31 January 2013

Tukang Pos Pamrih



“Li o li o li o e..

Li o li o li o e…

Li o li o li o e….

Ku menulis pake hate, tak berhente sampe mate….”

#NyengnyongSambilNgibingAlaAgnesMonica

Surat gue ga sedih kan? Iya kan? Kan. Pastik. Udah jangan nangis lagi gegara ga dapet surat yang ga sedih. Trus yang rajin n jangan sampe edyan jadi tukang pos kelilingnya ya, nak..
#PukPukPuk

Jakarta, 30 Januari 2013
Dari gue,
Penulis Pamrih =))


Ditulis oleh : @franc3ssa untuk @lionychan
Diambil dari http://justcallmefrancessa.wordpress.com

Serupa Kita


Evi Sri Rezeki – My Original Girl.


Chicky, Flicky, Piki

Aku menulis ini sambil mendengarkan lagu Danur yang kamu beri untukku.

Sadarkah kamu, kadang aku merasa seperti kucing kecil yang mengekorimu ke mana pun kamu pergi. Sedari kecil duniaku memang selalu terpusat padamu. Selalu kamulah yang pertama kulihat di bumi ini. Tahukah kamu, aku sering ingin menjadi sepertimu. Sering ingin bertukar posisi. Kamu selalu tampak bersinar untukku. Apa yang tidak bisa kulakukan—atau tepatnya takut—selalu bisa kamu lakukan. Kamu sedari kecil selalu pemberani. Karena itulah aku selalu memanggilmu original.

Vi, aku selalu menganalogikan kita sebagai batu dan permen. Aku adalah permen dan kamu batu. Aku permen yang di dalamnya batu, kamu yang batu di dalamnya permen. Begitulah kamu. Terlihat keras dan kuat di luar, namun begitu lembut dan manis di dalamnya. Sedangkan aku sebaliknya. Vi, kita telah saling mengenal segalanya, bahkan melebihi memahami diri sendiri. Apa yang tak bisa kuejawantahkan, bisa kamu jabarkan dengan tepat. Rasa, pikiran, dan keputusan.

Vi, hidup kita tidak pernah mudah. Mungkin itulah sejatinya sebuah petualangan. Penuh gelombang dan badai, memenuhi hasrat kita agar tak pernah bosan.  Meski sering kali merasa tak sanggup terus berjalan. Orang-orang mungkin tak tahu, betapa sulitnya kita berproses untuk benar-benar menerima bahwa kita anak kembar. Karena kembar adalah anugerah sekaligus kutukan. Sebuah perjanjian seumur hidup untuk siap dibandingkan. Mereka mungkin menganggap itu sepele, tidak bagi kita yang mengalaminya. Apapun yang ada pada kita selalu dibandingkan. Seperti tak puas melihat kita sebagai satu individu yang merdeka dengan kehendak, nasib, dan takdirnya sendiri. Betapa lelahnya kita melewati proses itu. Kita bahkan tanpa sadar pernah saling membenci, dan akhirnya mengantarkan kita pada sebuah ketulusan dan cinta yang hakiki. Itu hanya satu bagian pahit dari hidup, agar kita mengenal senyap yang melebihi sunyi, yang pada akhirnya mengantarkan kita pada hingarnya bahagia.

Betapa kita terlahir menjadi dua adalah anugerah. Tak pernah aku benar-benar sendiri. Meski kadang ada jarak. Jarak yang sesungguhnya bukan jarak waktu dan tempat, tapi jarak rasa. Ternyata jarak itu hadir sebagai media untuk kita agar tak saling melukai. Vi, kita selalu saling menguatkan. Saat cinta dan impian menjadi pisau yang mengoyak, selalu ada tempat untuk kembali tegar. Ada pelukan untuk meredam risau, ada senyuman untuk menghalau gelisah.

Vi, kita sering berbagi kegalauan yang sama.

Ingatkah saat malam-malam kita lalui dengan pembicaraan frustrasi pada akademik. Nilai-nilai, tugas, dan skripsi. Rasanya kita waktu itu tak akan pernah merasakan lulus dan wisuda. Namun akhirnya bisa kita selesaikan dengan hasil yang menurut takaran kita memuaskan.

Atau saat cinta lagi-lagi membuatmu gamang. Kamu sering bertanya, “Bosen ya, Pa, dengernya?”  dan aku selalu menjawab tidak. Kisah cintamu memang sering berulang, mendulang luka, tak juga membuatmu kebal.  Lalu kukira aku tak akan lagi merasakan pedih itu, ternyata hidup memang tak bisa ditebak arahnya. Tapi sebesar apapun nestapa, kita tahu akan kembali berdiri, meninggalkan kisah lalu yang kita sepakati hanya akan jadi ingatan dan pelajaran, bukan sebuah kenangan.

Vi, kita selalu berbagi impian.

Sedari kecil kita adalah pemimpi. Pemimpi yang membuat orang selalu percaya kita bisa meraih dan mewujudkannya. Sayangnya kita pemimpi yang bodoh. Kita seringkali tak bisa membedakan antara impian dan keinginan. Kita memilih menggapai keinginan-keinginan yang menyaru jadi impian. Hingga kita tak pernah fokus, lalu baru menyadari waktu telah lama berlalu. Ah, untungnya tak ada yang sia-sia di dunia ini. Semua pengalaman itu bisa kita jadikan bahan cerita, meskipun terdengar seperti alibi.

Kini kita telah memilih jalan pasti. Sebuah taman bermain penuh fantasi dengan petualangan paling seru. Kita telah memilih menjadi penulis. Perjuangan belum seberapa, tapi kita telah sepakat tak akan pernah menyerah. Seperti tokoh fiksi yang kita hempas dengan berbagai badai, namun akhirnya mencapai kegemilangan.

Vi, maaf ya. Aku sering meninggalkanmu sendirian di rumah. Padahal aku selalu marah dan melarangmu keluar rumah dari dulu. Aku tahu betapa sedihnya ditinggalkan. Seperti saat kamu berkali-kali memilih kos. Vi, aku selalu ingin menjadi seperti ibu bagimu, agar aku bisa menjadi teduhnya rumah.

Vi, sudah subuh. Adzan sudah terdengar jelas di rumah kembar kita. Aku ingin lelap sejenak, sebelum dibangunkan putri cantik kita yang setiap membangunkanku persis penyu penggigit. Nanti akan kubuatkan kalian sarapan nasi goreng, lalu kita bercerita sambil terkantuk-kantuk di pagi hari, sedangkan Rasi ribut minta dibelikan sepasang hamster.

Kututup perjumpaan kata kali ini dengan sebuah puisi yang pernah kuberikan padamu:

Serupa Kita

Seperti menatap cermin yang tak sempurna

Jiwa kita yang dipaksa berpisah dalam dua raga, berkelana dalam dunia yang sama

Kita menyulam dongeng yang berbeda

Serupa ruh yang menghidupkan dua kutub

Kita selalu ingin bersama

Aku tak mungkin tersesat saat ingin pulang, karena napasmu adalah kompasku untuk kembali

Tapi aku tak akan selamanya menjadi rumah untukmu

Karena perpisahan selalu menjadi keniscayaan

Jiwamu jiwa pengembara

Jiwaku jiwa pengelana

Mari kita bertemu, untuk berbagi kisah

Karena sebenarnya tak ada  kita, yang ada hanya aku dan dirimu dalam wujudmu, juga kamu dan diriku dalam wujudku.



Ditulis oleh : @evasrirahayu untuk @EviSriRezeki
Diambil dari http://tamanbermaindropdeadfred.wordpress.com

Surat Kepada Pemilik Perpustakaan Senyum



Salam hangat buat semua pustakawan dan pustakawati di perpustakaan Senyum. Dan juga kepada para pengunjung perpustakaan Senyum 

: kepada Widi

Salam hangat,

Hai, Widi, maaf, ya, saya telat mengirim buku-buku yang sudah dijanjikan, karena ada beberapa hal yang harus segera diselesaikan untuk kelulusan dan wisuda di kampus. Ah ya, sebelumnya kan saya pernah menjanjikan akan mengirim buku Kumpulan Cerpen Aksara (UKM Kampus STAN di bidang seni dan sastra): Koloid. Tapi. Setelah mencari-cari di kamar, saya baru sadar, ternyata semua buku yang di saya sudah habis. Jadi, Jumat lalu saya ke Blok M dan membeli tiga buku untuk anak-anak, sebagai gantinya  Semoga kamu senang menerimanya, dan menerima surat ini haha.

Wid, pengunjung di perpustakaan Senyum, rata-rata anak-anak atau bukan, ya? Soalnya, sedikit curhat haha, saya sengaja beli buku untuk anak-anak, karena saya pikir rata-rata pengunjung di perpustakaan Senyum adalah anak-anak (kalau ternyata bukan, maaf, ya, Wid, bukunya jadi kurang sesuai). Dan lagi, saya sengaja beli buku untuk anak-anak, karena saya membayangkan di perpustakaan Senyum sana, ada begitu banyak anak yang duduk manis sambil membaca saat kamu dapat giliran shift haha.

Daripada surat saya jadi kepanjangan, sepertinya sampai di sini dulu. Dan, kalau bukunya kurang sesuai dengan pengunjung perpustakaan Senyum, next time kalau saya sempat saya kirim beberapa koleksi buku yang saya punya  Tapi, kalau ternyata bayangan saya bahwa rata-rata pengunjung perpustakaan adalah anak-anak, saya akan kirim buku kumpulan cerpen atau majalah untuk anak-anak lagi haha.

Salam hangat buat semua pustakawan dan pustakawati di perpustakaan Senyum. Dan juga kepada para pengunjung perpustakaan Senyum 


-Jurangmangu Timur


Ditulis oleh : @bianglalaaaaa 
Diambil dari http://bianglalaaa.wordpress.com

Untuk Rani..


In a heavy rainy day..

“Dan ku tak mampu..Menjalani semua..Hari-hari tanpamu..Dan aku tak tahu..Apa yang kulakukan..‘Tuk dapat melupakan kamu
Itulah prosesku..Melupakanmu…” -Abdul and the coffee theory-

Dear Rani..
Hanya lagu itu yang iringi jeritan bisu hatiku.. yang ga mungkin orang tau,
Ya.. Rani, kamu pun mungkin ga akan pernah tau, kamu sosok yang selama ini temaniku, mungkin tak pernah tau apa yang aku rasakan sekarang, karena mungkin kamu terlalu sibuk bermain dengan perasaan buatan mu.

Ya..yang kamu tau hanya sosok aku yang angkuh, egois, acuh, dan apalagi kata yang bisa definisikan aku di mata kamu..

Rani..kamu tak pernah tau seberapa banyak tangisan yang aku sembunyikan jauh di belakang punggung indahmu, seberapa banyak sakit yang ku pendam sendiri, seberapa jauh batas yang ku urai untuk tetap bersamamu..

Ya, sekali lagi yang kamu tau hanya aku Putra yang angkuh dan egois, yang tak pernah kamu tau klo itu salah satu caraku untuk sembunyikan seberapa rentannya aku.. karena aku selalu ingin terlihat kuat didepanmu, karena aku ingin selalu terlihat tegar di mata mu. Karena aku berusaha untuk menjadi sosok tanpa cela di hatimu..

Rani, kamu tau kenapa aku pengen kaya gitu?

Karena aku ingin menjadi “Perfect Putra di dunia Perfectionist Rani”

Suatu obsesi kecil yang kadang buat ku terlupa akan lukaku sendiri, akan dunia ku, yang ternyata bukan hanya tentang kamu, kamu dan kamu..

Dunia ini ternyata tentang kita.. aku, kamu, dia, mereka, hidupku yang tanpamu, hidupmu yang tanpa aku, hidup kita.

Karena kamu tau Rani? Aku sayang kamu..
walau kadang aku tak memperlihatkannya.. tapi aku sangat sayang kamu..
Bahkan saat emosi dan ego ini meluap, rasa itu tak pernah berubah,
Bahkan saat kau bertahta dengan angkuh di atas kekhawatiranku, rasa ini semakin kuat..

Di saat aku bersikap seolah tidak peduli, batin aku sakit, Rani! Nurani ku berperang, bersikap tidak peduli tidak sesederhana yang kamu pikir, karena kekhwatiran itu tetap meraja.
Tapi sekarang semua ini berakhir dengan kata benci, kata yang aku pun ngeri untuk sekedar membayangkannya.. yah, mungkin kita gagal..
Kita gagal jadiin sayang kita sebagai sesuatu yang bisa dengan kuat satukan kita, sayang pun akan terluka jika terus dilukai oleh ego.

Sekarang aku, dengan hidupku.. kamu dengan hidupmu..
Saling memunggungi untuk menangis sejadinya, mengemis untuk sekedar bisa tersenyum..
Mudah-mudahan irisan sakit hati ini bisa menjadi setapak menuju kedewasaan kita..untuk jalani hidup..

Walaupun bukan denganku..

Aku sayang kamu Rani..

With tearless cry
Putra


Ditulis oleh : @chesterdee
Diambil dari http://chesterdee.tumblr.com

Ayah Hebat



Hai suami, apa kabar hari ini. Sudah makan, kah?
Jaga kesehatan ya, kurangi jajan dan usahakan makan sehat di kantor.

Hari ini anakmu ulang tahun yang kedua. Sudah besar dia, ya.
Tadi dia ambil telepon dan bilang, “telepon buya”.

“Ulang tahun. Boneka. Empat”
Begitu gadis kecil kita berkata.
Dan kamu, dengan suara serak bilang
“Selamat ulang tahun sayang, nanti buya belikan hadiahnya, ya..”

Saat kalian berdua bicara, air mataku disini menggenang.

Dear suami,
terimakasih untuk segalanya,
Kasih sayang, waktu, pengorbanan, kerja keras.
Kami mencintaimu.

Terimakasih sudah rela berpeluh demi kami.
Tak kesal saat kami menyusahkan.
Tak balas marah saat kami menjerit dan melontarkan barang-barang.

Terimakasih ya, dan usahakan tetap bersabar.
Demi kami.
Demi kita.


Ditulis oleh : @atemalam
Diambil dari http://rehatemalem.wordpress.com/2013/01/30/ayah-hebat/

Surat untuk Anak Jalanan


Adik-adik,

Aku menuliskan surat ini di bawah terangnya langit dan panasnya sinar matahari. Sesaat aku ingin mengeluh, betapa panasnya hari ini. Membuat aku tidak nyaman menjalani aktifitasku karena aku merasa lengket bermandikan keringat. Padahal sejenak kemudian AC mobil akan mendinginkanku lagi. Meski harus berjalan di bawah naungan terik matahari lagi itu pun tidak akan lama. Sejuk dan nyamannya sebuah ruangan akan melindungiku kemudian. Lantas kenapa aku harus mengeluh?

Saat aku melihat kalian siang ini, berjalan dengan kaki telanjang di atas panasnya aspal dan di bawah matahari yang bersinar dengan perkasa, ada suatu hal yang sungguh membuatku tergugah. Di sana ku lihat kalian masih bisa tertawa dan bercanda satu sama lain. Masih bisa berlari-larian walau keringat bercucuran. Aku merasa malu.

Harus ku katakan bahwa kalian adalah anak-anak hebat. Sejak dilahirkan, kalian sudah mendapat cobaan yang begitu besarnya. Kata orang, jika kita mendapat cobaan itu artinya kita masih disayang sama Allah. Kita sedang diuji. Kita sedang diingatkan bahwa dalam kondisi apapun kita harus tetap mengingat kebesaranNya. Kita harus tetap bersyukur.

Adik-adik,

Jangan berkecil hati. Jangan patah semangat. Jadilah orang yang jujur. Jangan lantas kalian menjadi pencuri dan melakukan hal-hal yang tidak Allah suka. Aku yakin selalu ada jalan untuk menata kehidupan yang lebih baik. Jangan takut dan khawatir jika itu hanya untuk urusan duniawi.

Semoga Allah selalu melindungi kalian.


Ditulis oleh : @ann_libriasty
Diambil dari http://onengjugamanusia.blogspot.com

Kenangan Si Tukang Sapu



Setiap malam, sebelum tidur, saya punya kebiasaan bersih-bersih. Menyapu. Bukan bersih-bersih rumah. Saya paling malas melakukan hal yang satu itu, tapi menyapu bersih semua data di dalam kedua telepon genggam saya. Foto-foto yang sudah ter-upload. Percakapan-percakapan di BBm dan WhatsApp. Semuanya.

Mengapa?

Karena saya tidak ingin membuka hari saya keesokan paginya dengan ingatan-ingatan yang kurang menyenangkan di hari sebelumnya. Sebegitu inginnya saya melupakan kekecewaan-kekecewaan dan hal-hal buruk.

Tapi kadang saya menyisakan beberapa “sampah” yang sayang untuk dibuang dan dilupakan begitu saja.

Foto kamu (yang akhirnya saya buang juga).
BBm dari kamu (yang sekarang juga sudah tidak ada lagi di sana).

Kamu pernah membuat saya senang, meski pun sekarang sudah tidak ada lagi bukti dan bekasnya. Entah kamu tahu atau tidak, bahwa kamu pernah menjadi alasan saya untuk tersenyum di pagi hari, saat mata saya baru terbuka setengah. Saat saya melihat lagi fotomu. Saat saya membaca lagi percakapan kita. Dan rasa senang itu biasanya terbawa sepanjang hari, bahkan kadang sampai beberapa hari. Sangat membantu, ketika saya harus melalui hari yang buruk.

Kamu pernah. Itu lebih baik, daripada tidak pernah sama sekali.

Saya berterima kasih untuk itu.



Ditulis oleh : @Dear_Connie
Diambil dari http://poeticonnie.tumblr.com