08 February 2013

Teruntuk Pelantun Lagu “Melepasmu”

Dear kakak Drive termasuk Kak Anji yang dulu pernah menjadi punggawa Drive.

Terimakasih telah mempopulerkan lagu – lagu indah yang sarat makna dan easy listening. Kalian begitu hebat dalam membawakan lagu – lagu yang bahkan sampai saat ini masih mengena di hati.

Senang sekali bisa berjumpa kalian secara langsung, di Ulang Tahun SMA-ku. Iya, itu udah 3 atau 4 tahun lalu. Tapi itu adalah salah satu momen yang tak terlupakan ketika SMA. You know lah gimana hectic dan histerisnya anak2 jaman SMA pas pertama dibolehin nonton konser. Apalagi konser band setenar kalian waktu itu, apalagi bersama sahabat dan orang tersayang kala itu J

Dan ada satu lagi ucapan terima kasih yang spesial.

Terimakasih kepada seluruh personil Drive ‘generasi pertama’ karena telah mempopulerkan lagu Melepasmu.

Ada banyak momen yang membuat lagu itu terasa lebih spesial dibanding lagu kalian lainnya. Masih teringat, beberapa tahun lalu, ketika aku dan kawan – kawan kemah di salah satu camping ground di Kabupaten Kediri. Ya, saat itu kami sudah jadi panitia, jadi bebas dong mau ngapain kalu jobdesc-nya udah selesai. Dan malam itu, sudah mencapai tengah malam ketika lagu itu terlantun syahdu diantara keheningan. Di dalam lingkaran yang sarat dengan suasana kehangatan, bersama kakak kakak senior yang melebur layaknya sebuah keluarga. Beberapa kakak senior sudah siap meramaikan malam dengan gitarnya, galon aqua kosong, botol aqua kosong yang diisi pasir dan kerikil kecil, dan tentunya modal suara.

Dan aku yang hanya bisa duduk, ikut bernyanyi sambil menatap glowing mereka satu persatu hingga aku bisa bilang bahwa konser mereka benar2 nggak kalah dengan konser kalian yang pernah aku lihat. Lantunan lagu yang selalu diselingi dengan tawa dan senyuman. Konser di tengah malam,  disudut camping ground dengan semak tinggi, di bawah langit beratap bintang, disamping api unggun yang tersisa dengan nyala redup..

Kami merayakan malam dengan lagu itu. Memang terasa kurang tepat kalau malam yang indah harus diisi dengan soundtrack melepasmu. Tapi ada alasan dibalik itu semua, sang vokalis band lokal malam itu sedang patah hati. Hehe Dan kami yang mengaku keluarga-nya dengan pasrah membiarkan lagu tersebut dimainkan berulang – ulang. Apapun itu lah, yang terpenting adalah ketika aku menyanyikan lagu itu bersama mereka. 

Dan saat ini, aku sedang mendengarkan lagu Melepasmu (lagi). Mungkin dengan perasaan yang sama dengan yang dirasakan seniorku waktu itu. Aku patah hati, dan entah kenapa lagu Melepasmu sangat cocok untuk mewakili perasaanku.Bukan sebait dua bait saja, tetapi semua bait terasa mengena. Dengan alasan perpisahan yang sama. Dengan alasan melepas yang sama, “karena kita tak mungkin terus bersama”.

Sekarang aku menegerti, kenapa seniorku menyanyikan lagu itu berulang ulang kali, karena sekarangpun cuma lagu itu yang berkali – kali aku putar *sadar juga kalau g punya modal suara buat nyanyi (._.)*

Kakak kakak personil Drive dan siapapun yang menulis lagu itu, bagaimana bisa kalian tahu perasaanku saat ini dengan tepat lewat lagu yang kalian rilis sejak dulu? Aku yakin itu karena kalian membawakan lagu Melepasmu dan lagu lain dengan sepenuh hati.  Hingga aku, kakak seniorku, dan mungkin berpuluh atau beribu orang lain diluar sana terwakili dengan lagu – lagu kalian.

Terimakasih kakak – kakak Drive baik generasi pertama maupun kedua. Semoga tetap sukses walaupun dengan formasi yang berganti. Terus berkarya menyemarakkan musik Indonesia ya\^.^/


Ditulis oleh : @dhelialio untuk @driVeindonesia @anjiii_
Diambil dari http://certamenergosum.wordpress.com

Nyanyian Burung Bul - Bul

Sangkar itu kosong sekarang. Kau di mana, burung bul-bul? Tak tahu kau terbang ke mana. Kau telah menghirup udara kebebasan, mereguk embun pagi pada daun di tepian, dan merasakan limpahan cahaya mentari hingga puaslah bulumu akan hangatnya. Tetapi tahukah kau bahwa setiap hari aku duduk di bangku taman merindumu? Merindu akan bulu coklat dan putih terlengkapi tunggir kuning yang khas. Mahkotamu yang coklat gelap beralis putih dan kekang hitam selaras dengan tubuh bagian atas yang berwarna sama. Mata iris coklat itu membuatku selalu suka memandangmu lekat-lekat. Paruh hitammu tak hentinya bersenandung menghibur keheninganku hingga tiga ratus lagu cinta yang berbeda mengisi setiap relung malam tanpa jemu.

Kehilanganku akan merdu kicaumu dengan nada yang tak pernah termelodi sama itu. Kehilanganku akan lembut bulu indahmu yang selalu kusentuh dengan hati-hati. Hanya karena aku acuh akan kebersihan sangkarmu. Hanya karena aku lupa menutup pintu sangkarmu kembali. Lantas kau pergi, tak lagi kembali. Buah-buahan segar pernah kutaruh dalam sangkar dan kutawarkan. Sangkarmu sekarang selalu kubersihkan sampai-sampai kulapis emas hingga platina agar kau betah dan mau lagi berkawan. Pun pernah kupinta awan untuk menurunkan deras rintiknya ke permukaan. Bersama dengan kilat putih yang membagi langit diiringi gemuruh petir yang kubuat tak sedikit pun meluruh. Dengan harapan kau kembali ke sini. Dalam rumahmu yang aman hingga kau tak kehujanan. Percuma. Kau tetap berada diluar sana. Menghadang alam yang mengujimu dengan cara tak bersahabat. Berkicau riang bersama kawanan yang kuyakin salah satunya telah kau incar sebagai pasangan. Sendu dan air mata tak pernah cukup untuk membuatmu bertahan terpenuhi akan niat. Kadang kuharap air mataku berhenti bekerja agar kantongnya tak tumpah ruah tak tentu arah. Karena derasnya melebihi hujan yang serasa ikut merana. Banyak masa ketika cairannya hanya teruntuk engkau, burung bul-bul. Hingga lemah lunglailah tubuhku tak mampu berjalan dengan hati masgyul.

Berhenti aku menunggu sekarang. Cukup aku membodohkan diri. Menunggu yang tak pasti. Sementara kau dengan yang lain bersenang hati berkicau serasi. Telah kubakar sangkar yang dulu pernah kau jadikan sarang. Emas platina yang terlapis tak membuatku menjadi sayang untuk kemudian kubuang. Saat kau coba kembali sepertinya sarang itu sudah tak ada, lenyap. Tak bisa lagi kau kubiarkan bertengger sejenak saja hanya untuk membuat hatiku tertawa sementara kemudian putus asa. Yang kulakukan sekarang adalah kurancang dan kurombak taman yang ada. Kuhijaukan rerumputan untuk kemudian kugelar sebagai karpet kedatangan. Kupercantik dengan warna-warni bunga agar menebarkan aroma wangi tak pernah berhenti. Kutanam dengan pepohonan rindang yang menghasilkan buah-buahan segar. Belum terlalu banyak, paling tidak agar ada kenyamanan ketika bertengger di rantingnya. Kupersiapkan dengan hati-hati taman itu. Agar siap menanti menyambut burung bul-bul yang benar-benar tulus bernyanyi bersamaku dalam alunan nada-nada merdu. Satu jam sebelum fajar saja, kemudian kita nikmati mentari yang terbit menghangatkan nurani berdua. Tanpa sangkar, tiada paksaan, hanya ruang terbuka.

Jakarta, 7 Februari 2013
Dari aku,
Periring Nyanyian Bul-bul


Ditulis oleh : @franc3ssa
Diambil dari http://justcallmefrancessa.wordpress.com

Tiga Sebab Kau Istimewa


Untuk Adikku yang luar biasa: Maringan

Coretan ini sengaja abang tulis, walau sebenarnya abang sedang radang-pilek-batuk, untukmu, salah satu anggota keluarga yang sangat abang sayangi, adik nomor tiga: kau  Siapa bilang anak nomor tiga pembawa sial? Kalau ada yang bilang anak nomor tiga pembawa sial, bawa orang itu sama abang, memangnya abang berani? Haha.

Ah, ya, lagipula, apa pentingnya menulis coretan semacam ini kalau kita bisa jumpa, kan? Ya, masalahnya, kau lagi di Rantauprapat dan abang di Tangerang. Itulah masalahnya. Apalagi kalau teleponan, bisa habis pulsa abang dalam waktu 5 menit. Pelit kali, kan, abangmu ini? Haha. Ya, bacalah sampai selesai coretan ini, Dek, karena kau tahu sendiri kalau abang terlampau sibuk dengan rutinitas abang, sampai-sampai abang tidak tahu kalau salah satu adik abang sedang bersedih. Kenapa kau sedih? Jangan bilang karena masalah perempuan, atau jangan-jangan karena kau ditertawakan teman-temanmu sebagai jomblo abadi.

Kau ingat? Dulu, abang jauh lebih cengeng daripada kau. Kalau masih kau ingat, kayaknya di antara kita dua, abang yang paling cepat menangis, sedangkan kau, kau jauh lebih kuat daripada abang. Setidaknya, kau sering membantu Mamak, bangun pagi-pagi ke pasar pagi, dan memesan barang. Lihatlah dirimu, Dek, abang aja belum tentu bisa bangun sepagi itu. Boro-boro abang bangun pagi, waktu kita masih satu kosan di Tangerang aja, tunggu alarm teriak baru kita dua bangun.

Kau adikku nomor tiga, dan—kau special  Kalau kau masih ingat juga tentang sejarah kelahiranmu, yang pernah diceritakan Bapak dan Mamak, kau pasti tahu, kapan kali pertama Mamak makan anggur di dalam hidupnya? Ya, setelah kau dilahirkan. Kapan kali pertama usaha Mamak dan Bapak berkembang di tanah perantauan? Itu pun setelah kau lahir, Dek. Sedangkan ketika bang Sandar dan abang lahir, apa yang terjadi? Ya, dunia masih berputar dan keluarga kita masih makan seadanya.

Jangan pernah mengganggap dirimu tidak lebih hebat dan istimewa dari kedua abangmu ini maupun kedua adikmu  Bayangkan, kau punya dua abang dan dua adik. Sama-sama dua. Kau punya dua kekuatan (abangmu) dan dua pertahanan (adikmu). Syukuri, apa yang Tuhan berikan. Nafasmu, pikiranmu, semangatmu, tangismu, tawamu, segala sesuatu yang Tuhan berikan, syukuri

Kau mungkin merasa bahwa abangmu ini sama sekali tidak pernah ada beban, jarang memikirkan masalah dan sebagainya. Tapi, ketahuilah, hidup ini pilihan. Sama seperti abang, yang memilih untuk tetap tersenyum dan tertawa, meski sedang menghadapi masalah sekali pun. Bahkan, ketika abang sedang kesulitan dalam hal biaya hidup yang abang tanggung sendiri selama tiga tahun di Tangerang ini, abang tetap tersenyum dan tertawa, karena setidaknya abang masih hidup dan masih berjuang untuk mencari segala permasalahan dan kesulitan yang abang hadapi

Kalau saja kau menjadi abang, yang harus memikirkan banyak hal (orang dewasa selalu memikirkan banyak hal), kau pasti akan berpikir bahwa abang seharusnya stress menghadapi banyaknya masalah. Bayangkan, abang harus memikirkan bagaimana caranya membiayai hidup dan tetap kuliah dalam waktu bersamaan, padahal nilai UTS PPN abang jeleknya minta ampun. Tapi, abang tahu, kalaupun abang sedih dan murung terus, atau yang buruknya meratap dan mengeluh, abang sama sekali ga bisa melihat jalan keluarnya  Makanya abang memilih tetap tersenyum dan tertawa. Atau, mungkin suatu hari nanti, abang akan melatihmu bagaimana caranya tertawa.

Adikku nomor tiga, kau itu spesial, kau itu istimewa, kau itu kuat, lebih daripada yang kau tahu. Meskipun abang sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana menjadi anak nomor tiga, satu hal yang abang rasakan adalah: terlahir ke dunia dengan menjadi nomor berapa pun adalah sebuah anugerah yang luar biasa, karena kita bisa melakukan banyak hal untuk diri sendiri pribadi dan orang lain

Hapus air matamu. Jangan pikirkan masalah perempuan terlalu serius seperti itu. Ingatkan, lucu-lucuan di keluarga kita? Kalau sudah sukses, semua perempuan mengantri haha. Untuk sementara ini, susunlah dulu rencanamu untuk perubahan dirimu menjadi jauh lebih baik, karena kau sudah sepantasnya untuk itu. Lupakan semua kesedihanmu. Buka matamu, bukan hatimu, pandanglah hidup ini yang hanya satu kali untuk melakukan banyak hal baru, yang akan membawamu kepada kesuksesan. Mungkin suatu hari nanti kau akan jatuh, tak masalah, sebab ada kami yang akan menjadi kekuatanmu dan ada adik-adikmu yang akan menjadi pertahananmu.

Kita keluarga. Abang selalu menyayangi kalian. Maaf, kalau abang tidak pernah bisa menunjukkan betapa sayangnya abangmu ini kepadamu, maaf. Maaf, kalau abang terlalu kaku untuk sekedar menghiburmu, maaf. Dan maaf, kalau abang terlalu sibuk dengan rutinitas abang, maaf.

Tetap tersenyum dan tertawa, ya. Berdoa, tentu saja. Dan satu hal:

Abang yakin, kau akan jauh lebih sukses dari abang, dan adikmu akan jauh lebih sukses darimu haha.


Oleh @bianglalaaaaa Sumber: http://bianglalaaa.wordpress.com

Are We Meant To be?


Hey.

Saat akan menulis ucapan pembuka ini, aku menyadari. Kita memiliki kesamaan, tak pintar memulai kata. Rasanya tak pernah ada seucap Hallo dariku, atau apa kabar darimu. Terakhir kali bertemu kita hanya terkelu, terpisah meja. Lantas bertanya, “Bagaimana kabar pacarmu?”

Detik itu kamu hanya menjawab sekenanya, dan celoteh merambat. Selepasnya aku lengah, aku berbicara pada lelaki berkekasih.

Sama halnya dengan kita terlampau tolol untuk mengerti bagaimana cara melambai dan berdesis selamat tinggal. Alih-alih melakukannya dengan pelukan hangat ataupun saling mendoakan, kita lebih memilih untuk diam-diam melenyap.

Hey.

Aku lupa, apakah aku pernah bertanya hal ini padamu. Are we meant to be?

Hal ini terkadang berceracau sebelum aku lelap. Atau setelah aku membuka kembali tulisan-tulisanmu dulu. Atau setelah aku membaca suratmu lima tahun silam. Atau setelah… aku gagal mengenyahkanmu.

Aku pernah membaca, jika aku mencintai sesuatu, maka lepaskanlah. Jika dia kembali, maka itu memang milikmu.

Sejatinya aku membaca itu setelah kita melalui masa sulit, setelah kita menyerah. Setelah kita memutuskan untuk saling melepaskan genggaman. Setelah aku hilang asa. Saat itu, aku tak memikirkannya. Pikirkan, bagaimana bisa aku melepaskan sesuatu yang aku cintai? Ungkapan bodoh.

Semesta mungkin berkonspirasi. Mungkin mereka mengerti bahwa di atas apapun, aku membutuhkanmu. Kamu kembali untuk ke sekian kalinya, seakan menegaskan, bahwa genggaman tangan kita bak magnet berlawanan kutub. Saling menarik. Saling mencari dan berputar, hanya untuk kemudian saling melekat.

Kamu memberi semu yang legit. Aku terlena pada setiap gigit. Aku mencoba pikun, bahwa sesuatu yang indah tak pernah berlangsung lama. Bahwa kamu tak pernah mencoba untuk keluar dari zona nyamanmu. Kamu tak akan pernah berani mengambil keputusan yang mengubah hidupmu. Such a coward, kamu memilih untuk bertahan pada cara yang sama, melepas genggamanku yang tak henti kamu rongrong, untuk kembali pada cumbuannya yang hambar.

Maka ketika aku membiarkanmu pergi, aku setengah berharap, kamu kembali. Sesuatu yang membuatmu pergi, pada waktunya akan membuatmu kembali.

Dan aku mencoba yakin.

.

.

Hey, kamu tidak berpikir bahwa surat ini akan berhenti sampai di sini kan? Pada kalimat aku akan separuh memohon padamu untuk mengaitkan jemarimu di sela tanganku.

.

.

.

.

Karena tentu saja tidak.

Karena aku tidak lagi membutuhkan ungkapan picisan seperti itu. Lebih jauh, aku tidak membutuhkanmu untuk menggenapkan jari-jariku, untuk menyempurnakan detakku.

Karena aku sadar aku layak dicintai oleh orang yang lebih baik. Yang sanggup keluar dari cangkangnya yang hangat, untuk bersamaku di udara yang lembab. Yang akan selalu memilihku kala dibimbangkan pilihan. Yang tidak akan melepaskanku.

Karena aku layak mencintai orang yang mencintai diriku.

Hanya diriku, tak terbagi.


Oleh @adiezrindra Sumber: http://dandelionotes.wordpress.com

Menggugat Tuhan


Dear, waktu tuhan menciptakan cinta, sepertinya dia terlupa, tidak menuliskan masa berlakunya.
Aku dan kamu kini jadi korbannya.
Kita pikir cinta abadi, mengikuti kemana pun kita pergi.

Sekarang, kita masih segar bugar, melonjak-lonjakkan kaki kesana kemari.
Tapi cinta kita sekarat, menjelang mati.
Karena kita pikir tuhan menciptakan dia abadi.
Kita abai, meninggalkan dia di rumah sendirian.
Menjenguknya sesekali, lalu kita terkaget sendiri, betapa banyak dia berubah.

Cinta kita melemah, kurang siram.
Saat sadar, kita cuma bisa duduk terdiam, bingung.

Kamu, aku, dan cinta kita, terduduk bertiga di pojok kamar.
Dia yang sekarang tak wangi lagi, sudah basah kuyup.

Percuma air mata.

Dear, waktu pertama kita memulakan cinta, masing-masing kita pernah berjanji, akan menjaga supaya cinta kita abadi.
Jika aku lelah, kamu yang menjaga, begitu pula sebaliknya.
Kita tak tepat janji.

Cinta kita menjelang mati.

Oleh @atemalem Sumber: http://rehatemalem.wordpress.com/

Surat Untuk Para Pejuang LDR


Dear pejuang ldr,

Aku merasa takjub dengan kalian para pencinta yang menjalani long distance relationship. Jarak yang membentang ternyata bukan suatu penghalang untuk mempertahankan cinta yang kalian rasakan.

Tahukah kalian bahwa nenek moyang kita dulu juga kebanyakan pernah menjalani ldr? Mereka harus terpisah karena tugas serta perang, dan cinta adalah yang menguatkan mereka satu sama lain. Untaian kata-kata indah dan doa-doa yang terselip dalam setiap surat mereka adalah hal yang terindah di tengah kejamnya perang. Tidak banyak yang selamat dalam perang dan bisa pulang kembali ke dalam pelukan yang terkasih.

Harus aku katakan, nilai kesetiaan cinta yang dimiliki oleh nenek moyang kita adalah luar biasa. Tetapi aku lebih tercengang lagi ketika melihat para pejuang ldr seperti kalian sekarang yang hingga saat ini masih bisa bertahan dan setia satu sama lain di bawah ancaman perselingkuhan yang mengintai, belum lagi pesona-pesona pemberi harapan palsu pemuas nafsu sesaat. Kalian hebat!

Tidak mudah loh, menjalani hubungan seperti ini. Diperlukan rasa percaya yang besar dan usaha yang extra untuk menjalankannya. Tapi memang tidak mungkin juga ldr tidak dilakukan. Banyak pasangan yang terbukti bisa bertahan dan menikah pada akhirnya. Banyak juga pasangan yang sudah menikah tapi karena suatu keadaaan dan beberapa kondisi tertentu mengaharuskan mereka tinggal di kota yang berbeda. Mereka bisa bertahan. Semoga kalian termasuk yang bisa bertahan ^^

Aku juga merasa kagum dengan kalian yang bisa menjaga baik komunikasi kalian dengan pasangan. Yang pacaran deket dan sering ketemu saja masih sering berantem gara-gara masalah komunikasi. Kadang-kadang pun ada orang yang mengejek dan meremehkan pejuang ldr.

“Untuk apa pacaran jauh-jauhan?”

“Yakin yang di sana setia?”

“Gimana bisa saling kenal dan memahami kalo ketemunya aja jarang?”

“LDR buang-buang waktu dan uang!”

Jangan patah semangat dan jangan menyerah dengan apa yang sudah kalian perjuangkan selama ini. Jika memang pasangan kalian yang terbaik, meski harus menjalani ldr maka pertahankanlah selalu jika tidak mau menyesal belakangan.

Aku percaya bahwa ldr bisa berhasil selama kalian dan pasangan berkomitmen untuk saling jujur dan percaya. Selalu tanamkan pikiran-pikiran positive. Jika ada sesuatu yang mengganjal sebaiknya jangan dipendam. Utarakan saja semuanya dan cari solusinya. Minimal sebulan sekali adakan evaluasi dari hubungan kalian. Perbaiki kekurangan dan pertahankan serta tingkatkan kelebihan yang sudah ada dalam nilai hubungan kalian.

Selamat mencinta dan selamat berjuang, pejuang ldr ^^

Oleh @ann_libriasty Sumber: http://onengjugamanusia.blogspot.com

Anak Kecil Berpayung Keperakan


Sore ini Jakarta kembali diguyur hujan lebat. Di depan saya, sedari tadi seorang anak laki-laki kecil berkaus warna biru langit dan celana seperdelapan berlarian dengan payung besar keperakan di tangan kanannya. Tak ada yang istimewa dengan payung itu. Dan pemandangan semacam ini pun sering kita lihat, di belahan mana pun di kota Jakarta.

Tapi ada yang berbeda hari ini. Mungkin karena saya sedang sendiri, dan pikiran saya pun sedang kusut. Ini cara Tuhan mengingatkan saya untuk bersyukur.

Dan saya malu.

Anak kecil itu masih berlarian di depan saya. Mengejar orang-orang yang butuh dipayungi, dan sesekali membantu memarkir mobil. Mukanya riang, tidak sesuram wajah saya. Padahal saya dalam keadaan kering dan sedang menikmati segelas es teh dingin yang harganya mungkin setara dengan hasil kerjanya selama beberapa jam. Itu pun, saya masih kurang bersyukur.

Lalu, kita sering berkata bahwa Tuhan itu tidak adil. Coba lihat anak kecil itu. Adilkah untuknya kalau saya yang dewasa tidak terkena setetes hujan pun dan duduk-duduk saja di sini?

Adilkah Tuhan, karena anak sekecil itu tidak pernah sakit walau pun berhujan-hujan seharian? Maha mengertikah Tuhan, bahwa anak itu memang tidak boleh sakit dan orang lain yang manja karena gerimis kecil diberiNya sakit kepala, flu, dan sebangsanya?

Tuhan itu Maha Adil dan Maha Mengerti.

Terima kasih, adik kecil dengan payung yang besarnya melebihi panjang badanmu karena sudah mengingatkan saya untuk lebih bersyukur.

Tamparan tangan mungilmu memang tak terlihat dan tak berbekas. Jangan takut, kau tidak menyakiti saya. Sore ini kamu yang dipakai Tuhan untuk mengingatkan saya betapa kita semua dikasihiNya dengan caraNya sendiri yang ajaib dan luar biasa.


Starbucks - Bintaro Plaza, 18:10

Oleh @Dear_Connie Sumber: http://poeticonnie.tumblr.com