29 January 2013

Surat Untuk Tukang Pos


Untuk tuan tukang pos, @KorekApiKayu



Terima kasih sudah setia mengantarkan surat - surat saya.

Terima kasih sudah rajin membalas mention saya.

Terima kasih sudah meretweet surat - surat saya.

Terima kasih sudah membaca surat - surat saya.

Terima kasih sudah memilih beberapa surat saya untuk dipublikasikan ke blog.

Terima kasih... karena kalau tidak, surat ini akan berformat seperti ini:



surat untuk tukang pos

untuk tuan tukang pos, @korekapikayu

terima kasih sudah setia mengantarkan surat - surat saya.

terima kasih sudah rajin membalas mention saya.

terima kasih sudah meretweet surat - surat saya.

terima kasih sudah membaca surat - surat saya.

terima kasih sudah memilih beberapa surat saya untuk dipublikasikan ke blog.




Abang @KorekApiKayu,


Terima kasih sudah mengoreksi tanda baca pada surat - surat saya dan membetulkannya satu per satu.

Terima kasih sudah membuat saya tersadar untuk selalu membuat postingan dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Oleh @ismarestii kepada @KorekApiKayu
Diambil dari http://ismapratiwii.blogspot.com

Baaasss!!!


Kepada kamu yang telah mengingatkanku bahwa aku mencintai senja,

Baaasss!!! Masih saja ya kamu itu. Kalau nulis itu, bisa gak sih kalo gak typo? Kebiasaan deh. Perhatikan dong tulisannya. Jangan buru-buru kalo nulis. Kalau perlu dibaca ulang. *mulai bawel*

Kabarku seperti yang kamu tahu (atau jangan-jangan kamu memang gak tahu apa-apa ya) aku galau. Haha... Ga segitunya juga sih. Tapi lumayanlah. Kamu tuh yang apa kabar? Ngilang mulu, ga jelas gitu. Walaupun lagi patah hati, ga perlu pake ngumpet gitu kali. Hadapi semuanya dengan tegar. Sok nasehatin, padahal diri sendiri rapuh banget.

Sebentar deh, aku sebenarnya sedikit bingung membaca suratmu itu. Kebanyakan basa-basi. basa-basinya lima paragraf. Intinya cuma satu paragraf. Huff... Makanya jangan nulis surat pas lagi kuliah. Untung suratnya ga diambil dosen kamu. Kalo diambil, aku kan ga bisa baca.

Selamat ya, kamu sekarang jadi penyiar radio. Kasih link-nya yang benar dong, biar aku bisa dengerin kamu siaran. Jangan lupa sebutin namaku ya. Aku pesan lagu juga dong. Puterin lagunya Switchfoot yang You. Okey Bas?!

Jadi intinya kamu cuma mau muji aku saja nih? Hmm.. Makasih ya, Bas. Memangnya aku misterius ya? Baru tau nih. Kirain aku perempuan yang baik hati, ramah, mengagumkan, anggun, rajin, suka menolong, sholehah,... Okey ini mulai lebay. Haha...

Oh ya, jadi kamu sudah ga pake BB lagi nih. Kok BBnya ga pernah aktif?

Boleh kasih pesan kan? Kuliahnya yang rajin. Biar cepat wisuda. Ada lagi, jangan berhenti nulis ya. Kita bertemu kan karena tulisan. Ada salam dari Nada. Kamu kan pengagum dia. Sudah ah, gitu aja.

Olla

Oleh @hauranazhifa kepada @baskorodien
Diambil dari http://hauranazhifa.blogspot.com

Bagaimana Mas?


Hei! Yang beberapa jam lalu kita dipertemukan. Yang kulihat engkau memakai pakaian putih rapi, berdasi sambil membawa makanan.

Bagaimana sidang skripsimu? Yang kemudian aku belum sempat bercakap banyak tentangmu. Yang kemudian engkau nampaknya sibuk untuk menemui dosenmu. Yang kemudian akupun juga sibuk memandangi berkas-berkas beasiswa.

Minggu pagi engkau mengirimkan SMS, meminta doa untuk sidangmu. Dan mengundangku untuk menyaksikan sidang skripsimu. Aku mendoakanmu. Aku menunggu kabar terbaik darimu. Sebagai teman, bukankah kita harus saling mendoakan? Apabila sukses pastipun aku turut berbahagia.
Sedikit cuplikan percakapan:

Aku menangkap sosokmu berjalan dari ujung, "Haaaai mas".
Engkau tampak sibuk mencari dosenmu, "Haloo"

"Gimana sidangnya?"

Engaku tersenyum dan terus berjalan, sedang aku juga mengabaikanmu dan menatap berkas-berkas beasiswaku.

Yaaaa menyesal mengapa hanya percakapan singkat? Tapi aku tak mau mengganggumu yang sedang sibuk.
Semoga pertemanan ini tidak putus. Hanya itu.
Aku menunggu kabar baik darimu mas. Kabar wisuda

Oleh @insyirahanwari
Diambil dari http://insyirahanwari.blogspot.com

Hai, Kecils


Hai.

Aku bingung malam ini mau nulis surat buat siapa.

Dan terlintas kamu di pikiranku, eh di hati ku juga ding dikit.

Aku heran, gimana bisa yah orang kaya kamu selalu bisa bikin ga karuan walaupun udah lama ga ketemu.

Gimana bisa yah orang kaya kamu selalu tahu harus bersikap kaya gimana kalau deket aku.

Gimana bisa orang kaya kamu, dengan mudah kembali ke tempat yang ku tinggalkan dengan susah.

Gimana bisa, sih?

Kira-kira kamu bakal se-iseng itu ga yah buat buka tumblr ku, trus baca ini, trus sadar ini buat kamu?

Ah, kalau aku minta, pasti kamu langsung baca deh! :D

Kangen? Iya.

Banget? Ngga tuh.

Gimana pun, kamu bisa banget jadi orang yang aku mau.

Walaupun aku bukan (lagi) siapa-siapa kamu.

Terima kasih, kamu.

Ayo jalanin misi makan-makan kita! \o/

- aku yang bingung kenapa selalu ada kamu -

Oleh @imaadew
Diambil dari http://imaadew.tumblr.com

Kopi Terakhir Kita.

Kepada, Lelaki Kopi ku (dulu, sekarang, nanti, dan selamanya)

Lagi… aku masih disini, di Kedai Kopi langganan kita, sayang. Iya, aku masih setia dengan Kedai Kopi ini, pun masih setia dengan kamu, dengan semua cerita kita yang tetap tersimpan rapi di kotak kenangan ku.

Sayang… Kamu tahu? Tempat ini sudah ku jadikan sebagai salah satu tempat wajib yang harus didatangi setiap minggunya. Untuk bersantai dan mengerjakan tugas. Bahkan ketika rinduku minta di lunasi, aku hanya bisa datang di Kedai Kopi ini. Mengenang kebersamaan kita di tempat ini. Tapi, sayangnya kamu tak pernah tahu, sayang :’)

Kamu masih ingat kan, kalau Kopi sudah menjadi sahabat dan teman kencan buat kita. Hal itu masih berlaku buatku. Entah buat mu, masih atau tidak. Ku harap iya, sayang.

Masih ku ingat jelas inci demi inci rangkaian cerita kita di kedai kopi ini. Ia bagaikan sebuah film pendek yang selalu siap sedia menampilkan kamu dan aku sebagai tokoh utamanya. Juga masih jelas terasa setiap kecupan hangat yang berhasil kau curi dariku. Anehnya aku menyukainya bahkan ketagihan hahaha. Sungguh jelas terasa sensasi kopinya ketika kita melakukannya, sayang. Kalau tahu begitu, dulu aku saja yang minta tanpa perlu kau curi kecupan itu.

Sayang… Apakah kopimu sekarang masih senikmat dulu? Masih senikmat kopi di langganan kedai kopi kita ini? Masih senikmat seperti aku yang dulu selalu setia di sampingmu ketika setiap tegukannya kau sesapi perlahan? Atau masih senikmat ketika hanya segelas kopi yang kita teguk bersama, sehingga meninggalkan bekas bibir mu dan bibir ku di gelasnya?

Oiya sayang… Masih ingat dengan peristiwa terakhir kali kita kesini? Sungguh… semuanya begitu aneh. Kamu diam. Aku diam. Sebenarnya ada apa? Di dalam hati berharap semoga ini bukan kali terakhir kita ke kedai kopi ini. Dan semoga gelas kopi kita hari itu juga bukan kopi terakhir kita. Ah meskipun memang benar itu yang terjadi, sayang. Gelas kopi hari itu menjadi Gelas Kopi Terakhir kita.

Sayang… Ternyata selain pandai meracik kopi favorit kita, Barista disini juga punya bakat jadi Comic Stand up Comedy lho. Setiap aku ke sini pasti hal yang pertama ditanya seperti ini “Tumben ga sama pacarnya lagi. Kemana? Sibuk yah?” Lucukan, sayang? Dia ternyata tak tahu kalau tempo hari itu adalah memang terakhir kalinya kamu kesini bareng aku.

Sayang…meskipun sekarang bukan aku yang ada di sampingmu saat kau sedang menikmati kopi mu, ku harap dia tahu betul tentang rasa kopi kesukaan mu. Ku harap iya juga bisa menjadi partner mu di saat kamu menyesapi segelas kopi. Yang jelas, ku harap ia lebih memang lebih baik dari aku. Iya, agar kau tak menyesal melepas aku, sayang.

Sayang… eh ga boleh panggil sayang lagi yah? Lupa :D

Tertanda, Perempuan Kopi mu (dulu)
 


oleh @Rhieryy
diambil dari http://arinddapratami.blogspot.com

Dari yang Kau Sia - Siakan

Untukmu,

Aku menulis surat ini sebelum hilang, karena tak tahu lagi sampai kapan aku sanggup bertahan dengan kondisi ini. Aku selalu berusaha menggenapimu, menjadi yang selalu kau inginkan setiap waktu. Menjadi penenang dan penyejuk, tentu saja kamu sadar itu.

Kamu selalu mengingkari keberadaanku, padahal tidak pernah sekalipun aku enggan saat kau butuh. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan. Tidakkah kau menganggapku penting? Butuhkah kau akan hadirku? Lantas, apa alasanmu selalu menyia-nyiakanku?

Sepertinya memang benar kata orang bijak, saat kehilangan baru kita tahu kadar pentingnya sebuah keberadaan. Aku hanya tidak ingin, kelak kau menyesal dengan pengabaian.

“Kelak jika air yang kita minum adalah air terakhir, baru kita tahu bahwa kita tak dapat memakan uang.” – pernah dengar.

tertanda,

air


oleh @sedimensenja
diambil dari http://sedimensenja.wordpress.com

Kepada Ibu Dosen

Magelang, 28 Januari 2013
Kepada
Yth. Ibu Dosen Tercinta
di manapun Ibu berada

Dengan Hormat,
Bersamaan dengan datangnya surat ini, saya yang bertandatangan di bawah ini,
Nama                :  Sinta Agustina
NIM                   :  1N1 TUL1S4N 4L4Y B4NG3TZZZ
Jurusan            :  Magelang-Solo
Memberitahukan kepada Ibu Dosen Tercinta bahwa saya telah cukup lama menunggu balasan pesan singkat dari Ibu, lantaran saya ingin bertemu Ibu untuk suatu hal yang sangat penting. Untuk itu saya mohon dengan sangat agar Ibu segera membalas pesan singkat saya, sehingga saya bisa segera menemui Ibu.

Demikian yang dapat saya sampaikan, dan terimakasih atas perhatiannya.


Mahasiswa yang sedang gusar,


Sinta Agustina

oleh @sintrooong

diambil dari http://agustinasss.blogspot.com