05 February 2013

Cinta Yang Mana

Solo, 4 Februari 2013.


Surat ini kualamatkan untuk pos cinta, guna menjawab tanyaku tentang cinta.

Beberapa waktu lalu aku membaca buku Cerita Hati : Ini Cinta Pertama. Di dalamnya, para penulis meringkas cinta pertama mereka dalam sebuah cerpen. Itu kisah nyata, katanya.

Ada yang merasakan cinta pertama waktu kelas 1 SD. Ada yang jatuh cinta untuk pertama kali waktu SMP atau SMA. Bahkan ada yang menyimpan cinta pertama -yang biasanya memang tidak terungkap- selama 18 tahun. Yang menarik, ada juga yang merasakan cinta pertama pada orang kelima.

Aku ingin tahu, yang mana cinta pertama ku?

Apa setiap kamu ingin cepat - cepat sampai ke sekolah, demi melihat dia di tempat parkir sepeda, itu cinta?
Apa ketika kamu mencari - cari cara untuk sekedar melihatnya dari balik jendela kelas, itu cinta?
Apa ketika kamu pergi ke tempat yang tidak biasa kamu datangi, karena ingin mendengar suaranya, itu cinta?
Aku (merasa) pernah merasakan yang itu. Yang ada kupu - kupu dalam perut, yang setelah pulang terasa seperti maag dan mual. Something they called eerie feelings.

Ada yang aku lupa, ada yang aku rasakan berulang kali. Cinta pertama, haruskah yang benar pertama? Apa bedanya dengan cinta monyet? Sebenarnya, fase mana dulu yang harus kita lalui, cinta monyet atau cinta pertama? Kalau cinta monyet terjadi antara anak dibawah umur, berarti setelah itu baru cinta pertama? Lantas, mereka yang merasakan pertama kali jatuh cinta pada usia dewasa, apa cinta monyet juga? Apa cinta monyet dan cinta pertama itu sama?

Teman - temanku menjawab, “Cinta pertama itu yang selamanya.”
Aku rasa, itu cinta sejati.
Teman - temanku menjawab, “Cinta pertama itu kekasih pertama.”
Aku rasa, sebelum kekasih pertama ada cinta yang tidak kamu resmikan.
Teman - temanku menjawab, “Cinta pertama adalah yang tak akan kamu lupa.”
Aku rasa, itu tergantung bagaimana kita mengingatnya, sebagai kisah kasih, atau cerita lama.

Lalu yang mana cinta pertama? Ada sebuah kutipan di satu cerita pendek dalam buku Cerita Hati : Ini Cinta Pertama. Aku suka, tapi aku sedikit lupa. Kurang lebih begini, “Yang jelas, cinta sejati tak akan terjadi sebelum cinta pertama.” Lalu, apa cinta pertama itu selalu bukan cinta sejati? Aku juga tidak tahu.


Kutanyakan pada mereka, “Apa cinta pertama kita sama dengan orang dengan orang itu? Apa kita juga cinta pertama nya?”
Teman - temanku menjawab, “Itu yang tidak pasti, mereka mungkin pernah mencintai orang lain lebih dulu.”

Tapi mau cinta pertama, atau terakhir -nantinya-, cinta adalah ketika kamu hanya perlu menjadi kamu, dalam zona nyaman kalian. Kalian. Bukan begitu?


Oleh @avirosas Sumber: http://avirosas.tumblr.com

Penglihatan

Aku tak punya kemampuan untuk melihat bagaimana hidup kita lima atau sepuluh tahun mendatang.
Aku berani mengambil resiko, bukan karena aku tak punya pilihan, tapi lebih karena penasaran.

Bagaimana kita jadinya nanti, sayang? Setelah melewati banyak perubahan.
Kurus jadi gembrot, sehat jadi sakit, menyenangkan jadi menyebalkan.
Perhatian jadi abai, hangat jadi dingin.

Benarkah cinta hadir untuk waktu tak terbatas,
atau ia seperti makanan kemasan, pada saatnya nanti akan kadaluwarsa.
Jika benar adanya demikian,
Siapa yang lebih dulu menyerah pada hubungan kita, aku atau kamu?

Sekarang cinta kita panas menggebu,
aku penasaran, kapan ia akan membatu.

Oleh @atemalem Sumber: http://rehatemalem.wordpress.com

Cinta Yang Baik Dari dan Untuk Lolly

Kepada Lolly.

Hai Lolly, kisah cinta apa lagi yang ingin kau kisahkan padaku. Tiap minggu petang aku selalu menunggu kehadiranmu di sana. Mengisahkan cinta yang baik, yang kau rekam dalam lensa kameramu. Ya cinta yang baik, cinta yang tak butuh alasan untuk tumbuh, cinta yang menghadirkan senyum ke tiap-tiap orang yang menyaksikannya. Memang beberapa kisahmu agak klise, tapi tetap saja menghadirkan senyum setidaknya di bibirku.

Kisahmu yang paling aku sukai adalah saat kau menceritakan tentang seorang seorang pria yang menyukai senyum seorang perempuan yang ditemuinya  dan selalu dinantikannya di halte seberang jalan tempatnya menunggu bus. Benar, Lol, senyum adalah sesuatu yang paling sederhana yang bisa kita berikan untuk membahagiakan seseorang tanpa kita sadari.

Lolly, kamu sering sekali menceritakan kisah-kisah cinta yang baik. Tapi kisah cintamu sendiri jarang sekali kau ceritakan. Apakah kau orang yang introvert? Tidak kan. Seingatku, kau baru sekali menceritakan kisahmu. Kisah cintamu dengan seorang musisi yang kau temui di sebuah cafe. Saat itu kau diabaikan olehnya dan kau berkata, “Kamu adalah sesuatu yang aku tulis, tetapi aku bukanlah menjadi sesuatu yang kamu baca.” Kata-kata itu begitu menohokku. Dan aku bergumam dalam hati, musisi yang kau temui di cafe itu mungkin lelaki yang paling bodoh di dunia ini. Bisa-bisanya ia tak melihat dan membaca tulisan paling indah. Ya, kau cerita terindah, Lolly. Semisal aku menjadi lelaki itu, aku takkan pernah bosan membacanya berulang.

Bukan Lolly namanya kalau tidak bisa move on, dan membagi senyum, lalu menceritakan kisah-kisah cinta yang baik yang direkam dalam kameranya. Dan aku akan selalu menantikan kau membawakan kisah-kisah manis di tiap minggu petang.



Penggemarmu.


Oleh @acturindra buat @lollylove_trans Sumber: http://acturindra.tumblr.com

Bahagiamu Bahagiaku

Kepadamu yang selalu menantiku,

Bagaimana lagi aku harus menjelaskannya? Aku tidak tahu kenapa kamu bisa tetap menunggu aku selama 3 tahun ini, padahal dari awal aku sudah bilang bahwa aku tidak bisa menjalani hubungan yang lebih dari seorang teman bersamamu. Aku sudah bilang jangan tunggu aku. Aku tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi semalam, untuk yang kesekian kalinya kamu masih saja menawarkan hatimu dan untuk kesekian kalinya pula aku menolak.

Kamu membuat aku merasa bersalah. Seolah aku lupa berterima kasih dan lupa untuk bersyukur karena ada seseorang yang begitu baik dan tulus mencintai aku apa adanya seperti dirimu. Siapa yang tidak mau merasakan dicintai sedemikian rupa? Tapi sungguh, aku masih belum bisa menerimamu lebih dari sekedar teman. Mungkin hatiku begitu bodoh, masih saja tidak melihat kesungguhanmu.

Hanya saja… Entahlah..

Bukan. Aku bukan pemberi harapan palsu. Kamu tentu tahu itu. Sejak pertama selalu ku katakan tidak. Jika aku tidak juga menjauh darimu itu karena aku tahu bagaimana sakitnya penolakan. Aku sungguh tidak ingin menyakitimu dengan cara seperti itu.

Aku rasa, ini sudah saatnya kamu menjauh dariku. Kamu harus pergi dariku karena aku tidak akan pernah tega dan bisa melakukannya kepada orang sebaik dirimu. Lakukanlah ini demi kebaikan bagi kita berdua.

Tidak, jangan tunggu aku lagi. Kamu berhak mendapat kebahagiaanmu sendiri. Penantianmu ini sudah terlalu lama. Kamu bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku. Aku tidak layak mendapatkan ketulusan cintamu karena aku sendiri masih tidak tahu harus mencari cinta yang seperti apa lagi, ketika ketulusan dan kesetiaan bisa ku dapatkan darimu.

Pergi dan berbahagialah karena bahagiamu adalah bahagiaku :)


Oleh @ann_libriasty Sumber: http://onengjugamanusia.blogspot.com

Pertanyaan Untuk Semesta

Dear semesta, baik-baik sajakah dirimu?  Sehatkah? Mohon maafkan bila sesamaku membuat keadaanmu buruk.. Kudengar  es di kutub semakin memburuk.. Sungguh, aku meminta maaf mewakili sesamaku untuk itu.

Dear semesta. Aku mengirim surat hari ini bukan hanya untuk itu. Aku ingin bertanya padamu.  Berpuluh-puluh pertanyaan  memenuhi sel abu-abu dalam kepalaku sejak dulu. Tapi kali ini, hanya satu yang ingin kutanyakan padamu.  “Kenapa ada pagi, siang, sore, dan malam? Kenapa mereka terus saja berganti? Tidak tahukah kau, kadang, aku hanya ingin lebih lama menghirup aroma embun di pagi hari. Atau menikmati bersantai di siang hari. Juga ingin lebih lama menikmati senja di sore hari. Dan tentu saja, memandangi langit gelap dengan segala macam hiasannya di malam hari. Tidak tahukah kau, kadang, aku hanya ingin menikmati salah satunya saja?”

Lalu kau tertawa keras. “Hei, apakah aku mengatakan sesuatu yang lucu?”

“Ya, kau lucu sekali. Ah tidak. Kau sekarah,”  ucapmu membuatku terdiam.

“Serakah? “ Aku bertanya dengan suara lirih. Bagaimana bisa?

“Tanya saja pada paagi, siang, sore, dan malam,” perintah semesta. “Mereka lebih tahu.”

Karena itu aku mengunjungi siang, berharap ia memberikan jawaban atas pertanyaanku. “Hei siang, tidak bisakah kau saja yang ada sepanjang hari? Agar aku bisa terus bersantai, berdiam diri di rumah. Berlindung dari matahari yang menyengat.”

Siang mengerutkan alisnya. Menatapku dengan tatapan yang tak bisa kubaca artinya. “Kau gila,” ucapnya membuatku terdiam. “Tanya saja pada sore. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan konyol seperti itu.”

Dengan bersungut-sungut, aku mendatangi sore. Ah.. Biar kuberi tahu. Sore begitu wangi. Dan cantik. Aku benar-benar kagum melihatnya.  “Sore.. Aku sangat mengagumi senjamu. Tidak bisakah kau saja yang mengisi hari?” tanyaku dengan suara memelan.  Aku benar-benar tersihir oleh pesonanya.

Lalu sore  menggeleng dengan anggunnya. “Aku tidak ingin serakah. Apa kau tidak bosan menatapku terus? Coba tanyakan pada malam, mungkin dia mau mengabulkan permintaanmu,” ujar sore dengan suara yang sungguh merdu.

Maka aku mendatangi malam. Wajahku mulai suram sekarang. “Malam, apakah kau senang sekali jika saatmu berjaga datang?”

Malam tertawa pelan. “Tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Lalu maukah kau saja yang menemaniku. Aku hanya mau satu,” pintaku tanpa menjawab pertanyaan malam sebelumnya.

Kemudian malam tersenyum. “Tidak bisa. Aku tidak bisa seperti itu,” ucap malam. Lalu pergi meninggalkanku. Begitu saja.

Maka aku menyeret langkahku, hampir putus asa mengunjungi pagi. Dingin, segar, dan hangat langsung menyergapku ketika aku mengunjungi pagi.

“Ada apa nak?” tanyanya lembut. Aku merasakan aura ibuku. Membuatku ingin berlari, menghambur dalam pelukannya.

“Aku hanya ingin satu yang menemaniku. Entah pagi, siang, sore, atau malam.  Tidak bisakah?”

Pagi tersenyum lembut. “Nak, rupanya kau tidak cukup memaknai kehadiran kami,” jawabnya membuatku mengerutkan kening. “Tidakkah kau merasa beruntung karena kami terus berganti?”

Aku diam. Berharap pagi melanjutkan.

Dan dia benar-benar melanjutkan. “Bukankah kami selalu membawa suasana yang berbeda? Kau tidak akan menyukai salah satu dari kami selamanya kan?”

Aku tetap diam. Maka, pagi kembali melanjutkan.

“Ketika kau membenci pagi, maka siang hadir. Berharap bisa menghilangkan kebencian itu. Ketika kau membenci siang, maka sore hadir dengan segala keindahannya.  Ketika kau terluka oleh senja, maka malam hadir. Berharap kau bisa menangis keras, menumpahkan segala kegundahanmu padanya. Dan ketika malampun tak bisa, aku, pagi, berharap bisa memberimu semangat untuk bangkit seiring bergantinya hari. Bukankah setiap pagi semua orang selalu  berdoa agar harinya lebih baik dari hari kemarin?”

Aku bergeming. Berusaha mencerna setiap penjelasan yang meluncur dari pagi.

“Ada beberapa hal yang tidak bisa kitaa cintai selamanya, Nak. Maka hadir pengganti yang berharap dapat pula kau cintai, atau berharap, setidaknya mampu mengobati lukamu, dapat menghadirkan kembali senyummu,” ucap pagi lalu melangkah meniggalkanku.

Untuk kalian yang merasa pedih akan sebuah perpisahan..
Percayalah akan datang pengganti..
Seperti apa yang dikatakan pagi..

Dari seseorang yang percaya bahwa perpisahan selalu membawa cerita bahagia pada akhirnya..

Oleh: @agintafriska Sumber: http://agintamahartika.blogspot.com

Sebelum Engkau Menikah

4 Februari 2013

Mengenai waktumu menjelang.

~~~

Ini soal hari-hari ini dan segenap kekuatiranmu. Harimu dan malam sendu, aku tahu. Ketika engkau duduk sendiri di belahan sunyi, aku tahu. Paruh-paruh waktu saat engkau hanya ingin menyimak dinding kaca bercerita, aku tahu. Hujan menari, sedang engkau hanya biarkan rintik dan rintih menyusup sesekali. Aku tahu, meski sulit mengerti.

Aku pun tahu, bahwa tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk tidak tahu. Mari mengingat-ingat. Aku tidak hadir di sana ketika engkau berkeputusan menikah. Aku tidak muncul pada saat-saat kalut yang bergelut, meski demi memutus waktu barang sebentar. Maka, aku tahu. Aku tahu.

Pada hari-hari ini, dengarlah meski sekelilingmu tanpa suara, napasmu sendiri tidak putus setengah jalan karena hatimu terpelihara. Engkau dan aku sama-sama senantiasa tidak mengerti. Namun, mungkin memang demikian caranya hari kemarin dan hari esok berbaur pada hari ini, dan seterusnya. Lepas dari cara yang tidak terpahami, yang kita bisa serap hanyalah bahwa tahun demi tahun tergenapi dalam sebentar, dalam beberapa hari, saat hidupmu bukan hidup yang sendiri lagi. Hatimu terpelihara, sejauh ini. Menikahlah.

Dua minggu lagi, aku akan ada. Dan bila hari-hari ke depan sulit, aku juga akan ada. Aku tahu, hatimu terpelihara, sejauh ini. Aku tahu. Menikahlah.

~~~

Dari sahabat yang pernah hilang,

tapi tidak sekalipun luntur percayanya padamu,

bahwa hatimu selalu terpelihara.

Oleh @augustalks Sumber: http://petikanbulan.wordpress.com

Surat Dari Anak TK

Hari ini aku lulus TK.
Enam tahun lagi aku lulus SD.
Sembilan tahun lagi aku lulus SLTP.
Dua belas tahun lagi aku lulus SLTA.
Lima belas tahun lagi aku lulus jadi sarjana.

Dan setelahnya, masih banyak ujian yang harus aku tempuh.

Ujian pekerjaan.
Ujian kesehatan.
Ujian kemiskinan.
Ujian kekayaan.
Ujian penantian.
Ujian kesetiaan.
Ujian kejujuran.
Ujian pengharapan.
Ujian pengampunan.
Ujian pemakluman.
Ujian kepercayaan.
Ujian keikhlasan.
Ujian kerendahan hati.
Ujian iman.
Ujian perpisahan.
Ujian kematian.

Kakak-kakak yang sombong,
Oom-oom yang selingkuh,
Tante-tante yang suka iri hati…

Dulu kalian pernah TK juga kan?
Berapa usia kalian sekarang?
Lalu kenapa kelakuan kalian masih seperti aku?

Kapan kita main bekel bersama?
Pesta ulang tahun kalian ada badutnya juga?
Kalian kadang masih ngompol pun?

Aku kepingin punya pacar banyak seperti kakak.
Aku kepingin pulang malam terus seperti oom.
Aku kepingin bisa judes kayak tante.

Bolehkah?
Toh sifat kita hampir mirip?

Sudah ya.
Aku mau jambak rambut adik bayi lagi.
Dia ganggu banget soalnya.

Sampai nanti!

Oleh @Dear_Connie Sumber: http://poeticonnie.tumblr.com