28 January 2013

Rasi Kautsar - Kucing Kecilku


Anakku Rasi Kautsar, gadis kecil dengan senyum tak pernah pudar.


Kucing kecilku, kamu sudah jadi gadis kecil sekarang. Hampir tiga tahun setengah usiamu. Padahal rasanya baru kemarin kamu masih menendang perutku, hidup dan bernapas dalam diriku. Sekarang celoteh tak hentimu selalu menjadi musik paling indah yang mengusir senyap dalam rumah kita. Nyanyianmu selalu menjadi nada paling merdu yang menggetarkan jiwa. Senyum dan tawamu memberi warna. Ada keharuan ketika melihatmu lincah berlari, ketika menatap tanganmu sibuk memainkan drum kecil. Atau saat kamu ingin aku menerbangkanmu seperti Timmy. Kamu selalu terlihat lucu ketika aku memanggilmu “Kucing kecil”, kamu akan mengeong menggemaskan.

Kucing kecilku, tahukah kamu, bahwa seringkali aku merasa telah berlaku tak adil padamu. Terlalu sibuk dengan duniaku sendiri yang dihuni kata-kata. Hingga kamu bermain sendiri di taman kecil kita. Atau bersembunyi dalam selimut yang kamu bangun menyerupai tenda. Sering juga kamu mencari perhatian dengan tatapan memelas atau tangis keras. Kadang yang paling membuatku tercabik, ketika kutemukan kamu menangis tertahan, menenggelamkan kepala dalam bantal.

Saat-saat paling intim yang kita lewati hanya tiga kali sehari. Seperti minum obat, ada dosisnya. Seharusnya seperti napas yang tak kenal jeda. Saat-saat itu adalah ketika kamu mandi di pagi hari, kadang kita bermain air dan sabun, lalu kita berjalan-jalan menikmati matahari. Kemudian di malam hari saat kubacakan buku cerita atau kudongengkan kisah Putri Rasi dari negeri cinta. Selebihnya kamu akan bercanda bersama Tom and Jerry, atau Shaun.

Kucing kecilku, kadang aku memarahimu hingga kamu balik memukulku kesal dengan kepalan tangan kecil. Saat kamu yang niatnya membantuku memasak malah mengacak sayuran, atau saat kamu membuang-buang makanan.

Kucing kecilku, maafkan mama kucing, karena belum juga bisa menjadi ibu yang baik untukmu. Kadang aku merasa tak pantas menjadi ibumu. Karena aku tahu, yang kamu butuhkan adalah cinta yang utuh, bukan tumpukan naskah lusuh.

Kucing kecilku, aku suka memakai namamu untuk tokoh-tokoh rekaanku. Hampir semua pemeran utamanya bernama Rasi. Alasannya agar kamu menjadi bagian setiap jejakku. Lalu aku berpikir ulang, tidak semua kisah yang kutulis itu berakhir bahagia, bahkan seringkali tragis. Aku kemudian berhenti memakai namamu untuk kisah-kisah tragedi, agar tidak menjadi sebuah doa.

NAK

Seperti pantun, aku menemukan cinta yang jenaka
Cinta penuh tak kenal peluh
Cinta absolut yang lembut
Nak, tapi sungguhpun aku seorang ibu, aku tak tahu cara mencintaimu dengan benar
Apakah air susu mampu mengejawantahkan cinta itu
Apakah pakaian dan teduh tempat tinggal bisa menyampaikannya
Apakah dongeng-dongeng yang kuceritakan setiap malam bisa mendefinisikannya
Bahkan doa-doa tak cukup membalas cintamu
Karena sungguh, kehadiranmu telah membuatku merasa ada.

Kucing kecilku, beri aku waktu membenahi diri, agar bisa memberi bahagia. Karena kamulah gugusan bintang, kamulah nikmat, dan kamulah cahaya hatiku.

Surga bukan berada di telapak kakiku, Nak. Tapi ada pada senyummu.


Ditulis oleh : @evasrirahayu
Diambil dari http://tamanbermaindropdeadfred.wordpress.com

Dicari : Mamang Batagor


Dengan penuh rasa gundah gulana rungsing lelah mencari di setiap pengkolan sudut Jalan Taman Sari dan sekitarnya, akhirnya saya memutuskan untuk menulis surat tentang mamang batagor.

Beberapa hari yang lalu ngga sengaja saya melewati daerah belakang kampus ITB yang asri serta rindang oleh rimbunnya pepohonan. Saya dikejutkan oleh pemandangan tak lazim, pinggiran trotoar yang biasanya dipadati kios para pedagang kaki lima mendadak bersih! Hanya tersisa tumpukkan kayu yang berserakan. Ada spanduk bertulisankan "Kami ingin keadilan, kembalikan hak kami" terpampang di taman seberang jalan.

Selidik punya selidik (googling) rupanya memang telah terjadi penggusuran di daerah itu. Pemerintah setempat sudah melakukan peringatan berkali-kali yang tak pernah sekalipun digubris oleh pengguna bangunan liar. Lah wong sejak saya masih di bangku sekolah juga mereka sudah adem ayem berjualan di sana. Kasus penggusuran pedagang kaki lima memang selalu membawa efek dilematis bagi saya. Iya, jalanan memang menjadi lebih tertib tapi bagaimana dengan nasib mereka yang mengais rezeki di lahan tersebut?

Saya bukannya mau sok-sokan jadi aktivis atau apapun itu sebutannya. Masalahnya adalah pacar saya hobinya makan batagor. Menjelajahi Kota Bandung mencari batagor kampung yang enak, bukan jenis macam batagor Riri, Kingsley, atau batagor kotaan lainnya yang sudah terkenal sampai ke luar kota.

Nah, saat masih pedekate iseng nyobain makan batagor di situ. Tempatnya memang kecil harus berlomba mencari tempat duduk yang nyaman dan pas dengan gerombolan mahasiswa di sana. Namanya juga makan di pinggir jalan, what do you expect? Justru karena hal itulah kami jadi duduk saling berhimpitan, dekat sekali sampai saya bisa mendengar degup jantungnya. Dia langsung suka pada gigitan pangsit pertama.

Semenjak itu setiap kali dia datang ke Bandung pasti minta diajak makan batagor di sana, ngga mau ke tempat lain. Selain karena faktor rasanya yang menurut pacar saya enak, di tempat yang kecil sumpek itu juga menyimpan berjuta kenangan. Masa malu-malu waktu pedekate yang kemudian jadi malu-maluin pas pacaran. Ngga cukup makan satu piring si pacar.

Saya bingung! Kios mamang batagor termasuk salah satu korban yang kena penggusuran. Dia belum tahu kejadian ini. Kalaupun tahu besar kemungkinan pasti saya disuruh mencari info. Dan sialnya tidak ada banyak waktu sebab awal Bulan Februari nanti dia akan datang ke Bandung. Dan tentu saja yang pertama dicarinya adalah mamang batagor yang biasa jualan di belakang kampus ITB.

Melalui surat cinta ini -cinta saya kepada pacar yang cinta pada batagornya mamang- besar harapan saya dapat menemukan mamang batagor sebelum awal bulan nanti. Semoga surat ini dapat tersebar luas khususnya di kalangan mahasiswa-mahasiswi ITB karena ngga tahu mau dikirim kemana lagi, siapa tahu di antara kalian ada yang tahu keberadaan mamang batagor -yang namanya pun tidak ketahui- tolong kabarin saya yah. Terima kasih banyak.


Tertanda
-Batagorlovers-

Ditulis oleh : @ch_evaliana
Diambil dari http://3v4s-mind.blogspot.com

Kiriman Rindu Untuk Ibu


Bu…
Sengaja waktu malam itu aku masuk ke kamar ibu, hanya ingin melihat ibu saat tertidur pulas, hanya ingin sedikit merapikan selimut ibu yang tidak menutupi kaki.
Dan waktu itu aku juga sengaja mencium kening ibu saat nyamuk mulai membuat ku iri karena lebih dulu menyentuhmu.

Bu…
Harusnya di sepertiga malam itu biasanya kau terbangun untuk sholat tahajud. Biasanya juga kau bangun hanya untuk sekedar pergi ke kamar mandi. Tapi, aku lekas mengerti mengapa kau tak juga bangun. Dengkurmu menandandakan bahwa kau sangat kelelahan. Aku sampai hafal.

Bu…
Sejujurnya aku rindu ketika aku masih bayi. Aku bisa membayangkan, pasti begitu kelelahannya mengurusku. Aku juga bisa membayangkan, betapa merepotkannya aku. Dan, kau sendiri yang merawatku hingga aku bisa mandiri seperti saat ini, tanpa pembantu sekalipun. Ya, walaupun memang semakin dewasa aku juga masih sering merepotkan.
Maaf bu…

Aku juga masih ingat beberapa tahun lalu saat aku masih kelas 1 SD, saat itu ibu sangat marah padaku karena aku sulit untuk mandi sore dan waktu itu Ibu langsung mengguyurku dengan satu teko penuh air teh kepadaku. Aku menangis dan ibu tetap memarahiku. Ibu ingat? Pasti lupa, hehe…

Bu…
Mungkin jika aku tulis semua hal-hal ‘berdosaku’ kepada ibu tak akan ada habisnya. Dan mungkin akan ada banyak kata ‘maaf’ di surat ini. Tapi, satu kata ‘Terimakasih’ ku ini mungkin akan sangat berarti untuk aku sendiri dan ku harap juga untuk Ibu.

Bu…
Terimakasih untuk semuanya, banyak yang tak bisa juga aku sebutkan satu-per-satu hal apa saja yang membuatku bahagia bersama ibu.
Aku pasti akan sangat merindukan ibu, entah sekarang ataupun selamanya. Aku masih akan selalu merindukan ibu, menyayangi ibu, semuanyaaaa dan segalanya!

Bu…
Aku benar-benar mengerti perjuangan Ibu seutuhnya, melalui lirik lagunya Iwan Fals. “…ibuku sayang masih terus berjalan, walau tapak kaki penuh darah penuh nanah…” Dan jujur, setiap aku mendengar lagu tersebut, entah kenapa aku selalu meneteskan air mataku. Aku selalu membayangkan betapa menyesalnya aku jika nantinya aku akan kehilangan Ibu.

Bu…
Di entah berapa lama lagi kita akan hidup, aku akan sangat merindukan, bukan hanya tentang ibu. Tapi semuanya dan segalanya. Dan, aku bisa melihat setiap kelelahan yang terpancar dari raut muka ibu saat tertidur. Aku bisa melihat kekecawaan dari muka ibu saat tahu kalau aku melakukan kesalahan. Dan bodohnya aku yang tak pernah menyadari itu semua.

Bu…
Seandainya aku boleh meminta Tuhan untuk memutar semua waktu yang telah diberi, aku ingin sekali menghapus air mata ibu saat aku melakukan kesalahan. Ah……hanya seandainya.

Bu…
Ibu pernah bilang kalau Ibu ingin sekali naik haji? Aku bangga sekali memiliki Ibu seperti Ibu. Rajin sholat, rajin mengaji, dan suatu saat nanti aku juga ingin sekali mewujudkan cita-cita ibu. Bisa melihat ka’bah, bisa melihat rumah Allah secara langsung. Semoga bisa terwujud ya bu…doakan.

Bu…
Suatu hari nanti, akan aku buat cerita indah tentang ‘Ibu’ kepada anak-anak ku kelak. Betapa irinya mereka nanti bila ku ceritakan semua perjuangan Ibuku selama ini.
Sekali lagi terimakasih yang tak terkira Bu…
Untuk doa-doamu juga yang selalu menyertaiku…

Ini rinduku untuk dirimu…..

-Untuk Ibu dari Anakmu-


Ditulis oleh : @aruuum__ 
Diambil dari http://mynameisarum.tumblr.com

Mantra Itu Bernama #him


Kepadamu Annysa Dwi Cahyani, “perempuan manisan’

minggu siang yang terik,
pada Januari 2013 yang hampir tua..
entah kenapa aku sangat ingin menulis untukmu hon,
ahhh„,
Aku baru bangun tidur tepatnya,
tiba-tiba aku merasa kangen pada sesuatu yang jauh,
tiba-tiba aku merasa sedih mengguyur dadaku.
seperti akan kehilangan sesuatu. 
tapi ntah..
aku pun tak ingin tahu.

hey perempuan manisan,
masih ingatkah kau bagaimana kita bisa sampai
kepada suatu ruang yang penuh dengar, yang penuh detak,
yang penuh dengan rasa yang sama?
mantra itu bernama #him,
awal mula kita bertemu di kotak DM
saat itu kau menyamber twitku yang berbunyi, “selamat pagi, #him”
dan kau menebak pria itu, 
lalu kita malah membahas seperti apa rupa #himku dan #himmu
sejak itu kita mulai ketagihan bercerita, 
berkeluh, tertawa, bahkan menangis bersama
semuanya terjadi begitu saja.

ah, memang dasar perempuan tukang curhat,
kita suka membicarakan apa saja,
mulai dari curhat sampai dada perih, 
sampai bergosip tentang hal yang tidak kita sukai bersama,
kadang kita malah menambahkan istilah-istilah aneh
dan sengaja menyinyirkannya di time line
hahaha…
mengingat itu membuatku tertawa sendiri
kita seperti dua anak kecil yang selalu menjadi satu tim,
saling mendukung apa yang disuka dan tidak disuka.

hon,
sesungguhnya saat berbagi 
aku sudah mendapat kekuatan,
mungkin bernama engkau atau pun airmata
dan aku mau kita terus seperti ini,
engkau tetap menjadi secarik alamat
yang selalu kutuju 
kemana pun aku ingin berlari.

dan jika takdir berbaik hati,
aku sangat ingin berada pada hari itu,
ketika pertama kali kita bertukar senyum
pada jarak pandang yang begitu dekat,
dan berbagi pelukan,
yang pernah menjelma sebagai puisi-puisi
yang sering kita tuliskan.

hon,
terima kasih untuk tetap seperti ini,
menjadi ‘dirimu’
yang menerimaku tanpa syarat..
dan menganggapku sebagai seorang sahabat.
ribuan kata takkan pernah cukup 
menuliskan betapa beruntungnya
aku pernah mengenalmu.

hon,
semoga kau menjaga dengan baik hatimu
juga cemburu yang menjadi ciri khasmu (hahaha)
bahagia selalu ya bersama #himmu

last but not least,
I do love you, darl..
I always do..

with love,
Ecci


Ditulis oleh : @ciyecci untuk @marsshmalloow
Diambil dari http://berandamusim.tumblr.com

Hujan Batu

Kamu kirim kabar pagi ini, lewat email, singkat saja.
Intinya, kamu pikir, kita semestinya pisah saja.
Hubungan kita, kata kamu, tidak sehat.

“Aku tak mau menyakiti dia, dan tak mau juga membuat kamu kecewa”

Dear,
Aku kecewa atau tidak kecewa, itu tak perlu kamu pikirkan.
Aku toh tak pernah bilang perasaan aku ke kamu.
Bagiku yang penting sesekali bisa lihat wajah kamu, lihat senyum kamu.

Jadi, tak usahlah kau berpikir terlalu dalam tentang apa yang ada di hatiku,
sedangkan tentang apa yang ada di hati dia, nanti saja kita pikirkan, setelah dia akhirnya nanti tau.

Kalau kita terus begini, tenang tanpa riak, mungkin selamanya dia tak akan tau.
Bukankah yang demikian itu yang kita harapkan?

“Dia tau atau tidak tau, sama artinya. Aku sudah bohongi dia”

Begitu kata kamu, keras-keras, di telingaku.

Dear, bertahun-tahun sebelum ini, aku tak pernah kesakitan karena kamu.
Sekarang,
seperti ada hujan batu di kepalaku.


Ditulis oleh : @atemalem
Diambil dari http://rehatemalem.wordpress.com

Harum Hujan


Selamat pagi, jangkung! 

Kau suka aroma harum hujan ketika mulai jatuh di permukaan bumi? Kau tahu aku suka sekali harum hujan. Saat rintikan hujan mulai membasahi permukaan-permukaan tanah yang kepanasan akibat matahari yang terlalu terik, saat itulah kita bisa mencium aroma harum hujan.

Kau harus mencoba mencium aromanya, sekali-kali. Berdua denganku lebih baik. Aku bisa menceritakan beberapa cerita hujan kepadamu. Kau tahu kan hujan pun memiliki ceritanya sendiri mengapa bisa jatuh ke bumi.

Harum hujan bagiku seperti aroma terapi. Membuat tenang diriku, pikiran-pikiranku. Ada kedamaian yang terasa olehku beberapa saat ketika aku menikmati aroma harum hujan itu. Harum hujan seperti itu seperti harum kehidupan.

Ah ya, dan kau tahu satu alasan lagi mengapa aku menyukai harum hujan? Karena pada waktu itu, setiap aku melihatmu di sekolah selalu saat hujan akan mulai turun dan menebarkan aroma harumnya itu. Sehingga harum hujan itu juga membuatku mengingatmu. 

Rasanya kau pun turut mengeluarkan harum hujan itu dari tubuhmu, membuatku tenang dan damai. Ah aku rindu sekali masa-masa itu. Kapankah aku dapat melihatmu lagi saat hujan akan turun? Harum hujan dan dirimu itu bagaikan paket lengkap bagiku yang haus akan aroma terapi itu.

Kemarin sore aku berjalan-jalan di sebuah taman di tengah kota Bandung. Cuaca mendung dan hampir hujan. Benar saja, hujan turun perlahan-lahan dan mulai membasahi bumi. Dan saat itulah aku merasa bernostalgia dengan harum hujannya itu. Sayang, sore itu hanya kurang kehadiran dirimu.


Ditulis oleh : @BelindaDwi
Diambil dari http://dwilestaribelinda.blogspot.com/

Delapan Wijaya Kusuma


Sabtu, malam jatuh Purnama.

Aku menulis sambil menghitung kuncup kuncup wijaya kusuma yang akhirnya terbuka dan meneteskan gemulai air pelan pelan. Mereka menunggu kelahiran lama sekali, merekah pada tengah malam yang sepi, lalu mati begitu saja. Berserah bilamana tepat untuk menjadi indah dan berbakti pada semua yang peduli. Tapi waktu tak pernah datang sebagai wayang yang digerak gerakkan. Kita semua tak akan kuasa menerka kapan – kelahiran, pertemuan, kenangan, kematian.

Sabtu, malam jatuh Purnama. Dan ternyata juga malam jatuh mekar.

Aku menulis sambil menghitung kuncup kuncup wijaya kusuma. Jumlahnya delapan.

Bersamaan jariku bergerak mencari jejak jejak kita dalam handphone ini, aku menghitung mundur. Jumlahnya delapan.

Wah, sama sama delapan. Delapan yang satu ibarat mekar dan moksa. Delapan yang lain masih antara bersiap untuk entah apa.

Aku memunguti tetes tetes air yang selama berhari hari disimpan si bunga, sambil merenung sungguh kebetulan yang lucu. Beberapa orang bilang bila airnya diminum, khasiatnya awet muda. Kalau mereka salah, ya mungkin ini racun.

Tapi akhirnya kuminum juga. Syukur kalau awet muda. Jadi akan masih banyak waktu untuk melanjutkan hitungan, menerka pada malam keberapa bungaku mekar serentak – dan berbakti. Kalau ternyata beracun, berarti kedelapannya harus layu sebelum berkembang. Dan semua harus menunggu musim berikutnya untuk muncul bibit baru.

Cinta harusnya bisa se-sederhana ini kan, Wijaya Kusuma?
Selamat enam, tujuh, delapan, and still counting..


Ditulis oleh : @awulanp 
Diambil dari http://pwulansari.wordpress.com