22 January 2013

Oii Bang @hizrawand !


Oi Bang!

Apa kabar di ruangan IPDS?

Jadi gini, Bang. Aku sejak tahun lalu ngikutin program nulis bareng anak-anak di twitter. Namanya #30HariMenulisSuratCinta. Dimulai sejak tanggal empat belas Januari sampai tiga puluh hari ke depannya. Yang ditulis ga mesti surat cinta kayak remaja-remaja kelahiran sembilan belas delapan tiga, sih. Ups! Haha. Becanda. Intinya, program nulis ini bikin orang-orang yang ngikutin jadi konsisten nulis setiap hari. Jadi selain sebagai ajang latihan, program ini bisa bikin kita senang-senang lah. Gimana cara kita mengeksplor rasa dalam bentuk kata-kata gitu deh.

Jadi, apa kabar Abang hari ini? Masih sejelek biasanya? Iya sih. I can see it clearly! 

Mau ngomong apa yah. Rikuh juga kalo ditulis kayak gini. Hmm..

Ohya, makasih ya Bang, udah mau menerima anak nakal kayak aku gini dengan ramah di kantormu. Maap kalo sering bawel. Etapi, pertanyaan gimana tata upacara disini, dimana bioskop, dimana toko buku, kerjaan IPDS seribet apa sampai Abang belum nikah juga, dan lain-lain sebagainya itu bukan pertanyaan yang aneh-aneh kok, Bang. Pertanyaan yang terakhir iya sih agak kurang ajar. Muahaha. Nyantai, Bang. Coba kerutan di dahinya diratain dulu. Iya, dikit lagi. Nah, begitu lebih baik!

Kadang, biar ga bosen, hidup yang monoton kayak tiap pagi sarapan mi campur depan SMA 3 gitu mesti diacak-acakin dikit loh, Bang! Random deh sekali-sekali. Sarapan menu breakfast-nya Pizza Hut misalnya. Atau menu breakfast KFC juga boleh dicoba. Atau Abang lebih suka McD? Bisa juga. Jadi, ketiganya mau kita buka di Gusit sebelah mana? *kemudian aku ditabok walikota*

Maklumin aku ya, Bang. Nanti lama-lama juga kebiasa, kok. Pelan-pelan aja. Hahaha..

Hidup kadang memang tidak seindah yang kita inginkan. Begitupun aku. Maka ketika aku dihadapkan pada sesuatu yang bukan pilihanku, namun harus tetap kujalani, akulah yang harus membesar-besarkan hati sendiri. Sebab sejujurnya sendirian jarang sekali menyenangkan, begitulah orang-orang di sekitarku, termasuk Abang, mulai punya peran.

Jadi, makasih, Bang. Jangan kapok dan berhenti di tengah jalan ya! Kalo aku mulai kelewatan, jitak aja. Haha. Semangat kerjanya! 

menyuratimu dari meja produksi,
Aku.


Ditulis oleh : @ezapia untuk @hizrawand
Diambil dari http://komidiputar16.wordpress.com

Kalau Aku Bakar Surat Ini, Apa Akan Sampai Ke Tempatmu?

Aku akan membuat surat yang panjang sekali... sayangnya aku percaya kau akan baca, seperti biasa.

Pertama aku ingin marah, kepada anak cowok yang tak pernah melihat wajahmu langsung, mendengar suaramu, tawamu, curhatanmu, tapi seakan ia lebih menyayangimu dari pada aku yang hampir setiap hari di sampingmu.

Maaf, kali terakhir aku menyebutkan namamu pada jejaring sosial adalah tepat di hari kepergianmu selamanya. Sisanya tak pernah, meski aku menceritakan tentang kita entah berapa kali dalam catatan atau status atau apapunlah. Sengaja, aku tak mau jadi lebih gila dari ini. (Aku tahu password facebookmu. Jadi apa kau tahu betapa menyakitkan membuka facebookmu dan menemukan namaku sendiri dalam pemberitahuan di akunmu itu? Aku seakan bicara sendiri, seperti kurang waras dan di hantam kesepian yang datang dari segala arah). Sedangkan cowok menyebalkan itu dengan enaknya meng-tag namamu berkali-kali, dalam puisi, kata indah, ketika ulang tahunmu atau apapun itu.

Aku menahan rinduku setengah mati. Biar tak meledak, biar tak mendapat tatapan sedih dari orang di sampingku, apa lagi harus mendengar ceramah bahwa aku harus merelakan kenyataan bahwa kau sudah pergi. Aku sedih dan rindu bukan berarti tak menerima kenyataan.

Tentang anak pertamaku—lukisan pertamaku yang selesai di atas kanvas, awalnya aku hanya ingin melukisnya di atas kertas. Tapi aku sendiri yang rada antusias dan agaknya memberikan pilihan kepada si pemesan untuk memilih kertas atau kanvas, dan kau tahulah jawabannya.

Kenapa aku rada antusias? Karena itu senja, karena itu maple, karena itu orens. Yang sialnya, aku baru tahu kau suka dengan warna ini setelah kematianmu dan dari cowok menyebalkan itu pula. (Aku memang sengaja tak pernah menanyakan warna kesukaanmu, berharap kau sendiri yang akan beri tahu, sayangnya tidak). Sebodo apa nama judul puisi yang ia buat dan kemudian ia patenkan menjadi judul lukisanku juga – iya, iya, lukisanku adalah saduran dari puisinya. Tapi seperti ia, puisinya adalah hatinya, maka lukisanku adalah hatiku.

Jadi lukisan itu untuk...kalian berdua.
(Aku benci mengakui ini. -Oh, tapi tentang lukisanku, ‘hati lukisan’ku lebih rumit dari ini, kapan-kapan aku akan cerita).

Ingatkah kau pernah agak histeris dan bertanya, ‘benar enggak tahu maple?’, dengan polos aku menjawab jujur, enggak. Kemudian kau menjelaskan maple adalah salah satu pohon terindah, serwarna semburat merah-kuning di tiap daunnya ketika musim gugur, ada di salah satu sampul komik yang judulnya aku sensor di sini, dan blabla lain.

Kemudian kau memintaku untuk melukisakan maple dan senja itu untukmu, dengan rincian seperti ini dan ini, yang sampai sekarang aku masih ingat detailnya. Sayang, aku yang kejam ini mengiyakanya pun tidak. Tapi itu karena aku tak bisa berjanji, aku suka malas dengan pesanan orang. Andai kau bisa lihat hatiku waktu itu, kau akan tahu sebenarnya aku ingin membuatkannya untukmu, dengan tenggat waktu yang tak di tentukan.

Aku ingin melukis untukmu, dan kau di sampingku...

Dulu kau pernah bertanya padaku, nadamu datar, walau di mulut orang lain, tanya itu bisa jadi keluhan. ‘kenapa? Aku hanya sempat berpikir, kenapalah hal ini harus mengenaiku?’ Penyakitmu yang makin parah, dan sepertinya kau sudah mulai lelah. Aku hanya bisa diam, menggigit bibir. Alih-alih menjawab dengan ceramah atau kalimat klise menguatkan, aku hanya bisa berharap kebaikan..

Mungkin tak sampai dua minggu yang lalu, aku membaca novel, memaksa diri, bukan karena novelnya membosankan, tapi karena aku ingin menulis, mencoba mempelajari tulisan. Aku ingat, dulu aku menulis dengan lancar, ide cerita bertebaran kemana-mana, itu karena kau ada di sampingku, membaca apa yang aku ketik. Melihat wajahmu yang sedang membaca karyaku, berubah-ubah menjadi serius, tiba-tiba tertawa kecil lalu santai, adalah lebih menyenangkan dari pujian apapun. Setelah kau pergi, aku tak bisa menulis lagi dengan hati. Konyol, aku tahu.

Tak sampai lima menit aku membaca novel itu, aku merebahkan tubuhku di atas kasur, memeluk novel tebal itu dengan air mata yang bercucuran seenaknya. Bahkan sudah lewat dua setengah tahun kepergianmu, aku masih rindu. Aku sangat rindu...

Ada yang bilang, “bukan karena ribuan pembaca maka aku menulis, tapi aku menulis karena aku tahu ada ‘seseorang’ yang membaca”. Seseorang dalam tulisanku dulu, itu kau. Ketika kau pergi, aku bahkan tak bisa ingat ide ceritaku sendiri meski kalimat poinnya sudah tertuang dalam kertas. Biarlah tulisan itu mati bersamamu, aku tak (bisa) memaksa. Setelah kematianmu, tulisanku tak jelas untuk siapa, tanpa sadar aku tak percaya bahwa masih ada yang akan membaca, tapi yah...aku harus tetap berjalan bukan? (eng..aku akan coba percaya, meski masih belum bulat benar, jadi pengen nge #nomention adek satu ini, syukron dek udah sering komen di blog uni. #eh #tapiserius)

Banyak penjelasan lain, dan berhubungan dengan orang lain, tak bisa aku ceritakan, tapi semua rangkaian itu akhirnya menjadikan aku bertanya –ah, kali ini aku yang bertanya, kenapa harus kau? Lihatlah kami –bukan hanya aku, sangat kehilanganmu. Sama sepertimu, bukan mengeluh, hanya bertanya.

*Ingin rasanya aku masukkan ke facebook, men-tag namamu, biar lapang hatiku. Tapi tidak. Atau aku bisa lebih gila dari ini.

#untuk seorang sahabat yang aku harap bisa bertemu di surga



Ditulis oleh : @dilaputiLg
Diambil dari http://hayyushi.blogspot.com

Saat Ini

Untukmu, yang selalu ku rindukan, saat ini dan juga nanti.
Kau tahu, Tuan?

Untuk saat ini, melihatmu nyata di hadapan. Memeluk ragamu yang menenangkan. Candamu yang mampu mereduksi kekesalan. Menumpuk kerinduan. Ini semua sudah cukup membahagiakan.

Bagaimana dengan nanti?

Aku tak sanggup menerka takdir Tuhan. Hanya saja, aku memercayai semua cinta yang Tuhan anugerahkan. Pada yang janji yang telah kita ikrarkan. Tentang kebersamaan atas seijin Tuhan. Untuk kebahagiaan yang selalu menjadi tujuan yang kita harapkan. Tentunya bersamamu, Tuan.

Untukmu, Samhan.

Saat ini dan juga nanti, aku tak ingin kau jauh dari raga ini. Kau tahu, aku pernah terluka karena atmosfer kehilangan? Memeluk kesepian, sendirian. Memercayai jarak yang menguatkan. Tidak akan pernah mudah lagi. Aku ingin hadirmu pasti. Tak mengabu dalam rotasi waktu. Untuk itu, jangan ada berjauhan dalam kebersamaan. Karena sempurnanya hidupku, adalah bersamamu, Tuan.

Maka dengarkan(lah).

Permintaan hati ini, sederhana saja. Sungguh aku ingin kau selalu ada, nyata di hadapan mata. Hadirmu pasti menemani di segala suasana rasa. Hingga nanti, di setiap hari di istana kecil kita.

Yogyakarta, 21 January 2013

Teriring do'a dariku, Wanitamu.


Oleh:  @aquamarlyn Sumber: http://ismarlina.tumblr.com/

Untuk Para Ibu Tangguh

Pagi ini aku melihat seorang ibu dengan anaknya yang sudah besar dan memiliki keterbelakangan mental di kereta. Ibu itu dan anaknya langsung duduk di bangku prioritas, tempat yang khusus disediakan untuk para manula, ibu hamil dan menyusui, serta orang-orang berkebutuhan khusus. Sedih dan haru melihatnya. Aku membayangkan bagaimana seorang ibu yang sudah susah mengandung dan melahirkan harus menemukan kenyataan pahit tentang anaknya. Surat cinta hari ini untuk para ibu yang memilih tetap merawat anaknya sepenuh hati meskipun anaknya memiliki cacat atau kekurangan.

Halo Ibu,

Aku hari ini melihat salah satu di antara para ibu tangguh di kereta. Meskipun anak ibu cacat, Ibu tidak pernah menyalahkan Tuhan dan memilih tetap merawat mereka. Surat ini untukmu Ibu. Surat ini untuk kalian yang tabah, untuk kalian yang tetap tegar merawat anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Untuk kalian yang memilih tidak membuang mereka, untuk para Ibu yang memilih mencurahkan seluruh kasih sayang dan perhatian pada anaknya.

Hari ini kukirimkan surat cinta untuk para Ibu, kusematkan sejuta cinta di dalamnya. Agar kalian tidak merasa sendiri, agar kalian selalu punya cinta untuk anak dan keluarga. Kudoakan agar hati Ibu lapang menghadapi berbagai cobaan dalam hidup. Ah, Ibu semoga Tuhan sudah menyediakan surga untuk Ibu setelah kehidupan di dunia ini berakhir.


Dengan penuh cinta,

Chacil :)

Oleh:  @chacilchacil Sumber: http://amindtraveller.blogspot.com

Bukan Aku dan Kamu

Untuk kamu yang bukan untukku,

Tadi siang dalam perjalanan pulang berpikir tentang betapa lucunya cerita kita. Terlalu lucu sehingga yang menyaksikannya tidak sanggup tertawa. Dalam hati mungkin mereka hanya bisa tersenyum getir melihat betapa naas-nya cerita kita.

Betapa beberapa kata bisa memiliki makna yang lebih dari makna literal-nya. Seperti kata kita yang berarti kata panggilan jamak pertama: pembicara dan yang diajak bicara. Kata kamu yang berarti kata panggilan kedua. Aneh bagaimana kita bisa sangat rindu untuk menjadi bagian dari satu kata ‘kita’; dan aku yang rindu untuk akhirnya menemukan ‘kamu’.

Sayangnya dalam cerita ini, cerita kita, pemeran utamanya bukanlah aku dan kamu. Betapapun kerasnya kita mencoba, aku dan kamu tidak akan menjadi ‘kita’. Aku sudah berhenti bertanya, aku sudah berhenti memberontak, mencoba mengeluarkan diri dari jalan cerita konyol ini. Tadi aku berpikir, kalau di suatu dunia paralel, ada versi lain dari aku dan kamu yang menemukan satu sama lain, dan mereka bahagia. Aku mengerti sekarang, kalau akhir cerita itu bukan untuk kita. Aku dan kamu di dunia ini masih terus berjalan menyusuri jalan setapak yang belum tampak ujungnya. Aku dan kamu berjalan bersama ke dua tujuan yang berbeda. Tidak apa-apa, kita bersama dalam kesendirian.

Oleh: @_ceritakita Sumber: http://twotimesacharm.tumblr.com

Sapi Bukan Manusia

Katamu kalau cinta harus dikatakan
karena persaingan memperebutkanmu ketat.

Menurutku kamu bukan celana sempit obralan
yang meski mudah robek karena ketat tapi tetap diburu.

Katamu kalau suka harus diungkapkan
karena pasaranmu ramai.

Menurutku kamu bukan seonggok daging
yang dijual per kilo di pasar becek nggak ada ojek.

Atau,

Mungkin kamu memang seekor sapi jantan
yang berdagang celana di pasar?

Kalau begitu carilah sapi betina,
karena aku bukan sapi.

Aku manusia, perempuan pun.
Dan aku tak suka barang obralan.

Kembalilah menjadi manusia.
Milikilah perasaan dan pahami.

Semua sapi pun mungkin ingin jadi manusia,
dan semua pasar akan sepi pada waktunya.

Oleh: @Dear_Connie Sumber:  http://poeticonnie.tumblr.com

Cinta Kita Penuh Jelaga

Kita terlalu banyak menyimpan dusta.
Kamu bilang kamu bahagia, aku bilang aku bahagia.

Lalu kita berjalan bersama, masih menautkan jemari satu dan lainnya.
Tapi tidak ada bara. Sentuhan kita tak ada rasa.

Mulut kita bercerita, banyak, tapi pandangan kita melayang.
Mana mata tajam yang meluluhkan hatiku itu, sayang?

Ini cuma satu dua hari yang mesti kita jalani berdua, kita hadapi bersama.
Atau, memang sudah tidak ada cinta diantara kita?

Ini cuma satu dua bosan yang belakangan jadi penuh hingga menutupi jalan kita.
Atau, memang sudah ditakdirkan sampai disinilah kita bercinta?

Aku sayang kamu. Penuh. Mengalir bersama darahku.
Sayang kamu dari rambut hingga jemari kaki. Sayang kamu dalam segala kondisi, sehat atau sakit, senang atau susah.

Sayang, janji kita dulu masih berlaku kah?

Tetap disini, duduk, berusaha memperbaiki semuanya, sepenuh hati.
Sampai kita sama-sama tak punya tenaga, menyerah, dan membiarkan cinta mati.
Kalau benar demikian, maka tidak ada pilihan bagi kita selain
duduk bersama,

Membersihkan cinta yang sudah penuh jelaga.

Oleh @atemalem Sumber: http://rehatemalem.wordpress.com