas interaksi yang terangkum dalam momen tiga puluh hari luar biasa bersama kau, tukang pos pamrihku, dan mereka yang meluangkan waktu untuk sekedar menyapa melalui aksara. Apabila boleh kutambahkan, memilih hati daripada jari untuk menulis adalah salah satu caraku membahagiakan orang lain. Tak apa jika kesepuluh jariku nanti tremor atau mengkaku, asal jangan hatiku.

Bahagia memang harus tanpa jeda. Karena bila iya akan menjadi “baha gia”. Kucoba mencari makna dari dua kata itu. “Baha” adalah pembedahan dengan sistem implan untuk pengobatan gangguan pendengaran yang bekerja melalui konduksi tulang secara langsung. Sedangkan “gia” adalah sebutan suatu organisasi teroris ekstrim yang bertindak secara anarkis. Keduanya terdengar menakutkan ya. Karena itu bahagia biarlah tetap tanpa jeda. Agar maknanya tidak menjadi berbeda. Agar manusia tidak menyelipkan apa pun di antaranya hingga akhirnya tak bernada.

p.s      : Gw tunggu aksi makan api lo
p.s.s   : #KetjoepBasahPasKetemoeDiGatheringYakLioLioE!! :**
p.s.s.s: #Modyar  ))

Jakarta, 13 Februari 2013
Dari aku,
Penulis Pamrih


Ditulis oleh : @franc3ssa untuk @gembrit @lionychan 
Diambil dari http://justcallmefrancessa.wordpress.com

Teruntuk Kak Lio dan Kak Iko


Kepada Kak Lio dan Kak Iko kakak pos tercinta saya.

Saya tidak setiap hari sih memanfaatkan jasa kakak-kakak kece ini untuk mengantar surat saya dan sahabat saya @ultranyil. Iya, saya kepada kak Lio, dan onil kepada kak Iko.

Kenapa surat ini untuk kalian? Karena nama kalian serasi dan enak diucapin. Seperti permen kapas yang manis ketika lidah mengecapnya, demikian juga keserasian nama kalian. Lio dan Iko. Haha manis sekali :)

Entah, saya suka sama nama kakak-kakak ini. Nama kalian couple banget nggak sih? Hehe

Tapi, setahu saya, kak Lio udah jadi ini ya, Ny. Persie ya? Persie yang Van Persie itu kan kak?
Saya amini saja dari kejauhan ya, karena itu semacam mimpi yang juga kejauhan :p

Kak Lio, dan Kak Iko, terimakasih yang sangat banyak ya, sudah meluangkan waktu-waktu sibuk kalian demi surat-surat kami yang kebanyakan curhat. Yang kebanyakan mungkin membosankan, dan diantara banyaknya surat-surat itu, saya hanya menulis satu untuk kalian. Selamat.

Terima kasih untuk tidak menyepelekan tulisan-tulisan kami, dan tetap memberikan mata itu untuk bersedia setidaknya membaca dan me-retweet surat-surat kami.

Bagi kami, apresiasi pertama dari kalian itu yang terus memacu kami buat nggak lelah terus menulis dan menulis kepada apa yang kita cintai sebagai rasa syukur kami kepada Tuhan YME :)

Terima kasih ya Kak Lio, Kak Iko :)

Saya cinta kalian.

- Lanthika Dwi Ikhsanti -


Ditulis oleh : @FTpandaa untuk @lionychan @gembrit
Diambil dari http://teruntukkamu.blogspot.com