17 January 2013

Dear My Future Children


Hei my future children,


Ibu menulis ini dari tahun 2013. Tahun dimana umur Ibu baru mencapai 23 dan belum memilikimu. Namun, kamu perlu tahu bahwa Ibu seringkali memikirkanmu dengan detail.



Saat ini, Ibu membayangkan kamu akan tumbuh menjadi seorang anak yang pemberani. Jika kamu perempuan, pasti rambutmu ikal dan bermata besar. Jika kamu laki-laki Ibu menebak kamu berambut lurus dengan mata teduh yang agak menyipit ketika kau tersenyum. Seperti apa pun kau nanti, kau pasti adalah anak yang hebat. Anak yang Ibu banggakan tingkahnya :)


Kamu mau jadi apa sih? Sini bisikin ke Ibu. Mau jadi penulis novel fantasi? Atau kamu tertarik jadi fisikawan yang bermimpi kerja di CERN? Mungkin juga kamu malah bermimpi jadi rockstar yang mana menyanyi di bawah sorotan sinar di atas panggung adalah passionmu? Ibu dukung, Nak. Ibu akan dukung selama kamu bisa bertanggung jawab dengan mimpimu.


Ibu hidup dengan prinsip demokratis. Sejak kecil, Ibu sudah dibiasakan untuk memilih keputusan dan diharuskan bertanggung jawab terhadapnya. Ini kepengen banget Ibu turunkan kepadamu. Saat kecil, mungkin Ibu akan bantu memilihkan beberapa keputusan untukmu. Ibu mungkin juga menjadi sangat galak dan cerewet dengan beberapa jalan yang Ibu pilihkan. Tapi, percaya deh sama Ibu, itu Ibu lakukan untuk kebaikan kamu. Ibu akan mencoba menjelaskan dengan bahasa yang kau mengerti kenapa suatu keputusan harus diambil. Dan setelah cukup umur nanti, Ibu akan memercayai kamu untuk mengambil keputusan yang lebih besar :)



Jadi deal ya? Mana kelingkingnya? Kita janji dulu...



Oh iya, kita juga akan menghabiskan banyak waktu dengan mengobrol berdua setelah kamu pulang sekolah. Kamu akan bercerita soal nilai ujianmu, tes olahraga yang sulit, atau juga teman-teman yang kamu ajak ke rumah untuk main masak-masakan. Kita akan banyak berbicara tentang pentingnya memerlakukan orang dengan setara. Bahwa kita tidak bisa menilai orang dari sisi luarnya saja, bahwa kamu harus memercayai kemampuanmu dibandingkan cemoohan orang lain, atau juga ada banyak hal lain yang lebih penting diurus daripada pemerintah yang hanya berbicara soal selangkangan saja.



We will have a lot of good times, together. I promise.



Diluar itu, tentu ada peluangnya untuk kita mengalami banyak masa dengan bertengkar atau tidak berbicara satu sama lain dalam jangka waktu yang lama. Jika ini terjadi, ketahuilah bahwa Ibu pun sakit apabila harus membuatmu sedih. Sini, peluk Ibu deh dan cerita apa yang kamu rasakan, Ibu pun akan jujur tentang perasaan Ibu, lalu kita akan berdiskusi, dan memutuskan mana yang paling baik untuk kita berdua. Janji ya, jangan ngambek lagi :’)



Yang paling penting sih, Ibu harap Ibu bisa jadi teman terbaik untukmu. Ibu mungkin bukan robot sempurna yang tak melakukan kesalahan. Tapi, saat ada masalah, akan selalu ada ruang untuk kita ngobrol bareng dan membereskannya ya.



With love,

Your future mom



Ditulis oleh : @dinikopi

Diambil dari http://dinikopi.blogspot.com

Teruntuk Para Hadiah dari Tuhan

Kepada kalian yang selalu menjadi yang terbaik untukku: 

@siskasarwanaa @lucianggraini @adelife @rizkiapriangrha.


Selamat malam (menjelang pagi)!

5 tahun tidak singkat, kan? Tapi selama itulah kita telah merajut kisah dalam sebuah cerita bernama sahabat. Memoar tentang perjalanan menguar, membuat sang pusat pengendali menonton sebuah siaran berjudul nostalgia. Mengenang yang telah kita alami tidak pernah terasa membosankan. Dengan laptop yang menyala, diiringi suara lembut Adhitia Sofyan, hujan, dan susu hangat, cukup membuat aku mengorek habis semua isi kepala, lalu menuangkannya kembali ke layar kosong di depan pandangan.

5 tahun yang lalu, di sebuah tempat yang membosankan bernama sekolah, kutemukan kalian. Dengan karakter berbeda khas setiap kita, kita susun kepingan-kepingan kecil harapan menjadi nyata, kita rajut semua mimpi menjadi tekad, kita sulap sedih menjadi tawa, kita warnai abu-abu menjadi biru.

Masih segar kuingat semua tangis yang kita bagi, semua canda yang kita beri, ulang tahun yang selalu kita rayakan bersama, dan kebodohan-kebodohan yang selalu berhasil mengusir rasa bosan dalam hati. Tak bisa aku pungkiri, beberapa kali rasa kesal antar kita sering kali menghampiri. Tak apa, kita manusia, kan? Di mulusnya sebuah jalan, pasti akan selalu ada kerikil kecil. Yang kita butuhkan hanyalah menendang kerikil tersebut hingga terlempar masuk ke dalam lumpur.

Para hadiah dari Tuhan, terima kasih untuk selalu menjadi yang mendengar ketika mulut ini ingin bicara. Terima kasih untuk selalu menjadi yang memegang ketika lutut ini tak kuat lagi menopang tubuh. Terima kasih untuk selalu menjadi yang membela ketika diri ini sering dicaci. Terima kasih untuk menerima atas aku yang selalu tak bisa diandalkan.

Para permata kecil, aku tahu aku akan selalu jauh. Semakin lama, sibuk akan semakin menyerang, memakan habis semua waktu, merajut sepi dalam rindu. Tapi aku harap aku akan tetap menjadi aku di hati kalian. Kalian boleh temukan yang lain, tapi jangan ganti kita dengan mereka.

Kulihat sang surya telah bosan melepas lelah. Sepertinya  tak sabar tuk kembali beraksi gagah menarik hati para burung-burung kecil. Para pedagang kecil pasti juga telah berada di pasar, mencari rezeki yang telah Tuhan persiapkan untuk mereka. Dan aku,  mungkin akan segera menyudahi surat ini, namun tak akan menyudahi menulis cerita kita dalam sebuah kisah berjudul “sahabat”.
Palembang, 16 Januari 2013.

Dari yang selalu manja dan merepotkan,
Aku.

Ditulis oleh : @dellannissah untuk @siskasarwanaa @lucianggraini @adelife @rizkiapriangrha
Diambil dari http://dnurannissah.blogspot.com

Sosialita dari Hong Kong!

Halo, Chizta. 

Aku menunaikan janji menuliskan surat untukmu hari ini. Kebetulan kamu ulang tahun hari ini, jadi momennya tepat lah yaa…

Oke, mari kita kembali ke awal perkenalan kita, semuanya bermula dari twitter. Kala itu dunia twitter Indonesia masih belum ramai, selebtwit masih belum banyak, Marischka Prudence twitwar dengan Tyas Mirasih, akun @anjinggombal belum dibuat, dan followerku masih tiga digit, temanku Rahne Putri suka berinteraksi dengan satu akun heri (heboh sendiri, red.) bernama @chiztadisini. Rahne bilang, Chizta itu temen eS eM Pe nya, padahal sampai sekarang dia sendiri ga inget pernah satu sekolah sama kamu. *bongkar rahasia* *digetok Rahne*

Well, akhirnya kita follow-followan, berinteraksi, becanda hahahihi, berdrama bersama #anaktwitterlama yang lain. Timeline terasa menyenangkan karena makhluk-makhluk nyinyir dan penuh pencitraan belum mencemari timeline kita, we were tweet to express not to impress. Ah, such a good old time we had, right? :’)

Pertemanan via twitter kita sudah menjadi bukan sekadar teman twitter lagi, melainkan teman berbagi dan ngerumpi. Aku melewati tiga tahun terakhir dengan mengetahui hampir segala update tentang kamu, operasi, dekat sama dia-yang-bertugas-di-Flores, pacaran sama anak Palembang, jadi Top Sales Person Honda, dan yang terkini adalah tema pre-wedding buatmu dan calon suamimu. Semua kita lewati dengan dramatis kan, Chiz? *mendadak teringat telepon jam 12 malam dua tahun lalu*

Kamu yang cantik, modis, dan langsing (mirip Jessica Sanchez of American Idol), terlihat sangat eksis dalam acara-acara keriaan di kotamu, tak salah jika dulu aku menjulukimu sosialita Surabaya, dan sampai sekarang imej itu masih melekat erat padamu.

Terima kasih ya Chizta, kamu yang sosialita mau berteman dengan rakyat jelata seperti aku. Semoga kamu selalu berbahagia dalam menjalani kehidupan ini.

Regards,
Seorang vriend yang menggemari stroopwafel dari @noni_belanda.


Ditulis oleh : @gembrit untuk @chiztaa
Diambil dari http://wp.me/p1n7GG-8g  

Payung Terkembang dan Tak Ada Asa yang Terbuang

Dear, Clarita.

“Di daerah sana hujan ngak ya?” tanyamu. “Aku ngak tahu, sepertinya hujan juga” jawabku. Pernah kita berada dalam satu payung yang besar. Hujan cukup deras, agenda hampir gagal setelah hujan tak kunjung reda. “Kamu ngak punya jas hujan?” tanyamu. Yah, jas hujan yang dulu aku beli sudah ku berikan pada Ibu.

Clarita, maaf jika kita masih sering kehujanan. Aku sedang berusaha mengumpulkan sesuatu yang bakal menjadi ‘kayu’. Mengais apa yang bakal menjadi ‘atap’. Dan itu yang kini sedang aku usahakan. Bukankah kita masih hidup di negara ketiga. Ketika siklus lahir, kerja dan berkeluarga menjadi patron wajib. Payung itu akan berubah menjadi atap, kayu-kayu yang aku cari akan mennjadi pondasi. Kita akan terlindung dari dinginnya hujan dan panasnya terik matahari.

Clarita, aku cuma tidak ingin ada yang terluka. Bukankah jodoh ditangan Tuhan dan kita sebagai manusia berusaha mempertahankannya?. Jika kamu memang jodohku, apa yang sedang aku perjuangankan kelak akan menjadi bagaian darimu. Jadi tidak ada yang menyakiti dan tersakiti. Tidak ada hati yang tersayat dan tidak ada pelaku penyayat. Jalan masih panjang, jalan masih misterius, jalan yang harus terus ditapaki.
                                                                                                                                                                                   Love,                                                                                                                                                                              Dimaz Maulana 

Ditulis oleh : @dimazmaulanaa
Diambil dari http://pisaudeadline.blogspot.com

Kepada Perempuan yang Memenangkan Hatinya

Apa kabar, nona? 

Kuperkenalkan diri terlebih dahulu aku sebagai perempuan yang berusaha menggapai hati seseorang yang memberikannya kepadamu namun belum kau terima.

Koreksi  ya jika ternyata kau sudah berbagi rasa yang sama namun aku belum menyadarinya.

Terimakasih, nona. Atas segala perubahan baik yang terjadi padanya demi memperoleh hatimu. Hingga kini segala pengorbanan dariku tidak mampu menjadikannya lebih baik walau hanya sedikit. Siapalah aku, orang asing yang berusaha menyusup ke dalam kehidupannya.

Sudahkah kau baca judul suratku ini, nona? Kepada perempuan yang memenangkan hatinya. Ah seolah kita ini berlomba. Nyatanya, aku yang berusaha sekuat tenaga, tapi kau tak perlu melakukan apapun, nona. Kau tak perlu menyulitkan dirimu barang sedikit, ia akan tetap menghamba kepadamu. Seharusnya kurubah judul suratku ini bukan? Kepada perempuan yang memperoleh hatinya.

Atas setiap kebahagiaan, tertoreh pula kesedihan. Kuberitahu, nona. Setiap kali kau bermain, jahil membiarkan usahanya sedikit berhasil, aku membiaskan tawa. Bukankah manusiawi nona merasakan perih ketika ia yang kau titipkan rasa tertawa bahagia atas rasanya kepada orang lain?

Nona, maafkan aku jika lancang menuliskan surat ini padamu. Aku tak mengenalmu kecuali dari dia yang dengan senang hati mendeskripsikan tiap detiknya bersama denganmu. Aku selalu senang mendengarnya bercerita. Tapi rupanya Tuhan ingin bermain. Matanya berbinar tiap kali menceritakan sosokmu, Nona. Haruskah kupadamkan binarnya atau menikmatinya dalam pahit?

Kucurahkan perhatianku padanya dengan senang hati, tapi rupanya, ia tak suka. Ia bahkan memarahiku. Lalu kau sekedar menyapanya, dan dia bersedia memberi semesta padamu. Aku yang berlari menujunya ketika tak ada orang lain yang bahkan sudi mengajaknya, tapi ia memilih untuk merangkak berharap dirimu menoleh sedetik untuknya, Nona.

Aku ini hanyalah penjaga loket tiket bus TransJakarta, Nona. Ia penumpang setia. Tujuannya dirimu, tak peduli sepanjang apa antriannya, atau seramai apa didalam bus.

Kutulis surat ini bukan untuk mengutukmu, Nona. Hanya saja, sebesar apapun kulapangkan hatiku, tetap aku tak mampu turut berbahagia untuknya jika ia bersamamu. Aku hanya merasa dirimu perlu mengetahuinya dan mengucap terima kasih kepada Tuhan. Karena aku tak mengenal orang lain yang bertekad sekuat ia untuk membahagiakanmu. Sekuat tekadku untuk membahagiakannya.

Kepada perempuan yang memperoleh hatinya,

Selamat, Nona. Ah, kau tak perlu kasihan padaku, Nona. Aku bertanggungjawab penuh atas rasaku sendiri.


Ditulis oleh : @giustiageoda
Diambil dari http://giustiageoda.tumblr.com

Serangkai (t)sur(h)at untuk Tuhan


Saya tidak pernah mau meremehkan pesan sekecil apapun yang Tuhan berikan di sekeliling saya. Seperti ketiga gambar di atas, misalnya. Saya yakin, saya menemukannya tanpa sebuah ketiba-tibaan ataupun kebetulan. Saya tahu Tuhan berencana dalam setiap pesan-pesan singkatNya.

Tuhan yang Maha Baik,
jika saya memang harus merelakan mimpi-mimpi terbesar saya tahun ini, apakah yang dapat saya lakukan selain berserah? Sebab saya tahu, rancanganMu selalu melebihi bahkan daripada setiap doa yang saya punya. Jika saya lagi-lagi harus mengalah, apa yang membuat saya tidak mau mendengarkan perkataanMu? Jika saya lagi-lagi harus menanggung kecewa, apa yang membuat saya memilih untuk berkata tidak? Sebab saya selalu percaya, maka saya membiarkan diri saya untuk Kaubentuk sedemikian rupa.

Pada saatnya nanti, akan ada hati yang sudah lelah menanti, Tuhan. Namun tolong ajarkan ia lebih lagi untuk terus mengerti, bahwa segala sesuatu yang terjadi menurut waktuMu ialah selalu lebih baik. Pada saatnya nanti, akan ada hati yang lelah untuk berjuang. Namun tolong ajarkan ia lebih lagi untuk tidak mudah menyerah. Pada akhirnya nanti, akan ada beberapa impian yang tidak bisa terwujudkan. Namun ajarkan ia untuk memahami, bahwa rencanaMu adalah lebih baik daripada yang pernah ia doakan, lebih daripada yang pernah ia minta. Pada akhirnya nanti, akan ada pertahanan yang runtuh juga. Namun tolong ajarkan ia untuk memaklumi bahwa hidup tidak selamanya tentang kuat, bahwa ia sekali-kali boleh menjadi lemah. Pada akhirnya nanti, tolong buat ia untuk tetap berpegang pada Tuhan, seperti yang sejak awal sudah ia janjikan.

Terima kasih, Tuhan, kalau selama ini tidak pernah berhenti untuk tetap menguatkan saya. Terima kasih untuk tidak pernah berhenti untuk tetap meyakinkan saya. Terima kasih untuk tidak pernah berhenti untuk menjamin masa depan saya. Saya sudah melakukan yang saya bisa, saya sudah mengusahakan yang terbaik. Tolong buat saya mengerti, bahwa pada akhirnya semua bukan perihal keinginan saya, melainkan kebesaranMu.

If it’s meant to be, then it will be. But, if it isn’t meant to be, no matter how hard I try, it just won’t be. Bukankah begitu, Tuhan? Tolong, jangan pernah meninggalkan saya, di saat tidak ada yang mampu memegang saya lebih lama lagi. Tolong, jangan pernah membiarkan pikiran-pikiran buruk berkecamuk dalam benak saya terlalu lama, hingga saya lupa berkata-kata dengan berkat.

Yang saya tahu, seberapa lama pun air mata mengalir, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan saya menangis sendirian. Terima kasih untuk setiap tangan kananMu yang selalu ada untuk menghibur saya. KebaikanMu mengharukan perasaan saya, Tuhan. Terima kasih.
Maaf, jika saya memang sudah terlalu banyak meminta. Maaf, jika saya sudah terlalu banyak mengeluh. Maaf, jika saya sudah terlalu sering berkomentar. Maaf, jika saya sudah terlalu sering merasa diri paling benar. Mulai sekarang, saya mau ikut rencanaMu dan menyerahkan masa depan saya ke dalam tanganMu. 

Terima kasih, Tuhan. Terima kasih.


Ditulis oleh : @estipilami
Diambil dari http://estipilami.tumblr.com

Kepada Kemarau


Sebenarnya kabarmu sudah tak kudengar lagi wahai kata kemarau, setiap kali senja melirikku dari sudut kota dan bersembunyi dari balik anyaman hujan. Aku lihat sisa tangisanmu wahai langit, yang bersinggungan di kaca kaca kamar sambil menyinggungku yang berdiri dekat sepi.

Rasanya telah lama tak ku cium wangi cemara yang basah, sambil berteduh di bawahnya, engkau tersenyum senyum kedinginan.

Dingin lebih akrab dengan ku kini, setiap malamnya kunjung mengingat-ngingatkanku akan sebuah rasa teh hangat, genggaman kuat atau bisa saja pelukanmu yang dulu erat. Tapi aku masih menyimpan buah tanganmu wahai kemarau, yaitu hati yang penuh retak dan sungai yang kehilangan hilir
  
Dan mata itu, matahari yang hidup dalam pekat ingatku, dalam lebam tubuhku yang menggigil rindu namun ranum senyummu memaksa tak pilu

Sebenarnya kabarmu sudah tak kudengar lagi wahai kata kemarau......


Dariku,
Yang rindu hangatmu.


Ditulis oleh : @dentiZTY
Diambil dari http://dentiztyasty.blogspot.com