30 January 2013

Sunrise di Dago


Bandung hari ini mendung. Langit mungkin sedang berkabung. Hujan tidak turun, Bung. Lantas apa yang membuat Bung tidak juga datang berkunjung? Seperti Bang Toyib saja sudah lama tidak pulang kampung.

Kebetulan saya dilahirkan dan dibesarkan di kota ini beserta sanak saudara lainnya. Sehingga tidak punya kampung halaman. Ada iri yang terselip saat libur panjang tiba. Saat segelintir orang mulai sibuk menyiapkan segala keperluan untuk melakukan sebuah perjalanan. Pulang ke rumah. Disambut tawa riang dan makanan kesukaan, pengusir lelah.

Bung, wajah Bandung sudah tidak seasri dulu. Ribuan pepohonan tersingkir terkikis waktu. Gemericik hujan langsung jatuh menimpa batu. Dan menghilang juga berpasang-pasang kupu-kupu. Yang biasanya selalu menemani di taman saat kita bertemu.

Jangan takut untuk pulang, Bandung masih menyimpan ribuan misteri keindahan. Di daerah tertentu jalanan masih dinaungi rimbunnya pepohonan. Mari saya antar ke Jalan Cipaganti, Dago, Siliwangi, Taman sari, Cilaki sampai Bengawan. Sejuta cita rasa makanan khas Bandung yang selalu diinginkan. Katakanlah cilok, cimol, cireng, batagor, surabi, mie kocok, ulukutek lenca, sampai es cendol Elizabeth kw yang menyegarkan.

Masih banyak lagi tempat bersejarah yang harus dikunjungi. Makanan khas yang harus dinikmati. Asal Bung tahu tidak perlu jauh-jauh mendaki puncak gunung atau ke pantai untuk memandangi seberkas matahari terbit. Dari pinggir jalan terusan Dago ke arah Ciburial kita bisa melihat matahari yang masih malu-malu menampakkan dirinya. Sunrise di Dago.

Kenapa sunrise? Karena setelah gelap pekatnya malam muncullah secercah cahaya yang menerangi sepanjang hari. Cahaya yang menjadi penyemangat hati. Semacam harapan untuk selalu menanti Bung pulang kembali.

Seperti burung yang terbang sejauh-jauhnya pasti suatu saat akan kembali pulang.

Tertanda
-Yang menunggu kepulangan, Bung-


Ditulis oleh : @ch_evaliana
Diambil dari http://3v4s-mind.blogspot.com

BIG RED BUS TOUR


Milenium. Bayangan double-decker yang putih pun menghitam. Berganti merah.

Bukan, ini bukannya cerita berdarah - berdarah. Ini ikon kebanggan kota kami, Solo. Bus Werkudara, big-red-bus nya Solo. Ikut tur, yuk? Pilih Sabtu, hari kita sering bertemu, jam 15.00 saja, saat langit mulai syahdu.

Kamu harus punya tiket, jangan asal naik. Kayak mau merebut pacar orang saja. Naik bus ini harus pesan dulu ke Dishubkominfo. Nanti keberangkatan akan dimulai dari Kantor Dishumkominfo Solo, di daerah Manahan. Saya jadi tidak begitu suka daerah ini, karena sempat cemburu-dalam-diam disana. Maaf curhat.

Kemudian kamu akan menyusuri Jalan Adi Sucipto - Jalan Ahmad Yani. Untung saja tidak berbelok, karena disana ada lampu - lampu jalan tua yang kacanya sudah pecah. Saya sudah lapor ke Dishubkominfo, sudah di iyakan, namun pecahan kaca itu masih ada disana saat saya lewat. Nanti kamu kejatuhan, lagi. Semoga segera diturunkan deh, kacanya.
Masuk ke Jalan Slamet Riyadi, melewati Solo Grand Mall - Loji Gandrung - Sriwedari - Museum Radya Pustaka - Museum Batik Danarhadi. Rute ini sering dilewati orang - orang Solo. Kamu orang Solo? Pernah punya pacar? Tolong jangan nyanyikan lagu Sepanjang Jalan Kenangan selama lewat jalan protokol kota ini.

Dilanjutkan melewati Ngarsopuro, untung cuma lewat. Pasar Antik Triwindu disana ditata rapi dan barangnya bagus. Tapi saya bilang lagi untung cuma lewat. Tempat antik identik dengan kenangan, maka syukurilah tidak berhenti.

Kemudian kamu akan dibawa ke Kampung Batik Kauman dan berhenti di kawasan Gladak. Kemudian kamu akan melihat balaikota Solo di Jalan Jendral Soedirman, bablas ke Jalan Urip Sumohardjo. Lanjut ke Jalan Kolonel Sutarto -kalau yang di KFC itu kolonel Yakiniku dan Katsu-.

Kamu akan berhenti lagi di Jalan Ir. Sutami, daerah Jurug, Yang ada salah satu kebun binatang terbesar dan tertua nya. Apa kabar binatang disana? Saya juga tidak tahu. Yang saya tahu kalau habis lebaran ada semacam konser dangdut disana.

Oh iya, saat berhenti disana, penumpang ditukar tempatnya. Yang di deck atas pindah kebawah, maupun sebaliknya. Biar adil. Ini juga bisa jadi pembelajaran buat kamu dan pacar, harus rela berbagi dengan orang lain. Maksudnya bukan punya selingkuhan, lho! Ini maksudnya adil gitu.

Perjalanan kemudian kembali menyusuri jalan - jalan tadi. Dengan rute dibalik dari akhir ke awal. Pasti kamu, kalau susah move-on, suka suasana mengulang seperti ini, kan? Sekali lagi saya sarankan buat yang turis lokal, jangan sekali kali menyanyikan lagu Sepanjang Jalan Kenangan.

Seperti tadi aku bilang, naiklah sore hari. Jangan lewatkan duduk di deck atas, rasakan udara kota terbersih ini memenuhi rongga dadamu yang kering. Kalau duduk di deck bawah, usahakan jangan meniru video klip lawas Peterpan (belum Noah) yang Kukatakan dengan Indah, ya?

Untuk kamu yang belum pernah mencoba satu -satunya Hop On - Hop Off bus di Indonesia. Ayo ke kota ku, enjoy ride our-very-own-big-red-bus. Boleh naksir kota ini, boleh kepingin tinggal di kota ini, tapi jangan naksir saya, karena tur cinta saya beda rute dengan bus ini.

Warmest regards,
Seko Solo ngidul sithik.


Ditulis oleh : @avirosas
Daimbil dari http://avirosas.tumblr.com

Aku Cinta, Meski


Aku cinta, meski rasanya tidak manis macam madu.
Aku cinta, meski pedihnya sembilu kalah dibanding kamu.
Aku cinta, meski kenangan yang ada dulu, sudah ditumpuki debu.

Pojokan itu, tempat aku menaruh cintaku.
Sudut paling kotor di hati.
Jarang dibersihkan.
Terlupa dibersihkan.
Maka ia abadi disana.

Aku cinta, meski getar sudah lama hilang.
Aku cinta, meski belakangan suara tawa jarang mengudara.
Aku cinta, meski tidur kita saling membelakang.

Hati ini, tempat aku menyimpan dirimu.
Tak tahu bagian mana yang ada kamu.
Kubiarkan saja dia di situ.
Selamanya,
bagian itu
untuk kamu.

Aku cinta, meski
kamu
tidak.


Ditulis oleh : @atemalam
Diambil dari http://rehatemalem.wordpress.com/2013/01/29/aku-cinta/

Pada Suatu Hari, Parapat: Kota Pertemuan – Kota Kenangan


sebab masing-masing dari kita punya cara tersendiri untuk mengabadikan sebuah cinta, sebuah kota

: Parapat

dear Parapat,

apa kabar dirimu, kota yang pernah kami kunjungi empat tahu lalu saat perpisahaan kelas XII SMA? masihkah pagimu dingin dan basah karena embun? masihkah burung-burung terbang di langitmu yang biru saat matari bersinar? empat tahun, ya. dan sebuah perjalanan kelas yang sangat menyenangkan, sekaligus perjalanan jauh pertama saya bersama dengan teman-teman sekelas. perjalanan selama dua hari tiga malam yang begitu singkat sekaligus panjang. singkat; sebab setelahnya kami akan menempuh jalan kami masing-masing. panjang; sebab selama perjalanan kami seakan ingin mengekalkan perkenalan selama di kelas XII SMA. dua hari tiga malam untuk selamanya..

hal pertama yang selalu membuat saya selalu ingin kembali lagi padamu: ada kenangan yang telah mengkristal di sana, seakan dirimu adalah kotak yang berisi kumpulan kenangan dari tigapuluhan remaja; kami.

tahukah kau, kalau saya telah menuliskan dua buah cerpen, dengan kau sebagai latar tempatnya? ya, saya menulis dua buah cerita cinta, dan di dua cerita itu, saya menciptakan sebuah mitos tentang dirimu—yang tentu saja, mitos itu hanya ada di dalam dunia di mana tokoh-tokoh saya bertemu, saling jatuh cinta, walau masing-masing dari dua kisah cinta itu tidak melulu berakhir bahagia. kau mau saya beritahu mitos apa yang saya ciptakan tentangmu? begini cuplikannya: ..


“.. parapat. berbeda dengan medan yang bermobilitas tinggi. kota ini adalah kota di mana aku lahir dan tumbuh besar, sebelum akhirnya aku memutuskan ke medan berkuliah. bila di medan, kau akan disibukkan dengan rutinitas atau dipusingkan dengan kemacetan di jalanan, maka di parapat kau akan merasakan restorasi diri. di parapat kau akan menemukan ada begitu banyak hal yang menyegarkan kembali jiwamu yang telah tumpah ruah polutan dan kepenatan. mulai dari pemandangan danau toba nan biru yang sangat memesona. udara dingin dan sejuk, bahkan ketika matahari terik sekali pun. hingga situs-situs bersejarah suku batak: Makam Raja Sidabutar, Sigale-gale, Ulos, Rumah Adat Batak dan masih banyak lagi.

satu hal yang membuat parapat menjadi kota spesial dan istimewa, yang sayangnya jarang diketahui oleh orang lain selain para warga kelahiran parapat: parapat adalah kota di mana akan selalu ada pertemuan baru yang akan dialami oleh siapa saja yang berkunjung ke sana. Atau bisa jadi pertemuan kembali dengan seseorang yang barangkali pernah hadir di hidupmu. kami selalu menyebut parapat sebagai kota pertemuan..”

seperti itu. jadi, saya menuliskan bahwa dirimu adalah kota pertemuan, kota kenangan. mengapa saya menuliskan begitu? sebab, bagi saya—dan teman-teman kelas XII IPA 1—dirimu adalah kota kenangan, yang pernah kami singgahi, kami nikmati udara dan embun paginya.. dan, ya, saya secara pribadi jatuh cinta padamu  percayakah?

bukan hanya sebagai latar cerpen, saya pun berniat menuliskan sebuah novel dengan parapat sebagai latar tempatnya! saya ingin memperkenalkan dirimu kepada orang-orang di seluruh indonesia, bahwa di sumatera utara, ada begitu banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi saat liburan. danau toba—yang teori penciptaannya bisa dikaji melalui dongeng nusantara dan fakta sejarah. pelabuhan ajibata yang akan membawa siapa saja ke pulau samosir—pulau di atas pulau. legenda batu gantung ‘seruni’ yang bisa dibilang siti nurbaya-nya sumatera. makam sisingamangaraja, pahlawan dari sumatera utara yang memiliki kekuatan serupa samson. dan.. tentu saja, ada kau, parapat.

dear parapat,

kapan, ya, saya bisa kembali lagi ke kotamu? saya rindu berdoa komat kamit selama perjalan menurun yang terkenal itu. saya rindu menendang air dari pinggir danau toba—yang katanya, kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah kotanya. saya rindu makan semangkuk indomie rebus dan secangkir teh di warung-warung pinggir danau toba. kira-kira, kalau saya ke sana lagi suatu hari nanti, kau sudah berubahkah karena kekurangpedulian para warga dan pemerintah kotamu? ah, saya harap tidak. sebab masing-masing dari kita punya cara tersendiri untuk mengabadikan sebuah cinta, sebuah kota. dan kau.. berhak dicintai.

bintaro, 29 januari 2013


Ditulis oleh : @bianglalaaaaa 
Diambil dari http://bianglalaaa.wordpress.com

Untuk Sudut - Sudut Kota Bandung..


Selamat malam, Bandung.

Izinkan panca inderaku bermufakat dengan hati untuk sekedar mendeskripsikan apa rasaku tentangmu, yah minimal untuk malam yang sakit ini.

Bandung, udaramu yang kuresap saat aku memaknai setiap petemuan dan perpisahan, belai lembutmu yang membuatku mensubsitusi kata kehilangan menjadi sebuah inspirasi.

Bandung, lembaranmu terisi pun dengan ketukan masa indahku, saat-saat aku mengenal suatu getaran hati yang berpotensi membuatku bodoh. Kata orang itu namanya cinta.

Bandung, di salah satu sudutmu, aku bertemu gadis(ku), pengisi rona bahagiaku untuk sekian lama.

Bandung, malammu menjadi saksi pandangan yang bertemu, hati yang akhirnya beradu dalam setia yang tak lama menjadi sendu.

Bandung, langitmu menjadi saksi akan kening yang terkecup, akan senyum yang tersungging dalam setiap irisan bahagia dan setiap serpihan yang bertebaran tak tentu arah saat sesosok yang bernama hati itu patah.

Bandung, tempat aku memupuk rasa, tempat kami merangkai benci dan berpisah tanpa kata. Sesungguhnya bukan itu alasan Tuhan menciptakan sunyi, bukan untuk meninggalkan cinta di sudut gelap tanpa segigit kejelasan.

Bandung, kau adalah dimana setiap langkahku mendekatkan ragaku padanya, setiap langkah menjauhkan rasaku padanya.

Bandung, pesonamu mengingatkanku akan hati yang terjebak diantara dua rasa, dikuliti rasa rindu atau dibunuh perlahan oleh realita. Di kota ini aku merasakan takut kehilangan yang amat sangat akan sesuatu yang tidak pernah benar-benar kumiliki.

Bandung, dalam malammu, mimpiku bukan lah akhir dari kepahitan realita, tapi awal dari kesakitan aniaya bunga tidur.

Bandung, aku tak pernah berselingkuh dengan ibukota, karena hati ini tak pernah berpaling dari sejuknya indahmu. Walau kadang remah luka datang menusuk dari setiap sudut kenangan di kota itu, aku tak pernah ingin membiarkan sosok itu mengalahkan cintaku terhadap Bandung.

Bandung, rotasi hidupku di ibukota membuatku sadar seberapa berharga setiap langkah yang aku bagi dalam setiap meter jalananmu, jalanan yang kadang berisi serpihan rindu sisa asa yang tak lagi mencinta, walau kadang setiap langkahku semakin jauh mengikatku dalam ambiguitas perasaan antara dimanja rasa sakit atau dicintai rasa benci.

Bandung, sudut indahmu menyajikan firdaus bagi para pujangga, bukan hanya untuk mereka yang mencintai rindu, tapi pun untuk mereka yang merindukan cinta. Ya seperti aku, mungkin.

Bandung, didekapmu aku ingin meyusun (lagi) ceceran kepingku, dan kau gadis, ambilah sisa kepingan rasamu dan pergilah.

Bandung, tempatku menemukanmu, tempat aku kehilanganmu..

Bandung tempatku kehilangkanku, tempat aku (kembali) menemukanku.

-Andika Winchester Saputra-


Ditulis oleh : @chesterdee
Diambil dari http://chesterdee.tumblr.com

Denpasar (Bukan Kuta)


Untuk Denpasar yang (benar benar) Denpasar,

Denpasar adalah Denpasar. Bukanlah Kuta atau Nusa Dua yang penuh sesak oleh beachside bar warna warni, duduk untuk update location walaupun hanya pesan air mineral (karena seluruh harga tinggi menjulang). Kamu itu gagah, ibukota provinsi – isinya gedung pemerintahan, pusat kantor layanan, jalan jalan besar, pasar tradisional tertata rapi, dan swalayan yang bersikeras menyerupai mall besar. Kamu adalah rumahnya anak gaul dan ibu ibu sosialita, yang hanya saja setiap weekend seluruh spesies ini akan terbirit birit ke arah selatan demi sesuap hiburan dan prestise. Jadi, Denpasar bukan terletak di Kuta dan Kuta bukan terletak di Denpasar (atau lebih parah lagi, Bali isinya hanya Kuta saja). Untuk setiap turis yang ngotot, aku sarankan selalu bawa peta atau apapun minimal sisa pelajaran geografi di sekolah dulu.

Kamu adalah entah si sulung atau si bungsu dari Bali yang cukup sering terlupakan. Tapi aku tak pernah menganggapmu seburuk itu. Kamu akan tetap jadi tujuanku pulang karena yang tertera di tiket pesawat adalah kode DPS untuk Denpasar, bukan yang lain. Kamu akan tetap jadi kebanggaanku meskipun aku masih belum habis pikir kenapa lurusan jalan utama Gajah Mada harus dipersempit oleh areal hijau yang isinya malah tanaman bunga bergetah. Jalan itu adalah jalan yang kulalui hampir ribuan kali sampai pada usia 17 aku meninggalkanmu – dan ketika aku pulang aku harus melihat kenyataan bahwa jalan semakin sempit dengan renovasi pemasangan paving warna warni motif apalah itu. Gunanya apa sih kalau cuma bakal dilindes roda kendaraan? Tapi ya sudahlah, anggap saja itu semua untuk kebaikanmu ya kan?

Tapi pertanyaan itu terobati saat mulai nostalgia masa masa dulu. Ada banyak kerlap kerlip sepanjang jalan menuju taman kota. Beberapa belas tahun yang lalu, aku adalah anak kecil yang takjub melihat lampu dan air mancur. Dan orang tuaku adalah yang bertanggung jawab mengajakku nonton hiruk pikuk pusat kota dan beberapa lomba di hari tertentu, tidak lupa sambil makan lumpia dan beli gelembung sabun di sudut taman. Beberapa tahun kemudian, aku adalah anak yang berdiri di atas panggung tersebut mementaskan drama dan membaca puisi untuk Kota Denpasar, hadiah hari ulang tahunmu. Aku bilang sambil menghayati, aku sungguh cinta kota ini. Padamu.
Dua tahun yang lalu aku meninggalkanmu karena harus merantau. Aku takut kalau kotaku nanti tak mampu se-gaul kamu sekarang dan itu membuatku kikuk ketika pulang. Tapi ternyata kamu tak pernah berubah terlalu banyak untukku (terlepas dari renovasi yang agak menyebalkan tadi). Jalanan memang semakin menyerupai Jakarta, kupikir itu juga sudah jadi konsekuensi perkembangan sebuah kota berikut infrastrukturnya. Penduduk asli semakin banyak, begitu juga pendatang yang serba ujug ujug. Kamu harus semakin besar, beradaptasi untuk merangkul seluruh kebutuhan mereka. Ibarat kamu adalah orang tua yang sedia setiap saat, dan Kuta adalah pacar yang digeber saat liburan tiba. Bagaimanapun juga jatuhnya saling melengkapi. Namun bicara soal dia, aku miris.. Ia sebenarnya sudah di ambang ambang eksploitasi berlebihan. Revolusinya gila gilaan dan kuharap kalian berdua juga bisa saling mengontrol. Bisa bisa lumpuh hanya karena tuntutan pasar yang terlalu dituruti, pariwisata dan mulut investor mana bisa lagi dipakai. Sisanya hanya anak anak ini yang kembali merawat kalian dari awal dengan setia.

Aku belum pernah menyesali pertumbuhanmu sejauh ini, asal jangan kelewat liar. Berpijaklah pada tanah, budaya dan sejarah yang lekat. Seperti kita semua dulu pertama dikenal.

(Dan terima kasih untuk beberapa rumah sakit yang baru dibangun, suatu hari nanti aku pasti pulang dan akan kerja di salah satunya)


Ditulis oleh : @awulanp
Diambil dari http://pwulansari.wordpress.com

Viva La Batavia!



Kita punya satu kesamaan. Kita sama-sama gila masalah, dan hari-hari kita dipenuhi oleh drama. Bukan kita yang mencarinya, tapi drama itu yang datang mencari kita macam maling kutang kehilangan kolor. Tergopoh-gopoh.

Entah mengapa, aku selalu tertarik dengan manusia-manusia yang setengah gila dan hidupnya penuh masalah. Kau pun begitu. Semakin bermasalah seseorang, semakin menarik dia di mataku.

Gilakah kita?

Mungkin aku yang gila. Karena hanya manusia yang bisa gila, selain anjing. Dan kamu, betapa beruntungnya, karena tak ada yang bisa menuduhmu gila, Jakarta.

Mari kita bersulang. Kalau perlu mari kita mandi bir bersama di Bundaran HI, lalu kencing. Atau kau lebih memilih berkencan denganku di tepian Ciliwung? Kita bisa telanjang bulat di sana, lalu jongkok sambil mengejan.

Plung!

Buat apa malu? Malu itu perasaan purba yang tidak lagi dimiliki manusia jaman sekarang.

Di tubuhmu, Jakarta, kemaluan itu lebih murah harganya dari rasa malu itu sendiri. Dan pemalu di Jakarta bisa cepat mati.

Viva la Batavia!


Ditulis oleh : @Dear_Connie
Diambil dari http://poeticonnie.tumblr.com