29 January 2013

Jarak


Selamat sore sayang,


Hari kedua puluh delapan di bulan satu, surat ke delapan yang kutunjukkan untuk pemilik hatiku yang utuh. Bagaimana kabarmu, wahai pria yang selalu saja kusebut abu-abu? Jangan lagi sakit ya, aku khawatir. Kuasaku ditelan jarak untuk menjagamu dengan sebuah hadir.

Seribu seratus tujuh puluh delapan kilometer jarak yang memisahkan kita. But hey, it just a damn number, right? Aku tidak perduli. Berbicara denganmu meski lewat sambungan gsm, aku rasa lebih dari cukup menghadirkanmu di keseharianku. Meski rindu nampaknya selalu mencumbu diantaranya.

Kau ingat bukan, aku adalah pelupa yang hebat? Aku mohon kau tak kan marah, jika wajahmu mulai memudar dalam ingatan. Hanya nampak bayang-bayang pucat, seolah kau hanya sebuah penampakan. Ya, jika bukan karena foto-foto yang kumiliki, aku rasa ingatan lumpuh dalam diri. Ah, aku tidak perduli. Bukan wajah yang rupawan yang menjadi penilai untuk hati, tapi rasa yang kau beri. Yang aku tahu, aku menyayangimu dan itu cukup bagiku untuk menjadikanmu pria satu-satunya dalam hati.

Setidaknya disini hati berani untuk jujur pada diri. Bahwa rasa sayang menjadi mahkota bukan berdasarkan fisik. Jika jarak membuat mata kita buta tentang sosok yang merajai pikiran, tapi jarak pula yang membuat kita menjadi penguasa pada masing-masing hati. Jarak pula yang menjadi pengendali rindu yang selalu tumbuh detik demi detik. Persetan dengan jarak! Jarak tidak akan pernah menjauhkanmu dariku. Pikiran dan hati tempat kau bersemayam, tak kan mudah memudarkan perasaan meski jarak membentang jauh.

Yang aku benci pada jarak adalah saat hadir begitu penting di saat-saat yang sinting. Meski sebuah kita menjadi penenang dalam hidupmu yang semakin miring, bukan berarti tidak terselip duka yang tak lagi hening. Aku ingin berada disamping meski kau coba tuk berpaling, tapi jarak menjadi nyata di saat-saat genting. Aku benci. Tapi percayalah sayang, meski raga tak hadir, doa-doaku terlafalkan untuk memelukmu dari belakang. Hanya doa yang ku percaya memelukmu tanpa sebuah hadir untuk hatimu yang getir.

Aku tidak percaya bahwa jaraklah yang menguatkan masing-masing hati. Seperti obat kuat yang menguatkan seksualitas seorang laki-laki lebih tinggi, jarak menjadi obat bagi kita untuk menguatkan diri bertahan dengan rindu-rindu yang semakin liar. Menjalar di tiap detik, membuatkan tinggi hasrat cinta hingga pertemuan kan terlahir.

Mari bersama-sama bersabar sayang. Aku percaya Tuhan memiliki rencananya sendiri untuk menyatukan cinta kita dalam sebuah kehadiran, seperti pertemuan pertama kita yang tidak direncanakan. Aku menyukai hal-hal ganjil yang mengejutkan. Seperti rasa yang tiba-tiba mengulum hati meski kita tak mengerti bagaimana cara berbagi, seperti rindu yang terkadang memuncak dan tak tahu diri, seperti jarak yang acap kali membuat muak pun ternyata menjadi penggenap untuk masing-masing hati. Menyenangkan bukan? bagaimana sebuah ganjil ternyata malah memberi kebahagiaan yang berlebih-lebih bak nyanyian kegembiraan dalam sebuah injil.

Sayang, aku yakin jarak tak kan menyulitkan jika hati yang ingin kita tautkan. Percayalah sayang, semua akan terjadi pada saat yang sangat tepat. Meski kita seringnya berbeda pendapat, tapi itulah yang membuat hati lebih hebat.

Jaga dirimu baik-baik sayang. Aku tak kan memintamu untuk mengingatku, cukup maknai kita dalam-dalam hatimu yang terdalam. Aku percaya, tidak akan ada yang sia-sia; selama ketulusanlah yang utama. Ikhlaskan untuk apa yang tak dapat terjadi sekarang, aku lebih senang jika mengalah untuk sebuah menang. Kemenangan untuk sebuah kita.


Tertanda,

Wanita Sore (yang selalu mengutuk dan bersyukur terlahirnya sebuah jarak).

Oleh @iiTSibarani
Diambil dari http://iitsibarani.wordpress.com

Kekasih Sahabatku


Hai kamu.
Apa kabarmu?

Pertanyaan yang aneh. Karena baru beberapa hari yang lalu kita baru saja saling menyapa. Membicarakan beberapa hal yang akhirnya membuat kita tertawa bersama. Dan aku tahu kok kamu baik-baik saja. Hehe.

Cuma yang berbeda, tawa itu sekarang terasa biasa. Sudah tidak ada lagi terselip rasa. Iya, karena kini kau telah bersama dia. Sahabat terbaikku yang kini engkau sedang memadu kasih dengannya.

Hehe. So awkward ya.
Dia yang dulu selalu mendukung apapun tentang aku dan kamu. Orang yang selalu jadi tempatku berkeluh kesah tentangmu. Orang yang paling tahu apa yang terjadi antara aku dan dirimu. Sekarang dia yang kini berada di sisimu. Bukan diriku.

Ya memang apa yang terjadi antara diriku dan dirimu hanyalah sedikit hal yang terjadi di masa lalu. Mungkin tidak terlalu berarti apa-apa untukmu. Ya begitu juga untukku. Tapi hal itu cukup membuatku tersenyum kalau meningatnya. Hahaha. Iya kali ini aku tertawa.

Oke kali ini aku tidak berpanjang-panjang. Hubungan kita juga sampai saat ini masih baik-baik saja. Kita masih sering bertegur sapa. Juga kepada sahabatku yang kini kau bersamanya.

Aku hanya berharap yang terbaik untuk kalian. Semoga kau yang terbaik dan terakhir untuknya. Dan dia juga yang terbaik dan terakhir untukmu. Aku tahu dia yang terbaik untukmu. Karena dia yang terbaik di antara sahabatku. Dia satu-satunya sahabatku yang tidak pernah berkata tidak kepadaku. Maka aku yakin dia akan selalu mengiyakan semua pintamu. Tolong jaga dia untukku, sebagaimana aku memintanya menjagamu untukmu.

Akhir kata, semoga bahagia.

Dari sahabat kekasihmu.

Oleh @jakapermana_
Diambil dari http://jaka-permana.tumblr.com

Terima Kasih


Kepada kamu 
yang setia mengikuti perkembangan saya
surat ini ditujukan

Saya sebenarnya ingin berterima kasih kepada kamu, :)
mungkin kamu akan bertanya-tanya apa yang kamu lakukan sehingga saya berterima kasih kepadamu.
bacalah surat ini perlahan, sambil minum teh hangat agar hatimu tenang.

Hmm begini apakah kamu heran mengapa saya bisa menjadi seperti ini? 
maksud saya ya saya sudah bisa memilih sendiri jalan yang akan saya tuju, tidak kebingungan tanpa arah seperti dahulu.

Itu semua karena kata-kata mu saat itu, yang berkata bahwa saya tidak mungkin bisa menggapai impian saya. namun lihatlah saya sekarang, saya sedang dalam proses menggapai mimpi-mimpi saya. saya bersemangat, bangkit, dan berusaha membuktikan bahwa saya bisa menggapai mimpi-mimpi saya.

Terima kasih telah mengeluarkan kata-kata itu.

Saya ingin berkata bahwa sudahlah hentikan semua ini, apa kamu tidak lelah mengikuti saya setiap saat? jalan kita berbeda, takdir kita berbeda. maka urusilah urusanmu sendiri. 

Ini surat cinta bukan surat ancaman, maka tak perlulah kamu takut. saya berdoa semoga kamu juga bisa menggapai mimpi-mimpi kamu kok.

Baik-baiklah disana kawan.


-Aku-

Oleh @kaikarizka
Diambil dari http://kaikarizka.blogspot.com

Hujan Datang Lagi


Hey, kau rindu aku?

Hahaha, di sini sedang hujan. Deras. Entah mengapa aku yang dulu candu terhadap senja, sekarang tiba-tiba candu kepada hujan. Mungkin ini permainan alam, aku jarang sekali bisa melihat langit merona di kala maghrib menjelang. Sering aku melihat langit menghitam, kelam, dan menurunkan butiran air. Dan ketika semua itu ada di hadapanku, aku merindukanmu. Akan beda rasanya jika setiap kali langit membasahiku, ada kamu yang memelukku, atau sekedar tersenyum melihatku.

Aku selalu bercerita kepada alam, tentang rindu yang belum mampu kita lepaskan. Dan entah inspirasi dari mana, aku menganggap bahwa hujan dan angin adalah gambaran kerinduan antara kita. Jangan tertawa, aku tahu kau akan menyebutku wanita hiperbola. Ah, entahlah, terserah kau saja.

Aku tak tahu aksara seperti apalagi yang akan aku tuliskan. Segala kata sudah aku katakan, bukan?  Ah, tidak. Banyak yang belum aku katakan. Seperti: “aku cinta kamu” ah, tidak, aku lebih suka berkata “aku sayang kamu”. Atau “aku ingin menikah denganmu, punya anak, rumah di bukit, bahagia sama kamu…” oh iya, aku sering mengatakan itu.

Lupakan tentang aksara, hujan, atau kerinduan.

Intinya masih sama. 22 bulan bersama tapi tak ada kebersamaan, aku tetap mati rasa. Maksudku aku mati rasa kepada pria lain, kepadamu? Tak usah kau tanya, cinta itu terus tumbuh. Mungkin prosesnya lambat, seperti katamu, bersabarlah… Suatu saat nanti kita akan menikmati hasilnya bersama.

Oke, cukup. Aku ingin menikmati hujan lagi. Menikmati rindu lagi. Sesekali aku memejamkan mata dan membayangkan dipeluk kamu, tak masalah kan? Kalau lebih dari dipeluk kamu? Hahaha, aku becanda. Biarkan yang lebih dari pelukan, kita saja yang merasa ;)

Love you much :*

Oleh @iddailiyas
Diambil dari http://iddailiyas.tumblr.com

Pak, Apakah Aku Bisa?


Pak, apa kabar? 
Semoga Bapak selalu sehat. Aku dag dig dug der kalau ada kabar Bapak tidak enak badan. Walaupun cuma masuk angin, tetap saja aku khawatir. Semoga Allah selalu memberimu kesehatan, Pak. Amin.

Pak, Bapak tahu kan, kalau anakmu yang satu ini suka sekali menonton film. Tadi malam aku nonton film. Judulnya 'School 2013'. Di film itu ada suatu adegan yang menarik perhatianku. Ada guru senior (dan sudah agak tua) dan ada guru baru. Guru baru sedang merasa khawatir karena temannya tidak datang mengajar. Sang guru senior melihat kekhawatiran guru baru tersebut. Ia kemudian berkata. Hanya 2 kalimat, Pak. Tapi membuat aku berpikir. Kata guru senior pada guru baru, "Jangan khawatir, dia akan datang. Ke mana lagi seorang guru akan pergi kalau bukan ke sekolah?" 

"Jangan khawatir, dia akan datang. Ke mana lagi seorang guru akan pergi kalau bukan ke sekolah?" Perkataan sederhana, ya, Pak. Tapi cukup dalam maknanya. Pak, apakah kalau aku malas pergi ke sekolah berarti aku bukan guru? Apakah kalau aku merasa 'berat' pergi mengajar berarti aku kehilangan passion sebagai seorang guru? Pak, waktu Bapak banyak dihabiskan untuk mengajar. Apakah Bapak selalu 'kembali' ke sekolah? Bapak adalah temanku berdiskusi tentang profesi kita. Bapak juga sering cerita tentang kebijakan-kebijakan yang selalu berubah-ubah. Tapi, Bapak tetap mendukung aku dengan profesiku sekarang. Bapak memang tidak pernah terang-terangan mengatakan 'bangga' karena aku berprofesi seperti Bapak. Tapi aku ingat sewaktu Bapak bertemu dengan teman Bapak di tempat praktik dokter. Waktu itu, Bapak mengatakan padanya bahwa aku seorang guru, sama seperti Bapak. Aku merasakan kebanggaanmu saat Bapak berbicara pada teman Bapak itu. 

Pak, ingatkah Bapak? Kala itu, aku berkata aku mau ke Indonesia Timur. Bapak berkata, "Nggak usah macam-macam." Tapi Bapak langsung memberikan lampu hijau ketika aku mengatakan kalau aku mengajar di sana. "Oh, kalau ngajar nggak apa-apa," begitu kata Bapak. Pak, ternyata jiwa mengajarmu tetap kau miliki meskipun kau sudah pensiun. Apakah aku bisa seperti Bapak? Tetap memelihara api semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sampai saat ini. Apakah aku bisa selalu 'kembali ke sekolah' seperti perkataan guru senior dalam film itu? Pak, rasanya aku malu padamu jika mengatakan, "Aku tidak bisa". Di usiamu yang sudah renta, kau masih mengajari orang-orang. Jiwa 'guru' masih berkobar pada dirimu. Pak, aku bangga padamu, aku bangga jadi anak guru, tapi apakah aku bisa memiliki semangatmu? Semoga Bapak selalu dilindungi Allah. Amin.


Anak Bapak.

Oleh @Jo_iin 
Diambil dari http://bintang-dan-air.blogspot.com

1-1=0


Wah, matahari sedang berkemas-kemas ingin pulang nih. Maka dari itu saya luangkan indahnya sore ini untuk menulis surat khusus buat kamu. Kamu adikku paling hmm paling apa ya? Ada ide untuk mendeskripkanmu? Melalui surat ini, lagi-lagi saya ingin mengucapkan rasa terima kasihku. TERIMA KASIH? UNTUK APA?

Jadi gini, tadi siang 'kan kita sedang berbincang hal-hal tabu yang tak layak diperbincangkan. Lalu obrolan kita entah kapan tiba ke hal yang menyangkut privasi. Lebih tepatnya obrolan kita mengenai masa lalu. Kira-kira tadi malam, termasuk masa lalu bukan? 

Malam itu, kamu dengan manisnya menodai kepercayaanku. Yaps, kamu adikku yang ceroboh memohon padaku untuk meminjam hape sempurnaku. Sebagai kakak yang perhatian, tentu saja saya meminjamkannya. Alih-alih kamu berkata untuk mendengarkan musik, eh kok kamu gunakan untuk "sesuatu" yang tabu.

Tanpa kamu pergunakan terlebih dahulu otak hebatmu itu, Kamu biarkan hawa nafsu menuntunmu melakukan hal "ceroboh". Se-ceroboh apa? Mari kita gunakan analogi.
Di dalam kelas yang sedang berlangsung suatu ulangan, di mana kita semua tahu bahwa tata tertib di suatu kegiatan hebat bernama Ulangan itu adalah: dilarang meminta jawaban ke teman, dll. Nah, kamu sebagai salah satu peserta dengan sangaaaaaaaaaat mudahnya berteriak: "TIT NOMER 2 APA?" Sungguh lantang 'bukan?
Sebenarnya kejadian apa itu? Biarlah hanya menjadi kenangan bagi kami. Sepasang Kakak-adik yang selalu bertengkar akur.

Sialnya, saya baru menyadari itu tadi siang. Setelah seharian melewati hari-hari memalukan. Ah, saya spechless. Saya terlalu canggung untuk membicarakannya di sini. Kita selesaikan nanti malam ya adikku kecil.  HAHAHAHA! LUCU YA! 

Salam dari Kakakmu yang telah kau permalukan.

Oleh @inirvin kepada @inirka
Diambil dari http://lutfianirvin.blogspot.com

I Wanna Talk With You


Dear,

I wanna talk with you in silent whispers, 
softly voices that no one else can hear.

I wanna talk with you in our own language,
that to understand it, someone has to beg.

I wanna talk with you in our secret place, 
that no one can visit, lost in the maze.

I wanna talk with you in our own world, 
that no one can interrupt with their every word.

Dear,

I wanna talk with you under secret stair,
silently we’re hiding from eyes that stare.

I wanna talk with you under my blanket,
cuddling each other that’ll be our secret.

I wanna talk with you under the rain, 
hugging each other so there’ll be no more pain.

I wanna talk with you bout silly thing over nothing,

So Dear,

could you come to my dream this evening?

Oleh @I_am_BOA
Diambil dari http://mesecretlyyours.tumblr.com