02 February 2013

Surat Kaleng untuk @ineznatasha

For @ineznatasha

My Dear Michaila,

I've been thinking about you these days. How are you? Are you fine? How is college going? Hope it's everything running well.

I dreamt about you lately. It was a happy dream. You and me, we just walked and held our hand so close. I even lifted you up and we just having so much laughs. We ate "ketupat sayur" in sidewalk of unknown street. I don't even know where there was. But we just didn't care.

I think that possibly I'm missing you. I miss talking with you. We can talk about almost everything. I told you my dream in the future. You told me how you wanted to travel all over Indonesia. It's very soothing.

Well there's my story. I hope I'll see you soon.

Surat Kaleng untuk @kikisuriki

Sepanjang pertemanan kita
sudah berapa nama laki-laki yang kita sebut,
baik dari bibirmu, mau pun dari bibirku?

Lalu,

Sudah berapa gelas es teh
yang kita habiskan saat bertemu,
dan berapa ratus puntung rokok yang kubakar?

Juga,

Sudah berapa kali sepasang telingamu
jadi yang pertama mendengarnya?
Dan mulutmu jadi yang pertama memberi selamat,
atau memberi penghiburan yang tak sekedar?

Jadi,

Sudah berapa banyak hutangku padamu, Ki?
Belum lagi hutang doa di setiap sujudmu
dan hutang tulisan yang tak jadi kubayar?

Bu Guru Funky,

Teruslah menjadi guru untuk batinku ketika sakit.
Teruslah menjadi mataku ketika aku jatuh cinta.
Teruslah menjadi sumsum bagi tulangku ketika aku patah semangat.

Stay funky, loving, and gaul, Miss Kiki.
Aku sayang kamu, Kiki Raihan.
Mungkin sudah sejak ratusan tahun lalu
saat kita bertemu di istana biru itu.

Surat Kaleng untuk @Mas_Oda22

Kepada : @Mas_Oda22

Hai lelaki kutub utara. Apa kabarmu ? Sedang dimana kamu ? Semarang atau dirumah ?
Eh iya lelaki kutub utara, kamu kemana saja beberapa bulan ini ?

Kenapa kamu jarang hubungin aku lagi ? Kenapa kamu udah engga pernah pulang kerumah lagi sama aku ? Aku kangen banget loh sama kamu. Kangen diperlakukan manja sama kamu. Kangen diperhatiin kamu. Ya tapi semuanya kalau kita sedang kontak langsung saja ! Kalau via sms atau telepon atau skype ?? Huaaaaaaaah dinginnya kamu engga nahan :D Hahahaha maklumlah, namanya juga lelaki kutub utara ya :p

Lelaki kutub utara, bagaimana shalatmu hari ini ? Apakah masih seindah dan sekhusyuk waktu kamu jadi Imam tiap shalat ? Aku kangen loh lihatin kamu jadi Imam buat teman-teman lelaki yang lain.

Lelaki kutub utara, aku kangen banget tau bobo di pundak atau punggung kamu kalau kita di kereta. Kamu selalu engga segan-segan nyumbangin punggung kamu untuk aku sandarkan ketika aku sulit tidur.

Lelaki kutub utara, apakah kamu sadar kalau tiap kamu cerita tentang mantan ataupun pacar kamu, aku jealous loh. Aku bĂȘte aja dengarnya. Tapi yaudahlah, namanya juga aku cuma teman kamu ya. Jadi ya aku tahan aja, aku selalu senyum aja didepan kamu. Padahal hati aku sakit banget loh.

Lelaki kutub utara, aku kangen loh saat dimana kamu pinjamin bantal kamu buat aku tidur pas kamu bantuin aku nulis jurnal. Kamu baik banget sumpah, suasana perlakuan kamu hari itu bikin aku kepikiran sampai berhari-hari dan buat aku selalu senyum tidak jelas ketika mengingatnya. Ya entahlah kenapa bisa begitu. Mungkin karena sudah hampir 2 tahun aku menjomblo dan kamu selalu hadir memberi sejuta kehangatan saat kita bersama.

Lelaki kutub utara, aku kangen kamu banget. Udah lama sepertinya kita
tak bersua. Beneran kangen loh.

Lelaki kutub utara, kamu tau engga kenapa aku sering menolak lelaki yang kamu kenalkan ke aku ? Terlebih kalau mereka teman kamu. Aku cuma pengen sama kamu. Makanya aku bersikap gitu. Tapi sepertinya kamu engga sadar ya :p

Lelaki kutub utara, aku suka kamu. Iya, udah lama aku suka kamu.
Udah 2 tahun lalu. Pasti kamu engga tau kan ?? Soalnya sesuai namamu, kamu kan dingin banget. Jadi mana sadar dan peduli kalau tau aku suka kamu. Tapi sebenarnya aku juga bingung sama perasaan aku. Mungkin hanya sekedar suka kali ya. Eh tapi mungkin juga aku beneran sayang kamu lebihdari teman. Hufffht entahlah, soalnya aku juga ragu untuk sayang lagi sama orang.

Lelaki kutub utara, aku harap kamu tetap menjadi diri kamu yang aku kagumi ya. Kamu yang engga pernah ketinggalan shalat. Kamu yang pintar dan kritis. Dan kamu yang selalu aku suka dan kagumi secara sembunyi.

Lelaki kutub utara, semoga kamu engga marah atau il feel ya kalau baca suratku ini. Jujur aku masih pengen sama kamu. Walaupun hanya sebatas teman. Itu saja cukup ko. Sumpah :p Sueeeeer *lambaikan jari telunjuk & tengah*

Lelaki kutub utara, semoga kamu cepat mendapatkan wanita yang kamu idam-idamkan ya. Tipe-tipe wanita yang sering kamu ceritakan ke aku. Oh iya, aku pernah sih berharap kalau kamu itu tulang rusuk aku, tapi karena kamu (maaf) *buta warna parsial* aku jadi takut. Soalnya kasihan anak-anak kita nantinya (hehehe mimpi :p). Yaudah kalaupun aku bukan tulang rusuk kamu, semoga kamu tetap bisa menjadi Imam yang baik untuk keluarga
kamu ya. Sama seperti halnya kamu mampu menjadi Imam yang baik ketika sedang shalat bersama rekan-rekanmu.

Salam hangat dari matahari yang diam-diam berusaha menyinari harimu. Matahari yang tanpa kau sadari, berusaha terus untuk menjadikan dirimu sedikit lebih meleleh. Matahari yang tanpa lelah berusaha membuat hati dan fikiranmu lunak. Matahari yang selalu mencurahkan harapan baik padamu.

"Apa Kabar" yang Ke Dua Belas


Hari ini, tanggal 30 November. Aku masih selalu mengingat tentangmu. Oh iya, hari ini hujan turun begitu derasnya. Langit terus menyuguh gemuruh. Muadzin menyeru merdu. Ashar telah tiba. Seperti kala itu, ketika aku duduk di samping pembaringan yang kau pilih sendiri. Bukan lagi di dalam kamar kesayangan. Katamu, supaya tak gerah dan lebih mudah menemui siapa yang datang. Lembut aku belai wajahmu. Mendekatkan telingaku di dekat bibirmu setiap kali kau ingin meminta atau sekadar berucap. Aku berdoa, membacakanmu ayat-ayat yang memang diyakini menenangkanmu.

Sebentar aku tunaikan ashar-ku dan sejenak merebah punggungku yang sedikit kaku. Belum jenak aku memejam, aku mendengar langkah-langkah kaki yang berderap cepat. Berlari, ya mereka berlari. Menghampirimu. Aku membuka pintu kamarku dan turut menghambur. Erat memelukmu.

Apa masih ingat? Aku selalu memelukmu erat-erat. Memilih sendiri caraku merasa aman berada di belakang kemudimu. Aku suka dibonceng kemana-mana. Kau kenalkan pada hampir seluruh sudut kota. Mendengarmu bercerita dimana ada beda ataupun sama tentang segala rupa.

Apa masih ingat? Aku begitu khidmat mendengar setiap cerita yang berbumbu segala rasa. Menikmati tebakan-tebakan yang membuat imajiku terlunta, sebab terlalu sering kalah. Tapi tak apa, aku menyukainya. Menyimpannya rapat-rapat di dalam kotak ingat, yang sampai sekarang masih suka menjulur-julur menyapaku.

Apa masih ingat? Tentang satu liter susu cokelat dan es krim rasa coklat yang kerap menemani kita menikmati sore beranjak senja. Menggenapinya dengan tawa diantara dongeng-dongeng yang tercerita, yang membuatku mengenal siapa Bima berikut kerabatnya. Aku, yang selalu tergoda mendengar kelanjutan kisahnya.

Apa masih ingat? Tentang lukaku sebab belajar bersepeda dan memulai persahabatan dengan korek api. Juga, dengan telapak kaki yang harus selalu tulus disambangi duri. Aku tak lagi takut berlari, dan semakin menyukai menari yang bukan hanya dalam imajinasi. Itu bahagia, yang mungkin orang lain tak mengerti. Tapi aku selalu menyimpannya di sini, di dalam hati.

Apa masih ingat? Perlahan, kau mengajari aku memahami cinta. Cinta yang mendekati sempurna, tanpa menakar pengorbanan lebih dan kurangnya. Cinta yang tak menjauh dari ikhlas dan hormat. Cinta yang sejatinya selalu ada dan dimiliki setiap manusia. Kau yang membuatnya lebih mudah aku mengerti, meski aku pun tak yakin bisa memahamkan kepada yang lain, seperti yang kau lakukan.

Apa masih ingat? Segala mimpi yang pernah aku bagi dan kau katakan aku tak boleh berhenti meraihnya, memeluknya, mensyukurinya. Tentang semua harap yang aku eja dan mencoba lantang membacanya. Meyakinkan semesta agar menemaniku berlari meraihnya. Kau kemas semua dalam tawa, mengajakku larut di dalamnya. Menyukainya dan menjadikannya penyembuh luka-luka.

Apa masih ingat? Aku pernah marah karena kue kesukaanku lebih dulu masuk dalam perutmu. Aku menangis meronta, persis saat aku kehilanganmu. Maaf, mungkin tak cukup seribu kali aku memohon maaf padamu. Tapi sesungguhnya, aku sangat menyayangimu. Aku lebih suka jika saat itu kau membaginya menjadi dua denganku. Seperti yang sebelumnya sering kau lakukan untukku. Sekali lagi, maaf.

Aku tak punya alasan apa pun, menepikan rasa-rasa yang sengaja aku jaga. Atau sekadar melupa cerita, aku tak bisa. Biarkan semua menjadi teman di setiap perjalanan, ketika kemudian, aku sendirian.

Jika di detik ini pun aku masih bercerita padamu, aku selalu yakin kau mendengarnya. Merasakan apa-apa yang aku rasa. Seperti yang biasa. Aku biarkan semua abadi dalam tulisan, seperti yang pernah kita biasakan. Oh iya, aku masih menyimpan diary biru itu. diary pertamaku. Darimu, untukku :’)

Aku harap, aku tak pernah mengenal lelah memelukmu dengan do’a-do’a. Karena sekarang hanya itu yang aku bisa. Aku harap, kau pun menikmati bahagia seperti yang aku rasa. Bahkan, aku ingin kau lebih bahagia. Aku yakin, Tuhan menyayangimu sepenuhnya. Malaikat-malaikat juga tahu, aku selalu mengagumimu, merasa selalu dibahagiakanmu.

Aku rasa begitu pun yang dirasa mereka. Mereka yang mengantar kepergianmu, di akhir perjalananmu, di tempat yang fana ini. Menuju yang abadi. Maaf, kala itu aku meronta, air mataku menderas. Bukan aku tak merelakanmu pergi. Waktu itu aku merasa masih banyak yang belum usai aku ceritakan padamu.

Dan ini, tahun ke-dua belas aku tanpamu. Aku sudah besar. Tapi mungkin belum sedewasa yang kau harapkan, aku akan perjuangkan. Sudah memeluk beberapa mimpi yang pernah aku ceritakan padamu. Nanti, aku akan berlari lebih kencang lagi. Meraih mimpi-mimpi. Karena sekarang, hanya ini yang aku bisa lakukan, untuk membahagiakanmu. Membuktikan kepada semesta bahwa segala yang pernah kau lakukan, tak pernah aku sia-siakan.

Bolehkah aku bertanya, “Apa kabar?” padamu? Aku rindu senyummu, tawamu. Dan..eratnya pelukanmu, yang selalu menenangkan aku.

Mungkin, yang lain juga sepertiku, merindukanmu. Eyang Kakung yang selalu membagikan kecupan semesta lewat cerita dan tawanya… :*


Oleh @wulanparker
Diambil dari http://lunastory.wordpress.com/

Merah


Kepada Perempuan Bersepatu satu

Hari sudah senja saat aku menulis surat ini, awan pun mendung memerah, aku bertanya, mengapa awan mendung berwarna hitam disaat siang, dan merah disaat malam. Mengapa Ia mewarnai demikian? Mengapa tidak ungu dan hijau pupus? Mengapa juga tidak merah jambu terang dan magenta?

Selain itu, aku juga bertanya, apa kau sudah makan? Makan apa kau hari ini? Piringnya kau cuci sendiri? Atau kau letakkan saja? Aku belum makan hari ini. Aku puasa, Buka sebentar lagi.

Aku puasa untuk mencari ridho, Ridho agar dapat jodoh.  Sebenarnya aku ingin kurus, supaya laki-laki mau menjadi jodohku. Supaya salah satu dari laki-laki, ridho menikahiku.

Ku kira umurku sudah mumpuni, aku juga pintar menenun. Aku tidak suka laki-laki di kampungku, selain mereka selalu bau, gigi mereka juga kuning kelabu. Aku ingin kau carikan aku seorang lelaki dari kota. Yang wajahnya seperti penyanyi “Cenat Cenut”. Kalau ada yang seperti mereka, suruhlah berkirim surat denganku.

Sampai di sini dulu, aku mau buka puasa. Sekarang aku sambil berdoa buka puasa. Oh iya, sepatumu sudah ketemu? Coba liat ke genteng, tupai membawanya kesana.

Jangan lupa jodohku.


Oleh @ulansabit
Diambil dari http://punyaulan.wordpress.com/

Kepada Seseorang di Kereta


Mungkin saat ini kamu sudah duduk dikereta, memasang headphone atau melihat keluar jendela. Belum sampai saja aku sudah ingin kamu cepat kembali. Haha. Entahlah, kadang rindu sangat aneh. Kadarnya bertambah malah setelah kita bertatap muka.

Sebelum kita bertemu kemarin, aku pikir 2 jam cukup untuk persediaan rindu beberapa bulan kedepan. Namun ternyata kamu candu. Aku tidak munafik jika diberi pilihan,aku ingin kita tidak seberjarak ini. Dekat dengan kamu adalah hal yang paling menyenangkan sedunia. Tetapi aku sudah memilih kamu, lengkap dengan 285 km dan berhari-hari tak melihatmu.

Iya iya..aku masih yakin dan terus berdoa, Tuhan merentangkan jarak ini agar perjalanan aku dan kamu menuju kita terasa lebih khidmad. Selangkah demi selangkah kian dekat.

Karena suatu hari nanti, beberapa tahun lagi, jikalau kamu harus kembali berada dalam kereta, maka aku juga akan disana, duduk disampingmu sambil merebahkan kepala, kita akan menuju pemberhentian yang sama.

Jadi,sampai saat itu tiba, kita memang harus rela duduk terkantuk di dalam kereta dengan arah yang berbeda. Sampai saat itu tiba,aku tak akan lelah mengucapkan hati-hati dijalan , mengingatkan ini itu agar tak ketinggalan, dan dengan cerewet berkata “cepat pulang yaaa”, jangan lupa baca bismillah :)


Oleh @ultranyil
Diambil dari http://rainyinthebottle.blogspot.com/

Untuk Kamu di Gedung Seberang


Hari ini berjalan seperti biasanya. Tak ada yang istimewa. 
Tetapi, tiba-tiba aku teringat dengan kamu. 
Kamu yang selalu mengisi 5 hariku dalam seminggu.
Kamu yang selalu memenuhi ruang otakku yang sudah penuh dengan memori.
Kamu yang selalu menguji kesabaran dan energiku.
Kamu yang selalu mengambil perhatianku dari manusia yang lain.
Kamu yang selalu mengisi mimpiku dengan teriakan dan penolakanmu.
Kamu yang selalu melanggar setiap aturan yang kuterapkan.
Kamu yang selalu tidak suka dengan segala keputusanku.
Kamu...kamu...
Habis sudah kata-kata untuk menggambarkan peperangan kita dulu.

Hari ini aku nyatakan bahwa aku selalu ingat jika melihat ada manusia yang bertingkahlaku sepertimu. Ada rasa rindu (entahlah) menjalar di relung hati. Rasanya hangat tapi mencekam. Ah! Aku rindu 'berperang' denganmu. Aku rindu bernegosiasi dengan keinginan kerasmu. Aku rindu membuat kesepakatan denganmu bahwa apa yang kau lakukan itu melukai perasaan temanmu (juga aku). Aku rindu membahas sikap-sikap baik sekaligus sikap burukmu. Aku rindu melihatmu menjalani konsekuensi yang kamu sepakati. Bahkan, aku rindu ketika kamu menangis karena kamu merasa diabaikan oleh temanmu. Hatimu sebenarnya peka. Hanya saja, lingkungan membuatmu menjadi begitu gengsi untuk mengakui kepekaanmu.

Sungguh aku belajar banyak darimu. Aku belajar mengasah kesabaran darimu. Aku belajar menghargai rasa yang terluka. Aku belajar bahwa tak selamanya keinginan dapat dipenuhi atau terpenuhi. Aku belajar tentang penerimaan dan penolakan. Aku belajar untuk menjadi seorang teman dan pendengar yang setia. Aku belajar untuk lebih peka.

Apa kabar kamu sekarang? Apakah kamu masih mengingatku? Ataukah kamu telah menemukan penggantiku? Apakah kamu melakukan 'peperangan' juga dengan penggantiku?
Rasa ingin tahuku menjadi tergelitik. Padahal jarak kita sungguhlah tak jauh. Kamu berada di gedung seberang yang hanya terpisah oleh jalan selebar 3 meter. Suatu waktu aku akan mengunjungimu. Tapi, entah kapan...(entahlah).

Dari guru yang belajar banyak darimu. 
Terima kasih.

Oleh @_r15na_
Diambil dari http://araiesenei.blogspot.com/