22 January 2013

Aku Tetap Baik-Baik Saja


Adimas Arya Abdillah, sahabatku yang sedari dulu tak pernah berubah.

Surat dari kamu sudah kuterima kemarin, dan entah kenapa langsung kutulis surat balasan untukmu ini. Kamu juga jangan terlalu percaya diri kalau aku begitu berhasrat menulis surat balasan untukmu. Aku hanya mengisi waktu senggangku menulis, seperti yang sudah biasa kulakukan.

Kabar Mama dan Papa baik sekali, mereka diberi kesehatan yang berkali-kali lipat oleh Tuhan. Menjadikan aktivitas mereka yang rutin keluar kota tak ada hambatan dan selalu lancar. Kalau aku? Aku juga baik-baik saja Mas. Walaupun pernah kuceritakan kejengkelanku pada Anggara yang lagi-lagi mengulang hal yang sama. Mencoba mencari perempuan lain padahal jelas sudah hanya aku yang mampu bersamanya dalam waktu yang tak sebentar. 3 tahun, Mas. Bayangkan. Entah sudah berapa kali sebenarnya dia mencari perempuan lain selama bersamaku.

Lama-lama aku menjadi tak peduli. Kuanggap dia seekor burung. Yang kemanapun akan terbang, selalu kembali ke sarangnya. Dan akulah sarangnya. Dan jodoh tak lari kemana, bukan? Dia kuanggap jodohku, yang selalu kuyakin, maka dari itu sejauh apapun dia pergi pasti kembalinya ke aku. Lagipula setelah melakukan kesalahannya dia selalu pandai membujuk hatiku untuk memaafkannya. Kemudian dia menunjukkan perubahan sikapnya yang begitu manis padaku. Kembali lagi, begitu menyayangiku. Ya, walaupun hal itu tak bertahan lama. Paling lama seminggu. Tapi aku menyayangi dia, Mas. Bukankah rasa sayang itu segalanya? Sayang adalah pelipur lara, pemberi maaf dan bentuk keikhlasan menerima seseorang apa adanya. Begitulah adanya Anggara. Kuyakin besarnya cintanya padaku, namun saat ini mungkin belum waktunya dia berhenti bermain dengan hatinya. Toh kuyakin, dia juga tak akan bisa lama jauh-jauh dariku.

Aku keras kepala ya? Bukankah sudah sejak awal mengenalku kamu tau betul sifatku yang satu ini. Aku berkeras menginginkannya, walaupun untuk itu aku harus menunggu lebih lama dari selamanya agar ia paham akulah yang selama ini satu-satunya dicintainya. Aku tak peduli lagi, Mas.

Adimas, selamanya kamu akan tetap jadi sahabat terbaikku. Sudahlah, melupakan inginmu untuk memilikiku adalah satu-satunya jalan agar hatimu merdeka, bebas dan bahagia. Aku baik-baik saja, pasti. Diperhatikan olehmu sedemikian ini sudah lebih dari cukup untuk alasanku tetap baik-baik saja.

Aku akan tetap bersama Anggara, sampai aku sudah tak mampu lagi merasa, sampai aku sudah lupa bagaimana isak tangis itu dan sampai aku lupa rasa sakit yang mana yang mampu membuat hatiku menjerit. Aku akan tetap bersamanya.

Percayalah, keadaannya tak seburuk yang kamu pikirkan. Aku bisa tiba-tiba begitu merasa sedih dan melankolis, namun sedetik kemudian aku bisa merasa benar-benar bahagia. Dan kusyukuri semuanya, karena memang tak seharusnya berlama-lama dalam kesedihan, bukan?

Kutunggu kepulanganmu ke Yogyakarta. Mau kejemput di stasiun seperti biasa? Nanti kubawakan Cola dingin kesukaanmu. Eh, kesukaanmu belum berubah kan?

Ya sudah, begini saja suratku. Sampai bertemu kembali sahabat kesayanganku.

Sahabatmu yang selalu mengesampingkan rasa miris.

-Gendis-


Ditulis oleh : @enhanhanha
Diambil dari http://ernamardjono.tumblr.com

Halo, Taylor!

Halo, Taylor!

Kenalin, aku Febry. I'm a big fan of you. Kapan kiranya kamu mau ke Indonesia?

Ohya, terimakasih yaa udah bikin lagu-lagu yang 'aku banget'.

Sampai hari ini, aku punya 3 lagu-mu yg sangat aku sukai dan sangat bermakna buatku.


Yang pertama judulnya Ours. Aku pernah secara ngga langsung 'ngasih' lagu ini buat pacarku. Karena aku ngerasa setiap lirik dari lagu itu kami banget. Dan dengan manisnya dia balik 'ngasih' aku lagu-mu yang judulnya Mine. Liriknya kadang-kadang bikin aku GR, am I really the best thing that ever been him? I hope so.

Satu lagi, judulnya We Are Never Ever Ever Getting Back Together. Bukan, bukan karena kami akhirnya putus. Tapi waktu itu pacarku pernah dengan lucunya berusaha menyanyikan lagu itu. Musik dan pengucapan lagu itu kan cepet, dia ngga bisa, jadi dia nyanyi-nyanyi seadanya, salah-salah, gatau liriknya sampe aku yang waktu itu lagi badmood bisa ketawa.


Makasih yaa karna lagu-lagumu, we have some unforgettable memories. And it makes me miss him suddenly. But it just like your song, this love is ours.

Salam, Febry.


Ditulis oleh : @febryfeb untuk @taylorswift13
Diambil dari http://www.febryfeb.blogspot.com

Kamu, Alasan Bahagia


Selamat siang….

Hari ini, mungkin adalah hari dimana aku nulis surat cinta yang sebenarnya. Sebenarnya buat kamu. Maaf juga baru hari ini, karena bukan tidak mau, tapi mengumpulkan keberanian untuk jujur menjabarkannya di sini buat aku bukanlah perkara mudah.

Sebelumnya, terima kasih untuk beberapa tahun terakhir ini. Untuk semua hal, baik itu bahagia, suka, duka, air mata, kekesalan, juga semua yang sadar atau tanpa sadar telah kita lalui memberikan banyak makna di kehidupanku.

Mengenal kamu, awal semua cerita ini dimulai… 

Cerita yang membawaku ke dalam lautan harapan, dan kamupun tahu, aku karam di dalamnya. Harapan yang tak pernah sedikitpun hilang, harapan yang tak pernah pergi sejengkalpun dari tempatku berdiri. Iya, harapan yang sampai saat ini masih seperti dulu, seperti beberapa ratus hari yang lalu, seperti pertama kita saling berbisik harap di sebuah pesan singkat. Berharap sesederhana melihat purnama di langit malam yang sama, berharap sesederhana menari di bawah  senja, masih seperti itu…. Tak ada yang berubah.

Entah malaikat atau setan apa yang merasuk, karena semua kesalahan berubah menjadi serentetan pembenaran alasan. Alasan tak mendengar semua tamparan keras sahabat, alasan tak melihat semua kenyataan yang terhampar di jarak pandang, alasan menghiraukan semesta yang ku tahu, banyak menegur. Tapi aku tetap berusaha memegang erat, memeluk kuat.

Dan tak semudah yang orang lain lihat, yang orang lain kira, yang aku lewatin ini… tak semudah berbicara kamu itu ga baik, kamu itu jahat, kamu itu bla bla bla…. Engga, aku yang rasain, aku yang menjalani, aku yang mengenal kamu daripada mereka. Kamu ga jahat, kamu baik, terlalu baik untuk aku bilang kamu jahat sama aku…. 

Biarlah orang berkata apa, biarlah orang menilai apa, mungkin saat ini aku tak pernah peduli lagi. Karena yang terpenting hati aku, bahagia aku, tahu apa mereka tentang hati aku? Tahu apa mereka tentang bahagia aku? Rasa-rasanya memang lebih baik diam dan merasakan sendiri. Tak perlu berbagi. Tak perlu lagi pembenaran, yang aku tahu masih jauh dari kebenaran. Lebih ringan jika tak mempedulikan pandangan nanar orang-orang tentang kebaikan hati atau kebusukan diri.

Dan yang paling penting, terima kasih atas semua kebahagiaan yang pernah hadir, semua pembelajaran yang berarti, dan semua pembelajaran untuk kesabaran menjalani ini semua. Kamu, bahagia aku.

Terima kasih.

Dari aku, yang beberapa tahun terakhir ini menjadikanmu alasan bahagia.


Ditulis oleh : @dentiZTY
Diambil dari http://notlurking.com

Mengingat Mantanmu


Surat ini seharusnya untuk dia, bukan untukmu. Hanya saja selalu ada janji bodoh ke diri sendiri yang terpaksa ditepati, dan aku tak cukup bernyali untuk melanggar janji itu. Janji tentang mencoba untuk tak lagi mau peduli pada cerita usang seorang tambatan hati di masa lalu.

Kalau suatu hari kau sempat bertemu dia, katakan padanya bahwa tidak semestinya dia menjadi begitu berarti buatmu. Katakan bahwa mestinya dia tidak membuatmu terpesona. Katakan juga bahwa mestinya dia tidak pernah membuatmu jatuh cinta.

Jujur, aku membencimu. Aku benci karena kau pernah membantunya bertahan melewati masa-masa sulit. Aku benci karena kau pernah mendengar keluhan-keluhannya. Aku benci karena kau membuatnya menangis saat kalian memutuskan untuk sama-sama pergi. Aku benci karena kau memainkan peran yang sama denganku di salah satu episode kisah hidupnya.

Masa lalu adalah masa lalu, yang sudah lewat itu sudah lewat, namanya juga numpang lewat. Mantan ya mantan, aku dan kau cuma cerita yang telah selesai, tapi tetap saja aku tidak menyukaimu. Kau seharusnya tidak pernah hadir dan menjadi bagian hidupnya. Kau seharusnya berhenti mengingat-ingat kenangan lama saat kalian masih bersama. Kau dan masa lalu hanya membuat aku dan masa kini tidak berarti baginya. Kau membuat mimpi-mimpiku bersamanya jauh dari indah. Kau membuat langkah kami penuh kekhawatiran tentang masa lalu, bukan kebahagiaan tentang masa depan. Kau menyebalkan.

Tidak bisakah kau kenang saja dengan indah apa yang pernah ada antara kau dan dia? Tidak usah lagi menambah janji hanya untuk diingkari. Cukup sudah kau bermonolog dan bicara tentang penyesalan. Jangan lagi menulis surat untuk diri sendiri. Kita tampak menyedihkan, kau tahu?


21 Januari 2013
― si penyesal yang sok ikhlas


Ditulis oleh : @dennyed
Diambil dari http://dennyed.tumblr.com

Surat Keterangan Rindu


Tumblr, hari ke-20 
bulan pertama ditahun 2013
Kepada Yts. 
Bapak Guru Daniel Januar Ridwan
Di Hatiku

Dengan sepenuh hati,
Dengan datangnya surat ini saya beritahukan bahwa saya :

Nama : Dini Melisawati tanpa gelar apapun

Umur : 20 tahun lebih 8 bulan

Alamat : Nomaden, karena belum memiliki akta tanah

Memberitahukan bahwa tersebut saya diatas saat ini sedang mesakan kerinduan yang sangat amat kepada Bapak Guru Daniel Januar Ridwan. Oleh karena itu sudilah kiranya Bapak Guru Daniel Januar Ridwan untuk mengirimi saya kabar.

Demikian surat ini saya buat, atas pemberian kabarnya saya ucapkan terima kasih.


With Love : Dini Melisawati ({})

NB : Surat Keterangan Rindu terlampir


Ditulis oleh : @dhiny_mayvi untuk @Bink_Abink
Diambil dari http://dhinymayvi.tumblr.com

Loveable Peter


Hanya untuk: Peterpan

Fiuh. Akhirnya dengan susah payah aku berhasil juga menulis sepucuk surat ini untukmu. Sulit sekali menulis walau hanya secarik kertas. Sulit karena tangan-tangan yang terlalu mungil ini. Namun sudahlah, aku pikir ini tidak sia-sia. 

Halo, Peter. Apa kabarmu ? Terkejutkah kamu dengan surat ini? Ya, tentu saja karena aku jarang, mungkin justru tidak pernah, berbicara di depanmu. 

Sejak semalam kamu tertidur dan kita berpisah di pondok kecilmu, aku tidak pulang ke negeriku. Aku naik ke atas pohon pinus, mengambil sedikit kulit batangnya, mengeringkannya dengan magisku, lalu meminjam pena bulu milik Wendy untuk menulis kata-kata di atasnya. 

Peter, apa kita bisa bersama selamanya? Bukankah kita hampir sama. Kamu anak yang tidak akan tumbuh dewasa, sedangkan aku peri mungil yang abadi. Ya, walau ada saatnya nanti kita kalah dan mati oleh hal-hal lain di luar itu. Dulu, mungkin tidak pernah aku kira akan jatuh hati dengan sosok pria muda teledor, nakal, dan blak-blakan sepertimu. Namun, perjalanan kita selama ini telah membuatku pada akhirnya terbiasa dan membutuhkan kehadiranmu. 

Tolong jangan beritahu surat ini kepada Wendy atau siapapun penghuni hutan hujan ini. Mereka pasti akan menertawakanku. Wendy pasti akan terbahak-bahak di balik gaun birunya hingga rambut panjangnya itu menutupi wajahnya. Terlebih lagi Fobos dan Dimos, dua kurcaci nakal teman baikmu, mereka lebih jahat lagi karena akan tertawa hingga melempariku dengan biji kenari kesukaan mereka. Simpan saja gulungan kulit pohon kering yang aku sebut surat ini. Simpan di bawah bantal bersama remah-remah kue jahe yang sering kamu makan di atas tempat tidur hingga semut-semut berkerumun di atasnya. 

Kalau kamu memang teman baikku, temui aku malam nanti saat bulan purnama tepat berada di atas kepalamu. Temui aku di kebun apel berbuah ranum milik Tuan Smeggy. Di sebelah utara, ada satu pohon cemara yang harum daunnya. Aku menunggumu di situ. Ingat, jangan ajak siapa-siapa. Jangan pikir ini kencan bila itu memberatkanmu. Anggap saja sebuah pertemuan biasa antara kamu dan temanmu.

Aku mengharapkan kehadiranmu. Sekarang, aku harus pulang ke negeriku untuk memperbaiki sayap kiriku yang sedikit sobek terkena dahan-dahan pinus semalam. Tenang saja, malam nanti semua sudah kembali baik dan jangan lupa pakai topi hijaumu. 

Tertanda: Tinkerbell

Ditulis oleh : @desimanda
Diambil dari http://orlandoandme.blogspot.com

Ini Ada Sebelum Kita Ada


Suamiku tercinta, aku disini sedang membangun rumah kita. Aku membutuhkan material segera. Tolong kirimkan ketegaranmu yang kau sisipkan pada semesta. Pada batu agar bisa kupakai sebagai pondasi yang menjadi dasar janji kita. Pada bata merah agar dapat kudirikan dinding kokoh penahan dari marabahaya. Pada besi agar kurangkai menjadi tulangan kolom penopang ketegaran tak terkira. Pada kayu agar bisa kubentuk menjadi kusen pintu dan jendela yang melongok menanti datangnya dirimu tepat pada waktunya. Pada baja agar kuatur sedemikian rupa sebagai rangka atap sehingga kekuatannya sampai membuatmu terkesiap. Pada tanah liat yang kucetak sebagai genteng pelindung dari air mata. Dan akan kubalas ketegaranmu itu melalui peluk hangat sinar baskara saat pagi. Bersama sejuknya embun yang kuselipkan senyum manisku yang akan terus manis hanya untukmu.

Suamiku tercinta, surat ini kutulis jauh sebelum anak kita di dunia, jauh sebelum aku membacakan suratku untukmu di depan altar gereja saat sakramen pernikahan kita, jauh sebelum kita memutuskan berdua, dan mungkin jauh sebelum aku bertemu kamu di sana. Saat itulah aku masih sendiri, saat proses perjalananku menujumu. Aku mempersiapkan surat ini, kutitipkan pada tukang pos yang bisa kupercaya. Yang bisa membuatku yakin bahwa surat ini akan sampai di tempatmu hingga masanya tiba.

Suamiku tercinta, gumamku di suatu pagi. Jika suatu saat aku menemukanmu, mohonku untuk aku lebih dulu di sini. Agar aku dapat mempersiapkan rumah ini. Katakanlah aku tak tahu diri. Memang akulah ini yang tak mau kau tinggalkan sendiri. Akibat tak yakin mampu menghadapi belenggu rindu. Maka dari itu, kuat dan tegarlah kamu. Gundah anak kita butuh senyum teduhmu. Dan aku butuh material rumah itu. Aku memilihmu salah satunya karena ku tahu kamu orang yang kuat dan mampu. Jangan kamu berkubang sendu. Karena saat kau menitikkan air mata, aku pun di sini kehujanan karenanya. Rumah kita kan belum ada. Aku harus berteduh di mana?

Suamiku tercinta, kutunggu kamu. Di rumah yang tak ada lagi pilu. Bahkan pada kita maut pun akan cemburu.

NB: Luv u
Jakarta, 21 Januari 2013
Dari aku,
Istri masa depanmu


Ditulis oleh : @franc3ssa
Diambil dari http://justcallmefrancessa.wordpress.com