05 February 2013

To Everyone Who Hates


To everyone who hates me.

Have you ever thought about how it feels like to be the one who always gets the blame? Things happen for a reason anytime, anywhere, and to everyone. If you ever think again, you know that the reason behind what happens is sometimes unexplainable. If things don’t go well like how you expect them to, it’s probably because the right time hasn’t come yet. Blaming others will not make things better, but if you really need to blame something, what can I do? Just don’t be surprised of what will happen if I’m the one that hates you first.

Have you ever realized that worrying only makes you look weak and pathetic? You always welcome me with complaints, even before I come closer. Can’t you just act a little brave and face me? Every day is a game, and you should play it right. If you don’t know what you’re fighting, you already lose.

There’s always a day when you feel like the whole world is against you. That day when you need to struggle hard to survive until the end. You should know that if you’re having a bad day, it’s just a sign for you to be thankful on the next day. If every day is getting better for you, you will realize that waking up the next morning is worth struggling.

Help yourself and try to make life easier, because actually it’s you with your problem that makes me how I am. How I can be either good or bad is only something that happens in your mind. So, it’s your decision to see me good or see me bad. Just accept me as I am, and let me do my own part in the story of your life. If you think that I’m still not good enough for you, then blame nothing for not trying harder.

You know, I’m nothing but just any day of the week. It’s not easy to come after Sunday and be in its shadow.


Februari 4
― the day you seldom like: Monday


Ditulis oleh : @dennyed
Daimbil dari http://dennyed.tumblr.com

Let Us Seize The Day



“Open the gates and seize the day
Don’t be afraid and don’t delay
Nothing can break us, no one can make us
Give our rights away
Arise and seize the day!”

Menginjak tahun kedelapan sudah kita saling mengenal. Teriramakan dengan “Seize The Day” sebagai lagu kita. Banyak hal yang telah kita lalui bersama dari awal kita jumpa. Dengan kegiatan “Imatur” sebagai pembuka dan banyak kegiatan lain yang saling menyapa. Di situlah kita menunjukkan passion yang ada dan bertemu dengan sahabat yang selalu menyambut dengan tangan terbuka. Tak pernah ada sangka kita akan berada dalam berbagai bidang yang berbeda dengan yang kita pelajari bersama. Tetapi satu yang pasti. Petualangan dan seni selalu ada dalam lubuk hati. Petualangan akal dan raga dalam menghasilkan suatu karya. Karya kecil yang memberi pengaruh besar pada suatu kehidupan. Lini masa adalah jalurnya. Konspirasi alam adalah gerombolan kita. Tertutup berkat dan restu oleh semesta.  

“Now is the time to seize the day
Send out the call and join the prey
Wrongs will be righted
If we’re united
Let us seize the day!”

Satu juta kenangan. Dua ratus tujuh belas manusia. Delapan tahun perkenalan. Empat tahun kebersamaan. Satu tempat kita dipertemukan. Tak dapat kudeskripsikan satu per satu pada satu juta kenangan itu. Beberapa kenangan yang dapat kuaksarakan adalah luar biasanya ekspresi raut muka dengan mata berkantong hitam setiap kita berkumpul pada suatu ruang. Dua kali dalam satu minggu. Kita bersama. Dengan kertas dan pena. Dengan kuas dan tinta. Dengan penggaris segitiga sebagai senjata. Ingatkah kalian masa-masa kelimbungan mencari tempat mencetak karya kecil kita? Entah tengah malam atau pagi buta. Dan bagaimana perasaan lega dan kecewa tercurah yang terangkum dalam lengkung bibir saat menatap hasil yang terpampang di layar penilaian? Lengkung senyum  atau lengkung sendu  Masih sering tersenyumkah kalian saat di tahun terakhir kebersamaan kita berlagak seolah anak SMA dengan baju seragam penuh coretan dan gelak tawa? Meminjam roof top gedung tetangga, berfoto bersama, dengan tiang canopy sebagai saksi “penggesekan” alat ******* beberapa korban kita. Hahahaa..Memang penjahat sekali kita. Tetapi maaf, itu lucu sekali kawan.

“Friends of the friendless seize the day
Raise up the torch and light the way
Proud and defiant
We’ll slay the giant
Let us seize the day”

Sekarang kita telah terpisah di berbagai belahan dunia. Tak hanya di sekitar khatulistiwa saja. Dengan kesibukan dan passion yang termulakan dari sebuah mimpi dan keyakinan. Tak perlu kita menjadi sama. Perancang bangunan, perancang nada suara, perancang melodi instrumental, perancang kota, perancang landscape, perancang kata, perancang gerak yang terbekukan dalam sebuah kamera. Kita semua satu, kita perancang. Seperti lirik penutup lagu kita, kawan.

“Neighbor to neighbor
Father to son
One for all and all for one!”

( Newsies – Seize the day )

Jakarta, 4 Februari 2013
Dari aku,
2005420099

Ditulis oleh : @franc3ssa
Diambil dari http://justcallmefrancessa.wordpress.com

Selamat Dua Puluh Tiga


Teruntuk Mama & Ayah,

SELAMAT ULANG TAHUN PERNIKAHAN KE-23!!!

23 Tahun yang lalu,
Hari ini adalah hari yang kalian tunggu. Di hari ini, kalian menyatukan dua hati untuk melebur menjadi satu. Di  hari ini, kalian bertukar janji atas nama Tuhan untuk saling melengkapi. Di hari ini, dua puluh tiga tahun yang lalu, kalian memulai kehidupan baru, sebagai seorang istri, suami dan orang tua.

Selama dua puluh tiga tahun kalian telah berjalan berjalan beriringan. Selama dua puluh tiga tahun kalian saling menghargai, saling memahami, saling menguatkan dan tentunya saling mencintai. Kalian pasti bahagia ya. Walau hidup tidak selamanya bahagia, tapi bukankah tetap bersama dengan seseorang yang kita cintai adalah suatu kebahagiaan? 

Ma, Yah...
Tetaplah berbahagia...
Berbahagialah selalu di dua puluh tiga tahun kedua atau ketiga bahkan keempat..
Karena kebahagiaan kalian ada sumber untuk kebahagiaan kami..

Anak kalian tercinta,
Qifthi.

Ditulis oleh : @ddLylaa
Diambil dari http://dnqifthi.blogspot.com

Mengosongkan Kotak Perjalanan



Kepadamu,

Entah kita sudah bertemu atau belum, bagaimana rasanya perjalananmu menemukanku? Kuharap kamu bisa menikmatinya dengan baik. Meskipun menunggumu juga bukan cerita yang menyenangkan untuk kututurkan. Mungkin kita harus memulai cerita kita dengan membuang semua cerita itu.

Aku sedang berusaha membuang semua benda yang ada di kotak perjalananku, satu persatu. Kulakukan satu-persatu sebab untuk membuang semuanya sekaligus membuatku ketakutan pada ledakan psikologis yang mungkin mereka timbulkan. Kupikir, lebih baik kulakukan ini sendirian, tanpamu, agar nanti ketika kita bertemu tidak ada lagi benda-benda dari masa lalu yang masuk ke kotak baruku denganmu. Agar nanti ketika kita bertemu, kotak perjalananku benar-benar kosong dan seluruhnya diisi kamu.

Isi kotak perjalanan masing-masing aku dan kamu mungkin seberharga sejarah peradaban. Mungkin dengan itu, mudah bagi kita mengulang detik-detik bahagia yang pernah masing-masing kita punya. Tapi, seberharga apapun itu, kita sepakat saat itu sudah lewat. Menurutku, tak akan pernah ada kita di dalamnya. Jadi untuk apa tetap dijaga?

Kuharap kamu juga mulai mengosongkan kotak perjalananmu. Seperih apapun membuang isinya, lakukan saja. Karena nanti perihmu akan kubasuh bahagia. Aku tidak ingin kita seperti sepasang cangkir dengan isi yang belum lagi tandas. Apa mungkin dengan cerita baru, dahaga kita bisa lepas?

Jadi, sampai bertemu dengan kotak perjalanan yang sudah kosong, pujaanku.

Jaga hatimu baik-baik.

Menyuratimu dengan rindu,
Aku.


Ditulis oleh : @ezapia
Daimbil dari http://komidiputar16.wordpress.com

Dia, Kamu, Kita


Sejenak ku pejamkan mata. Ku hirup udara di sekitarku. Ku bayangkan, aku berada di bawah langit yang membiru di padang rumput yang menghijau. Begitu luas, sempurna. Ku rasakan angin yang sesekali menerpa rambutku. Lembut menyentuh wajahku.

Seorang lelaki tiba – tiba datang, sebagian tubuhnya hampir tertutupi balon berwarna pink. Belasan, mungkin puluhan. Dia berjalan perlahan, mendekati tempatku dengan sangat hati – hati. Dia berhenti tepat di depanku. Aku terpaku. Dia tak bergeming. Tak satu katapun dia lontarkan. ‘ada apa?’ ‘kamu siapa?’ dia tetap membisu.  

Ku miringkan kepalaku agar aku bisa melihatnya walaupun sedikit. Tapi balon itu terlalu banyak, aku tak dapat melihatnya barang sedikitpun. ‘darimanakah kamu? Apa suaraku tidak terdengar jelas?’.

Dia masih tak bersuara. Aku bosan bermonolog. Ku balikkan badanku untuk beranjak pergi. Tapi, seketika itu juga ada suara yang keluar dari mahluk tak jelas di belakangku. Ku berbalik. ‘tunggu, jangan pergi’ ujarnya. Aku masih menunggu dia melontarkan kata – kata berikutnya. ‘ambillah satu dari balon yang kupegang ini, sebelum aku menerbangkannya’. Dengan hati – hati aku mengambilnya. ‘angin disini sangat kencang, peganglah yang kuat tali balon itu’. Spontan aku menuruti ucapannya.

Sesuai janjinya, dia menerbangkan balon itu. satu persatu di lepasnya genggaman tali balon itu. Perlahan, ku lihat warna bajunya, membiru seperti langit, lalu lengkung bibirnya yang sempurna, dan perlahan wajahnya mulai terlihat ketika balon – balon pink itu mulai terbang, menyatu dengan angin. Sekali lagi aku terpaku. Terpana akan sosok lelaki yang berdiri di depanku. Dia semakin mengembangkan senyumnya. ‘bukalah kertas yang terikat di tali itu’.

Ternyata di balon itu ada kertas  yang dibentuk seperti pita bernuansa sama dengan warna balonnya itu. Aku sama sekali tidak memperhatikannya. Ku buka perlahan, ku dapati beberapa baris kata tertulis disana.

‘akhirnya, aku menemukanmu disini. Pada hamparan padang rumput yang indah dibawah langit yang membiru, seperti warna pakaian yang kukenakan bukan? Apa kamu mengingatku? Aku lelaki yang selalu menunggu – nunggu kapan kamu akan tersenyum lagi setelah pertemuan itu. maaf telah membuatmu kaget dengan kehadiranku disini, apalagi balon – balon tadi : ). Apa kamu tahu, semua balon yang kuterbangkan tadi memiliki kertas yang sama seperti kertas yang kamu pegang saat ini. Semuanya berisikan tentang harapan. Sengaja aku menerbangkannya, supaya harapanku semakin dekat dengan langit disana, dan Tuhan pun mengabulkannya. Akan kuberitahu harapanku di kertas ini. Baca baik – baik. Pahami dengan hati. Aku berharap, kamu dan aku bisa menjadi kita. Kita yang bahagia, kita yang sempurna, kita yang mencintai satu sama lain. Hanya itu saja harapanku pada kertas ini. Tentu saja di kertas yang lainpun aku berharap yang baik – baik tentang kamu dan aku. jadi, bagaimana jawabmu? Maukah kamu berbagi kebahagiaan dengan ku hingga menjadi ‘kita’ yang sempurna?’

Seketika aku kehilangan kata – kata. Aku tak dapat berbicara sepatah katapun. Kata – kata dalam surat tadi seolah mantra yang dapat membuatku membisu. Dia memiringkan sedikit kepalanya, mencari tahu apa aku baik – baik saja atau tidak. Ku bilang aku baik – baik saja. Dia masih menunggu jawabanku. Aku mencari secarik kertas dan pena dari tas yang kubawa, disana kutuliskan jawabanku.

Ku berikan kertas itu padanya. Dibukanya perlahan, hanya ada pesan singkat disana.

‘kita berbagi kebahagiaan, apapun, mulai sekarang : )’

Seketika senyumnya terkembang, matanya yang begitu indah semakin jelas terlihat. Dia meraih tanganku dan dia berkata ‘pasti, apapun itu’. kini aku dan dia telah menyatu menjadi kita, hamparan padang rumput yang indah, langit yang membiru, balon berwarna pink, cukup menjadi saksi kebahagiaan kita, ya, aku dan kamu. Dia yang ku tulis di surat ini semuanya adalah kamu, kamu yang bersamaku sekarang. Terimakasih telah menjadi bagian dari hidupku, tetaplah disini, biarlah bahagia menyatu sempurna pada kita.



Ditulis oleh : @ekapusp
Diambil dari http://justrendezvous.wordpress.com

Bisakah Enyah?


Selamat dini hari, kamu yang dipikiranku terus berlari-lari.

Tidakkah kamu capek dengan tingkahmu seharian ini? Mengikuti kemanapun aku pergi. Kau apel pagi dengan mendatangiku yang baru saja terbangun dari tidur nyenyakku. Kemudian menemaniku sarapan dengan suaramu yang samar-samar terdengar dari telingku. Kaupun tak membiarkan aku makan siang sendirian, karena tiba-tiba saja bayangmu menemaniku menyantap makananku. Duduk persis didepanku sehingga bisa kulihat jelas sorot tajam matamu yang terbingkai frame hitam. Dan sekarang, kau lagi-lagi muncul di langit-langit kamarku. Menyunggingkan sebuah senyum yang terus akan kuingat. Seperti berkata padaku bahwa kau ingin bertemu. Ingin menuntaskan rasa penasaran yang entah sejak kapan membayang, sepertiku saat ini.

Bukannya aku tak ingin menuntaskan rasa penasaran yang sama-sama kita rasakan sebenarnya. Namun tidakkah kau capek denganku? Yang selalu saja bimbang untuk bertemu kamu atau tidak. Sedang segala kegigihanmu bagiku hanyalah penguat rasa hatiku untuk tetap bersama lelaki yang sekarang bersamaku. Dialah kekasihku. Aku bahagia dengan segala kebersamaan yang pernah kau dan aku rasakan, yang pernah kau dan aku jalin. Aku pun paham, kau sosok yang begitu menyayangiku, bahkan rela untuk sekadar menungguku berpisah dengan lelakiku. Walau kau jauh lebih baik dari lelakiku, kukatakan padamu sekali lagi. Aku tak akan pernah bisa untuk bersama denganmu. Waktu yang tak pernah mengijinkan. Andai kau datang lebih awal. Disaat skenario hidupku belum diatur sedemikian rupa oleh lelakiku, mungkin kini kita bisa lebih bahagia. Aku, bahagia denganmu tanpa ada yang tersakiti.

Tapi untuk saat ini, aku tak bisa berbuat banyak. Aku harus terus menjalani kisah dengan lelakiku kemanapun tujuannya. Aku mengikuti dia. Walau bahagiaku bila ada kamu. Aku pun tak pernah memaksamu tinggal menetap dihatiku, kau boleh sesuka hati datang dan pergi padaku. Seperti aku ketika penat sudah kurasakan bersama lelakiku dan ternyata hanya kamu yang dapat membesarkan hatiku untuk menerima lelakiku sebagaimana adanya dia. Tapi kau nyatanya selalu ada, untukku. Di setiap mataku memejam dan disetiap mataku terbuka.

Kau, bisakah enyah saja dari pikiranku?


Ditulis oleh : @enhanhanha
Diambil dari http://ernamardjono.tumblr.com

Untukmu, Mbok

Jakarta, 4 Februari 2013

Hari ini masih berjalan seperti biasa, rona macet masih bersenandung di jalanan.

Para kerah putih masih berkutat dengan angka dan para kerah biru masih bertarung dengan peluh.

Semua masih berotasi pada poros normalnya.

Hingga akhirnya, sebuah pesan singkat di telepon genggamku mengacau rotasi hari,

Sebuah kabar duka tentang sosok wanita kuat yang dikhianati zaman,

Wanita tua yang ditinggal belahan jiwa, wanita yang tidak pernah mengutuk waktu.

Mbok, biasa aku memanggilnya, aku tak pernah tau nama aslinya, yang ku tau hanyalah ulasan senyumnya yang dia pilih untuk menghadapi dunia. Alih-alih menyalahkan hidup, dia lebih memilih untuk berdamai dengan takdir dan menjalaninya dalam cinta.

Mbok, aku masih ingat sajian yang selalu kau beri padaku setiap sahur datang, dalam keterbatasanmu, engkau menyanyangi kami seperti anakmu sendiri, mungkin itu cara mu mensubsitusi rasa rindumu terhadap anakmu yang (secara kasat mata) tak pernah ada. Hanya Tuhan yang tau.

Mbok, masih segar di ingatanku bagaimana cerianya kau berceloteh tentang masamu, saat kau arungi hidup sebelum akhirnya berakhir terduduk di kursi kesayanganmu.

Mbok, hidupmu adalah definisi kebersahajaan, hidupmu adalah sinonim dari rasa bersyukur dan antitesis dari segala buruk hati. Seorang wanita yang memilih untuk berpegang pada teguh diri, menjalani gilasan roda hidup dengan kebaikan hati.

Mbok, dalam petak kecilmu, tak jarang kami lihat kau termenung, sepi, senyum mu terlelap dalam sunyi, entah mungkin kau sedang bertanya pada hidup atau memasrah pada rindu. Saat lamunmu terusik kembali rekah senyummu memancar.

Mbok, di akhir aku melihatmu, kau masih setia duduk di sudutmu, berdagang seadanya dengan kilauan rasa ikhlas. Entah berapa kali kau menyembunyikan rasa sedihmu dalam ketus lisanmu atau langkah menjauhmu, tapi kami tau itu caramu mencegah dirimu terlihat lemah, untuk setiap jengkal hidup yang pernah dilewatinya rasanya wajar ia tak lagi mau terlihat lemah.

Mbok, pikiranku masih melayang diantara saat langkah tertatihmu menahan sakit, masih menangis diantara bayangan dirimu dan ruang kotak di sudut tempat itu,di perlintasan jalan kecil tempatmu menyandarkan hidup, hidup yang selalu mampu kau syukuri walau entah berapa kali ia mengecewakannya, hingga akhirnya hidup itu sendiri yang pergi darimu.

Mbok, kebaikan dan ramah sapamu meninggalkan jejak manis di setiap orang yang melintas di jalan kecil itu, meninggalkan rasa sayang kami kepadamu, kami sayang akan sosokmu, tapi Tuhan lebih sayang padamu, Dia rindu memelukmu, Dia ingin berbagi damai denganmu, Mbok.

Tangis kami mengiringi kepergianmu, Mbok..

Ya aku menangis hari ini, Mbok..

Di ujung telepon saat ku kabari orang-orang yang menyayangimu.

Aku berkeras menahan isak, mejejak kuat-kuat kelopak mataku agar tak jatuh air mataku.

Selamat jalan, Mbok..

Istirahat dengan tenang disana, hiburlah Tuhan dengan senyum tulusmu.

Love,

Andika Saputra


Oleh @chesterdee Sumber: http://chesterdee.tumblr.com